
Aku merenung di dalam kelas, mengingat kembali setiap kata-kata menyakitkan yang Arka ucapkan. Tidak dapat kupungkiri bahwa memang aku masih sangat mencintainya. Bahkan dalam penglihatan Arka pun mataku masih memperlihatkan cintaku untuknya. Sedikit saja dia menyakitiku, rasanya begitu menyesakkan.
“Nasib lo malang banget ya, Van. Satu per satu orang yang cinta sama lo ninggalin lo,” celetuk Ellisa yang tiba-tiba menghampiriku.
“Apa maksud lo?”
“Ini. gue temuin ini di laci meja lo. Sorry gue terlalu kepo dan nggak bisa nahan rasa penasaran gue. Jadi gue udah baca duluan.”
Ellisa memberikan sebuah surat. Aku mulai membacanya.
*Vanella, ini gue Fero. Maaf gue pergi tanpa ngomong dulu sama lo. Gue pamit. Gue nggak bisa sekolah di sana lagi. Gue kesel sama diri gue sendiri yang terlalu terobsesi sama lo dan sayangnya gue nggak bisa milikin lo. Jadi akan lebih baik kalau gue jauhin diri dari lo. Gue lega udah sempet ngungkapin perasaan gue sebelum gue pergi. Walaupun lo secara terang-terangan nolak gue. Bagaimanapun gue seneng bisa kenal lo. Maaf karena gue bikin lo risih selama ini. Sekarang gue udah pergi jadi lo bisa tenang.
Oh ya, lo jangan sedih lagi ya. Masih banyak cowok yang lebih baik dari Arka. Bahkan tanpa lo tau, ada cowok yang sayangnya bener-bener tulus sama lo. Dia tulus sayang sama lo meskipun lo nggak pernah tau itu. Dia nggak pernah berharap lo bakalan bales perasaan dia karena dia cuma pengen lihat lo selalu bahagia. Suatu saat lo harus buka hati lo buat orang itu. orang yang memiliki cinta dengan nilai yang tak terhingga buat lo.
I Miss You,
Fero*
“El, maksudnya ini apa? Fero keluar? Dia nggak sekolah lagi.”
“Yaps. Lo udah tau kan penyebabnya siapa? Lo. Lo itu pembawa sial di sini. Lo lihat Arka nggak bisa jalan dengan normal lagi dan nggak bisa main bola lagi itu waktu pacaran sama siapa? Lo, kan? Alby pernah dihukum cuma karena berkorban buat lo. Sekarang Fero juga kehilangan mimpinya, dia keluar dari sekolah cuma gara-gara lo. Gue heran ya kenapa cowok-cowok itu bisa suka sama lo.”
Aku mengabaikan Ellisa dan langsung berlari keluar kelas.
“Mau ke mana lo? Gue belum selesai ngomong!”
Aku tidak menghiraukannya. Dengan kepanikan, aku bertanya dengan setiap siswa yang kutemui. Hari ini memang Fero tidak masuk dan mereka tak ada satu pun yang tahu di mana Fero. Aku langsung menuju ke kantor. Di depan pintu aku bertemu dengan Pak Irgi.
“Vanella, kamu kenapa lari-lari? Ada apa?”
“Pak, Vanella mau tanya. Apa bener Fero keluar?”
“Iya. Dia tadi pagi-pagi ke sini. Katanya dia nggak mau sekolah lagi dan mau langsung cari kerja.”
Aku terdiam. Pak Irgi menatapku heran.
“Kenapa? Dia nggak pamitan sama kalian semua?”
“Enggak, Pak. Ya udah, Pak. Vanella permisi.”
“Iya. Hati-hati ya. Jangan lari-lari.”
Aku berjalan perlahan. Aku seperti tidak percaya. Fero bisa mengambil keputusan sebesar itu hanya karena masalah cinta? Aku menyesal karena terakhir kali aku berbicara dengannya, aku malah memarahinya. Aku tidak tahu bahwa itu akan menjadi pertemuan terakhirku dengannya. Rasa bersalah mulai menghantuiku. Aku pun teringat dengan Ranti. Dia pasti akan sedih mengetahui tentang ini, tetapi dia harus mengetahuinya sekarang. Aku memutuskan untuk mencarinya.
Aku menemukan Ranti di kelas. Dia tengah menangis dengan Tara di sampingnya yang terus mengusap bahunya dan memeluknya.
