
Segalanya telah kembali seperti semula. Aku kembali berangkat sekolah dengan Ranti. Begitu sampai di sekolah, Tara langsung berlari menghampiri kami dan memeluk kami dengan erat.
"Alby udah ceritain semuanya. Gue seneng banget akhirnya kalian baikan."
"Lo pikir kita enggak? Gue capek tau harus pura-pura pasang muka sinis terus di depan Vanella."
"Dan gue cemburu lihat kalian berdua terus, ketawa tanpa gue."
"Udah yang penting sekarang kita udah bertiga lagi. Berpelukan."
Tara memeluk aku dan Ranti dengan erat. Ranti berusaha keras melepaskannya.
"Bisa sesak napas gue. Lebay lo ah. Ayo."
"Eh kita kan udah baikan. Berarti kita bisa lanjut ngerjain Malvin kaya biasanya, kan?"
"Gue setuju, Tar. Pastinya," jawab Ranti dengan begitu semangat.
"Gua juga setuju dong."
"Yuhuu. Yuk masuk kelas." Tara tampak begitu semangat. Keceriaan terpancar jelas di wajahnya.
Masalah dalam persahabatan telah berlalu. Kini kami kembali dihadapkan dengan permasalahan di kelas yang tak pernah berlalu, matematika.
"Silahkan kumpulkan tugas yang saya berikan minggu lalu," ujar Pak Irgi.
Dengan santainya aku membuka tasku. Aku sudah mengerjakannya dan aku yakin jawabanku benar. Namun ketenanganku berubah menjadi kepanikan saat aku tidak berhasil menemukan lembar jawaban tugas matematikaku di dalam tas. Aku sampai mengeluarkan seluruh isi tasku dan ternyata memang tidak ada.
"Van, ada apa? Kok kayanya lo panik gitu."
"Kertas lembar jawaban gue ketinggalan, Ran. Mampus gue," bisikku berusaha agar Pak Irgi tidak mendengarnya.
"Gila sih lo. Kok bisa?"
"Lo kan tau gue lupaan. Apalagi itu cuma kertas dua lembar doang. Gue udah ngerjain susah payah malah ketinggalan lagi. Bego banget sih gue."
"Bilang aja sama Pak Irgi. Namanya juga lupa. Masa nggak dimaklumi sih."
"Pak Irgi nggak akan peduli, Ran. Nggak ada toleransi. Gimana dong gue."
Aku menggigit bibir bagian bawahku, jantungku berdegup kencang tidak karuan, keringatku pun mulai menetes.
"Van, kenapa?" tanya Malvin dengan berbisik.
"Gue lupa nggak bawa lembar jawaban gue, Vin."
"What? Ceroboh banget sih lo."
"Gue lupa, Vin."
"Ya udah lo tenang."
"Gimana gue bisa tenang?"
"Malvin, Vanella, kenapa kalian ribut sendiri? Cepet kumpulkan tugas kalian!" tegas Pak Irgi.
Aku semakin panik. Akhirnya aku hanya bisa pasrah. Aku terus meremas tanganku yang mulai berkeringat. Beberapa kali aku menghela napas panjang, bersiap menerima hukuman dari Pak Irgi.
"Vanella."
Mendengar Pak Irgi memanggil namaku membuat jantungku seakan mau copot. Aku memejamkan mata dan menunduk.
"Iya, Pak. Ada apa, Pak?"
"Kenapa lembar jawaban kamu ada dua? Jawabannya juga beda."
Aku tercengang. Bahkan Ranti pun melongo.
"Dua, Pak? Nggak mungkin, Pak."
"Iya ini ada dua. Yang bener yang mana?"
__ADS_1
"Van, lo kan nggak ngumpul? Kok malah ada dua?" bisik Ranti.
"Gue juga nggak tau, Ran. Kok bisa sih."
"Tunggu dulu. Kayanya ini bukan tulisan tangan kamu. Bapak hafal betul tulisan kamu. Bentar saya periksa dulu."
