Salah!! Direvisi Di Naskah Infinity

Salah!! Direvisi Di Naskah Infinity
Keraguan


__ADS_3

Seperti sebuah impian yang menjadi nyata. Impianku yang ingin menikah tanpa melalui proses pacaran kali ini hendak diwujudkan oleh seorang lelaki yang aku baru akrab dengannya selama beberapa hari di media sosial. Namun berbagai keraguan masih terus memenuhi pikiranku. Apakah dia benar-benar lelaki yang baik seperti yang dikatakan orang-orang selama ini? Apakah dia lelaki yang tepat untukku? Berbagai pertanyaan berkecamuk di otakku. Tanganku bahkan sudah gemetar memegangi ponselku. Aku masih belum membalas pesan dari Mas Gus.


Merasa tidak ingin salah menentukan keputusan, aku pun memanggil Ranti. Aku ke dapur dan menariknya masuk ke kamar.


“Ada apa sih, Van? Lo juga kenapa dari tadi di kamar melulu? Nggak mau sarapan? Bentar lagi kan kita mau ke butik.”


“Bentar dulu. Gue butuh pendapat lo. Gue bener-bener lagi bingung.”


“Kenapa lo? Tangan lo sampai dingin gini.”


Perlahan aku menarik napas dan mulai menceritakan semuanya kepada Ranti. Dia seakan tidak percaya mendengarnya. Dia baru percaya setelah membacanya sendiri di ponselku.


“Gue harus jawab apa, Ran?”


“Gue nggak berani ikut-ikutan, Van. Masalah nikah itu udah urusan serius. Gue nggak mau ngasih saran yang salah. Sekarang gue tanya lo. Lo yakin nggak sama dia? Lo ada rasa nggak sama dia?”


“Kalau soal rasa itu kan bisa tumbuh setelah menikah. Banyak kok orang yang menikah tanpa pacaran yang sebelumnya nggak saling cinta. Tapi setelah menikah bisa saling jatuh cinta dan malah lebih romantis. Tapi soal yakin enggaknya, entah kenapa ya gue masih ragu sama dia, Ran.”


“Apa yang bikin lo ragu? Bukannya kemarin-kemarin lo muji-muji kepribadian dia?”


“Pokoknya dari matanya itu gue kaya lihat sisi lainnya dia yang itu nggak sesuai sama sifat dia yang terlihat selama ini. Gue kan pernah video call sama dia, gue coba pandangin matanya, nah dari situ gue kaya ngerasa aneh gitu. Kayanya dia bukan orang baik. Tapi nggak tau juga sih. Gue nggak mau asal berpikiran buruk.”


“Nah mata-mata detektif lo aja bilang gitu. Mending jangan diterima deh.”


“Gue takut gue salah menganalisis orang, Ran. Apalagi niat dia kan baik ngajak gue nikah. Gue nggak mau nyesel nolak niat baik dia. Gimana kalau dia beneran baik kaya apa yang orang-orang bilang?”


“Lo coba cari tau dulu aja. Pokoknya jangan langsung diterima. Kali ini tolong dengerin kata gue. Gue nggak mau lo patah hati lagi.”


“Iya, Ran.”


Aku langsung membalas pesan Mas Gus setelah mendengar pendapat Ranti. Aku meminta diberi waktu. Mas Gus pun siap untuk menunggu keputusanku. Dia mengatakan bahwa seminggu lagi dia akan pulang dan menemuiku. Dia ingin mengobrol langsung denganku. Ranti langsung memintaku mengiyakan permintaannya. Menurut Ranti ini bisa menjadi caraku untuk mencari tahu seperti apa Mas Gus sebenarnya.


Setelah seminggu berlalu, akhirnya waktu yang ditunggu pun tiba. Mas Gus pulang. Di hari kedua dia di rumah, dia datang menemuiku di rumah Ranti. Aku sudah bersiap untuk pergi dengannya.


“Kabarin gue terus ya. Kalau dia macem-macem sama lo langsung telpon gue.”


“Oke. Lo standby sama HP lo ya, Ran.”


“Iya. Hati-hati.”


