
Arka mengantarku sampai di depan pintu kelas. Dia lalu melambaikan tangan dan berjalan meninggalkanku. Aku masih saja tersenyum meski dia sudah masuk ke kelasnya dan tak terlihat lagi.
“Udah sok jadi princess ya. Bergandengan tangan dengan mesranya sebagai pasangan populer di sekolah ini. Wow hebat,” celetuk Ellisa yang tiba-tiba berdiri di hadapanku.
Dia adalah satu-satunya masalahku di sekolah ini. Dari sekian banyak siswa, hanya dia yang dari awal terlihat sangat membenciku.
“Berisik. Minggir, gue mau masuk.”
Aku menabraknya dan melewatinya begitu saja. Namun Ellisa menarik tanganku.
“Belagu banget lo sekarang. Mentang-mentang jadi pacarnya Arka, udah merasa paling hebat di sini? Jangan seneng dulu lo ya. Arka itu suka sama gue dan dia nggak akan pernah nglupain gue. Asal lo tau, gue itu cinta pertamanya Arka. Cinta pertama itu nggak akan tergantikan sampai kapanpun.”
Aku hanya mendengarkan ocehannya tanpa menjawab sedikit pun. Dia tampak kesal.
“Udah halunya? Maaf ya, El. Gue nggak peduli lo mau ngomong apa. Gue cuma tau kalau gue cinta sama Arka. Gue nggak peduli hal lain lagi.”
Lo belum tau seperti apa Arka sebenarnya. Lo bakalan nyesel!”
Aku mengabaikannya. Aku langsung masuk kelas dan duduk. Ranti mulai mengintrogasiku.
“Tadi lo ke mana kok nggak langsung masuk? Mau bolos? Atau lagi ketemuan sama cinta pertama lo itu?”
“Bisa nggak berhenti negative thinking sama gue? Tadi gue nemenin Alby yang dihukum di bawah, tapi Arka dateng dan ngajak gue masuk kelas.”
“Hmmm kayanya cemburu tuh.”
“Makanya kalau nggak ada perasaan, nggak usah sok-sok perhatian. Udah punya pacar masih aja deketin yang lain.” Malvin tiba-tiba menyahut sambil berpura-pura membaca buku, tidak melihat ke arahku.
“Maksud lo apa, Vin?”
“Masih nggak sadar? Lo nggak lihat pengorbanan Alby buat lo? Lo udah bikin dia dihukum terus lo mau nyakitin dia juga? Kalau lo nggak suka sama dia, nggak usah ngasih harapan dengan sok perhatian pake mau nemenin dia yang lagi dihukum. Tau nggak dari atas sini gue lihatnya udah kaya ftv romantis gitu. Cewek dan cowok yang sama-sama berkorban. Bedanya yang cowok itu tulus, sedangkan yang cewek cuma karena kasihan doang.”
“Lo apaan sih Vin ngomong gitu? Gue nggak nyangka lo bisa nilai gue kaya gitu.”
“Bukannya bener ya? Lo cuma kasihan doang sama Alby, tapi Alby pasti beneran mikir kalau lo peduli dan perhatian sama dia. Habis dia berharap gitu, lo nyakitin dia dengan ninggalin dia gitu aja setelah pacar lo dateng. Drama yang luar biasa.”
“Gue nggak kaya yang lo pikir!”
Aku melemparkan buku ke arah Malvin. Setelah itu aku berlari keluar kelas. Satu-satunya tempat pelarianku adalah perpustakaan.
“Emangnya gue cewek apaan? Dia nggak sadar apa sama sifatnya dia sendiri? Dasar nggak tau diri! Cowok nyebelin!” Aku terus mendengus kesal mengingat kata-kata Malvin.
Begitu masuk ke perpustakaan, aku mengambil buku secara acak dan langsung duduk. Aku hanya membuka lembaran buku tersebut tanpa tahu itu buku apa dan tanpa ingin membacanya. Aku masih merasa kesal.
“Van!”
Sebuah tangan menahan tanganku dari membuka lembaran buku yang kupegang.
“Arka. Kamu di sini? Bukannya kamu ada kelas?”
“Kamu sendiri ngapain? Aku lihat kamu lewat kelas aku. Kayanya kamu lagi marah. Jadi aku ngikutin kamu.”
“Iya aku lagi kesel.”
“Sama siapa? Kenapa?”
“Aku nggak mau bahas.”
“Ya udah nggak papa kalau nggak mau cerita, tapi jangan kaya gini dong. Kasihan kan bukunya. Dia nggak salah apa-apa tapi malah jadi pelampiasan kemarahan kamu.”
“Maaf, aku bener-bener lagi kesel tadi.”
“Vanella, jangan sakiti aku atau aku akan menangis.” Arka berbicara seolah-olah dia adalah buku tersebut. Aku pun tertawa.
