
Malam itu kunikmati waktu bersantai dengan Ranti dan Om Mahesa dengan menonton televisi. Kami membicarakan tentang bisnis Om Mahesa dan Ranti. Mereka juga bergantian menanyakan tentang pendidikanku. Om Mahesa pun memberiku nasehat untuk menjadi pebisnis juga nantinya.
“Ibu dan ayah kamu itu pengusaha hebat. Kamu juga harus jadi seperti mereka nantinya,” ujar Om Mahesa.
“Pengennya sih gitu, Om. Tapi Vanella masih bingung mau jalanin usaha apa.”
“Kan ada banyak pilihan. Bisa bisnis makanan, pakaian, atau yang lainnya. Kamu sering tanya-tanya aja sama orang tua kamu.”
“Iya, Om. Belajar sama Ranti juga yang udah jadi pengusaha sukses.”
“Apaan sih, Van. Gue juga kan baru belajar.”
“Tapi butik lo udah rame banget, Ran. Itu artinya lo udah berada di tangga menuju kesuksesan lo.”
“Ya semoga aja nantinya bisa lebih sukses lagi dari ini. Sampaikan ucapan makasih gue buat orang tua lo ya. Berkat ajaran mereka gue jadi paham dunia bisnis.”
“Oke. Tapi jangan selalu merasa kalau ini semua karena mereka. Lo yang jalanin usaha ini sendiri dan berhasil artinya lo yang hebat. Eh gue besok ikut ke butik ya. Gue mau borong baju-baju lo.”
“Boleh. Wah ini nih yang gue tunggu-tunggu.”
Kami terus berbincang-bincang dan bercanda hingga tengah malam. Karena mulai mengantuk, aku dan Ranti pun ke kamar untuk tidur. Sementara Om Mahesa masih lanjut menonton televisi. Baru saja aku memejamkan mata, Ranti menggoyang-goyangkan tanganku.
“Ada apa sih, Ran? Gue ngantuk.”
“Bentar dulu. Lo belum jelasin rencana lo buat nyari tau tentang Kak Fius.”
“Rahasia lah. Pokoknya lo lihat aja hasilnya nanti.”
“Ih nggak asyik banget. Ya udah tidur sana.”
Ranti terlihat kesal. Dia langsung memiringkan badannya membelakangiku. Aku pun menggelitikinya hingga dia bisa tertawa. Setelah beberapa saat, barulah kami tertidur.
__ADS_1
Pagi harinya sesuai keinginanku, aku ikut Ranti ke butik. Aku melihat-lihat berbagai jenis pakaian yang dijualnya. Aku bingung memilih karena begitu banyak yang menarik di mataku. Aku membutuhkan waktu sekitar hampir satu jam hanya untuk memilih baju. Akhirnya kupilih lima baju karena aku tidak bisa memilih salah satunya. Aku pun membawanya ke kasir. Saat akan membayar, seseorang di sampingku memberikan uang kepada kasir sesuai dengan total harga baju yang kubeli. Aku menoleh ke arahnya. Ternyata dia adalah Mas Gus.
“Mas? Ngapain di sini? Terus ini kenapa ngasih duit ke kasir?”
“Buat bayarin baju Mbak. Calon suami harus biayain kebutuhan istrinya dong.”
“Enggak usah, Mas. Aku bisa bayar sendiri.”
Aku langsung memberikan sejumlah uang kepada kasir dan menahan tangan Mas Gus. Kuminta ia memasukkan uang itu ke dompetnya lagi. Aku mengajaknya keluar butik.
“Kok nggak boleh?”
“Selagi aku masih bisa bayar sendiri, kenapa aku harus minta dibayarin sama Mas? Lagian kemarin jalan-jalan udah bayarin aku. Makan pun juga Mas yang bayarin.”
“Ya nggak papa, kan? Mau beli baju di tempat lain lagi nggak?”
“Udah Mas nggak usah.”
“Belum. Tadi habis beres-beres rumah aku langsung ke sini.”
“Ya udah ayo ikut aku.”
“Kalau gitu aku bilang Ranti dulu.”
Aku masuk ke butik dan menemui Ranti. Aku mengatakan padanya bahwa aku akan pergi dengan Mas Gus. Dengan berat hati dia mengijinkanku. Aku tahu sebenarnya dia tidak ingin aku terlalu dekat dengan Mas Gus. Semua itu jelas terlihat di matanya.
