
Dengan rasa panik aku terus memanggil nama Malvin. Tubuhnya terus mengejang seolah sangat kesakitan. Aku pun mulai menangis.
“Vin, jangan kaya gini dong. Biarpun gue benci sama lo, tapi kalau lo kaya gini gue khawatir tau.”
“Mendingan kita telpon dokter deh, Van.”
Kurasa saran Ranti itu benar. Kalau tidak entah apa yang akan terjadi pada Malvin. Kami sendiri tidak tahu dia kenapa. Aku segera mengambil ponsel dari saku celanaku. Namun belum sempat aku menekan nomornya, Malvin memegang tanganku. Matanya melotot dan dia juga menjulurkan lidah ke arahku.
“Yee kalian kena prank...”
Malvin berdiri dan tertawa terbahak-bahak. Aku menatapnya heran. Ranti dan Tara mendengus kesal. Mereka langsung mengacak-acak rambut Malvin dan memukulinya dengan tangan mereka.
“Menurut lo itu lucu? Mau minum jus pare lagi? Dasar nyebelin! Pulang lo pulang!” Tara terus berteriak kepada Malvin. Sementara tawa Malvin malah semakin keras.
Aku hanya terdiam melihat mereka. Malvin mendekatiku dan menarik pipiku.
“Ngalamun lo? Tumben nggak ikut marahin gue?”
Aku menarik tangan Malvin dan membawanya agak menjauh dari Ranti dan Tara. Aku mulai menatapnya serius. Namun Malvin masih terus tertawa.
“Nggak usah bohong lo.”
“Bohong apaan? Lo kenapa sih, Van?”
“Nggak lucu! Gue tau kok lo tadi nggak pura-pura. Lo beneran sakit, kan? Terus kenapa sekarang lo pake bilang kalau itu prank?”
“Ya emang itu prank. Gue mau bales kalian karena tadi udah bikin gue minum jus pare. Apaan sih lo.”
“Gue tau saat lo bohong atau lo jujur. Gue juga ngrasain keringat yang ada di tangan lo, ekspresi lo, lo itu beneran kesakitan, kan? Lo sakit apa, Vin? Lo sengaja nutupin itu dari gue dan yang lain, kan?”
“Ya ampun, Vanella. Sejak kapan lo jadi mellow gini sama gue?”
“Gue nggak suka dibohongin, apalagi sama temen gue sendiri! Gue paling benci pembohong!”
Aku meninggalkan Malvin. Kubereskan buku-buku yang masih ada di meja. Aku hendak masuk ke rumah meninggalkan mereka, tetapi Tara menghentikanku.
“Loh, mau ke mana, Van?”
“Gue udah nggak mood. Gue masuk dulu. Kalian lanjutin aja.”
“Vin, lo apain Vanella?” Tara langsung menyalahkan Malvin karena melihat tingkahku yang berubah usai berbicara dengan Malvin.
“Nggak gue apa-apain. Tau tuh temen lo aneh.”
“Lo yang aneh.” Aku berteriak membalas jawaban Malvin.
**
Aku duduk sendiri di bangku yang ada di depan kelas saat jam istirahat. Sementara Ranti dan Tara masih di dalam kelas.
“Gue mau ngomong sama lo.” Suara yang paling tidak kusukai itu tiba-tiba terdengar di dekatku.
Aku langsung berdiri dan menatapnya tajam.
“Ada apa lagi sih, El? Lo nggak ada capek-capeknya ya gangguin gue? Waktu kelas 10 gue masih menghargai lo, gue masih bisa baikin lo, tapi lama-lama lo makin bikin gue risih. Gue udah nggak bisa lagi bersikap baik sama lo. Sebenarnya apa sih masalah lo sama gue?”
“Lo nggak sadar apa kesalahan lo? Lo salah karena udah jadi saingan gue di sini. Harusnya gue yang jadi cewek paling populer di sini kaya waktu gue SMP. Lo dengan topeng lo yang sok manis itu berani banget ngrebut posisi gue.”
“Itu doang? Lo sekolah emang cuma ngejar kepopuleran? Denger ya, populer atau nggak itu nggak penting buat gue. Gue sekolah buat masa depan gue. Bukan sekadar buat cari perhatian kaya lo!”
“Udah-udah gue males denger ceramah lo. Gue mau to the point aja. Lo apain Arka sih? Dari tadi pagi gue lihat dia kusut gitu mukanya. Kayanya dia lagi marah banget. Lo kalau nggak bisa bahagiain Arka nggak usah deh macarin dia.”
“Kenapa nggak tanya orangnya langsung? Lagian lo ngapain ikut campur masalah pribadi gue sama Arka? Nggak ada kerjaan banget.”
“Lo udah nggak peduli sama Arka? Pantesan Arka jadi mepetin gue.”
“Maksud lo apa? Nggak usah halu deh!”
“Gue ada buktinya.”
Ellisa menunjukkan isi pesan Arka. Arka berusaha merayunya. Aku terkejut melihat chat mesra mereka.
