
Aku sibuk memutar mataku, mengamati setiap detil rumah Malvin hingga tangan Alby yang menyentuh bahuku mengejutkanku.
“Eh, Al. Gimana keadaan Malvin?”
“Dia udah lebih tenang kok. Biarin dia istirahat dulu. Kamu lagi ngelihatin apa sih?”
“Enggak, gue cuma kaget aja ternyata rumah Malvin sebesar ini.”
“Ya jelas lah. Dia kan anak orang kaya.”
“Serius gue nggak pernah mikir kalau dia anak orang kaya. Selama ini penampilannya dia biasa-biasa aja.”
“Malvin emang gitu orangnya. Dia nggak pernah sombong. Beda sama Arka yang dari penampilannya aja udah memperlihatkan banget kedudukan dia. Kalau Malvin biarpun orang-orang ngenal dia sebagai bad boy, sebenarnya dia baik kok. Dia sahabat gue dari kecil, jadi gue paham banget sifat dia kaya gimana.”
“Baru tau gue. Selama ini gue cuma nilai dia dari kelakuan dia aja. Eh, lo kan temen deketnya dia, lo pasti tau kan dia sakit apa sebenarnya?”
“Kan gue udah bilang gue nggak tau apa-apa, Van. Malvin itu agak tertutup kalau untuk urusan kaya gitu. Dia itu paling nggak suka bikin khawatir orang lain. Gue sendiri juga lagi mikir dia kenapa. Gue kasihan sama dia. Orang tuanya cuma sibuk ngurusin kerjaan sampai nggak pernah merhatiin dia. Gue takut ada apa-apa sama dia dan nggak ada satu orang pun yang tau.”
“Itu juga yang lagi gue pikirin, Al. Gue pasti akan cari tau sebenarnya dia sakit apa. Kita harus selalu ada buat Malvin. Dia itu butuh banget perhatian dari orang-orang terdekatnya.”
“Iya, lo bener. Mmm... Van, gue mau ngomong sesuatu sama lo.”
“Bukannya dari tadi udah ngomong?”
“Enggak, ini beda. Gue serius. Tapi jangan di sini.”
“Oke.”
Aku dan Alby pun ke ruang tamu. Aku duduk di depannya, bersiap mendengarkan apa yang hendak dikatakan Alby. Dia mengeluarkan kotak kecil. Begitu dibuka, isinya sebuah jam tangan berwarna silver.
“Van, lo tau nggak, sebenarnya pas ulang tahun lo gue pengen ngasih lo ini. Maaf ya gue baru kasih sekarang karena waktu itu gue udah minder duluan."
“Kenapa?
"Waktu itu lo kan lagi deket sama Arka. Yang pertama, gue nggak enak karena Arka sahabat gue. Yang kedua, gue yakin kalau gue kasih ke lo langsung pasti lo tolak. Itu kan cuma jam tangan biasa dari orang biasa juga yang sama sekali nggak penting buat lo.”
“Kata siapa gue bakalan nolak? Gue selalu berusaha menghargai pemberian dari siapapun. Jam tangannya bagus kok. Gue suka. Gue pake sekarang ya.” Aku pun langsung memakainya.
“Kayanya lo masih belum ngerti maksud gue ya?”
“Emang apaan?”
“Gue ngasih itu karena gue cinta sama lo. Rencananya gue mau nembak lo pakai jam tangan itu, tapi Arka udah duluan nelpon gue dan ngasih tau kalau dia mau nembak lo. Makanya gue lebih baik mundur.”
“Jadi lo.... Al, sejak kapan?”
__ADS_1
“Sejak awal masuk SMA. Sejak pandangan pertama. Gue nggak tau sih lo percaya sama cinta pandangan pertama atau nggak. Yang jelas gue beneran jatuh cinta sama lo sejak pertama kali gue lihat lo dan rasa itu masih ada sampai sekarang.”
“Al, maaf. Tapi gue...”
“Iya, gue ngerti kok. Gue itu cuma cowok miskin dan jelek yang nggak pantes bersanding sama cinderella secantik lo.”
“Nggak gitu, Al. Gue nggak pernah mandang cowok dari fisik, harta, atau apapun itu. Lo tau kan apa yang terjadi sama gue dan Arka? Gue belum siap untuk berurusan lagi dengan cinta. Lagian lo itu sahabat gue. Ya biarpun kita deketnya belum lama.”
“Kalau gitu maaf gue harus ngomong ini sekarang. Lo boleh tenangin diri lo dulu. Gue akan selalu nungguin lo. Gue nggak akan bosen buat terus ngungkapin perasaan gue.”
Aku memalingkan wajahku dari Alby. Aku tidak ingin menatap matanya. Aku tidak ingin salah lagi dalam melihat keseriusan seseorang dari matanya. Sudah cukup kesalahanku dalam menilai Arka.
“Eh bentar ya,”
Alby masuk, sepertinya akan ke kamar Malvin. Aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan. Tak lama kemudian, dia kembali dengan membawa sebuah gitar.
“Buat apaan, Al?”