“Tara, ini ada apa? Ran, lo kenapa?”
Ranti bangkit dari duduknya dan berdiri menatapku. Dia tampak sedang sangat marah.
“Nggak usah pura-pura nggak tau. Bukannya lo udah dapet surat dari Fero? Ellisa udah ngasih tau gue tentang isi surat itu. Lo sadar nggak? Lo udah bikin dia keluar dari sekolah! Fero berhenti sekolah gara-gara lo, Van!”
“Ran, tenang. Kok lo jadi nyalahin gue?”
“Terus siapa yang harus gue salahin? Satu-satunya orang yang salah di sini itu lo! Gue udah pernah bilang, kan. Gue nggak masalah kalau lo terima cinta dia. Gue tau banget gimana Fero begitu terobsesi sama lo sampai dia selalu ngikutin lo. Gue udah nyaranin lo buat nerima dia. Gue nggak masalah kalau harus ngelihat dia jadian sama sahabat gue sendiri yang penting dia seneng dan dia tetep ada di sini, tetep bisa selalu gue lihat setiap hari. Sekarang? Gue nggak akan pernah ketemu dia lagi. Itu gara-gara lo!”
“Ran, jangan kaya gini. Lo cuma lagi emosi. Lo tahan. Jangan sampai gara-gara ini lo jadi nyalahin sahabat lo sendiri.” Tara berusaha menenangkan Ranti. Namun api kemarahan Ranti tak juga padam.
“Belain aja terus dia!”
Ranti melangkah keluar kelas dengan wajah kesal. Tara lalu mendekatiku.
“Van, jangan dipikirin ya kata-katanya Ranti. Dia cuma masih syok aja sama keluarnya Fero.”
“Iya gue ngerti kok, Tar. Lo mending samperin dia deh. Tenangin dia. Lo jangan belain gue.”
“Tapi kan...”
“Cepet, Tar. Gue nggak papa. Pokoknya selama Ranti masih marah sama gue, lo harus selalu di sampingnya dia. Gue nggak mau dia sedih sendirian. Please.”
“Oke. Sorry. Gue yakin dia nggak akan lama kok marahnya.”
**
Semenjak hari itu Ranti menjauhiku. Dia tidak mau lagi berangkat sekolah bersamaku atau bahkan menyapaku. Selama beberapa hari, dia menjadi seperti orang asing yang tidak mengenalku. Meski aku selalu berusaha mendekatinya, selama itu pula dia berusaha menjauhiku. Keadaan tidak nyaman yang sangat menyiksa perasaanku. Kehilangan sahabat baikku rasanya jauh lebih menyakitkan daripada saat aku kehilangan cinta pertamaku, Arka.
Tidak hanya Ranti, Malvin pun menjauhiku. Aku tidak mengerti ada apa dengannya. Dia berhenti menggangguku seperti biasanya. Sebelumnya aku selalu merasa kesal dengan keusilannya, tetapi aku justru merindukannya saat semua kebiasaan itu tidak dilakukannya lagi. Aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan dan berharap Malvin yang lama akan kembali.
Tara juga terpaksa harus menjauhiku. Jika dia tidak melakukannya, Ranti mungkin juga akan menjauhinya. Bagaimanapun Ranti membutuhkan sosok sahabat untuk mengobati rasa kesedihannya. Setidaknya aku bisa lega karena Tara bersamanya meskipun aku juga sedih karena aku jauh dari mereka.
Satu-satunya sahabat yang kumiliki saat ini hanyalah Alby. Aku merasa beruntung karena masih ada dia. Kalau tidak, hari-hariku akan jauh lebih membosankan.
“Ayo, bentar lagi ekskulnya dimulai,” ajak Alby ketika dia menemaniku ke minimarket membeli minuman sebelum kami mengikuti ekskul bulutangkis.
“Bentar. Gue mau beli snack dulu. Mana ya snack kesukaan gue.”
“Cewek emang ya kalau belanja di mana aja lama.”
“Sabar, Al. Nanti kan lo juga bakalan punya istri. Jadi lo harus mulai biasain nemenin cewek belanja.”
“Iya, bener banget dan gue emang harus ekstra sabar karena istri gue nanti kan lo. Udah tau dari sekarang kan gue kalau lo itu lama belanjanya.”
“Ngomong apa lo barusan? Nggak usah ngayal.”
“Berharap dikit boleh, kan?”