“Atau masih nggak percaya?”
Ellisa melangkah menuju kelas 11 IPA1. Di sana Arka sedang berdiri mengobrol bersama teman-temannya. Begitu Ellisa datang dan menyapanya, Arka membalas sapaan Ellisa dengan begitu manis. Mereka mengobrol dengan jarak yang begitu dekat. Terlihat mereka begitu akrab. Arka bahkan selalu tersenyum saat berbicara dengan Ellisa. Merasa tak tahan dengan rasa cemburu yang mulai membakarku, aku menghampiri mereka.
“Arka!”
__ADS_1
Baru saja akan melangkah mendekatinya, Arka yang melihatku dengan ekspresi kekesalannya langsung melangkah pergi. Aku berusaha mengejarnya, tetapi dia melarangku.
“Nggak usah kejar gue. Urusin aja temen kesayangan lo itu.”
Rupanya dia masih marah karena saat itu aku meninggalkannya begitu saja dan memilih menemani Malvin di UKS. Aku tidak menghiraukan perkataannya. Aku menghadang tepat di depannya.
“Ka, kamu marah? Maaf. Kamu tau sendiri kan gimana keadaan Malvin waktu itu?”
“Aku nggak marah. Aku cuma cemburu karena pacar aku lebih perhatian sama cowok lain.”
“Itu nggak bener. Please jangan marah lagi.”
“Oke. Nanti sore temenin aku ekskul sepak bola ya.”
“Iya. Aku pasti nemenin kamu.”
“Ke kantin yuk.”
Aku mengangguk. Dia menggandeng tanganku. Sambil berjalan aku terus memandanginya. Aku senang setiap kali berada di dekatnya dan bisa memandangnya sedekat ini. Mata dan senyumannya adalah hal indah yang menjadi favoritku untuk kupandang.
“Kenapa ngeliatin aku terus?”
“Nggak boleh? Kalau gitu aku ngeliatin cowok lain aja.”
Aku mengalihkan pandanganku ke cowok-cowok yang sedang bermain basket. Arka dengan sigap menutup mataku.
“Nggak boleh! Jangan lirik-lirik yang lain.”
Arka membuka kembali mataku dan memalingkan wajahku hingga kini aku menghadap ke arahnya.
“Kamu cuma boleh mandang aku.”
“Dasar egois.”
“Biarin. Kan kamu Vanellanya Arka.”
Aku tersenyum mendengarnya. Kami terus bercanda selama berjalan menuju kantin.
**
Sudah saatnya untuk pulang sekolah. Aku bersiap merapikan buku-buku di dalam tasku.
“Lo duluan ya. Gue mau nemenin Arka ekskul.”
“Kan kita ada ekskul juga?”
“Gue ijin sekali ini aja. Arka pengen gue temenin. Nggak papa kan gue nggak ikut ekskul bulutangkis kali ini? Maaf.”
“Mulai deh bucinnya. Emangnya dia nggak berani sampe harus ditemenin? Hmmm ya udah oke deh. Gue duluan ya.”
“Iya.”
“Van, gue juga duluan ya. Gue mah setia sama ekskul voli gue. Nggak kaya lo. Demi nemenin pacar rela ninggalin ekskul. Sungguh dua sejoli yang romantis,” ledek Tara.
“Nanti kalau lo punya pacar awas aja lo kalau ngebucin juga.”
“Itu urusan nanti. Yang penting gue sekarang kan jomlo. Lebih bebas. Nggak ada yang nyuruh-nyuruh dan nggak harus ngurusin anak orang.”
“Udah sana pergi pergi. Mau gue olesin cabe?”
“Kabur ah. Princess galak mulai marah.” Tara berlari keluar sambil menjulurkan lidahnya.
Aku bergegas ke kantin membeli sebotol minuman untuk Arka. setelah itu barulah aku menuju ke lapangan. Aku melihat sekelilingku, mencari keberadaan Arka. Dia yang sedang mengikat tali sepatunya tersenyum ke arahku dan melambaikan tangannya. Aku pun langsung menghampirinya.
“Hai calon pemain timnas. Lagi siap-siap ya?”
“Iya, calon istri pemain timnas. Wah beneran ditemenin ini?”
“Pastinya dong. Ini aku bawain minuman. Kalau haus langsung ke pinggir lapangan.
“Nggak perlu. Lihat senyum kamu aja haus dan capekku udah hilang.”
“Dasar tukang gombal.”
“Aku tinggal dulu ya.”
“Oke. Semangat.”
__ADS_1
Kuberikan senyuman termanisku sebelum aku berlari ke pinggir lapangan. Di sana ternyata juga banyak para siswi yang sedang menemani pacar mereka. Setidaknya aku tidak sendirian. Dengan sabar aku menunggu Arka hingga selesai. Meski cuaca sedang panas, tetapi bisa terus memandanginya bermain sepak bola memberi kesejukan tersendiri dalam diriku.
Setelah selesai, Arka langsung berlari ke arahku. Aku pun memberikan sebotol minuman yang kubawa untuknya. Namun tiba-tiba Ellisa datang dan menyodorkan sebotol minuman juga.