“Jangan berisik. Nanti kita kena marah. Emm aku tau cara ngilangin kemarahan kamu.”
Arka mengambil salah satu novel di rak buku, lalu kembali duduk di depanku.
__ADS_1
“Aku bacain ceritanya ya. Kamu dengerin.”
“Apa? Kamu mau dongengin aku? Arka, aku bukan anak kecil.”
“Ssstt... Udah diem. Aku bacain, kamu diem aja, dengerin aku. Aku bacanya pelan-pelan ya biar nggak berisik.”
Arka mulai membacakan sebuah novel untukku. Dia membaca setiap dialog dengan ekspresinya yang lucu. Beberapa kali aku tertawa karenanya. Benar kata Arka, kemarahanku mereda.
“Udah, Ka. Kamu mau baca sampai bab terakhir emangnya? Udah, gue udah ketawa kan sekarang? Makasih ya.”
“Bisa nggak sih nggak usah bilang makasih? Setial hal kecil yang aku lakuin pasti kamu bilang makasih. I love you kek atau apa gitu.”
“I love you, Arka.”
Arka langsung membungkam mulutku dengan tangannya.
“Van, nggak di sini juga kali.”
‘Tadi katanya suruh ngomong gitu?”
“Ya jangan sekarang. Ini kan perpus. Eh, sekarang kan kamu udah nggak badmood lagi, yuk balik ke kelas. Inget ya cuma sekali ini aja kita bolos nggak masuk kelas. Besok-besok aku nggak mau Vanellaku nglakuin kebiasaan buruk ini lagi.” Arka mulai mengusap kepalaku, lalu menarik hidungku.
“Siap, bos. Ayo.”
**
Aku duduk seorang diri di bangku yang ada di bawah pohon beringin sekolahku. Tempat favoritku untuk nongkrong saat jam istirahat. Aku menunggu Ranti dan Tara yang sedang membeli minuman.
“Van, gue mau ngomong sama lo,” ujar Malvin yang datang menghampiriku.
Aku langsung berdiri dan berjalan menjauh darinya tanpa menatapnya sedikit pun.
“Jangan pergi sebelum dengerin gue.” Malvin menghadangku dengan merentangkan tangannya.
“Ngapain lo? Mau senam? Minggir!”
“Van, jangan gitu dong. Gue tau lo marah, kan? Gitu doang marah sih. Sampe bolos nggak masuk kelas. Sensitif amat lo.”
“Yah lo kaya nggak tau gue aja. Masa masih marah sama kata-kata gue.”
“Iya gue udah cukup kenal lo kok. Lo itu cowok nyebelin yang nggak pernah mikirin perasaan orang lain. Lo cuma mikirin senengnya lo doang. Bagi lo seru kan bisa ngrendahin orang?”
“Van, ada apa ini? Kok lo marah-marah sama Malvin?” sela Ranti yang datang bersama Tara.
“Emang lo nggak denger apa yang dibilang Malvin di kelas tadi?”
“Malvin kan emang gitu orangnya, suka asal nyeplos. Nggak usah diambil hati, Van,” sahut Tara.
Aku berpikir sejenak. Kutatap mata Malvin. Kulihat betapa polosnya mata itu. Mata seorang humoris yang senang bercanda dan melakukan berbagai hal konyol tanpa berpikir tentang apapun resikonya. Jelas aku mengenalnya. Mengapa aku masih marah? Aku menyesali sikapku.
“Ya udah. Gue minta maaf,” ucapku ragu.
Malvin membalasnya dengan senyuman lebar, membuat ekspresi wajah konyol.
“Gue udah marahin lo, lo masih bisa aja ya bikin gue ketawa.”
“Udah kelar kan masalahnya? Yuk duduk di bangku itu. Kita makan jajan dulu. Ini gue sama Ranti beli banyak, tapi sorry minumannya cuma 3.”
“Nggak papa, gue minumnya barengan sama Vanella,” ujar Malvin.
“Enak aja. Enggak enggak. Kalau mau minta minuman gue, nanti nunggu sisa gue.”
“Nggak masalah. Ayo makan.”
Tara sengaja memberikan keripik singkong pedas kepada Malvin. Diam-diam aku, Ranti, dan Tara saling bertatapan dengan menahan tawa. Kami memang suka melihat ekspresi lucu Malvin saat memakan makanan pedas. Kami tidak sabar menunggu ekspresi itu muncul di wajah konyolnya.
Benar saja, setelah makan setengah bungkus keripik yang Tara berikan, Malvin mulai bereaksi. Keringatnya bercucuran, bibirnya memerah dan seakan tidak bisa mengatup lagi. Kami bertiga pun tertawa. Akhirnya yang kami tunggu-tunggu muncul juga. Aku tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Aku merekam ekspresi lucu Malvin dengan ponselku.
“Eh eh apaan lo, Van? Orang lagi kepedesan malah lo videoin.”
