Salah!! Direvisi Di Naskah Infinity

Salah!! Direvisi Di Naskah Infinity
Dari Cinta Menjadi Sahabat


__ADS_3

Banyak orang mengatakan bahwa masa SMA itu adalah masa yang paling indah. Masa di mana kegilaan bersama sahabat menjadi waktu yang berharga setiap harinya dan tentu saja masa-masa indah mengukir sejarah cinta. Namun tidak denganku dan sahabatku, Ranti. Sejak awal masuk SMA hingga menjelang kelas 12 ini, kami masih saja cuek dengan urusan cinta. Padahal ada banyak pilihan di depan mata, tetapi mereka yang pernah menyatakan cintanya kepadaku kini justru menjadi sahabat dekatku. Misalnya Alby, cowok berkulit sawo matang dann berambut ikal, yang memiliki hobi bermain gitar dan bernyanyi. Sejak hari pertama masuk SMA hingga sekarang, sudah lebih dari lima kali dia menyatakan cintanya. Meski dengan segala perhatian yang selalu coba dia tunjukkan, aku masih saja tidak memiliki ketertarikan padanya. Kedekatan itu justru membuat kami menjadi sahabat dekat sekarang. Tidak peduli dengan rasanya yang berulang kali kuabaikan, dia tetap menjadi salah satu sahabat terbaikku tanpa ada rasa canggung.


Fero, cowok bertubuh tinggi dengan rambut acak-acakan. Sejak dia mulai menyukaiku, dia seperti menjadi bayanganku yang kemanapun aku pergi selalu mengikutiku dan memotretku secara diam-diam. Bahkan ada yang mengatakan bahwa di ponselnya sudah ada ratusan fotoku. Anehnya, dia tidak pernah terang-terangan mengungkapkan perasaannya. Dia begitu canggung setiap kali berbicara denganku, sehingga kami jarang sekali bertegur sapa.


Malvin, cowok yang memiliki fisik hampir sempurna, dengan tinggi badannya, tubuh atletisnya, hidung mancungnya, tetapi terkenal sebagai playboy papan atas. Selain dikenal playboy, dia juga terkenal karena kegilaan dan kenakalannya. Sudah puluhan kali dia keluar masuk ruang BK karena ulahnya. Ada saja kenakalan yang dia lakukan yang membuatnya harus sering bertatap muka dengan guru BK. Berbeda dengan teman-temannya yang tidak pernah menyerah untuk melakukan segala cara demi menunjukkan perasaan mereka kepadaku, Malvin hanya sekali menyatakan cintanya. Begitu aku menolaknya, dia tak pernah lagi mengatakannya. Justru kami menjadi sahabat baik sekarang. Orang yang melihat isi buku Malvin pasti tahu bahwa bukunya penuh tulisan tanganku karena dia seringkali malas mencatat dan aku yang selalu diminta untuk mencatat. Karena aku suka menulis, jadi aku selalu menuruti permintaannya. Aku tidak pernah menyangka bahwa kami akan sedekat sekarang. Aku masih ingat betapa dulu aku sangat membencinya. Aku bahkan masih ingat bahwa aku sudah mulai illfeel padanya sejak pertama kali kami bertatapan. Saat itu adalah hari pertama kami masuk kelas setelah MOS selesai di mana kami maju satu per satu memperkenalkan diri.


"Hai, namaku Vanella Rose Karina. Kalian bisa memanggilku Vanella. Aku harap kita semua bisa jadi teman baik," ucapku saat memperkenalkan diri. Aku tersenyum dengan menatap kepada teman-temanku.


"Hai, Vanella..." jawab mereka serentak.


"Vanella, mau nanya dong. Sebelumnya kenalin, gue Malvin, cowok paling ganteng di sini," ujar Malvin dengan penuh percaya diri ketika itu sembari mengangkat tangannya.


"Tanya apa?"


"Udah punya pacar belom? Kamu cantik, sempurna, kaya pramugari."


Hampir semua siswa langsung bersorak meledeknya. Kelas pun menjadi ribut hingga Pak Herdi, wali kelas kami berusaha menenangkan mereka. Aku sendiri langsung membuang muka mendengar pertanyaan itu. Sebuah pertanyaan tidak berfaedah yang seharusnya tidak perlu dia tanyakan.