Pak Irgi kembali memeriksa lembar jawaban para siswa.
"Malvin, Alby, kenapa di sini nggak ada nama kalian? Kalian nggak ngumpul?"
Aku dan Ranti langsung menoleh ke arah mereka berdua. Kini aku mengerti mengapa ada dua lembar jawaban dengan namaku. Mereka tampak kebingungan, tak mampu menjawab. Pak Irgi memutuskan untuk menghampiri tempat duduk mereka. Pak Irgi melihat-lihat isi buka matematika mereka. Lalu beliau kembali berdiri di depan kelas.
"Sudah saya duga. Ini bukan lembar jawaban Vanella. Vanella, di mana lembar jawaban kamu?"
"Ma.. Maaf, Pak. Saya... Saya lupa nggak bawa." Aku menjawab dengan terbata-bata karena takut.
"Dan kalian berdua mau jadi pahlawan dengan ngumpulin ini atas nama Vanella?"
Pak Irgi menatap ke arah Malvin dan Alby.
Malvin dan Alby hanya bisa diam saja.
"Pak, jangan salahin mereka. Hukum saya aja, Pak. Saya yang salah karena nggak bawa lembar jawaban saya."
"Mereka juga salah, Vanella. Kalian semua ingat baik-baik ya, saya paling nggak suka kalau murid saya berbohong. Apalagi dalam urusan tugas. Vanella, Malvin, dan Alby, silahkan ke depan. Kalian berdiri di pojok sana sampai kelas selesai."
"Kami minta maaf, Pak. Biar kami aja yang dihukum, Pak. Vanella nggak usah," ujar Malvin berusaha membelaku.
"Iya, Pak. Kami minta maaf. Tolong Vanella jangan dihukum," timpal Alby.
"Kalian bertiga sama-sama salah. Jadi kalian harus sama-sama dihukum. Vanella, jangan sampai ini terulang lagi. Kamu siswi berprestasi di sini. Jangan merusak citra kamu sendiri."
"Baik, Pak."
"Ayo kalian bertiga maju. Cepet!"
Kami bertiga pun maju di depan kelas dan menjalani hukuman kami.
"Kalian berdua ngapain sih pake aneh-aneh nglakuin itu? Kenapa dinamain nama gue?" bisikku.
"Gue juga nggak akan diem aja kalau lo dihukum. Ya biarpun sekarang akhirnya dihukum juga. Seenggaknya lo nggak sendiri," sahut Alby.
"Sweet banget sih kalian. Makasih ya kalian berdua itu emang pahlawan-pahlawan kesiangan gue."
"Malah ngobrol kalian. Tolong diam selama pelajaran berlangsung!" tegas Pak Irgi.
"Baik, Pak."
**
"Eh itu tadi ceritanya kalian mau sok jadi pahlawan buat Vanella gara-gara Vanella lupa nggak bawa lembar jawabannya gitu?" tanya Tara memulai pembicaraan ketika kami berlima sedang makan di kantin.
"Iya dong. Gue kan emang pahlawan super. Udah baik, ganteng lagi," jawab Malvin dengan penuh percaya diri.
"Yang ada kalian itu malah bikin jelek nama Vanella. Pasti jawaban kalian itu banyak yang salah. Secara nggak mungkin dong Vanella dapey nilai di bawah 90," sahut Ranti.
"Apa sih lo, Ran. Seolah-olah gue punya IQ sebanding dengan Albert Einstein gitu. Gue juga bisa salah kali."
"Yang penting kita udah berusaha menyelamatkan Vanella. Pokoknya kita selalu berdiri di depan Vanella. Iya gak, Vin?"
"Yoi, Al. Ya anggep aja kita berdua bodyguard lo, Van."
"Oke berarti nanti setelah lulus sekolah kalian nggak usah bingung-bingung nyari kerja. Jadi bodyguard gue aja."
"Eh nggak jadi deh, Van. Gue nggak mau punya bos galak kaya lo."
"Vin! Selalu aja bilang gue galak. Gue siram pake kuah bakso baru tau rasa lo!"
