Salah!! Direvisi Di Naskah Infinity

Salah!! Direvisi Di Naskah Infinity
Sisi Lain Si Badboy


__ADS_3

Pagi ini saat di kelas aku masih saja melamun memikirkan Arka dan puisi-puisinya. Buku ada di tanganku, tetapi entah pikiranku pergi ke mana. Terutama karena guru tidak masuk, seakan waktu memberiku kesempatan untuk memikirkan lelaki yang telah membuatku penasaran itu.


“Van.” Tara memanggilku sambil menepuk bahuku.


Tara memberiku kode dengan lirikan matanya. Aku pun menoleh ke belakang. Aku melihat Alby sedang tertawa bersama teman-temannya sambil menunjukkan sesuatu di ponselnya. Ada Fero juga di antara mereka.


“Gue tau mereka lagi ngetawain apa.”


Aku beranjak dari tempat dudukku dan menghampiri mereka yang berlari keluar kelas. Aku mempercepat langkah kakiku. Mereka masih asyik memperhatikan ponsel mereka sambil tertawa hingga tidak menyadari kehadiranku.


“Akhirnya gue dapet,” cetus Fero dengan begitu riangnya.


“Dapet apa? Foto gue?”


Aku langsung merebut ponsel Fero. Saat kulihat, benar saja, itu adalah fotoku. Sontak Fero dan teman-temannya langsung berhenti tertawa. Mereka tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun.


“Kenapa semua jadi diem? Tadi kalian ketawa-ketawa aja? Apa sih maksud kalian? Dapetin foto gue kalian jadiin taruhan? Kalau gitu kasih tau gue, apa hadiahnya buat cowok yang berhasil dapetin foto gue? Duit? Rokok? Atau apa?”


Setelah beberapa detik terdiam, akhirnya Fero angkat bicara.


“Van nggak gitu. Lo jangan salah paham. Kita cuma...”


“Fer, lo pikir gue nggak tau? Lo sering ngikutin gue, kan? Apa nggak ada kerjaan lain? Terus ngapain lo pake foto gue buat jadi wallpaper di HP lo? Buat dibanggain di depan temen-temen lo biar mereka semua ngira lo bisa pacaran sama Vanella Rose Karina? Lo pikir gue nggak tau? Kalau mau populer tu nggak dengan cara kaya gini!”


“Sorry, Van. Kita nggak akan ngulangi lagi kok. Tapi beneran nggak lagi taruhan,” jelas Fero berusaha meyakinkanku.


“Apapun alasannya gue nggak suka ada paparazi di sekeliling gue. Gue nggak suka orang ngambil foto gue diem-diem. Dan gue juga nggak suka orang yang jadiin foto gue sebagai wallpaper di HP-nya tanpa seizin gue. Kalian sadar dong gue itu nggak suka sama kalian.”


Di tengah keributan kami, tiba-tiba Malvin datang.



“Woy ada apaan sih ini? Kayanya seru banget.”


“Vin kita nggak lagi bercanda. Lo mending nggak usah ikut-ikutan.”


“Iya deh, Sorry. Tapi jelasin ke gue dong. Lo ngapain marah-marah sama mereka? Gue nggak pernah lihat lo marah-marah kaya gini. Galak amat pramugari cantik ini.”


“Gue lagi serius ya. Tanya aja sama temen-temen lo tuh apa yang mereka lakuin.”


“Iya gue tau kok masalahnya apa. Tapi nggak perlu marah-marah juga, kan?”


Malvin langsung mengambil HP mereka dan memeriksa isi galerinya. Kulihat dia langsung menghapus foto-fotoku di HP mereka.


“Udah kan beres? Gue mau ngomong sama lo.”


“Tapi, Vin...”


Tanpa memberiku kesempatan untuk berbicara lagi, Malvin langsung menarik tanganku dan membawaku menjauh dari Fero dan teman-temannya. Dia mengajakku duduk di salah satu bangku di depan kelas.


“Vin lo ngapain sih malah bawa gue ke sini? Urusan gue sama mereka belum selesai. Udah gue bilang kan lo jangan ikut campur. Ngeselin banget sih lo!”

__ADS_1


“Sejak kapan Vanella jadi galak banget kaya tadi? Sejak kapan Vanella jadi kaya nenek sihir yang nyeremin? Sejak kapan Vanella berani ngomong sekasar itu? Gue tadi denger semuanya. Lo sadar nggak, Van? Kata-kata lo secara nggak langsung udah ngrendahin mereka. Itu bukan sifat lo banget. Gue ngerti lo nggak suka sama apa yang mereka lakuin. Tapi apa itu jadi masalah yang besar banget sampai lo harus sekasar itu? Nggak bisa diomongin baik-baik?”


Aku pun terdiam sembari memperhatikan kata-kata yang Malvin ucapkan. Kali ini Malvin yang di hadapanku sangat berbeda. Dia mampu menenangkanku dan menasehatiku. Selama ini yang kukenal hanyalah Malvin yang suka membuat ulah.


“Emang tadi gue kasar banget ya, Vin?”


“Lo inget-inget lagi kata-kata lo. Sejak kapan lo jadi orang sombong dan bangga dengan kepopuleran lo sampai lo ngrendahin orang lain seolah-olah mereka mau naikin popularitas dengan manfaatin foto lo?”