"Aku nggak punya pacar dan aku gak pengen mikirin soal itu sekarang."


"Wah cocok. Kapan-kapan mau ya jadi pacarku?"


Sorakan dari teman-teman sekelas kembali terdengar.


"Malvin, belum juga kenal udah mau disrobot aja," ledek Pak Herdi, wali kelas kami yang ikut tertawa.


"Habisnya cantiknya kelewatan sih, Pak. Nanti keduluan yang lain."


Sejak saat itu aku sudah bisa menilai bahwa Malvin itu cowok playboy yang suka menebar rayuan gombal kepada setiap gadis. Lalu kebencianku timbul ketika dia melakukan hal yang benar-benar membuatku kesal ketika itu.


Saat itu, aku baru saja kembali dari kantin sekolah. Aku berjalan bersama Ranti sambil asyik mengobrol. Tiba-tiba Malvin menabrakku. Aku hampir terjatuh. Secara refleks aku memeluknya. Aku mendongakkan kepalaku. Begitu melihat bahwa yang kupeluk adalah Malvin, aku langsung melepaskannya.


"Tepat sasaran! Dia berhasil nabrak Vanella," bisik Alby kepada Fero yang berdiri tidak jauh dari sana.


Untung saja aku memiliki pendengaran yang tajam hingga aku mampu mendengar apa yang mereka katakan. Aku langsung menatap Malvin dengan kesal.


"Apa lagi ini? Lo sengaja kan nyuruh temen-temen lo nabrakin lo ke arah gue? Apa maksud lo? Apa lo nggak ada kerjaan lain? Jangan pernah berani nyentuh gue!" Kemarahanku langsung meledak.


"Gue kan nggak sengaja. Gue minta maaf. Apa ada yang sakit?" Malvin berusaha mengelak.


"Jangan pura-pura lagi! Gue nggak bodoh. Gue paham banget tipe cowok macem apa lo ini. Lo bakalan ngelakuin apapun buat dapetin apa yang lo mau. Iya, kan?!"


Teman-teman menatap ke arah kami. Namun aku tidak peduli dengan itu. Aku tidak tahan dengan ulah Malvin. Malvin berusaha meraih tanganku untuk meminta maaf. Aku langsung menepisnya. Ranti yang selalu menjadi tamengku pun mulai maju. Dia mendekati Malvin.


"Udah gue bilang kan jangan pernah macem-macem sama Vanella! Pergi dari sini! Gue nggak takut buat mukul lo kalau lo berani melakukan hal bodoh kaya gitu lagi."


Malvin bersama Alby dan Fero pun langsung menjauh pergi sambil tertawa. Untung saja Ellisa buru-buru mendekat dan menenangkan kami. Dia juga teman sekelasku dan merupakan sepupunya Malvin.


Sejak kejadian hari itu, aku selalu menjauhi Malvin. Dia seperti bakteri yang tidak ingin kudekati apalagi kusentuh. Aku takut bahwa dia akan melakukan berbagai hal bodoh lainnya lagi. Namun walaupun aku sudah bersikap cuek dan selalu menghindarinya, Malvin tidak pernah berhenti mencoba melakukan berbagai hal gila di depanku hanya untuk membuatku tertawa. Jujur saja hal konyol yang dia lakukan berhasil menghiburku dan hampir membuatku gagal menahan tawa, tetapi aku masih enggan untuk dekat dengannya. Hingga tiba hari di mana dia menunjukkan kesungguhannya dalam meminta maaf dengan datang ke rumahku.


Ranti dan aku baru saja tiba di rumah ketika itu. Saat aku baru turun dari motor, aku melihat seseorang berdiri di depan rumahku. Aku hanya melihatnya dari belakang, tetapi aku mampu mengenalinya. Dari perawakan dan gelagatnya sudah tampak jelas bahwa itu adalah Malvin. Ranti pun tampak kesal dan ingin menghampiri Malvin. Aku mengerti bahwa dia masih kesal atas apa yang dilakukan Malvin kepadaku di hari itu. Pasti dia ingin memarahi Malvin. Aku pun mencegahnya.


