Salah!! Direvisi Di Naskah Infinity

Salah!! Direvisi Di Naskah Infinity
Kenyataan


__ADS_3

Pagi yang begitu cerah dengan suasana hati yang indah. Aku tersenyum menatap pantulan diriku di cermin. Setelah berkali-kali mencoba beberapa pakaian, aku pun menemukan pakaian yang tepat untuk kukenakan. Kini saatnya untuk berhias. Aku sibuk mempercantik diri karena hari ini aku akan memberi jawaban kepada Mr. Perfect yang telah berhasil mencuri hatiku. Setelah berpikir selama berulang kali dan dengan kedekatan kami selama beberapa hari belakangan ini, aku pun yakin untuk menerimanya. Aku yakin untuk mengijinkannya melamarku di depan orang tuaku. Semua itu telah kupikirkan matang-matang. Melihat sikap baiknya kepadaku, rasanya tidak perlu ada yang diragukan lagi. Aku pun siap untuk menemuinya dan memberikan jawaban yang telah dia nanti-nantikan.


Begitu aku keluar dari kamar, aku berpapasan dengan Ranti. Dia menatapku dengan kesal.


“Kenapa lo, Ran? Eh gue pergi dulu ya. Nanti setelah pulang gue bantuin lo di butik lagi kok. Tenang aja.”


Ranti tidak menjawabku. Dia langsung mencengkeram tanganku dengan erat.


“Kenapa sih? Lo kesambet apaan? Sinis banget tatapan lo.”


“Lo mau nemuin siapa dandan cantik gini? Cowok yang lo bilang Mr. Perfect itu? Secepet itu lo berubah pikiran? Lo lupa sama rencana lo sendiri buat nyelidikin dia sebelum lo nerima dia? Lo lupa kalau gue udah ngelarang lo buat terlalu deket sama dia sebelum lo tau siapa dia sebenarnya? Lo dipelet sama dia atau gimana sih sampai dengan gampangnya dia bikin lo klepek-klepek gini?”


“Ran daripada lo berpikiran buruk mending lo kenalan dulu sama dia atau lo sekali aja ikut gue jalan bareng dia. Lo akan lihat sendiri betapa dia memperlakukan gue dengan sangat baik, gimana lembutnya dia, pokoknya semua yang nggak gue dapetin dari cowok lain itu bisa gue dapetin dari dia. Dia kurang apa sih? Apa lagi yang harus gue ragukan?”


“Itu cuma cover yang coba dia tunjukin doang. Lo nggak tau aslinya dia kaya gimana.”


“Gue ngerti lo masih takut gue dikecewain kaya waktu sama Arka, kan? Tolong jangan samain Mas Gus sama Arka. Mas Gus itu beneran orang baik. Gue udah tanya ke temen-temennya dia kok. Semuanya bilang dia baik.”


“Ya jelas lah orang itu temen-temennya.”


“Ran, maaf gue harus pergi. Dia udah nungguin.”


“Lo akan nyesel karena nggak dengerin omongan gue, Van.”


Aku mengabaikan perkataan Ranti dan langsung keluar. Mas Gus rupanya sudah menunggu di luar sejak tadi. Aku langsung pergi dengannya. Selama di perjalanan aku masih memikirkan tentang Ranti. Aku merasa tidak enak karena membuatnya marah. Tetapi aku juga bingung dengan sikapnya. Aku berusaha meyakinkannya. Namun dia tetap bersikeras bahwa Mas Gus bukanlah orang yang baik.


Aku yang sebelumnya ingin pergi ke pantai bersama Mas Gus pun membatalkan rencana tersebut. Aku rasa ini bukan waktu yang tepat untuk pergi dengannya sedangkan Ranti sedang marah denganku. Aku terus memikirkan Ranti. Aku mengajak Mas Gus pulang. Tetapi dia membujukku untuk pergi ke restoran terlebih dahulu, tempat kami biasanya makan.


“Mas maaf ya aku harus batalin rencana kita.”


“Iya, nggak papa. Aku tau kamu lagi banyak pikiran,” jawabnya sambil tersenyum.


Mas Gus begitu pengertian. Apapun yang kulakukan tidak pernah membuatnya marah. Dia selalu sabar dan tetap tersenyum apapun yang terjadi. Aku heran mengapa Ranti masih meragukan lelaki sebaik ini.


