Salah!! Direvisi Di Naskah Infinity

Salah!! Direvisi Di Naskah Infinity
Ada yang Mau Disampaikan?


__ADS_3

Rasanya lega telah berhasil melalui begitu banyak masalah. Keadaan pun telah normal kembali. Aku berusaha untuk tidak membebani pikiran dengan berbagai permasalahan yang telah lalu.


Tidak ada yang istimewa dari kelas 12. Seperti biasa, setiap harinya di sekolah aku menghabiskan waktu istirahat bersama para sahabatku, Ranti, Tara, Malvin, dan Alby. Bisa bercanda tawa tanpa membahas masalah apapun rasanya begitu menenangkan. Perlahan aku pun sudah melupakan tentang Arka. Kami seolah telah kembali ke dunia kami masing-masing.


Satu hal yang masih terus mengganjal adalah tentang perasaan Alby. Tak cukup sekali, berulang kali dia mencoba menyatakan perasaannya kepadaku. Namun jawabanku masih sama, aku masih tidak ingin kembali ke dunia merah jambu itu lagi. Meski begitu, Alby sangat bisa mengerti pilihanku dan kami pun tetap menjadi sahabat baik tanpa ada kecanggungan.


Mengenai keadaan Malvin, dari waktu ke waktu keadaannya sudah berangsur membaik setelah setiap harinya dia meminum ramuan herbal yang kuberikan. Sudah jarang aku lihat penyakitnya kambuh. Hanya sesekali dia merasakan pusing yang hebat dan mengalami mimisan. Namun tidak berlangsung lama. Aku dan yang lainnya terus berusaha memberi semangat kepada Malvin. Kami tidak ingin dia merasa sendiri dan putus asa. Jika bukan dari orang tuanya, maka kami para sahabatnya yang akan selalu memberikan semangat untuknya.


Bulan demi bulan berlalu. Waktu terasa berputar begitu cepat hingga kini tiba waktunya kami berada di akhir masa SMA, waktunya untuk perpisahan.


Semua siswa mengenakan jas, sedangkan para siswi berdandan mengenakan kebaya. Kami saling berjabat tangan dan berpelukan tanda perpisahan. Rasanya begitu menyedihkan harus berpisah dengan teman-temanku dan meninggalkan semua kenangan indah di sini. Saat berjabatan tangan dengan para guru pun kami tak kuasa menahan isak tangis.


Usai saat-saat menyedihkan, untuk sejenak kami pun tertawa bahagia lagi di acara pensi. Beberapa anak menampilkan bakat mereka masing-masing. Ada yang menampilkan tarian tradisional, drama, menyanyi, dance, dan bakat-bakat lain. Tak ketinggalan, Alby pun naik ke atas panggung. Sepertinya dia juga ingin unjuk gigi. Aku teringat dengan perjanjianku dengannya. Aku memintanya untuk menyanyikan sebuah lagu romantis. Sepertinya dia ingin menepatinya. Dan sesuai janjiku, aku duduk di kursi paling depan, bersama Ranti, Tara, Malvin, dan para orang tua kami yang duduk di belakang kami. Malvin bersorak sorai saat Alby naik ke panggung. Ini memang kali pertama Alby berani tampil di depan umum. Aku sudah tidak sabar mendengarkan suara merdunya lagi.


Alby duduk dengan sebuah gitar di tangannya. Semua siswa bertepuk tangan memberinya semangat agar dia bisa tampil dengan penuh percaya diri.


“Di sini saya akan menyanyikan sebuah lagu romantis dengan diiringi gitar,” ucap Alby mengawali penampilannya.


“Saya akan menyanyikan sebuah lagu untuk seseorang yang sangat istimewa. Dia adalah Vanella,” lanjut Alby dengan lantang sambil menunjukku.


Mataku terbelalak, terkejut dengan apa yang diucapkan Alby. Mengapa namaku harus disebut? Apakah dia menyanyi untuk memenuhi permintaanku atau memang lagu itu ditujukan untukku? Aku terus bertanya-tanya dalam hati. Irama detak jantungku mulai tak beraturan. Ranti dan Tara menyenggol tanganku, mereka ikut meledekku seperti teman-teman yang lain. Semua mata pun tertuju padaku dengan teriakan ledekan mereka. Aku hampir salah tingkah dibuatnya.


Alby mulai bernyanyi. Dia menyanyikan lagu yang sama seperti saat di rumah Malvin, yaitu lagi Bukti dari Virgoun. Entah itu lagu favoritnya atau lagu itu memiliki makna tersendiri baginya dan menjadi ungkapan isi hatinya. Meski dia menyanyikan lagu yang sama, tetapi aku merasakan atmosfer yang berbeda. Suasana romantis benar-benar terasa. Jantugku berdebar mendengar alunan nada merdu yang dia nyanyikan.


“Sayang, dia pacar kamu?” bisik ibu yang duduk di belakangku.


“Bukan. Kan Ibu tau dia temen deket Vanella. Cuma sahabat aja nggak lebih.”


“Tapi kayanya dia suka sama kamu.”


“Vanella nggak mau pacaran lagi, Bu.”


