Salah!! Direvisi Di Naskah Infinity

Salah!! Direvisi Di Naskah Infinity
Haruskah Berbagi dengan Sahabat


__ADS_3

Setelah putus dengan Arka, aku jadi lebih sering menyendiri di perpustakaan. Tempat yang menyimpan kenanganku bersama Arka. Kerinduanku sedikit terobati setiap kali aku berada di antara lautan buku ini.


Masih terekam jelas dalam memoriku bagaimana pertemuan keduaku dengan Arka di sini, di mana saat itu aku masih menatapnya dengan penuh kekaguman. Aku rindu menatap mata dan senyuman itu.


Vanella, apa-apaan. Berhentilah memikirkan dia.


Aku berusaha melawan perasaanku sendiri, tetapi rasanya masih begitu sulit. Aku tidak ingin melupakan semua kenangan itu.



Setiap akan tidur malam, aku memutar kotak musik pemberian Arka. Suaranya yang begitu tenang mengingatkanku kembali dengan keromantisan Arka. Kupandangi kotak musik itu dan kupeluk boneka beruang pemberian Arka yang sebelumnya kulempar dan kujauhkan dariku karena kemarahanku. Namun kini aku justru ingin selalu memeluknya erat, seakan tak ingin melupakannya.


“Sayang, gimana kamu mau nglupain dia kalau kamu masih nyimpen semua ini? Jauhin barang-barang ini dari kamu. Ibu nggak mau kamu sedih terus.”


“Tapi, Bu...”


Ibu mengambil boneka beruang dari pelukanku. Kini ibu yang memelukku.


“Ibu, dulu waktu ayah meninggal, apa Ibu juga sesedih ini?”


“Lebih dari itu, sayang. Kehilangan orang yang kita cintai karena kematian itu jauh lebih menyakitkan daripada kehilangan karena pengkhianatan. Ketika kita sudah terlanjur sangat mencintai seseorang, kesalahan apapun yang dia lakukan pasti akan dibenarkan oleh otak kita dan dengan mudah kita memaafkannya. Maka kehilangan pun nggak akan terasa begitu berat karena yang terpenting bagi kita, kita masih bisa tetap memandangnya meski hanya dari kejauhan. Berbeda dengan ketika maut yang memisahkan. Kita tidak punya waktu untuk menatap mata indah orang yang kita cintai lagi meski hanya sedetik. Cuma melalui foto dan semua kenangan yang terekam dalam otaklah kita bisa memandang mereka dan merasakan mereka ada di dekat kita.”


Aku mendengarkan kata-kata ibu sambil tetap memeluknya erat. Perlahan aku pun tertidur di pelukan nyaman ibu.


**


Aku memilih mengisi waktu luangku di hari Minggu dengan bermain ke rumah Ranti. Berbagi cerita dan bercanda bersamanya mungkin akan sedikit mengobati rasa sedihku.


“Air di rumah lo setinggi apa? Lo sama ibu lo nggak tenggelem, kan?”


“Hah? Lo ngomongin apa sih, Ran?”


“Lo kan tiap hari pasti nangisin cowok yang sok kegantengan itu. Gimana air mata lo udah nenggelemin rumah lo berapa meter?”


Kutimpuk wajah Ranti dengan sebuah bantal.


“Rumah lo mau gue bikin banjir juga?”


Ranti membalasku dengan melempar sebuah bantal juga.


“Kalau lo sampai nangis di sini, gue sedot itu air mata lo pakai sedotan wc biar habis sekalian. Biar nggak bisa nangis lagi lo. Kesel gue. Cowok kaya gitu aja ditangisin.”


“Sadis amat lo sama sahabat sendiri. Makanya coba lo jatuh cinta biar lo tau gimana sakitnya ngalamin kaya gue.”


“Ogah gue. Biar lo aja yang bucin. Gue mah normal.”

__ADS_1


“Jadi menurut lo gue nggak normal?”


“Enggak. Lo dari lahir nggak ada normal-normalnya. Makhluk paling aneh yang pernah gue temui.”


Aku kembali melemparkan bantal ke wajah Ranti. Kami saling berbalas melempar bantal hingga banyak bantal berserakan di lantai kamar Ranti. Aku berusaha menghindari lemparannya. Secara tidak sengaja aku menjatuhkan sebuah buku. Sepertinya itu buku diary. Karena merasa penasaran, tanpa meminta ijin kepada Ranti, aku langsung membacanya. Ranti yang melihat buku itu ada di tanganku langsung melompat merebutnya dan menjauh dariku. Namun aku sudah terlanjur membaca halaman depan buku itu. Aku terkejut dengan apa yang kubaca. Ranti menuliskan sebuah nama dengan dihiasi simbol love. Nama itu adalah Fero.


“Fero? Ran, lo...”


“Van, lo baca?”


“Jawab gue, Ran. Lo suka sama Fero? Kenapa lo nutupin ini dari gue? Sejak kapan ada rahasia di antara kita?”


Perlahan Ranti melangkahkan kakinya mendekatiku dan duduk di sampingku.


“Maaf gue nggak cerita sama lo. Yang lo pikir itu bener. Gue nggak mungkin ngomong jujur sama lo. Fero kan...”


“Suka sama gue? Lo kan tau gue nggak pernah suka sama dia. Jadi lo nggak perlu merasa nggak enak. Sekarang gue yang jadi nggak enak. Kalau gue tau sahabat gue suka sama dia, gue pasti akan lebih jauhin dia.”


