
Sepulangnya dari rumah Malvin, selama di jalan aku hanya terdiam. Aku masih khawatir tentangnya.
“Udah Van nggak usah terlalu dipikirin.”
“Tapi, Ran...”
Belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, aku melihat sesuatu yang lebih melukai hatiku. Ketika melewati lapangan, aku melihat Arka tengah bersepeda bersama Leony dengan begitu mesranya. Mereka berboncengan memutari lapangan sambil terus tertawa.
“Ran, berhenti.”
“Kenapa, Van?”
Ranti mengikuti ke arah mana mataku memandang. Dia pun baru menyadari bahwa ada Arka dan Leony di sana.
“Udah pulang aja. Apaan sih ngelihat orang-orang nggak penting itu.”
“Jangan, Ran. Gue masih mau di sini.”
“Apa yang mau lo lihat?”
“Tawanya Arka. Gue udah lama nggak lihat itu. Gue kangen. Lo tau kan gue paling seneng lihat dia senyum atau ketawa.”
“Please deh lo bucin jangan gini-gini amat. Lupain cowok buaya itu. Dia nggak pantes buat lo pikirin.”
“Arka emang lebih bahagia sama Ony. Nggak salah kan gue nglepasin dia ke sahabat gue.”
“Stop panggil dia Ony! Gue nggak kenal Ony lagi dan dia bukan sahabat lo.”
“Sampai kapanpun Ony tetep sahabat gue, Ran.”
“Leony itu udah jahat sama lo. Dia udah ngrebut pacar lo. Buka mata lo dong, Van. Lo itu jangan terlalu baik jadi orang.”
“Dia nggak jahat, Ranti. Setiap orang berhak kan buat jatuh cinta? Kita nggak bisa buat larang dia jatuh cinta sama siapapun.”
“Tapi nggak harus dengan pacar sahabatnya sendiri terus main rebut gitu aja, kan? Pake nikung dari belakang pula. Seenggaknya dia masih bisa ngendaliin diri buat nggak berusaha deketin pacar sahabatnya.”
Di tengah perdebatanku dengan Ranti, kami pun dikejutkan dengan kehadiran Leony dan Arka yang mendekat ke arah kami.
“Hai, kalian. Apa kabar?” sapa Leony dengan sedikit canggung.
“Pulang yuk, Van,” ucap Ranti sambil memalingkan wajahnya.
Aku menahan tangan Ranti dan memberinya kode untuk tidak bersikap cuek kepada Leony.
“Hai. Baik. Lo sendiri gimana?”
“Gue juga baik.”
Leony menjawab dengan sedikit kaku. Kami merasa asing, seolah bukan teman dekat.
Arka sejak tadi hanya diam sambil sesekali melirik ke arahku. Namun aku tidak mempedulikan tatapannya, meski sebenarnya jantungku masih berdebar kencang setiap kali dia menatapku.
“Romantis banget ya kalian. Tadi kita lihat kok betapa romantisnya kalian. Selamat ya atas hubungannya,” sindir Ranti sambil melirik ke arah Leony.
Aku langsung menyenggol tangan Ranti.
__ADS_1
“Enggak kok. Kita cuma lagi jalan-jalan aja. Oh ya di sana ada banyak orang jual makanan, kalian mau makan bareng?” ajak Leony dengan ramah.
“Maaf ya kita berdua para jomlo nggak suka ganggu kemesraan orang. Lagian kita sibuk di rumah. Nggak ada waktu buat pacaran. Ayo, Van.”
“Ran, apa sih. Maafin Ranti ya.”
“Udah disapa dengan ramah, diajak baik-baik kok jutek banget,” gumam Leony.
Ranti yang mendengar perkataan Leony langsung menatap tajam mata Leony.
“Lo barusan ngomong apa? Bisa lebih keras lagi nggak ngomongnya?”
“Oh telinganya lagi bermasalah ya? Pantesan dari tadi diajak ngomong baik-baik responnya nyolot.”