Aku keluar dan menemui Mas Gus. Jantungku berdebar kencang karena ini pertama kali aku bertemu dengannya. Dia tersenyum kecil.

__ADS_1


“Udah siap, kan? Ayo.”


“Kita ke mana?”


“Maunya ke mana?”


“Ya udah jalan aja. Nanti aku tunjukin arahnya, Mas.”


Aku naik ke motornya. Aku mengajaknya ke salah satu tempat paling romantis, sebuah tempat seperti bukit yang dipenuhi bunga sakura. Meski hanya bunga buatan, tetapi di sana sangat indah dan rasanya seperti berada di Jepang sungguhan. Mas Gus mengikuti kemauanku.


Kami masih merasa canggung. Selama di perjalanan kami hanya mengobrol sesekali dan lebih banyak diamnya. Tidak seperti saat di chat di mana kami bisa saling bercanda.


Setelah sampai di lokasi yang kami tuju, aku mulai berjalan mengikuti Mas Gus yang berjalan di depanku. Mas Gus bersikap sangat baik kepadaku. Dia selalu berbicara dengan lembut sambil tersenyum. Mas Gus begitu perhatian hingga sesekali dia membawakan tas yang kubawa tanpa rasa malu. Jarang sekali ada lelaki sepertinya. Ternyata dia aslinya memang seorang yang lembut seperti saat di chat.


Aku dan Mas Gus berkeliling melihat indahnya bunga sakura. Aku menyewa hanbok di sana karena di sana disediakan dua jenis pakaian untuk disewa, yaitu hanbok dan kimono. Setelah memilih sebuah hanbok berwarna merah, Mas Gus mengajakku untuk naik ke jembatan merah dengan balon udara di atasnya. Itu merupakan spot foto favorit pengunjung. Terlebih dari atas kami bisa melihat pemandangan desa kami yang begitu indah.


“Ayo aku fotoin,” ujarr Mas Gus sambil tersenyum.


“Enggak lah, Mas. Malu.”


“Sayang banget kalau di sini nggak foto. Ayo nggak usah malu. Nanti gantian Mbak yang fotoin aku.”


Dengan terpaksa aku mengikuti kemauan Mas Gus. Meski sebenarnya aku malu untuk difoto oleh orang yang tidak terlalu akrab denganku. Setelah saling foto sendiri, Mas Gus mengajakku foto berdua. Dengan malu-malu aku mendekat ke arahnya. Dia mengajakku turun dan berfoto di salah satu spot foto lagi. Dia meminta salah satu pengunjung di sana untuk memotret kami. Setelah itu dia mengajakku duduk untuk makan. Kami tidak memesan makanan di sana karena Mas Gus telah membawa camilan sendiri. Kami menikmati camilan dan minuman sambil mengobrol. Namun beberapa kali obrolan kami terganggu dengan dering ponselnya. Kulihat ada nomor tanpa nama yang terus menelponnya. Tiba-tiba Mas Gus menyeletuk.


“Mbak, ada kartu yang nggak kepake?”


“Ada. Buat apa, Mas?”


“Buat aku pake. Males dari tadi ada nomor nggak dikenal yang nelponin. Orang iseng kayanya.”


Aku pun memberikan salah satu kartu yang tidak kupakai lagi. Dia mengganti kartunya dengan kartuku. Aku sedikit curiga. Mengapa dia harus mengganti kartunya? Dan dari mana dia tahu bahwa itu hanya orang iseng? Aku sendiri telah memintanya untuk mencoba mengangkat telepon dari nomor tersebut, mungkin saja itu teman atau keluarganya. Tetapi Mas Gus menolak. Dia malah langsung mengganti kartunya.


Setelah cukup lama duduk di sana, Mas Gus mengajakku pulang. Di tengah perjalanan dia mengajakku berhenti untuk makan di salah satu restoran.


“Nanti mau bulan madu ke mana? Apa mau ke Jepang beneran? Kayanya Mbak suka banget sama bunga sakura,” celetuk Mas Gus.


Tentu saja aku terkejut mendengar pertanyaannya. Aku saja belum mengiyakan pertanyaannya, tetapi dia sudah menanyakan tentang bulan madu. Aku hanya menjawabnya dengan senyuman karena tidak tahu harus berkata apa.