Aku menikmati makanan bersamanya dengan pikiran kacau. Yang kuinginkan hanyalah segera pulang dan berbicara dengan Ranti. Melihat kegelisahanku, Mas Gus pun mengambil keputusan bijak.


“Kita pulang aja yuk. Nggak usah dihabisin nggak papa makanannya. Aku nggak mau kamu gelisah terus. Kayanya ada hal berat yang lagi kamu pikirin. Kita bisa pergi lain waktu aja.”


“Aduh maaf banget ya Mas aku harus ngrusak rencana hari ini. Pasti Mas kesel ya sama aku?”

__ADS_1


“Enggak kok. Aku akan lebih kesel lagi kalau aku maksa kamu pergi sedangkan kamu lagi nggak tenang gini. Ya udah nggak usah dipikirin. Aku beneran nggak papa. Ayo kita pulang.”


“Makasih ya, Mas. Pengertian banget.”


Akhirnya Mas Gus mengantarku pulang ke rumah Ranti. Dia melambaikan tangan sambil tersenyum. Aku merasa tidak enak padanya, tetapi bagiku sahabat jauh lebih penting. Aku ingin segera masuk menemui Ranti. Tetapi belum sempat aku masuk, Ranti keluar dari rumah bersama seorang gadis. Mereka berjalan mendekatiku. Rasanya aku tidak asing dengan wajah itu. Kuperhatikan dengan seksama wajahnya.


“Ran, ini siapa? Kayanya gue kenal.”


“Lo yakin nggak inget siapa dia?”


Aku terus memandanginya. Anehnya dia langsung meneteskan air mata. Aku pun baru menyadari. Dia adalah Marya, mantan pacar Mas Gus.


“Mbak mantannya Mas Gus, kan? Kok ada di sini?”


Dia maju selangkah. Kulihat matanya menyimpan kemarahan besar.


“Mantan? Kata siapa aku mantannya? Aku pacarnya. Dasar pelakor! Enak banget ya tinggal nikmatin kesuksesan orang.”


Aku terkejut mendengar luapan kemarahannya. Aku pun bingung. Mengapa dia mengatakan bahwa dia adalah pacarnya Mas Gus? Mas Gus sendiri beberapa kali menceritakan tentangnya. Dia selalu mengatakan bahwa gadis itu adalah mantannya yang telah meninggalkannya bersama lelaki lain.


“Mbak, aku bener-bener nggak ngerti apa maksud Mbak. Mbak mantannya, kan? Kenapa Mbak ngatain saya pelakor? Mbak udah nggak ada hak apa-apa lagi. Kalaupun Mbak masih ada rasa sama Mas Gus, saya bisa pahami itu. Tapi tolong jangan sebut saya pelakor. Jangan membuat hubungan saya dan Mas Gus jadi rusak.”


“Harusnya saya yang marah, bukan kamu. Kalian itu pengkhianat! Jelas-jelas saya pacarnya dia yang bertahun-tahun sama dia. Saya yang nemenin dia dari nol sampai bisa sesukses sekarang. Tapi kamu dengan gampangnya ngrebut dia setelah dia sukses. Enak banget tinggal nikmatin kesuksesan dia. Saya yang nerima dia apa adanya dari jaman dia masih miskin! Harusnya saya yang dia nikahi, bukan kamu!”


“Ini bukti kalau saya nggak salah, Mbak. Selama ini Mas Gus bilang dia itu jomlo dan Mbak Marya itu adalah mantannya. Lalu apa salah saya? Dia tiba-tiba melamar saya dan karena saya tau dia masih jomlo, apa salah saya mau deket sama dia dan nerima lamaran dia?”


“Harusnya kamu selidiki dulu tentang dia. Kamu sadar nggak kamu udah ngancurin hubungan orang yang susah payah dipertahankan selama bertahun-tahun? Kamu lihat foto-foto ini. Saya dan dia masih baik-baik aja sebelum dia kenal kamu dan pulang ke sini. Tapi sekarang semuanya hancur karena kamu. Dia tiba-tiba memilih mau melamar cewek yang nggak begitu dia kenal dan ninggalin cewek yang udah nemenin dia dari nol. Kamu pikir dong gimana perasaan saya, Mbak!”