Ibu tersenyum meledekku, seolah tak percaya dengan jawabanku. Mungkin ibu bisa melihat dari wajahku bahwa sebenarnya jantungku sedang berdebar-debar saat ini. Entah karena aku mulai memiliki perasaan dengan Alby atau hanya karena ini pertama kalinya seseorang menyanyikan sebuah lagu untukku.


Tiba-tiba sebuah hal mengejutkan dilakukan Alby. Sambil bernyanyi, dia turun dari panggung dan menghampiriku.


“Kamu adalah bukti. Dari cantiknya paras dan hati. Kau jadi harmoni saat kubernyanyi tentang terang dan gelapnya hidup ini.”


Lirik yang dia nyanyikan sambil memberiku setangkai bunga mawar. Semua orang bersorak sorai meledekku. Aku menerima bunga itu dan langsung menundukkan kepala. Aku merasa sangat malu. Aku tidak tahu bahwa Alby akan melakukan hal seberani ini.


Setelah pensi selesai, semua orang bersiap untuk pulang. Aku masih berbincang-bincang dengan ibu, Ranti, Tara, dan orang tua mereka.


“Maaf, permisi. Van, bisa ngomong bentar?” tanya Alby yang muncul secara tiba-tiba.


Semuanya menatapku. Dari tatapan mereka jelas mereka berusaha meledekku.


“Iya. Bu, aku permisi bentar ya.”


“Tante, maaf ya saya pinjem anaknya bentar,” ujar Alby.


“Iya, Nak. Silahkan. Sepertinya akan ada kejutan romantis lagi nih,” ledek ibu.

__ADS_1


Aku menatap mata ibu tanda tidak setuju. Aku pun mengikuti langkah Alby. Dia mengajakku duduk di sebuah bangku yang ada di bawah pohon.


“Ada apa, Al?”


“Gue mau ngomong sama lo.”


“Iya, ngomong aja. Jangan lama-lama ya. Nggak enak sama yang lain.”


“Iya, bentar doang kok. Emm... Van. Gue masih pengen ngomongin hal yang sama. Tentang perasaan gue. Apa lo nggak mau ngasih kesempatan gue? Gue janji akan buktiin ke lo kalau gue nggak kaya Arka. Gue nggak akan kecewain lo.”


“Bukan masalah itu, Al. Tolong ngertiin gue kalau gue butuh waktu buat sembuh dari patah hati ini. Jangan nunggu gue karena entah kapan gue bisa jatuh cinta lagi. Masih banyak yang lebih baik dari gue.”


“Tapi nggak akan seistimewa lo. Gue nggak akan nyerah, Van. Gue akan terus berusaha sampai lo mau nerima gue. Ini udah perpisahan sekolah. Setelah ini kita nggak akan ketemu lagi dalam waktu yang lama. Lo mau lanjut kuliah dan gue mau kerja. Gue janji setelah gue punya penghasilan sendiri, gue akan dateng ngelamar lo. Lo tunggu gue ya.”


“Jangan janjiin sesuatu yang belum pasti, Al. Lagian gue belum mau nikah kalau belum nyelesaiin studi S1 gue. Itu pun juga belum tentu gue mau langsung nikah. Dan itu masih lama banget. Segala kemungkinan masih bisa terjadi.”


“Gue udah yakin dengan pilihan gue, Van. Gue cuma akan nikahin lo. Lo tunggu aja. Gue akan buktiin.”


“Gue nggak bisa kasih jawaban apa-apa. Biar waktu yang akan membuktikan semuanya. Lo fokus aja sama kerjaan lo. Semoga lo bisa jadi orang sukses dan siapapun jodoh lo nanti, itu pasti yang terbaik buat lo.”


“Thanks, Van. Gue harap itu lo. Lo juga semangat ya kuliahnya. Tetep jadi Vanella yang gue kenal.”


“Pasti. Masih sahabatan, kan?”


“Masih dong. Kita cuma pisah tempat aja. Gue akan tetep sering ngubungin lo. Lo tetep bisa berbagi apapun sama gue.”


Kami berjabatan tangan dan tersenyum. Aku pun kembali bersama Ranti, Tara, dan para orang tua kami. Rupanya mereka sudah hendak pulang.


“Iya, Nak. Kalian kalau masih mau kangen-kangenan sama temen-temen ya di sini dulu aja. Kita para orang tua pulang dulu,” jawab Om Mahesa, ayah Ranti.


“Ibu juga pulang duluan ya, sayang. Kamu sama Ranti nanti pulangnya,” sahut ibu.


“Oh iya Om, Bu.”


“Foto bareng dulu yuk biar ada foto kenang-kenangan. Jadi biar kaya keluarga besar,” usul Tara.


“Eh ajak Malvin, Alby, sama orang tua mereka juga dong,” sahut Ranti.


“Oh iya ya. Harus lengkap,” jawabku.


Aku pun memanggil Malvin dan Alby. Mereka lalu mengajak orang tua mereka. Kami pun berfoto bersama layaknya keluarga besar yang harmonis.


“Eh, Vin. Lo mau lanjut ke mana setelah lulus?” tanya Ranti kepada Malvin.