“Kapan-kapan kalau aku pulang lagi kita foto prewed ya? Setelah Mbak Wisuda, baru kita lamaran terus nikah.”


“Apa nggak kebalik, Mas?”

__ADS_1


“Ya nggak papa, Mbak. Aku kan sibuk kerja di luar kota. Jadi kalau fotonya setelah lamaran ya nggak sempet.”


“Kita omongin nanti aja, Mas. Aku belum mikir terlalu jauh.”


“Cepet kasih jawaban ya, Mbak. Biar kita bisa cepet nentuin tanggalnya. Aku bener-bener serius sama Mbak. Apa Mbak masih ragu? Kalau aku cuma main-main, aku pasti ngajaknya pacaran aja, nggak mungkin langsung ngajak nikah.”


Mas Gus terus berusaha meyakinkanku. Dia juga menjelaskan mengenai gajinya yang lumayan besar.


“Aku nggak mandang harta, Mas. Dengan Mas ngomongin soal gaji nanti dikira aku matre. Nanti aku pikirin lagi.”


Mas Gus tersenyum. Selama berbicara denganku, dia selalu tersenyum ramah. Dia juga memperlakukanku dengan sangat baik dan sopan. Hal itu malah membuatku semakin bingung menentukan jawaban.


Setelah pulang ke rumah, aku langsung berlari masuk. Kurebahkan tubuhku di sofa, tepat di samping Ranti yang sudah sejak tadi menungguku.


“Seru banget kayanya. Sampai mau sore gini baru pulang.”


“Enggak juga. Nih lo lihat sendiri.”


Aku menunjukkan beberapa video yang aku rekam saat bersama Mas Gus. Selama beberapa kali aku tidak sengaja merekamnya yang sibuk dengan ponselnya.


“Apaan ini? Dia ngajak lo jalan tapi malah asyik sama HP-nya?”


“Sebenarnya gue nggak dicuekin sih. Ya dia memperlakukan gue dengan baik banget. Lembut banget sumpah aslinya. Tapi ya itu gue merasa aneh aja. Kayanya ada chat penting yang terus-terusan ganggu dia. Bahkan tadi dia ditelponin sama nomor tapi nggak ada namanya gitu. Setelah itu dia minta kartu gue katanya biar nggak diganggu sama nomor itu lagi. Aneh nggak? Padahal kan belum tentu itu orang iseng. Siapa tau itu temen atau keluarganya. Ngapain coba pake ganti kartu.”


“Wah ada yang nggak beres nih, Van. Lo harus selidiki tentang dia. Jangan sampai lo kemakan rayuan buaya lagi.”


“Tenang aja. Gue udah punya rencana. Sebentar lagi gue akan tau siapa dia. Tapi semoga aja kecurigaan kita nggak bener karena sayang banget kalau gue nggak jadi sama dia. Cowok selembut itu jarang banget gue temui. Dia itu udah idaman gue banget.”


“Jangan sampai rasa kagum lo nutup mata lo dari kebenaran tentang siapa dia. Lo jangan asal percaya deh.”


“Tapi kan emang orang-orang ngenal dia sebagai orang yang baik dan kalau sekarang gue udah buktiin sendiri betapa baiknya dia, apa itu belum cukup, Ran?”


“Lo lihat sendiri kan dia mencurigakan gitu?”


“Dia kan kerja. Mungkin aja dia ada masalah pribadi tentang pekerjaannya. Bukannya setiap orang punya privasi masing-masing yang orang lain nggak perlu tau?”


“Berhenti gunain pemikiran lo yang terlalu baik itu, Van. Sebenarnya mata lo lihat hal yang nggak beres dari dia, kan? Tolong jangan buat diri lo sendiri ngalami patah hati lagi.”


“Oke kali ini gue ikutin saran lo.”


Sepertinya kali ini aku memang harus menggunakan kemampuan detektifku lagi karena ini menyangkut masalah serius. Pernikahan bukanlah hal yang main-main. Apakah kali ini penyelidikanku akan mengecewakanku lagi?

__ADS_1


__ADS_2