“Daripada bingung mau ngapain, mendingan dengerin gue nyanyi. Lo bakalan terhibur dengan suara merdu gue,” ucap Alby dengan begitu percaya diri.
“Mana coba gue pengen denger suara lo yang katanya merdu itu.”
Alby tersenyum. Perlahan jari-jarinya yang besar itu mulai memainkan gitar dan dia pun mulai bernyanyi. Dia menyanyikan sebuah lagu romantis dari Virgoun yang berjudul Bukti. Aku mendengarkan dengan seksama. Aku begitu menikmati nyanyiannya. Meski suara Alby berat dan menurutku sangat cocok untuk menyanyikan lagu-lagu rock, ternyata saat menyanyikan lagu mellow pun suaranya begitu indah.
“Suara lo itu emang top banget.”
“Bener kan kata gue? Suara gue merdu.”
“Iya deh iya sekarang gue percaya. Tapi dengan suara berat lo itu kayanya lebih cocok lo nyanyi rock deh.”
“Hampir semua orang bilang gitu. Tapi gue genre apapun bisa sih. Paling suka sih nyanyi reggae. Nih ya dengerin.”
Alby mulai menyanyikan lagu reggae. Aku pun tertawa. Suaranya sangat cocok untuk menyanyikan lagu reggae. Bahkan tak kalah bagusnya dengan penyanyi-penyanyi reggae.
“Keren keren. Emang nggak diraguin lagi. Jadi penyanyi aja udah.”
“Enggak ah. Biarin suara gue cukup untuk menghibur orang-orang aja.”
“Gue punya tantangan buat lo. Tantangan apa permintaan ya... Emm.. Pokoknya ini request gue sekaligus tantangan buat lo.”
“Apaan?”
“Janji bakalan lo penuhin?”
“Iya gue janji.”
__ADS_1
“Nanti waktu akhir semester genap lo nyanyi di acara pensi. Nyanyiin lagu yang menurut lo paling romantis.”
“Wah ni anak mau ngerjain gue. Gue nggak suka nyanyi di depan umum, Van.”
“Kan udah janji. Gue marah ni kalau nggak diturutin.”
“Yaa gimana ya... Oke deh terpaksa ni ya. Tapi lo harus nonton paling depan. Gimana?”
“Oke. Gue pasti nonton paling depan.”
“Deal.”
Kami berjabat tangan tanda telah disepakatinya janji kami. Sebenarnya aku hanya ingin Alby bisa lebih percaya diri dan menunjukkan bakatnya ke semua orang karena kulihat dia orang yang sering merasa rendah diri. Bahkan meski suaranya sebagus itu, dia tidak pernah menunjukkannya. Saat para siswa lain sering membawa gitar ke sekolah dan bernyanyi, meski suara mereka sangat membuat telinga tidak nyaman, Alby yang memiliki suara merdu justru tak pernah menunjukkan kemerduan suaranya.
“Uhukk.. uhukkk..”
Kami berdua dikejutkan dengan suara Malvin yang batuk di kamar. Aku pun segera berlari masuk ke kamarnya. Kulihat dia sedang berusaha meraih gelas yang ada di meja, namun dia tampak kesulitan. Dengan cekatan, aku langsung mengambilkan gelas itu untuknya. Aku membantunya duduk dan minum.
“Vin, kenapa nggak panggil gue sih? Gue kan masih ada di sini.”
“Gue nggak mau banyak ngerepotin lo, Van.”
“Nggak boleh gitu. Gue nggak pernah merasa direpotin. Pokoknya kalau lo ada apa-apa sewaktu-waktu, lo harus hubungin gue. Nggak papa lo nggak mau ngasih tau tentang penyakit lo. Yang penting kalau lo lagi sakit lo harus ngomong gue.”
“Udah kaya perawat gue aja. Lo bukan dokter yang harus 24 jam ngurusin orang sakit.”
“Vin, gue serius. Gue nggak mau lo kenapa-kenapa.”
“Siap, Dokter. Saya akan menghubungi anda kapanpun saya membutuhkan anda,” canda Malvin.
Aku hanya bisa tersenyum melihat tingkahnya. Dalam keadaan seperti ini dia masih bisa menghibur orang lain.
“Vin, gue pulang dulu ya. Tadi gue kan pamitnya mau jogging, pasti ibu khawatir karena gue nggak balik-balik. Nanti gue ke sini lagi.”
“Iya, Van. Tenang aja, ada Alby kok di sini. Thanks ya. Sorry udah ngerepotin lo.”
“Inget, dalam persahabatan jangan pernah ada maaf, terima kasih, dan rasa sungkan.”
Malvin tersenyum. Lega rasanya bisa melihat Malvin tersenyum kembali setelah melalui saat-saat menegangkan seperti tadi. Sebelum keluar, aku berhenti di depan pintu kamar tempat Alby berdiri.
“Al, jagain Malvin ya. Kalau ada apa-apa telepon gue.”
“Iya, Van. Hati-hati ya.”
“Oke.”
__ADS_1