
Usai kejadian di lapangan hari itu, selama beberapa minggu aku tidak berkomunikasi dengan Arka. Kami berhenti saling bicara. Bahkan saat berpapasan di sekolah pun kami seperti orang asing yang tidak saling mengenal. Semuanya seolah berakhir begitu saja tanpa kutahu bagaimana status hubungan kami.
Aku membuka setiap lembaran buku matematikaku dengan pikiranku yang melayang entah ke mana. Renggangnya hubunganku dengan Arka benar-benar membuatku hilang semangat.
Brukk...
Malvin melemparkan bukunya ke mejaku, lalu menghampiriku.
“Daripada ngalamun mending kerjain tugas gue. Gue pusing lihat rumus-rumus itu.”
Tanpa menjawab, aku melemparkan kembali buku itu ke meja Malvin. Malvin langsung duduk di depanku sambil menatapku.
“Lo kenapa sih? Yaelah cuma karena lagi marahan sama pacar doang lo jadi lesu gini?”
“Arka itu cinta pertama gue. Dia penting buat gue.”
“Terus kenapa lo diem aja? Samperin kek, ajak ngomong kek. Masalah lo nggak akan kelar kalau kalian diem-dieman.”
“Apa gue harus sebodoh itu? Dia udah nyakitin gue. Lagian kan udah jelas kalau dia nggak beneran cinta sama gue.”
“Dari mana lo tau? Dia nggak ngomong kalau dia nggak cinta sama lo, kan? Lo masih punya kesempatan, Van.”
“Kesempatan apaan? Vin, lo nggak usah ngajarin Vanella buat jadi bego ya. Nggak pantes dia ngemis-ngemis cinta sama cowok kaya gitu. Yang ada tuh cowok makin gede kepala,” cetus Ranti.
“Tapi ngeliat Vanella yang kek gini lo nggak kasihan emang? Gue kan cuma mau bantu doang. Lo masih punya kesempatan hari ini, Van.”
“Maksud lo?”
“Arka ada pertandingan sepak bola sore ini. Dia mau ngelawan tim temennya dari sekolah sebelah. Lo bisa dateng dan kasih support dia. Siapa tau dengan begitu dia bisa luluh dan sadar sama kesalahan dia. Gue yakin Arka juga masih butuh perhatian lo.”
Sejenak aku memikirkan saran yang diberikan Malvin. Memang dengan begitu aku terlihat seperti cewek bodoh yang terus mengejar cintanya meski sudah diludahi. Namun aku juga tidak bisa membohongi perasaanku bahwa aku masih merindukan Arka dan menginginkan hubungan kami kembali membaik seperti dulu.
“Oke gue setuju. Ran, nanti sore temenin gue.”
“Van, lo serius? Saran gue lo nggak usah deh ngikutin saran konyolnya Malvin. Vin, gue tau Arka temen lo dari kecil, tapi jangan belain dia juga dong.”
“Siapa yang lagi belain dia, Ran? Gue cuma kasih saran doang ke Vanella. Kalau nggak mau ya udah. Ini gue nggak lagi di pihak siapa-siapa loh ya.”
__ADS_1
“Udah nggak usah debat. Ran, sekali ini aja lo mau ya?”
“Ya udah. Demi lo gue mau.”
Aku memeluk Ranti. Rasanya sudah tidak sabar menunggu sore tiba. Sudah lama aku tidak melihat kelihaian Arka dalam bermain sepak bola.
**
Aku menyiapkan diri sebelum pergi. Aku terus memandangi diriku di depan cermin. Aku masih ragu.
“Cantiknya anak ibu. Mau ke mana?” tanya ibu yang masuk ke kamarku dan langsung mendekatiku.
“Mau nonton sepak bola, Bu.”
“Mau nonton sepak bolanya apa nonton pacar kamu?”
Aku terkejut mendengar perkataan ibu. Pacar? Dari mana ibu tahu?
“Nggak usah kaget. Ranti udah cerita sama ibu. Apa kamu yakin dia orang yang baik?”
“Kenapa, Bu?”
“Vanella kenal dia, Bu. Vanella yakin dia itu baik.”
“Ibu belum pernah ketemu orangnya, jadi ibu masih belum yakin. Kenapa nggak sama Malvin? Dia kelihatannya baik. Dia itu ramah, sopan, pokoknya ibu udah suka sejak pertama kali dia ke sini. Baru ketemu aja dia nggak canggung loh sama ibu.”
“Ibu ini ada-ada aja. Malvin itu sahabat Vanella, Bu. Lagian dia nggak sebaik itu kalau di sekolah. Ya udah Vanella pergi dulu, Bu.”
“Iya, sayang. Hati-hati ya.”
“Iya, Bu.”
Tidak lupa ibu memberiku kecupan penuh cintanya di keningku. Kecupan yang memberiku ketenangan di tengah kegundahanku. Entah mengapa perasaanku sangat tidak enak.
Aku bergegas keluar dan mengambil motor. Aku langsung menghampiri Ranti dan kami pun mempercepat laju motor menuju lapangan.
Saat sampai di sana, ternyata pertandingan sudah dimulai. Aku mengamati setiap pemain hingga mataku berhasil menemukan Arka. Aku tersenyum saat melihatnya. Dari pinggir lapangan, aku dan Ranti terus meneriakkan nama Arka setiap kali dia hendak memasukkan bola ke gawang lawan. Setelah beberapa kali gagal, akhirnya dia berhasil mencetak gol pertamanya.