__ADS_1
“Nggak tau kenapa tapi gue suka banget lihat ekspresi lo yang kaya gini. Gue nggak mau ngelewatin momen ini.”
“Wah parah. Kalian bertiga sengaja ya ngerjain gue?”
“Emang. Pokoknya lo harus habisin keripik singkong itu.” Tara tertawa puas.
“Dan lo baru boleh minum kalau udah habis,” tantang Ranti.
“Habisin... Habisin...”
Kami terus menyoraki Malvin. Dengan keringat yang terus mengucur, Malvin berusaha menghabiskan keripik yang super pedas itu. Akhirnya dia berhasil.
“Minum woy minum. Cepet.” Malvin kebingungan meminta minuman.
Ranti mengambil minumanku. Dia sengaja menahan semua minuman agar tidak langsung diberikan kepada Malvin. Dia terus menertawakan Malvin. Sementara Malvin terus berusaha merebut minuman itu. Kami bertiga berpencar dan saling melempar botol minuman. Malvin kebingungan merebut botol minum itu. Meski dengan menahan rasa pedas yang sudah membakar bibirnya, dia masih bisa tertawa.
Saat botol minuman dilempar oleh Tara ke arahku, Malvin pun berlari berusaha merebutnya. Namun begitu sampai di hadapanku, tiba-tiba darah menetes dari hidungnya. Aku dan Malvin yang semula tertawa langsung terdiam dengan saling bertatapan. Malvin mengusap darah yang menetes dari hidungnya.
“Vin, lo kenapa?” Aku bertanya sambil memalingkan wajahku karena aku begitu takut dengan darah.
“Van, ada apa?”
Ranti dan Tara berlari ke arah kami. Mereka tampak bingung. Sementara aku berjalan mundur menjauhi Malvin.
“Hidung Malvin keluar darah. Cepet kalian bantu dia. Gue takut sama darah.”
“Apa?!” Ranti sangat terkejut.
Ranti dan Tara berusaha membantu Malvin. Mereka terus menanyakan pada Malvin, tetapi Malvin menjawab bahwa itu hanya mimisan biasa.
“Kita harus bawa Malvin ke UKS. Ini tutup hidung lo dulu, Vin.” Aku memberikan saputanganku tanpa menatapnya. Dia pun menerima saputangan itu dan langsung menutup hidungnya.
“Van, ayo pergi dari sini.” Mendadak Arka datang dan menarik tanganku.
“Ke mana? Kok dateng-dateng narik aku. Malvin lagi sakit, Ka.”
“Kamu takut darah, kan? Jadi mendingan kamu nggak usah deket-deket sama dia.”
“Tapi aku harus anter Malvin ke UKS.”
“Kan ada temen-temen kamu. Udah ayo.” Arka menarikku paksa.
Aku yang tidak pernah berani membantah Arka pun terpaksa mengikutinya.
“Ran, Tar, anterin Malvin ya. Vin, sorry gue nggak bisa bantu lo.”
Ranti dan Tara tidak menjawabku. Jelas tampak kekesalan di wajah mereka.
Begitu telah jauh dari teman-temanku, aku melepaskan tanganku.
“Ka, kenapa nglarang aku bantu Malvin sih? Kasihan Malvin. Aku nggak tau dia kenapa. Kalau ada apa-apa gimana?”
“Terus apa hubungannya sama kamu?”
“Apa hubungannya? Dia temen aku. Bukannya dia temen kamu juga? Kalian malah udah temenan lama. Kamu nggak kasihan sama dia?”
“Nggak ada yang lebih penting selain kamu. Aku nggak suka ya kamu terlalu deket sama dia. Apalagi kamu perhatian ke dia kaya gitu. Nanti dia GR. Kamu nggak tau kan dia cowok seperti apa?”
“Sejauh ini yang aku tau Malvin itu orang baik. Dia emang terkenal dengan cap buruknya, tapi setelah temenan sama dia aku tau kok dia nggak seburuk itu. Kamu temennya harusnya kamu peduli sama dia.”
“Udah nggak usah mikirin dia. Yang jelas aku nggak suka kamu temenan deket sama dia.”
“Ternyata aku salah. Aku pikir tadinya kamu beneran peduli, kamu narik aku ke sini karena kamu tau aku takut sama darah. Ternyata cuma karena kecemburuan kamu yang egois itu? Kamu bahkan nggak peduli sama temen kamu sendiri.”
“Egois? Kamu ngatain aku egois cuma karena belain dia?”
“Terserah apa pemikiran kamu. Aku kecewa.”
__ADS_1
Aku melepaskan tangan Arka dan meninggalkannya. Aku memilih untuk berlari menuju UKS menemui Malvin. Meski kudengar Arka berteriak kesal, aku seakan tidak peduli. Yang kupikirkan hanyalah keadaan Malvin.