Setelah keluar dari butik, aku segera pergi dengan Mas Gus. Kami menuju sebuah restoran. Mas Gus memesan ayam bakar untuk kami berdua.
“Kamu lagi nginep di rumah Ranti sekarang?’ tanya Mas Gus mengawali obrolan.
“Iya, Mas. Ibu masih ada kerjaan di luar kota.”
__ADS_1
“Oh gitu. Eh nggak papa kan sekarang aku panggilnya kamu, bukan mbak lagi.”
“Iya, nggak papa. Lagian emang umur mas kan lebih dewasa, jadi aku juga nggak enak kalau dipanggil mbak terus.”
“Emm... Van, aku udah cerita loh ke orang tuaku kalau calon istriku itu orang deket-deket sini.”
“Apa?! Mas, tapi kan aku belum mengiyakan pertanyaan Mas. Lagian aku juga nggak tinggal di sini lagi.”
“Tapi dulu kamu kan tinggal di sini. Ibu kenal banget kamu seperti apa. Jadi aku yakin ibu pasti seneng banget kalau kamu jadi menantunya. Meskipun sekarang aku belum ngasih tau ibu kalau calon menantunya itu kamu. Ibu penasaran banget tuh. Ya biarpun kamu belum jawab, aku yakin kalau jodoh aku itu kamu.”
“Kok Mas yakin banget kalau ibu Mas bakalan ngrestuin hubungan kita?”
“Soalnya dari dulu ibu pengennya aku nyari calon istri tuh cewek yang udah dikenal ibu. Jadi ibu udah tau sifatnya kaya apa. Apalagi ibu itu sering ngomongin tentang kamu. Semua orang juga kan ngenal kamu sebagai orang yang baik dan nggak sombong. Keluarga kalian itu bisa dibilang orang paling kaya di sini. Tapi kalian nggak pernah menyombongkan itu. Itu yang bikin ibu salut. Jadi aku yakin banget ibu bakalan ngrestuin kita. Tapi nggak tau sih kalau orang tua kamu.”
“Bagi orang tuaku sih yang penting calon suamiku itu orang baik yang nggak akan nyakitin anaknya, yang bener-bener serius sayang sama anaknya,” jelasku berusaha menegaskan bahwa aku tidak ingin seorang lelaki yang hanya ingin bermain-main denganku.
“Aku sayang banget sama kamu kok. Jadi pasti orang tua kamu setuju,” jawabnya dengan percaya diri.
Aku hanya tersenyum tipis. Meski dari sikapnya jelas aku merasakan rasa sayangnya, tetapi entah mengapa aku masih ragu padanya.
Tak lama kemudian makanan pun telah sampai ke meja kami. Karena lapar, aku langsung menyantap makananku. Mas Gus justru sibuk merekamku yang sedang makan. Dia menertawakanku.
“Kepedesan ya, Mbak?”
“Ih Mas kok divideoin sih. Malu aku.”
“Lucu kalo kepedesan gitu. Ya biar aku punya kenangan setiap momen kebersamaan kita.”
Aku tidak bisa makan dengan tenang karena dia mengajakku bercanda sambil terus merekamku. Dia pun menunjukkan hasil videonya. Aku berusaha merebut dan menghapus video tersebut, tetapi dia menjauhkan ponselnya dariku. Kami terus membuat keributan tanpa mempedulikan orang-orang di restoran tersebut yang memperhatikan kami.
Tidak hanya hari itu, di hari-hari berikutnya Mas Gus selalu mengajakku pergi bersama. Kami pun sering menghabiskan waktu berdua di berbagai tempat wisata. Hal itu membuat rasa nyamanku padanya mulai tumbuh. Keraguanku pun perlahan memudar. Aku terus bertanya pada hatiku, lelaki yang memperlakukanku dengan sebaik ini dan sikapnya yang sesayang ini mungkinkah dia akan menyakitiku? Rasanya aku ingin memberi jawaban tidak. Terkadang aku pun berangan-angan bahwa dia benar-benar menjadi suamiku. Aku pasti akan menjadi istri yang sangat bahagia mempunyai suami yang selalu memanjakanku sepertinya. Apalagi dia orang yang sangat sabar. Dia tidak pernah marah sedikit pun. Dia juga seorang yang humoris yang selalu punya cara untuk membuatku tertawa. Hari-hariku menjadi begitu indah dengan kehadirannya.
__ADS_1