"Jangan, Ran! Gue tau lo masih kesel sama kelakuan Malvin waktu dia sengaja nyuruh temen-temennya buat nabrak gue hari itu, kan? Tapi itu udah beberapa hari yang lalu. Lupain aja. Gue yang akan ngadepin dia. Lo pulang, istirahat."


"Tapi gimana kalau dia bikin masalah sama lo lagi? Gue nggak akan bisa tinggal diem."

__ADS_1


"Tenang, Ranti. Ini rumah gue. Dia nggak akan berani macem-macem di rumah gue. Ibu kan ada di rumah. Gue juga akan selalu megang HP gue. Kalau dia ngelakuin hal buruk lagi, gue akan langsung chat atau telpon lo."


"Janji?"


"Iya. Sekarang lo pulang aja. Lo harus makan dan istirahat."


"Gue nggak akan bisa istirahat sebelum dia pulang dari rumah lo, Van. Setelah gue pastiin kalau lo baik-baik aja, baru gue akan tenang."


"Lo emang satpam terbaik. Gue akan baik-baik aja. Bye." Aku memeluk Ranti dan berusaha meyakinkannya bahwa aku akan baik-baik saja.


"Oke.Inget ya, hati-hati. Jangan terlalu deket sama dia."


"Iya, tenang aja."


Ranti akhirnya setuju untuk pulang. Tetapi kuperhatikan saat dia turun dari motor, dia masih melihat ke arah Malvin. Sesaat kemudian barulah dia masuk rumah. Saat itu baru aku menghampiri Malvin.


"Malvin."


"Hai, Vanella. Maaf gue kesini tanpa ngomong sama lo dulu."


"Nggak papa. Tapi kok lo tau rumah gue?"


"Nggak penting gue tau dari mana. Yang jelas gue ada perlu. Makanya gue usahain buat dateng ke sini."


"Terus kenapa nggak masuk? Ibu gue ada di rumah."


"Gue malu karena ini pertama kalinya gue ke sini."


"Ayo. Duduk sini. Gue akan panggil ibu dulu."


"Anak kesayangan ibu udah pulang."


"Iya, Bu."


Aku mencium tangan ibu dan memeluknya. Melihat ibu, Malvin langsung bangkit dari duduknya dan mencium tangan ibu.


"Selamat siang, Tante. Saya Malvin, temen sekelasnya Vanella," sapa Malvin dengan sopan.


"Oh jadi kamu temennya Vanella? Mari masuk, Nak."


"Nggak usah, Tante. Makasih. Di sini aja."


"Kalau gitu kalian ngobrol-ngobrol aja dulu. Ini camilan sama minumannya. Tadi Tante lihat kamu udah lama berdiri di luar. Melihat seragam sekolah kamu, Tante langsung tau kalau kamu pasti temennya Vanella."


"Makasih, Tante. Maaf jadi ngrepotin Tante."


"Setiap temennya Vanella yang ke sini harus makan atau setidaknya minum. Jadi nggak usah sungkan-sungkan. Kalau gitu Tante masuk dulu. Kalian ngobrol-ngobrol aja."


"Tante duduk di sini nggak papa kok, Tan."


"Enggak lah. Tante kan udah tua. Nggak ngerti masalah anak muda."


"Kata siapa, Tan? Tante masih muda banget. Malah kelihatan lebih muda dari Vanella."


Aku langsung menginjak kaki Malvin. Ibu justru tertawa mendengar candaan Malvin.

__ADS_1


"Tuh kan, Van. Ibu lebih muda dari kamu kata temen kamu tuh."


"Mana ada. Udah Ibu jangan dengerin omongan orang gila ini."


"Ya udah Ibu masuk dulu ya. Jangan lupa diminum, Nak Malvin."


"Siap, Tante. Berapa menit lagi pasti langsung habis makanan sama minumannya."


Ibu hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepala melihat sikap Malvin yang sama sekali tidak merasa canggung meski baru pertama kali bertemu dengannya. Bahkan Malvin sudah bisa akrab dan bercanda dengan ibu.


Setelah ibu masuk, aku pun duduk di depan Malvin dan mulai bertanya kepadanya.


