
Aku pulang dari rumah Malvin dengan diantar ojol. Namun aku tidak langsung pulang ke rumah, melainkan ke rumah Ranti. Bajuku yang terkena darah Malvin membuatku ragu untuk pulang. Ibu pasti akan langsung menghujaniku dengan beribu pertanyaan. Sebelum itu terjadi, aku berusaha menghindarinya dengan memilih pulang ke rumah Ranti terlebih dahulu.
Aku langsung masuk ke rumah Ranti tanpa permisi. Aku takut kalau ibu melihatku. Ranti yang sedang asyik menonton televisi pun kaget ketika melihatku yang tiba-tiba berdiri di depannya dengan baju penuh bercak darah.
“Vanella! Lo kenapa? Kok banyak darah? Lo kok tiba-tiba di sini?”
Ranti terlihat panik. Sesaat kemudian dia mundur beberapa langkah. Tangannya gemetar.
“Jangan-jangan lo bukan Vanella ya? Lo hantu? Pergi! Jangan ganggu gue!”
Aku menggelengkan kepala melihat sikap aneh Ranti. Aku berusah mendekatinya dan menyentuhnya. Namun dia mundur lagi selangkah demi selangkah.
“Ran, ini gue. Lo masa nggak ngenalin gue sih. Gue Vanella. Gue manusia, bukan hantu.”
Aku meraih tangan Ranti dan dia pun langsung menjerit sambil memejamkan mata. Namun begitu menyadari bahwa aku bisa menggenggam tangannya, perlahan dia mulai membuka mata dan memandangiku.
“Ini beneran lo, Van?”
“Ya iyalah. Nggak usah lebay gitu deh. Kebanyakan nonton film horror lo!”
Ranti menghela napas. Dia pun mengajakku duduk.
“Sekarang lo cerita sama gue. Lo kenapa tiba-tiba ke sini dan ini kenapa baju lo ada noda darahnya?”
Aku mulai menceritakan kejadian yang baru saja terjadi pada Malvin. Ranti yang mendengarnya pun seolah tidak percaya. Dia juga terlihat khawatir.
“Ya ampun, serius lo? Wah ini sih bahaya, Van. Biasanya mimisan itu tanda sakit serius deh. Apalagi kalau dia ngrasain sakit kepala hebat kaya gitu.”
“Gue juga mikir gitu, Ran. Tapi gue juga nggak mau berpikiran terlalu jauh. Malvin aja nggak ngasih tau gue apa-apa.”
“Bukannya gue nakut-nakutin ya, Van. Tapi setahu gue kalau kaya gitu gejalanya biasanya itu kanker. Gue pernah baca di internet.”
“Jangan bikin gue tambah khawatir dong, Ran. Lo bayangin deh, cowok kaya Malvin sakit kaya gitu gimana. Dia biasanya ketawa, selalu menghibur kita, terus tiba-tiba dia harus ngalamin sakit separah itu? Gue sendiri nggak akan bisa nerima kenyataan itu, Ran.”
“Lo harus terus paksa dia buat ngaku, Van. Sebelum semuanya terlambat.”
“Iya, Ran. Gue kasihan sama dia. Dia itu kurang kasih sayang dari orang tuanya. Bahkan kayanya orang tuanya juga nggak tau deh soal sakitnya Malvin. Kita nggak boleh diem aja. Kita yang harus jaga Malvin. Kita yang harus selalu ada buat Malvin.”
“Lo bener. Mulai sekarang kita harus lebih perhatian sama Malvin.”
“Ran, gue punya ide. Mumpung masih liburan, kayanya tiap hari kita harus ajak Malvin olahraga bareng deh biar badannya dia lebih sehat. Cuma kalau bisa olahraga yang ringan aja. Selama ini kan dia sering main sepak bola, futsal, bersepeda, kayanya itu terlalu capek buat dia. Kita ganti aja. Gue inget dia pernah ngajak gue main tenis meja. Kali ini gue pengen nurutin ajakan dia. Itu kayanya cukup ringan sih. Nggak terlalu banyak gerak juga. Kita mainnya juga nggak usah lama-lama.”
“Ide bagus, Van. Jangan lupa kita bawain dia jus sama makanan yang sehat juga.”