“Gue kan nggak bermaksud kaya gitu. Gue spontan aja karena gue kesel sama mereka.”


“Tapi ya dipikir-pikir juga dong kalau ngomong. Mereka ngelakuin itu kan karena mereka suka sama lo. Tiap orang punya cara sendiri buat nunjukin cintanya. Jadi lo hargai juga dong.”


“Iya, maaf. Lain kali nggak lagi deh. Ngomong-ngomong sejak kapan lo jadi bijak gini? Gue pikir lo dateng mau nambah-nambah masalah.”


“Gue jadi badboy salah, jadi baik salah, terus gue harus gimana, Vanella?”


“Ya nggak gitu. Gue seneng kok kalau lo bisa nasehatin gue kaya gini. Gitu dong. Jadi orang yang bermanfaat buat orang lain.”


“Apaan. Itu bukan sifat Malvin banget.”


“Yeee baru aja gue puji. Kayanya mau berubah lagi ni sifatnya.”


“Ya terserah gue dong. Ya udah gue mau ke kantin. Jangan marah-marah lagi. Kalau gue lihat lo kaya gitu lagi, gue jewer telinga lo sampe merah.”


Malvin mengusap kepalaku sambil tersenyum. Dia lalu meninggalkanku sendiri. Tara pun menghampiriku begitu Malvin pergi.


“Tu anak kesambet apa, Van?”


“Gue nyusul Malvin dulu ya. Jagain Ranti.”


“Kaya bayi aja dijagain.”


Aku berlari ke kantin mencari Malvin. Begitu melihatnya, aku langsung duduk di sampingnya. Dia menatapku heran.


“Eh ngapain lo di sini?”


“Suka-suka gue. Emang nggak boleh?”


“Ke kelas sana. Nanti kalau guru masuk lo nggak tau. Kalau gue mah udah biasa dihukum.”


“Biarin. Kalaupun dihukum kan sama lo, sahabat gue. Lo pasti nggak akan biarin gue dihukum guru, kan?”


“Kata siapa? Inget ya sebelum jadi temen kita itu musuh. Nggak akan mau gue nolongin lo.”


“Nggak yakin gue. Gue tau kok lo aslinya baik.”


“Hmm gara-gara gue ceramahin terus langsung mikir kalau Malvin sekarang jadi baik? Udah sana pergi.”


“Lo kenapa sih nggak seneng banget gue ada di sini. Gerogi banget sih gue deketin.”


“PD amat. Biasa aja.”

__ADS_1


“Itu kenapa makannya buru-buru? Ngusir-ngusir gue lagi.”


“Kan gue emang kaya gini kalau makan.”


Keringat Malvin mulai bercucuran. Wajahnya mulai tampak kemerah-merahan seperti biasanya saat dia memakan makanan pedas. Aku menertawakannya.


“Ketawa lagi.”


“Ini ni tujuan gue ke sini. Gue suka lihat lo lagi makan terus kepedesan. Hiburan tersendiri buat gue.”


“Bawel lo. Orang lagi kepedesan diketawain.”


Aku mengambil tisu yang ada di meja. Aku mulai menyeka keringatnya. Kuambilkan minum untuknya juga. Malvin malah diam tertegun menatapku.


“Jangan lihat-lihat gue. Nanti naksir.”


“Eh itu kata-kata gue.”


“Sekarang gue balik. Bisa aja kan lo yang naksir gue.”


“Ogah gue naksir sama cewek galak kaya lo.”


Mendengar perkataan Malvin, aku langsung berpikiran untuk mengerjainya. Kumasukkan sambel ke dalam minumannya. Dia tidak tahu karena dia masih asyik makan. Begitu Malvin meminta minum lagi, kuberikan gelasnya. Dia langsung tersedak dan merasa kepedasan. Wajahnya semakin merah. Aku pun tertawa puas. Malvin yang semula kebingungan karena merasakan betapa pedasnya minuman itu, mendadak terdiam. Dia menatapku. Dia pun meminum lagi minuman yang telah kucampuri sambal itu. Melihatnya mengangkat gelas itu, aku langsung memegang tangannya, menahan agar dia tidak meminumnya lagi.


“Udah tau ini ada sambelnya. Kok mau diminum lagi?”


“Biar lo ketawa. Lo suka kan lihat gue kepedesan? Ya udah gue habisin aja.”


Kami bertatapan untuk sesaat. Beberapa detik kemudian, aku tertawa cekikikan.


“So sweet banget sih lo. Abis nonton film apa?”


“Eh beneran gue. Gue minum ni ya.”


“Bentar-bentar. Gue juga mau ngrasain minuman rasa sambal mie ayam.”


Aku merebut gelas itu dan meminumnya lebih dulu. Baru satu tegukan aku sudah merasakan panas di tenggorokanku.


“Van, lo gila ya? Ini minum cepet.”


Malvin langsung memberiku segelas air putih yang tidak tercampur dengan sambal. Aku mulai tertawa lagi.


“Gue juga mau minum ini demi lo. Gimana? Gue juga bisa romantis, kan?”


“Gila! Kalau lo kenapa-kenapa gimana?”


“Nggak papa. Kalau gue kenapa-kenapa kan ada lo.”


“Udah aktingnya.”


Malvin mencubit pipiku dan menarik kuat hidungku. Kami berebut minuman yang bercampur sambal itu dan terus tertawa.

__ADS_1


__ADS_2