“Jangan gitu dong, Van. Lagian gue nggak mungkin cemburu sama sahabat gue sendiri. Gue sadar kok cinta itu nggak harus dimiliki. Kalaupun misalnya lo nerima dia, gue juga nggak akan marah. Lo sahabat gue. Gue rela berbagi apapun sama lo. Apalagi cuma berbagi cinta.”


“Jangan ngaco deh lo. Gila lo! Gue nggak pernah suka sama dia dan gue nggak pernah berpikiran buat nerima dia. Lain kali lo jangan sembunyiin apa-apa lagi ya dari gue. Apapun itu, lo bisa cerita ke gue. Inget, kita emang harus berbagi dan berkorban buat sahabat, tapi nggak untuk semua hal.”


Kami berpelukan. Kejujuran selalu membuat keadaan menjadi lebih baik.


**


“Ran, gue ke kamar mandi dulu ya.”


“Nggak dihabisin dulu?”


“Perut gue nggak enak. Lo habisin aja.”


“Ada-ada aja lo. Ya udah gue habisin ya.”


“Nanti susul gue ke kelas.”


“Oke.”


Aku mempercepat langkah kakiku usai membayar makananku. Aku terus menengok ke belakang, khawatir kalau Fero akan mengikutiku. Namun tiba-tiba dia sudah menghadangku. Aku terkejut dan langsung menghentikan langkahku.


“Lo ngapain sih? Nggak capek ngikutin gue?”


“Nggak akan pernah capek.”


“Mau lo apa?”

__ADS_1


“Sekali ini aja dengerin gue. Selama ini gue cuma sibuk ngikutin lo diem-diem dan nyuri foto-foto lo tanpa ngomong apa-apa. Sekarang gue pengen ngomong.”


“Ngomong apa? Cepet. Gue nggak punya banyak waktu.”


“Kok lo cuek banget sih sama gue? Lo bisa deket sama Malvin dan Arka. Kenapa sama gue jutek?”


“Lo nggak nyadar? Lo bikin gue nggak nyaman. Gue berasa diikutin bayangan aneh setiap saat. Lo pikir gue nggak tau kalau tiap hari lo ngikutin gue?”


“Gue nggak peduli gimana respon lo. Gue cuma mau ngomong. Gue cinta sama lo. Gue nggak mau jauh-jauh dari lo.”


“Tanpa gue jawab lo udah tau kan jawaban gue? Mulai sekarang berhenti ngikutin gue. Jauhin gue.”


“Kenapa? Gue nggak bisa.”


“Keras kepala banget sih lo. Denger ya, salah satu sahabat gue suka sama lo dan gue nggak mau nyakitin dia dengan adanya lo di sekitar gue. Gue udah kehilangan salah satu sahabat gue dan gue nggak mau kehilangan yang lain lagi.”


“Oh jadi temen lo ada yang suka sama cowok yang ngejar-ngejar lo ini?” cetus Arka yang tiba-tiba datang.


“Lo minta dia jauhin lo demi sahabat lo? Kalau gitu kenapa lo nggak ngelakuin hal yang sama ke Leony? Dia juga sahabat lo, kan? Lo nggak mau jauhin gue demi Leony? Berkorban itu yang adil dong. Mereka kan sama-sama sahabat lo,” lanjut Arka.


“Gue nggak ngerti maksud lo. Gue kan udah nggak pernah deketin lo atau bahkan muncul di depan wajah lo.”


“Tapi lo masih sering ke perpustakaan buat ngobatin rasa kangen lo sama gue, kan? Lo diem-diem masih sering mikirin gue dan berharap kalau gue bakalan balik ke lo lagi?”


“PD banget ya lo! Iya gue akui gue masih butuh waktu buat move on, tapi gue nggak pernah sekalipun berharap kalau lo bakalan kembali di hidup gue. Gue udah nggak sudi!”


“Oh ya? Bukannya lo kangen sama tatapan ini?”


Arka mendekatkan wajahnya ke wajahku. Pupil mata kami saling bertemu. Aku mencoba mengendalikan perasaanku. Kudorong tubuhnya agar menjauh dariku.


“Jangan pernah berani-berani deketin wajah lo ke gue. Gue muak!”



“Kalau gitu lo juga harus sadar diri kalau gue nggak pernah cinta sama lo. Berhenti mikirin gue dengan khayalan-khayalan lo itu. Gue nggak akan pernah balik lagi ke lo. Gue udah nemuin cewek yang bener-bener bisa bikin gue jatuh cinta, yaitu Leony. Jangan pernah lo nyakitin perasaan dia.”


“Gue merasa bego banget pernah jatuh cinta sama makhluk kaya lo. Sekarang gue merasa beruntung karena bisa lihat wajah asli lo.”


“Terserah lo ngomong apa. Yang jelas lo jangan pernah ngelakuin apapun yang akan nyakitin cewek gue.”


Arka meninggalkanku begitu saja. Hatiku kembali merasakan sakit. Aku tidak menyangka bahwa Arka bisa menjadi monster seperti ini.


“Van, lo nggak papa?”


Aku berlari tanpa menjawab pertanyaan Fero. Di salah satu sudut koridor sekolah, aku mulai menangis. Lagi-lagi aku hanya bisa menangis.

__ADS_1


__ADS_2