“Enggak.”
Aku menemukan keripik singkong pedas. Mendadak itu mengingatkanku dengan Malvin. Aku ingat bagaimana lucunya dia saat memakan keripik yang pedas ini. Tanpa sadar aku tersenyum sendiri. Aku bahkan tak begitu mendengar apa yang Alby katakan.
__ADS_1
“Van, kenapa sih lo? Diajak ngobrol malah bengong. Senyum-senyum sendiri lagi.”
“Eh, sorry. Lo ngomong apa tadi?”
“Telat. Mikirin apa sih lo?”
“Enggak, gue cuma keinget Malvin waktu makan keripik ini. Dia itu lucu banget kalau makan makanan pedes. Keringetnya udah kaya orang abis marathon berkilo-kilo meter. Terus ekspresinya juga lucu. Lo kan sahabat deketnya dia, tau kan lo gimana ekspresi Malvin kalau makan makanan pedes?”
“Lo kangen Malvin ya?”
Seketika senyumanku memudar begitu mendengar pertanyaan Alby.
“Eh udah yok. Gue udah beli semua camilan sama minuman. Nanti kita telat lagi.”
Aku mengambil beberapa keripik tersebut dan bergegas menuju kasir, berusaha melarikan diri dari pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan dilontarkan Alby. Saat baru keluar, Alby menghentikanku dengan tangannya.
“Van, lo belum jawab pertanyaan gue. Lo kangen sama Malvin? Lo sedih ya sekarang lo nggak deket sama dia?”
“Enggak kok. Udah gue nggak mau bahas.”
“Lo nggak perlu bohong.”
“Udah, Al. Nggak usah bahas orang-orang yang sekarang jauh dari gue. Gue harus terbiasa tanpa mereka. Sekarang kan cuma lo doang yang masih tersisa.”
“Sorry gue nggak bermaksud bikin lo sedih. Lo tenang aja, gue nggak akan ninggalin lo sendirian.”
Aku tersenyum. Kami pun segera menuju tempat ekskul bulutangkis. Tanpa kami sadari, kami sudah terlambat beberapa menit.
“Ke mana aja kalian? Kalian udah telat lebih dari lima menit. Kalian tau kan hukumannya kalau telat? Kelilingi lapangan sebanyak lima kali,” tegas pembimbing ekskul kami.
“Lima kali, Pak? Biasanya kan cuma tiga kali, Pak. Jangan banyak-banyak dong, Pak.” Alby berusaha memohon.
“Itu bagi yang telatnya nggak sampai lima menit. Ini kalian telatnya lebih dari lima menit. Udah nggak usah protes atau akan saya tambah hukumannya.”
“Jangan, Pak. Iya maaf, Pak. Kami siap menjalankan hukuman kok.”
“Van, lima kali itu nggak gampang. Lo kuat?”
“Jangan ngremehin gue. Kuat kok. Lagian ini kan karena kesalahan gue yang kelamaan belanja. Sorry ya.”
“Pak, biar saya aja yang dihukum. Vanella kan cewek, Pak. Kasihan.”
“Nggak ada toleransi. Kalian berdua harus dihukum. Lagian dia kan udah lama ikut ekskul bulutangkis, masa fisiknya nggak kuat. Lari-lari kecil aja kalau nggak kuat. Cepetan.”
“Udah, Al. Gue bisa kok. Ayo.”
Aku menarik tangan Alby dan langsung berlari sebelum dia protes lagi.
“Van, lo yakin lo kuat? Lapangan sebesar ini lo kelilingi lima kali?”
“Yakin, Al. Lagian kan gue nggak sendiri. Ada lo. Kita sambil ngobrol, sambil cerita, pasti nggak akan terasa capeknya.”
Kami terus bercerita sambil berlari. Meski lelah, aku masih bisa tertawa karena Alby berusaha menceritakan hal-hal lucu. Namun setelah menyelesaikan tiga putaran, kakiku mulai terasa lemas, napasku mulai semakin cepat, dan mataku mulai berkunang-kunang. Aku berusaha menahannya. Semakin lama aku merasa tidak bisa mengendalikan diriku lagi. Perkataan Alby pun mulai tak begitu jelas terdengar. Aku terjatuh, tetapi tak sampai pingsan. Alby langsung terlihat panik.
“Van, lo kenapa? Tuh kan apa gue bilang. Udah lo istirahat aja. Biar gue deh yang ngijinin atau gue yang gantiin hukuman lo.”