__ADS_1
“Goool.... Yeee Arka hebat.” Aku berteriak dengan semangat sambil bertepuk tangan.
Tepuk tanganku terhenti ketika kulihat Arka melakukan selebrasi dengan membentuk sign love sambil tersenyum seolah ditujukan kepada seseorang. Dia melihat ke salah satu sudut lapangan. Aku penasaran sebenarnya siapakah orang tersebut. Aku mengikuti ke mana arah pandangan Arka. Namun aku masih tidak mengetahui siapa orang tersebut karena ada banyak orang di sana.
Pertandingan kembali berlanjut dengan cukup seru. Arka terlihat semakin bersemangat usai berhasil menyumbang sebuah gol untuk timnya. Namun fokusku telah teralihkan. Aku terus melihat ke sudut lapangan itu dan merasa penasaran. Saat tengah melamun memikirkannya, tiba-tiba bunyi peluit mengagetkanku. Terjadi sebuah pelanggaran. Kuperhatikan seseorang yang tengah berbaring sambil meringis kesakitan. Arka? Dia terus menjerit memegangi kakinya. Aku mulai khawatir. Ingin rasanya aku turun ke lapangan dan menolongnya.
“Ran, Arka. Ran, ayo kita masuk. Gue harus nolongin dia.”
“Tenang, Van. Di sana ada tim medis kok.”
“Tapi Arka kelihatan kesakitan gitu. Gue khawatir dia kenapa-kenapa.”
“Gue yakin Arka akan baik-baik aja, Van. Lo tenang dulu ya.”
Ranti memeluk dan berusaha menenangkanku. Tetapi aku mulai menangis. Ketika tim medis mulai memeriksa keadaan Arka, aku menunggunya dengan harap-harap cemas. Aku terus berharap agar Arka baik-baik saja. Tangisanku semakin menjadi ketika tim medis memutuskan untuk membawa Arka ke luar lapangan, sementara Arka masih terus berteriak kesakitan. Aku tidak bisa menahan diri lagi. Aku berlari berusaha mengejarnya. Aku ingin memastikan keadaan Arka. Tetapi langkahku terhalangi oleh kerumunan orang-orang yang tengah menyaksikan pertandingan sepak bola. Ranti justru telah berlari lebih dulu dariku.
Kudengar suara sirine ambulans. Aku semakin panik. Kupercepat langkah kakiku. Berbagai pikiran negatif sudah berkecamuk di kepalaku. Saat aku tiba di tempat Ranti berdiri, aku sudah terlambat. Ambulans sudah membawa Arka pergi.
“Ran, Arka mana? Gimana keadaan Arka? Lo udah sampai sini duluan. Lo pasti lihat Arka, kan? Arka baik-baik aja, kan? Ran, jawab gue.”
“Tenangin diri lo, Van. Gue juga nggak tau. Arka pasti baik-baik aja,” jawab Ranti dengan gugup sembari menghapus air matanya.
“Terus lo kenapa nangis? Pasti ada yang lo sembunyiin, kan? Arka kenapa? Ran, jujur sama gue. Ran, ayo kita ke rumah sakit.”
“Mendingan kita jangan ke rumah sakit. Kita jenguk Arka besok aja ya?”
“Apa?! Enggak, Ran. Gue mau sekarang. Gue harus tahu keadaan Arka. Apalagi lihat lo yang kaya gini. Gue yakin ada apa-apa sama Arka, kan?”
“Ada yang harus lo hadapi selain kondisi buruk Arka, Van. Gue nggak yakin lo kuat. Tolong dengerin gue. Kita pulang aja.”
“Apa maksud lo? Gue nggak mau tahu. Kita harus ke rumah sakit. kalau lo nggak mau, gue sendiri yang akan ke sana.”
“Jangan, Van. Jangan sendirian. Oke gue ikut. Tapi lo janji, lo harus kuatin diri lo.”
Aku hanya mengangguk. Aku tidak tahu apa maksud Ranti. Aku hanya mengkhawatirkan keadaan Arka.
Ranti mempercepat laju motornya. Tak lama kemudian, kami tiba di rumah sakit. Aku segera berlari masuk dan mencari keberadaan Arka. Aku bertanya kepada perawat dan perawat pun memberitahukan ruangan Arka. Aku berlari dengan cepat, sementara Ranti mengikutiku. Wajahnya tampak begitu sedih sejak tadi.
__ADS_1
Langkah kakiku terhenti ketika kulihat seorang lelaki paruh baya berusaha menenangkan istrinya yang terus menangis. Aku ingat wajah mereka. Mereka adalah orang tua Arka. Aku ingat ketika Arka menunjukkan foto orang tuanya. Tangisanku semakin menjadi. Aku ingin segera menghampiri mereka dan menanyakan keadaan Arka. Namun tiba-tiba seorang gadis berlari ke arah mereka dan langsung memeluk ibu Arka.
Meski hanya melihat dari belakang dan dari jarak yang cukup jauh, aku merasa seperti mengenal gadis tersebut. Gadis dengan rambut lurus terurai yang memeluk ibu Arka tersebut terlihat tidak asing bagiku. Aku hendak menghampiri mereka, tetapi Ranti menahanku dengan tangannya. Dia menggelengkan kepalanya dan air matanya mulai menetes. Aku semakin merasa aneh. Kutepis tangan Ranti. Dengan pelan, aku berjalan ke arah mereka. Saat sudah dekat, aku memegang bahu gadis tersebut. Dia pun menoleh ke arahku.