“Eh gue nggak nyolot ya. Nglunjak lo sekarang. Nggak sadar diri banget! Mentang-mentang bisa dapetin Arka, terus jadi merasa berada di langit paling atas.”
“Gue biasa aja tuh. Kalian aja yang kepanasan lihat gue sama Arka.”
Ekspresi wajah Ranti menunjukkan betapa terkejutnya dia mendengar perkataan Leony. Pupil matanya membesar, pertanda dia sudah sangat marah. Aku pun menarik tangan Ranti.
“Ran, udah. Jangan kaya anak kecil. Malu di sini banyak orang.”
“Bukan gue yang harusnya malu, Van. Tapi dia. Dia yang harusnya malu jadi perebut pacar orang!”
“Gue nggak ngrebut. Kalau Arka emang jodoh gue, kalian bisa apa?” sangkal Leony.
Aku sendiri semakin merasa kesal mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Leony. Aku sudah berusaha untuk tidak membencinya. Tetapi dia malah bersikap yang jauh dari perkiraanku. Bahkan kata-kata yang dia ucapkan tidak menunjukkan sosok Ony sahabatku yang dulu.
“Ayo kita pulang. Udah nggak usah dengerin apa kata dia. Biar gue yang di depan ya. Bahaya kalau lo bawa motor dalam keadaan marah kaya gini.”
Aku segera tancap gas, meninggalkan Leony dan Arka. Selama di perjalanan Ranti terus mengoceh mengungkapkan segala kekesalannya. Sementara aku berusaha menahan amarahku karena jika kuluapkan juga, Ranti akan semakin kesal dan semakin membenci Leony.
**
Hari demi hari terus berlalu. Masa liburan hampir segera berakhir. Hanya tinggal seminggu lagi. Liburanku masih terasa begitu membosankan. Bahkan liburan kali ini menyisakan kenangan buruk. Malvin tak kunjung reda kemarahannya dan aku masih dibayang-bayangi rasa cemburuku pada Arka dan Leony.
Aku menikmati senja kala itu dengan berjalan-jalan di sekitar taman. Aku senang memandangi indahnya bunga-bunga dan mendengar kicauan burung. Semua itu membuatku lebih tenang.
“Vanella!”
Tiba-tiba sebuah suara mengejutkanku. Aku menengok ke belakang. Seorang lelaki bertubuh tinggi besar turun dari sepedanya. Dia tersenyum kepadaku.
“Malvin!”
Aku begitu bahagia saat melihatnya ada di hadapanku. Terlebih dengan melihat senyumannya, sepertinya dia sudah tidak marah.
“Hei, lo nggak kangen gue ya?” tanya Malvin sambil mencubit pipiku dengan kuat.
“Ih sakit, Vin. Enggak lah. Apaan sih PD banget.”
“Kenapa nggak dateng ke rumah gue lagi?”
“Yang punya rumah aja lagi marah.”
“Oh jadi segitu doang usahanya? Nggak mau berusaha bujuk?”
__ADS_1
“Jadi lo ngambek sama gue lama-lama gitu sebenarnya minta dibujuk?”
“Emangnya cuma cewek doang yang bisa kaya gitu? Sok-sok ngambek padahal pengen dibujuk. Gue juga bisa kali.”
“Idih manja banget. Untung aja gue nggak bujuk lo.”
“Van, lo itu nggak perlu ijin buat ke rumah gue. Lo bisa dateng kapan aja. Mau gue lagi marah atau apa kek, lo boleh dateng kapanpun lo mau. Lagian mana mungkin sih gue bisa bener-bener marah sama lo.”
“Lo tau nggak, Vin? Ketika orang yang nggak pernah marah sama kita itu tiba-tiba marah, apalagi marahnya itu lama, rasanya itu jauh lebih sakit dibandingkan ketika yang marah itu orang yang udah biasa marah sama kita. Apalagi kalau yang marah itu tipe orang kaya lo. Lo yang selalu ketawa, menghibur orang lain, bodo amat dengan perkataan dan sikap orang lain, tiba-tiba bisa marah sampai segitunya? Dan sampai segitu lamanya? Siapa yang nggak takut coba.”