“Iya. Gue ada ide lagi. Daun sirsak sama kulit manggis itu kan bisa untuk mengobati kanker, jadi kita bikinin aja dia ramuan dari kulit manggis sama daun sirsak. Kita harus buat dia minum ramuan itu tiap hari. Ya kita nggak tau sih penyakitnya dia beneran kanker atau bukan, kita jaga-jaga aja.”
“Gue setuju. Tapi kenapa nggak beli aja?”
“Mending kita bikin ramuan sendiri, Ran. Lebih aman.”
“Oke. Mulai besok ya kita jalanin program kita.”
__ADS_1
“Oke. Eh gue pinjem baju lo dong. Gue nggak mungkin pulang dengan baju kaya gini.”
“Jadi lo kabur ke sini karena takut diwawancarai sama ibu lo ya gara-gara bercak darah itu?”
“Ya iyalah. Ibu pasti langsung khawatir. Selama kita belum tau pasti apa penyakitnya Malvin, gue nggak bisa cerita apa-apa dulu ke ibu.”
“Iya emang lebih baik kita rahasiain dulu, Van. Yuk ke kamar gue. Pilih baju mana aja deh.”
Aku mengikuti Ranti menuju kamarnya. Aku mengambil salah satu baju di lemarinya, kemudian mengganti bajuku.
“Baju gue dititipin di sini dulu ya?”
“Oke. Nanti biar sekalian gue cuci.”
“Ya udah gue pulang. Bye.”
“Bye.”
Aku berjalan pulang ke rumah dengan santai seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Ibu rupanya sudah menungguku di ruang tamu.
“Sayang, kamu ke mana aja? Katanya jogging, kok lama banget. Nggak capek?”
“Tadi mampir ke rumah Ranti bentar, Bu.”
“Itu ngapain pakai baju Ranti segala? Kaya di rumah nggak ada baju aja.”
“Kan udah biasa, Bu. Aku pakai bajunya Ranti atau Ranti pakai bajuku. Kalau gitu aku mandi dulu, Bu.”
“Iya, Bu.”
Aku bisa menarik napas lega. Untung saja ibu tidak terlalu banyak bertanya. Aku pun segera mandi, lalu sarapan. Setelah itu aku pergi ke toko buah untuk membeli manggis bersama Ranti.
“Eh terus daun sirsaknya gimana, Ran?”
“Kan ada pohon sirsak di belakang rumah gue. Jadi gampang lah.”
“Oh iya ya. Ran, nanti lo yang jemur kulit manggisnya ya? Biar gue yang ngrebus. Kalau gue yang jemur nanti ibu nanya-nanya lagi.”
“Oke. Tenang aja.”
**
Keesokan harinya...
Pagi-pagi sekali setelah ibu berangkat ke toko, Ranti datang ke rumahku. Dia memberikan kulit buah manggis yang telah dijemurnya. Kami pun langsung merebusnya di dapur. Tidak lupa kami juga merebus daun sirsak yang telah dibawa Ranti. Setelah siap, kami memasukkannya ke dalam dua botol minuman yang berbeda. Kami bersiap membawakannya untuk Malvin. Di malam sebelumnya, aku telah mengajak Malvin untuk bermain tenis meja. Dia pun setuju. Terlebih karena di rumah dia selalu kesepian, tanpa orang tuanya.
Aku dan Ranti mempercepat laju motor agar segera sampai di rumah Malvin. Melihat kedatangan kami yang membawa tas, dia tertawa.
“Kalian mau olahraga apa mau sekolah? Bawa tas segala,” ledeknya sambil terus menertawakan kami.
“Berisik lo. Kan kita perlu bawa minum sama makanan juga.”
__ADS_1
“Emang lo pikir ini hutan? Ini rumah. Di rumah gue ada banyak makanan sama minuman. Nggak perlu bawa dari rumah. Dikira mau piknik?”
“Bawel banget sih. Udah ayo kita mulai aja. Gue nggak sabar pengen ngalahin lo,” ujar Ranti berusaha mengalihkan pembicaraan agar Malvin tidak curiga dengan apa yang kami bawa.
“Ayo. Udah pasti gue yang menang. Satu lawan dua ya.”