“Enggak, Al. Gue masih bisa kok. Sebentar lagi gue juga udah bisa lari lagi.”
“Jangan dipaksain. Gue nggak mau lo kenapa-kenapa.”
Aku bangkit kembali. Aku mencoba meyakinkan Alby bahwa aku masih bisa berlari.
“Ayo kita lanjutin.”
“Jangan bandel deh lo. Udah istirahat aja.”
“Nggak mau. Ayo, Al.”
Aku berlari meninggalkan Alby. Meski sebenarnya aku memang kelelahan, tetapi aku terus memaksakan diriku untuk berlari hingga akhirnya saat hampir menyelesaikan putaran keempat, aku terjatuh kembali. Kali ini aku seperti tidak bisa lagi berdiri. Kakiku terasa sakit.
“Van, udah cukup. Gue nggak akan ngijinin lo lari lagi.”
“Kaki gue sakit, Al.”
Alby mulai memijit kakiku. Aku memperhatikannya yang terlihat khawatir. Alby begitu perhatian.
“Udah, Al. Sakit.”
“Lain kali kalau dibilangin jangan bandel.”
“Biarin. Maaf ya gue udah nyusahin lo. Gara-gara gue lo jadi harus ikut dihukum, terus sekarang lo harus gendong gue.”
“Katanya cewek itu makhluk yang selalu merasa paling benar dan anti banget buat minta maaf. Kok lo enggak? Lo malah hobi banget ngomong maaf.”
“Gue kan beda sama cewek lain. Gue istimewa.”
“Iya istimewa sampai ditinggalin ya sama Arka.”
Aku langsung memukuli pundaknya. Bukannya kesakitan, dia malah tertawa.
“Al! Ngeselin sih lo. Itu dianya aja yang nggak punya hati dan nggak bisa melihat keistimewaan gue. Lo kalau berani ngeledek lagi awas aja.”
“Van, gue gendong aja ya daripada kaki lo tambah sakit.”
Aku terpaksa mengangguk karena memang kakiku kesulitan untuk berdiri. Namun saat Alby akan menggendongku, tiba-tiba Malvin datang. Dia menarikku hingga aku terjatuh. Sorot api kemarahan tampak di wajah Alby.
“Kurang kerjaan banget sih lo!”
Mereka saling menatap tajam. Kemudian Malvin tersenyum dengan santainya. Dia mendekatiku dan mengulurkan tangannya. Alby menampiknya.
__ADS_1
“Minggir lo!”
Alby membantuku untuk berdiri. Aku masih merasa kesakitan. Yang paling terasa sakit bukan kakiku, tetapi hatiku. Aku tidak menyangka bahwa Malvin bisa sekasar itu. Dengan menahan rasa sakit, aku mendekatinya.
“Vin, gue salah apa sih sama lo. Lo kayanya benci banget sama gue.”
“Manja banget sih lo. Gitu aja minta gendong. Sengaja cari perhatian sama Alby? Masih bisa jalan, kan? Cuma muterin lapangan doang.”
“Vin!”
Alby hampir lepas kendali. Dia mulai mengangkat tangannya. Aku pun menahannya.
“Jangan, Al. Dia cuma lagi cari perhatian. Iya kan lo yang cari perhatian, bukan gue.”
“Nggak usah sok jadi cewek lemah. Jalan sendiri sana. Kan lo sendiri yang bikin lo sama Alby harus dihukum. Ya tanggung jawab lah sama perbuatan lo. Makanya jangan kelamaan kalau belanja. Nyusahin orang aja.”
“Dari mana lo tau?”
“Nggak penting gue tau dari mana.” Malvin tampak gugup.
“Udah nggak usah nyusahin temen gue lo. Cewek manja!”
“Vin, stop! Gue ngak merasa kalau Vanella nyusahin gue. Nggak usah kebanyakan omong lo!”
“Nih ya gue buktiin kalau sebenarnya Vanella itu bisa jalan.”
Malvin memegang tanganku dengan kuat dan memaksaku untuk berjalan. Alby berusaha menyingkirkan tangan Malvin, tetapi dia semakin erat mencengkeram tanganku.
“Lo lihat kan Vanella masih bisa jalan? Lagian cuma satu puteran lagi. Minggir lo! Jangan halangin gue.”