“Gue kan juga manusia biasa yang nggak bisa lepas dari rasa marah, Van. Sorry ya gue udah bentak lo hari itu dan bikin lo nangis. Gue nggak bermaksud kasar. Gue sendiri nyesel. Harusnya gue nggak perlu sampai kaya gitu.”
“Iya, nggak papa. Gue juga salah kok. Maaf kalau apa yang gue lakuin malah bikin lo salah paham dan jadi tersinggung.”
“Enggak kok, lo nggak salah. Gue aja yang nggak bisa menghargai perhatian orang. Sebagai penebus rasa bersalah gue, mulai sekarang gue mau minum ramuan dari lo setiap hari. Jadi setiap hari lo harus rebus kulit manggis sama daun sirsak buat gue.”
Mataku terbelalak mendengar ucapan Malvin. Aku langsung menggenggam erat tangannya.
“Lo serius, Vin? Lo mau setiap hari minum ramuan itu?”
“Iya, Vanella. Gue mau. Dan gue mau di sisa liburan ini setiap pagi kita jogging bareng, setelah itu main tenis meja bareng. Sorenya kita nikmatin sunset dengan jalan-jalan. Gimana?”
“Setuju banget. Vin, gue seneng banget lo bahkan yang ngusulin semua ini.”
Aku begitu bahagia hingga aku tidak menyadari bahwa aku masih menggenggam tangan Malvin. Setelah tersadar barulah aku melepaskan tangannya.
“Eh maaf.”
“Yang lama juga nggak papa kok. Biar romantis.”
“Apaan sih lo.”
“Yuk jalan-jalan. Masih mau naik sepeda bareng gue kaya waktu itu, kan? Lo nggak trauma, kan? Tenang, kali ini gue nggak akan pingsan.”
“Siapa juga yang trauma. Mau dong. Ayo.”
Aku pun menikmati senja bersama Malvin dengan menaiki sepedanya seperti waktu itu. Sesekali Malvin membelok-belokkan sepedanya seolah akan jatuh. Aku pun berteriak dan tertawa. Orang-orang yang berlalu lalang selalu menatap ke arah kami. Tetapi kami mengabaikannya. Bagiku yang terpenting saat ini adalah senyuman Malvin yang telah kembali.
Sejak saat itu, setiap pagi aku dan Ranti selalu jogging bersama Malvin. Setelah itu kami bermain tenis meja. Terkadang Alby juga ikut. Tidak lupa sebelum aku dan Ranti pulang, kami memberikan ramuan kepada Malvin terlebih dahulu. Dia pun selalu menghabiskan ramuan herbal yang kami bawa meski rasanya tidak enak. Aku senang melihat Malvin mau melakukan semua itu. Aku harap kondisi kesehatannya semakin membaik.
Tidak hanya menghabiskan waktu pagi bersama Malvin, sorenya pun Malvin selalu mengajakku naik sepeda berdua dengan sepedanya. Kami bersepeda dengan santai sambil mengobrol. Sesekali kami berhenti untuk membeli minuman. Setiap orang yang kami temui pun selalu mengira bahwa kami adalah sepasang kekasih. Aku dan Malvin hanya bisa tertawa setiap mendengar ledekan orang-orang.
“Sayangnya nggak beneran pacaran ya. Eh kalau pacaran beneran mau nggak?” canda Malvin.
“Vin! Lo ngomong gitu sekali lagi, gue pukul lo ya.”
“Gaya banget mau mukul gue. Gue kan jago silat. Nggak takut?”
“Enggak lah. Lo nggak mungkin tega mukul atau banting gue.”
“Yakin banget. Sok tau!”
“Iya lah. Karena gue yakin dibalik cover badboy lo ini, lo itu sebenarnya baik.”
“Udah, Van. Gue melayang nih kalau dipuji.”
__ADS_1
“Lebay. Yuk lanjut lagi.”
Aku dan Malvin kembali melanjutkan perjalanan. Seperti itu sore yang kami lalui setiap hari. Akhir liburanku pun menyisakan kenangan indah.