Kami memulai permainan. Aku berada satu tim dengan Ranti, sementara Malvin sendiri. Permainan berlangsung seru. Poinku tertinggal jauh. Malvin yang merasa poinnya sudah mengungguli timku pun terus-terusan menertawakan kekalahanku dan Ranti dengan gayanya yang begitu sombong.
“Dua lawan satu aja kalah. Gimana kalau satu lawan satu. Aduh emang Malvin ini hebat banget,” pujinya kepada dirinya sendiri.
Tak butuh waktu lama, Malvin benar-benar mengalahkanku dan Ranti. Aku dan Ranti terkulai lemas. Kami sudah merasa begitu lelah. Kami hanya bisa menggerutu melihat tawa kemenangan Malvin.
“Gimana? Udah mengakui kehebatan Malvin? Masih mau nglawan gue lagi?”
“Baru menang sekali doang sombong amat. Lain kali gue pasti kalahin lo ya.”
“Yakin bisa ngalahin gue? Gue sih nggak yakin.”
“Lihat aja nanti. Jangan seneng dulu. Jangan remehin Vanella.”
Di sela-sela tawa Malvin, aku dan Ranti saling memberikan kode untuk mulai memberikan ramuan yang sudah kami buat untuk Malvin.
“Vin, istirahat dulu deh. Duduk sini. Kita bawa sesuatu buat loh,” panggil Ranti, berusah menarik perhatian Malvin.
“Wih kayanya bawa banyak makanan nih.”
Malvin berjalan mendekati kami. Saat dia sudah di depanku, aku langsung berdiri dengan memegang dua buah botol, yang satu berisi air rebusan kulit manggis dan satu lagi berisi air rebusan daun sirsak.
“Vin, lo minum ini dulu ya.”
“Itu apaan?” tanya Malvin keheranan.
“Ini air rebusan kulit manggis sama daun sirsak. Biar lo sembuh. Gue nggak mau lo sakit. Tolong lo minum ini. Gue emang nggak tau pasti sih sakit lo apa. Seenggaknya air ini bagus buat kesehatan lo.”
Bukannya senang, mata Malvin justru tampak merah menyala seolah mengatakan bahwa dirinya sangat marah saat ini. Dia melakukan hal yang tidak kuduga, menampik botol minuman yang kupegang dan melemparnya.
“Gue nggak butuh semua ini! Kalian pikir gue sakit-sakitan? Kalian pikir gue sekarat? Tau apa sih kalian? Oh, jadi ini alasan lo tiba-tiba mau main tenis meja sama gue, Van? Setelah berkali-kali gue ngajak lo dan lo nggak pernah mau, sekarang lo mau cuma karena mau maksa gue minum ini? Cuma karena kasihan sama gue?”
“Vin, jangan salah paham. Gue nggak bermaksud gitu. Lo dengerin gue.”
“Berhenti! Jangan deket-deket gue. Gue nggak butuh dikasihani! Kalian pulang sekarang! Ini bukan rumah sakit tempat kalian harus bawa ramuan aneh itu untuk pasien yang sakit. Gue masih sehat. Lo lihat kan gue masih bisa main tenis meja, gue baik-baik aja. Jadi nggak usah mengasihani gue!”
Aku berusaha menjelaskan kepada Malvin. Tetapi sepertinya dia sedang sangat marah. Tidak ada gunanya apapun yang kukatakan sekarang. Ranti pun menggenggam tanganku.
“Udah kita pulang aja, Van. Biar dia tenang dulu. Nggak ada gunanya lo ngomong sama dia sekarang. Kita pulang, Van,” bisik Ranti.
Aku yang mulai menitikkan air mata pun mengangguk menyetujui sarannya.
“Gue pulang, Vin. Maaf kalau apa yang gue lakuin bikin lo tersinggung. Silahkan lo mau berpikir apapun tentang gue. Tapi gue yakin, dalam hati lo, lo masih percaya kalau gue sama Ranti itu tulus sayang dan peduli sama lo. Bukan karena sekadar kasihan. Tolong jaga kesehatan lo. Kalau ada apa-apa telepon gue. Gue pamit. Bye.”
Malvin masih enggan menatapku. Aku pun hanya bisa melangkahkan kaki dan memandangnya dengan terus meneteskan air mata.
__ADS_1