“Kamu capek, kan? Ini aku bawain minum,” ujar Ellisa.
“Nggak usah. Aku udah bawain buat Arka.”
Arka melihat kami berdua dengan wajah kebingungan. Dia lalu mengambil botol minuman yang kami pegang.
“Nggak usah ribut. Gue minum semua. El, makasih ya.”
“Sama-sama.”
Ellisa menyeka keringat Arka dengan saputangannya. Bukannya berusaha menghindar, Arka malah membiarkannya seolah tidak menyadari kehadiranku di sebelahnya.
Mendadak Alby datang dan mendengus kesal. Dia menatap Arka dengan sorot mata tajam.
“Keterlaluan lo, Ka!”
“Kenapa lo dateng-dateng langsung marah? Ada masalah apa sih di hidup lo?” balas Arka dengan santai.
“Lo yang bermasalah! Cewek lo ada di samping lo, tapi lo malah biarin cewek lain ngelap keringet lo. Lo nggak bisa menghargai perasaan cewek lo?”
“Vanella diem aja tuh. Dia biasa aja, kenapa lo yang sewot?”
“Dia diem bukan berarti dia nggak cemburu. Lo hargai dong! Dia udah nemenin lo panas-panasan gini, lo malah nyakitin dia.”
“Emang apa salah gue? Ada dua cewek yang perhatian sama gue, terus gue harus cuek sama salah satunya?”
“Bisa-bisanya lo ngomong gitu. Nggak punya hati lo! Gue nggak peduli ya biarpun lo temen deket gue dari kecil!”
Alby mulai tersulut emosi. Tangannya mulai mengepal seolah bersiap memberi Arka pukulan keras. Sebelum segalanya semakin memburuk, aku berusaha meredam amarahnya.
“Al, udah. Gue nggak papa. Lo nggak perlu marah-marah gini.”
“Lihat, sayang. Pahlawan kamu ini sok paling peduli sama kamu. Ini yang bikin aku nggak betah pacaran sama kamu. Kamu dikelilingi banyak cowok-cowok model begini. Gimana aku bisa tahan?”
“Apa maksud kamu? Ka, dia cuma temen aku. Wajar dia peduli sama aku.”
“Kamu nggak usah sok polos dengan pura-pura nggak tau kalau mereka yang deket sama kamu itu suka sama kamu. Temen? Oh temen. Oke kalau gitu nggak salah dong aku mesra-mesraan sama Ellisa dengan alasan Ellisa adalah sahabat deket aku.” Arka merangkul Ellisa. Sementara Ellisa tersenyum licik kepadaku.
“Aku pikir dapetin cewek hits di sekolah ini bisa semakin naikin popularitasku. Ternyata malah bikin aku terlihat seperti cowok bego di antara para cowok bego lainnya yang mengejar cewek yang sama,” lanjut Arka.
Dadaku terasa sesak mendengar perkataan Arka dan melihat sikapnya yang seperti itu. Aku hampir tidak percaya bahwa yang dihadapanku saat ini adalah Arka. Dengan menghela napas, aku berusaha menahan air mataku agar tidak menetes. Wajah Alby kembali merah menyala mendengar perkataan Arka. Tanganku berusaha menahannya yang hendak mendekati Arka.
“Jadi selama ini cuma demi popularitas? Makasih.”
Aku menarik tangan Alby dan berlari meninggalkan Arka. Setelah jauh dari lapangan, aku berhenti dan mulai menangis.
“Van, tolong jangan nangis. Lo nggak pantes nangisin cowok kaya dia.”
“Al, gue nggak percaya gue denger itu dari mulut Arka.”
Alby mulai menghapus air mata yang menetes di pipiku. Dia mengajakku duduk dan terus mengusap kepalaku sembari menghiburku.
“Bentar ya. Tunggu di sini.”
Alby meninggalkanku sesaat. Tak lama dia kembali dengan membawa dua buah es krim.
“Makan es krim ini. Lo suka es krim, kan?”
“Al, gue lagi nggak pengen makan atau minum apapun.”
“Tapi kalau lo lagi nangis, lo harus makan es krim. Biar air mata lo beku. Jadi lo nggak nangis lagi.”
“Apaan sih lo. Nggak lucu.”
“Emangnya siapa yang lagi ngelawak? Udah cepet dimakan sebelum mencair.”
Aku menghapus air mataku dan menerima es krim tersebut. Hatiku mulai tenang begitu memakannya.
“Makasih ya, Al. Kalau nggak ada lo gue udah nangis sendirian dan nggak tau mau ngapain.”
“Dan orang-orang bakalan ngira kalau lo kuntilanak yang lagi nangis.”
“Kok gitu?”
__ADS_1
“Cewek dengan rambut panjang terurai dan baju putih duduk sendirian sambil nangis, apaan coba kalau bukan kuntilanak?”
Aku langsung memukul tangannya. Untuk sesaat aku bisa tersenyum karena Alby.