"By the way, kenapa, Vin? Apa yang bikin lo sampe harus dateng ke sini?"


"Gue mau minta maaf atas apa yang gue lakukan waktu itu. Gue tau gue salah. Gue cuma pengen deket sama lo. Lo cuek banget, jadi gue selalu nyari cara buat bikin lo kesel biar lo mau ngomong sama gue walaupun ngomongnya itu marah-marah. Gue seneng tiap kali denger ocehan lo. Gue tau lo marah banget. Jadi gue jauhin lo selama beberapa hari. Gue kasih waktu biar kesel lo ke gue ilang. Sekarang gue harap lo udah gak marah lagi dan lo mau maafin gue."


"Iya, udah gue maafin. Tapi jangan diulangi lagi. Gue juga minta maaf karena udah ngomong kasar sama lo di depan temen-temen dan berpikiran buruk tentang lo."


"Oke. Lo gak perlu minta maaf. Wajar lah lo sampe segitu marahnya. Gue udah keterlaluan. Tapi jujur aja waktu itu gue sama sekali gak tersinggung. Gue justru seneng karena itu emang tujuan gue, bikin lo marahin gue. Entah gue seneng aja lihat lo marah-marah."


"Dasar orang aneh! Dimarahin kok seneng."


"Gue baru tau, lo ternyata galak juga ya. Cantik-cantik galak. Tapi gue tetep suka kok. Cuma gue sadar diri. Mana mungkin lo suka sama badboy kaya gue. Lo boleh nolak gue. Lo boleh pacaran sama orang lain. Tapi pasti nikahnya sama gue."


"Ngarep lo. Tujuannya mau minta maaf, eh ini malah ngomongin apaan."


"Eh iya, sorry belok dikit. Oh ya, gue denger lo suka main tenis meja, kan? Kebetulan gue juga punyai hobi yang sama. Apa sore ini kita bisa main tenis meja bareng?"


"Gue lagi nggak pengen ke mana-mana."


"Kalau besok? Lusa? Minggu depan? Bulan depan? Tahun depan?"


"Sampai kapanpun gue nggak akan mau. Jadi nggak usah ditungguin," jawabku sambil menjulurkan lidah, meledeknya.


"Lihat aja nanti lo yang bakal ngajakin gue."


"Ngarep aja terus."


Kami mengobrol cukup lama sambil menikmati camilan yang ada di meja. Malvin mulai meminum kopi buatan ibu dan menikmati roti yang ada di toples. Dia begitu lahap seperti orang kelaparan. Aku pun tertawa melihatnya.


"Kenapa ketawa?" tanya Malvin dengan mulutnya yang masih penuh dengan roti.


"Gimana gue nggak ketawa? Cara makan lo kaya orang kelaperan. Apa lo nggak pernah dikasih makan di rumah?"


"Jangan kaget. Nanti lama-lama juga akan terbiasa lihat gue makan selahap ini kalau udah jadi istri gue. Maaf ya, gue emang nggak punya malu."


"Ngelantur terus lo. Udah-udah lanjutin aja."


"Jangan dilihatin terus. Nanti naksir."


Aku tidak bisa berhenti tertawa. Melihatnya terus bicara dengan mulutnya yang penuh roti itu sangat lucu. Kedua pipinya seakan mengembang dan keringatnya mulai bercucuran seperti sedang lomba makan saja. Dia bahkan hampir tersedak. Aku lihat kopinya sudah habis, jadi aku memberinya kopiku. Dia bahkan langsung meneguk habis segelas kopiku. Setelah itu dia langsung berpamitan untuk pulang.


Itu adalah kenangan lucu bersama Malvin yang setiap kali kuingat selalu membuatku senyum-senyum sendiri. Sejak hari itu aku tidak lagi membencinya. Aku malah mulai menyukai sesuatu darinya, bukan dirinya, tetapi cara makannya. Malvin selalu makan dengan terburu-buru dengan keringat yang bercucuran. Terlebih bila memakan makanan pedas. Melihatnya makan saja sudah bisa menjadi hiburan tersendiri bagiku.


Don't forget to like and comment guys🤗

__ADS_1


Biar makin semangat update💕


__ADS_2