“Mbak, saya bener-bener minta maaf. Saya nggak tau sama sekali tentang hubungan kalian. Kalau saya tau saya nggak mungkin mau deket sama dia. Sejak saya lihat foto-foto mesra kalian di akun instagramnya dia, saya juga bisa lihat betapa kalian itu adalah pasangan yang harmonis dan sangat cocok. Saya juga bisa lihat kalau Mbak itu orang yang sangat baik. Gimana bisa saya nyakitin orang sebaik Mbak? Saya nggak mungkin tega nyakitin sesama cewek sedangkan saya sendiri pernah mengalami apa yang sekarang Mbak alami. Saya bener-bener minta maaf.”


Aku mulai menangis dan terus meminta maaf kepada Mbak Maryatun. Sambil menangis terisak, dia menggenggam tanganku.


“Kalau saya tau dia mencintai orang lain, saya pasti akan melepaskan dia, Mbak. Saya yang minta maaf. Saya yang salah karena saya tiba-tiba muncul setelah rencana pernikahan kalian. Maaf saya harus marah-marah karena saya nggak bisa nyimpen rasa sakit hati saya. Tapi untuk selanjutnya, saya ikhlas kalau harus melepaskan dia, Mbak. Kalian bisa lanjutin rencana kalian.”


“Mbak, jangan gitu. Saya nggak pernah mau ngrebut hak milik orang lain. Mbak yang nemenin dari nol. Mbak yang pantes dia nikahi. Saya yang salah karena saya ada di antara dua orang yang saling mencintai.”


Ranti mendekat dan memeluk kami berdua. Dia berusaha menengahi.


“Van, maaf lo harus denger ini semua. Gue dari awal udah curiga sama tu orang. Gue mulai khawatir waktu lihat lo semakin deket sama dia. Makanya gue putusin untuk bertindak sendiri. Awalnya gue cuma mau DM Mbak Marya buat nanyain gimana sifat Mas Gus dan apa benar mereka putus karena Mbak Marya yang selingkuh atau Mas Gus yang selingkuh. Tapi gue malah dapet jawaban yang mengejutkan. Mbak Marya cerita kalau dia masih pacarnya Mas Gus. Lalu gue jelasin semuanya dan Mbak Marya nekad ke sini buat nyari kejelasan. Mbak, jangan marah sama Vanella. Sahabat saya ini nggak tau apa-apa. Saya bela dia bukan karena dia sahabat saya, tapi karena saya tau dia nggak salah. Mbak tolong jangan benci dia. Kalian itu sama-sama korbannya lelaki buaya itu.”

__ADS_1


Mbak Marya pun memelukku sambil menangis.


“Maafin saya, Mbak. Saya udah asal nuduh Mbak.”


“Saya juga minta maaf karena tanpa sengaja udah jadi orang ketiga di antara kalian.”


Kami berbincang selama beberapa saat. Kami mencoba mencari jalan keluar dari permasalahan ini. Kami pun memutuskan untuk menyelesaikan ini dengan Mas Gus. Aku pun berniat mengiriminya pesan dan memintanya datang. Tetapi sesuatu yang mengejutkan terjadi. Mas Gus telah mengirimiku pesan terlebih dahulu dengan isi pesan mengejutkan.


“Aku udah lihat semuanya, kamu dan Marya. Kenapa sih kamu harus ngomong semuanya ke Marya? Kamu boleh marah sama aku, tapi jangan bawa-bawa dia. Makasih udah ngrusak hubunganku sama dia.”


Aku merasa sangat kesal membaca pesan tersebut. Dia yang membuatku menjadi orang ketiga dalam hubungannya. Tetapi dia malah menyalahkanku. Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiran lelaki yang satu ini. Ranti dan Mbak Maryatun pun tidak kalah kesalnya.


“Gila banget sih ni cowok! Nggak tau diri! Dia yang bikin permainan kaya gini tapi dia malah nyalahin lo? Emang dia pinter banget nutupin sifat aslinya itu dengan cover sok lembutnya itu. Gimana cewek nggak klepek-klepek coba. Pengen gue hajar mulutnya!” tukas Ranti dengan penuh kekesalan.