“Gila lo! Lo nggak lihat Vanella kesakitan gitu?”
“Tapi dia bisa jalan, kan? Lo mau Vanella ditambah hukumannya gara-gara kurang satu putaran?”
“Malvin bener. Gue masih bisa kok, Al. Lo lari duluan aja. Gue bisa kok.”
“Tuh, lo nggak denger Vanella ngomong apa barusan?”
“Tapi, Van...”
“Please, Al. Jangan bikin gue merasa kalau gue banyak nyusahin lo. Gue nggak papa kok.”
“Lo yakin?”
“Ya udah, tapi gue nggak akan biarin lo sama Malvin berdua doang. Nggak percaya gue sama ni anak. Gue akan lari pelan-pelan. Kalau dia ngapa-ngapain lo, teriak panggil gue ya?”
“Oke.”
Aku tersenyum meyakinkan Alby bahwa aku baik-baik saja. Dia lalu berlari mendahuluiku dengan tetap memelankan langkahnya. Sementara aku terus memandangi Malvin yang terus menggenggam erat tanganku, membantuku yang kesulitan berjalan. Dia menatap lurus ke depan seolah tak ingin menatapku.
“Lo kenapa masih peduli sama gue?”
“Peduli? Jangan PD lo. Gue cuma nggak suka orang yang nggak bertanggung jawab apalagi lari dari hukumannya.”
Meski mencoba mengelak, aku bisa merasakan bahwa Malvin masih peduli kepadaku. Cengkeraman tangannya kuyakin juga bukan untuk menyakiti, melainkan untuk menopangku yang kesulitan untuk berjalan dengan kakiku yang masih terasa begitu sakit. sepanjang putaran kelima aku terus menatapnya dengan tersenyum. Walaupun da bersikap cuek dan tak ingin menatapku, tetapi aku senang bisa sedekat ini dengannya lagi. Namun saat putaran kelima selesai, Malvin langsung melepaskan tanganku dan sedikit menjauh dariku.
“Vin, makasih.”
“Hmmm,” jawabnya cuek.
“Lo nggak kangen jailin gue?”
Malvin diam tak menjawab. Sekilas dia menatapku, lalu duduk menjauh dariku. Alby yang melihatku langsung datang menghampiriku. Dia kembali memijit kakiku.
“Kaki lo pasti tambah sakit ya? Malvin emang keterlaluan!”
“Jangan salahin dia. Malvin bener kok. Gue harus bertanggung jawab sama hukuman gue.”
“Kaki lo sakit, Van. Kalaupun lo berhenti bukan berarti lo lari dari hukuman lo. Sekarang lo duduk aja ya. Nggak usah ikut ekskul.”
“Gue kan ke sini buat ikut ekskul. Gue bisa kok.”
“Masih mau bandel?”
Malvin kembali menghampiriku dan mendorong Alby menjauh dariku.
“Kalau nggak bisa, nggak usah sok pahlawan! Sini biar gue yang mijitin kaki Vanella.”
Malvin mulai memijit kakiku, lalu menariknya dengan kuat. Aku menjerit kesakitan. Sontak Alby langsung meneriakinya.
“Malvin! Apa yang lo lakuin?!”
“Diem lo. Van, coba gerak-gerakin kaki lo, terus berdiri. Gue bantu.”
Aku mengikuti ucapannya. Ajaib. Saat kugerakkan kakiku, rasa sakitnya hampir menghilang. Aku memegang tangan Malvin dan mencoba berdiri. Benar saja. Aku sudah bisa berdiri.
“Vin, Al, gue bisa berdiri lagi. Vin, kok lo bisa...”
“Gue kan sering main sepak bola. Udah biasa nanganin kaki yang cidera kaya gini. Alby mana ngerti.”
“Lo sekali lagi ngremehin gue, gue akan lupain kalau lo temen gue!”
“Vin, Al, udah lah. Ngapain sih ribut-ribut. Yang penting kan sekarang gue udah nggak papa dan bisa ikut ekskul. Vin, by the way makasih ya.”
“Nggak usah seneng dulu. Gue cuma nggak suka lihat cewek manja.”
“Gue tau kok lo masih peduli sama gue biarpun lo pura-pura cuek.”
Malvin meninggalkan kami berdua tanpa berkata apapun. Aku tersenyum senang karena akhirnya aku bisa dekat lagi dengan Malvin meski hanya beberapa menit.
__ADS_1