“Katanya sih anak kami yang sok jagoan ini mau jadi tentara,” jawab ayahnya Malvin.


“Wah seriusan, Om? Hebat kamu, Vin.”


“Semangat ya, Vin. Semoga cita-cita kamu bisa terwujud. Jangan lupa sama kita-kita ya. Jangan jadi orang sombong. Semangat dan sukses pokoknya.”


“Makasih doa dan semangatnya, Van. Yang laen juga makasih ya. Gue akan tetep jadi Malvin yang kaya gini kok. Oh ya, maaf kalau untuk waktu yang lama kita nggak bisa komunikasi. Nanti kalau gue sukses gue pasti akan temuin kalian. Kita ketemu lagi pas sama-sama udah sukses. Kalian semangat ya yang mau kuliah atau kerja. Pokoknya semuanya harus jadi orang hebat.”

__ADS_1


“Harus! Iya, nanti kita reuni ya kapan-kapan,” ujar Tara.


“Pasti dong,” sahut Alby.


Akhirnya kami bisa tertawa lepas. Perpisahan menjadi momen yang sangat indah di mana kami semua bisa berkumpul, bahkan dengan membawa orang tua masing-masing. Aku berusaha menahan air mataku yang ingin jatuh sejak tadi menahan rasa haru ini. Satu yang paling membuatku bahagia adalah melihat kedekatan Malvin dan orang tuanya. Sepertinya orang tua Malvin lebih memperhatikan Malvin sekarang.


“Foto lagi yuk semuanya,” ajak Ranti.


Kami semua pun berfoto bersama lagi. Terlihat senyum kebahagiaan di wajah setiap orang. Ini akan menjadi foto kenangan terindah kami.


Usai berfoto dan orang tua kami sudah pulang, tiba-tiba Malvin menarik tanganku menjauh dari mereka semua. Dia langsung memasangkan sebuah gelang berwarna orange di pergelangan tanganku.


“Vin, ini apa?”


“Lo nggak lihat ini gelang?”


“Iya, gue tau. Maksudnya buat apaan?”


“Buat tanda persahabatan kita aja. Kan gue nanti sibuk, nggak bisa ketemu lo, nggak bisa chat lo. Nanti lo kangen lagi nggak ada yang jailin lo, nggak ada yang bikin kesel lo.”


“Idih PD banget. Yang ada lo yang bakal kangen sama perhatian gue.”


“Iya gue pasti kangen banget sama dokter pribadi gue ini,” jawabnya sambil mencubit kedua pipiku.


“Hobi banget nyubitin pipi. Sakit, Vin. Eh selamat ya, sebentar lagi lo bakal jadi tentara hebat. Gue akan jadi salah satu orang yang paling bangga. Nanti kalau lo udah jadi tentara, gue akan bilang ke semua orang kalau tentara yang hebat itu adalah sahabat gue.”


“Wah jadi lo yang udah mengkhayal duluan nih. Gue juga nanti pastinya akan bangga lihat lo jadi orang sukses. Semangat kuliahnya. Jangan bandel. Jangan suka bolos. Kalau ada tugas diselesaiin tepat waktu, nggak usah nunggu deadline. Inget, harus lulus dengan predikat cumlaude.”


“Siap, Komandan!”


“Van, jaga diri lo baik-baik ya. Kalau ada waktu sempetin buat main ke rumah gue dimanapun gue.”


“Hah? Emangnya lo di mana? Rumah lo kan ya cuma itu.”


“Siapa tau aja pindah. Pokoknya dimanapun gue lo harus sering-sering kunjungi gue.”


“Oke.”


“Gue sayang lo,” ucap Malvin sambil menggenggam tanganku.


Senyumku pun berubah menjadi ekspresi datar. Aku menatap matanya dengan serius. Malvin justru tertawa.


“Sebagai sahabat. Gitu doang udah panik. Lo itu udah kaya adek gue sendiri.”


“Oh, iya. Gue juga sayang sama lo. Jaga kesehatan lo ya. Jangan sakit-sakitan lagi. Inget, tentara itu harus sehat dan kuat.”


“Siap, boss.”


Malvin mencubit pipiku sekali lagi, setelah itu dia menggandengku, membawaku berkumpul bersama teman-teman lagi. Kami pun berfoto bersama dengan teman sekelas kami. Setelah itu kami saling berpelukan satu sama lain dan menitikkan air mata, merasakan beratnya perpisahan yang harus terjadi. Berbagai kenangan indah telah diukir bersama di sekolah ini. Rasanya begitu berat harus membiarkan semuanya berlalu. Namun waktu harus terus berputar.


Berbagai momen mengharukan terjadi hari ini. satu lagi yang tak kalah mengharukan adalah pelukan dari Ellisa. Meski dia tidak mau mengucapkan kata maaf, namun pelukannya sudah menunjukkan bahwa dia pun juga merasa sedih atas perpisahan ini. Walaupun selama ini yang terlihat hanyalah persaingan dan permusuhan, tetapi saat perpisahan kali ini hanya tampak cinta dan kebersamaan. Semua saling memeluk erat dengan penuh cinta.

__ADS_1


__ADS_2