“Ran, percuma lo marah-marah. Dia itu kayanya nggak punya hati. Udah cukup gue nggak mau memperpanjang ini. Intinya hubungan gue sama dia udah stop sampai di sini aja. Mbak, tolong temuin dia ya. Kalian bicarain masalah kalian baik-baik. Tolong jangan marah sama dia. Semua orang pasti pernah khilaf. Saya yakin Mas Gus sebenarnya masih sayang banget sama Mbak. Mungkin waktu itu dia cuma khilaf. Tolong perbaiki hubungan kalian. Sayang kalau kalian harus mengakhiri hubungan yang udah dijalani selama bertahun-tahun.”


“Tapi saya nggak mungkin bisa lanjut setelah saya tau kelakuan dia kaya gini, Mbak.”


“Tolong Mbak kasih dia kesempatan. Saya yakin Mas Gus sebenarnya orang baik. Tolong jangan akhiri hubungan kalian. Saya akan merasa sangat bersalah kalau hubungan kalian harus berakhir karena saya.”


Aku terus memohon kepada Mbak Maryatun dan berusaha meyakinkannya. Akhirnya dia tersenyum dan menggenggam tanganku.


“Iya, akan saya coba, Mbak. Makasih karena Mbak udah sangat baik mau melepaskan dia. Sekarang saya yakin kalau Mbak memang orang baik. Maaf karena awalnya saya berpikiran negatif tentang Mbak. Maaf karena kehadiran saya di sini bikin Mbak sedih dan harus tau kenyataan ini.”


“Nggak papa, Mbak. Justru saya makasih banget karena Mbak mau datang ke sini dan mengungkap fakta ini. Saya ikhlas, Mbak. Saya memang terlanjur mencintai dia karena kebaikan dia. Tapi saya nggak akan mau mendapatkan cinta dengan cara yang salah. Mbak yang lebih berhak untuk bersama dia. Saya ikhlas.”


Mbak Marya memelukku sebelum dia pergi ke rumah Mas Gus. Dalam pelukan itu aku berusaha menahan air mataku. Ranti pun memberikan alamat rumah Mas Gus. Setelah itu Mbak Maryatun pergi ke sana.


Setelah Mbak Marya pergi, aku langsung memeluk Ranti dan meluapkan tangisanku yang kutahan sejak tadi.


“Ran maafin gue karena nggak pernah dengerin omongan lo. Maafin gue yang bodoh ini. Lagi-lagi gue ketipu sama cowok yang tampangnya baik sampai nggak mau dengerin nasehat lo. Gue yang selalu lo panggil detektif malah nggak pernah nyelidiki masalah gue sendiri.”


“Udah, Van. Jangan salahin diri lo sendiri. Ini bukan salah lo. Cowoknya aja yang penipu dan jahat sampai tega nyakitin cewek sebaik lo. Gue tau lo punya hati yang baik. Biarpun lo bisa ngrasain sifat negatif orang, lo nggak pernah mau berpikiran buruk tentang orang. Lo cuma perlu dengerin kata hati lo sendiri. Jangan tertipu sama sikap baik orang. Dan soal gue, lo nggak usah pikirin. Udah kewajiban gue buat selalu jagain lo, nasehatin lo, dan nuntun lo ke jalan yang bener.”


“Makasih, Ran. Lo yang terbaik. Lo emang sahabat yang nggak ada duanya.”


Ranti menghapus air mataku dan memelukku lagi dengan erat.


“Jangan nangis lagi. Dia nggak pantes buat lo tangisin.”

__ADS_1


Aku benar-benar mendapat pelajaran berharga hari ini. Kebaikan sikap seseorang tidak menjamin bahwa dia benar-benar orang baik. Seharusnya aku tidak dengan begitu mudahnya percaya. Apalagi dengan seseorang yang belum lama kukenal. Mendengarkan nasehat sahabat juga sangat penting karena terkadang cinta mereka lebih besar dari kecintaan kita kepada diri kita sendiri.


Ranti mengusap lembut rambutku dan masih terus memelukku. Kuluapkan semua amarah dan kekecewaanku dengan air mata. Setidaknya pelukannya membuatku sedikit tenang.


__ADS_2