"Tuh kan baru aja gue bilang. Gue kasihan sama suami lo nanti. Pasti nanti jadi korban KDRT."
"Lo ngomong sekali lagi, ni gelas di tangan gue bakalan melayang ke muka lo ya!"
__ADS_1
"Udah lah, Van. Dia itu emang hobi bikin lo naik darah. Minta dikerjain lagi kayanya. Kasih jus pare lagi."
"Malvin pernah minum jus pare, Tar?"
"Iya, Al. Waktu kita belajar kelompok, Vanella ngasih minum dia jus pare. Bisa bayangin nggak ekspresinya Malvin gimana? Sumpah itu kejailan paling seru."
"Gimana rasanya, Vin? Enak? Udah doyan minum yang pahit-pahit lo?"
"Diem lo, Al! Gila aja gue doyan minuman kek gitu. Kalau ada yang manis kenapa harus minum yang pahit."
Aku memperhatikan mereka yang terus saja ribut. Aku senang keadaan telah membaik. Kami berlima bisa sering-sering menghabiskan waktu bersama lagi dengan canda tawa kami.
**
Tiba waktunya untuk ujian semester genap. Aku telah mempersiapkan diri sejak jauh-jauh hari mengingat ini adalah batu loncatan menuju kelas 12, perjuangan terakhir dari masa SMA-ku. Aku mengerjakan soal dengan begitu tenang. Apalagi saat mengerjakan soal kimia, salah satu mata pelajaran yang kusukai selain matematika.
Berbeda denganku, Malvin terlihat kebingungan. Beberapa kali dia menggaruk-garuk kepala dan meletakkan kepalanya di meja. Dia malah asyik bermain dengan pensilnya.
Ayo, Vin. Lo pasti bisa. Baru segitu masa udah mau nyerah.
Aku menatapnya dan memberinya senyuman sembari menyemangatinya dalam hati. Meski dia tak mampu mendengarnya, aku yakin dia bisa mengerti arti dari senyumanku. Dia pun membalasnya dengan menggelengkan kepala.
"Semangat! Lo pasti bisa!" bisikku.
"Ehm." Pengawas seolah memberi kode karena mendengar suaraku.
Aku kembali fokus mengerjakan soal. Setelah selesai, aku beberapa kali memeriksa jawabanku sambil menunggu waktu habis. Aku kembali menoleh ke arah Malvin. Kepalanya masih saja tergetak di meja. Entah dia sudah menyelesaikan jawabannya atau belum. Lama kuperhatikan, akhirnya dia mengangkat kepalanya. Namun dia tampak panik. Sepertinya dia sedang mengusap sesuatu dari hidungnya. Darah lagi?
"Pak, saya izin mau ke kamar mandi," ucap Malvin sembari mengangkat tangan.
Setelah diberi izin, Malvin langsung berlari keluar kelas. Aku mulai mengkhawatirkannya. Aku ingin memberi tahu Ranti dan Tara, tetapi tempat duduk mereka jauh dariku. Aku pun memutuskan untuk menyusulnya ke kamar mandi setelah diberi izin oleh pengawas.
Sesampainya di kamar mandi, aku melihat Malvin yang menyenderkan tubuhnya di dinding dengan hidung berlumuran darah. Dia terus memegangi kepalanya seperti sedang merasa kesakitan. Aku memberanikan diri untuk mendekatinya meski sebenarnya aku sangat takut dengan darah.
"Vin, kepala lo sakit lagi? Lo mimisan lagi? Ya ampun, Vin. Sini gue bantu."
Aku mengambil tisu dari kantongku dan menyeka darah yang terus keluar dari hidungnya. Aku melakukannya tanpa menatapnya. Saat tisu itu sudah dipenuhi darah dan tanpa sengaja aku melihatnya, refleks aku langsung melemparnya. Aku mulai ketakutan.
"Darah! Gue takut darah. Gue takut."
Malvin yang semula tampak kesakitan langsung berusaha memeluk menenangkanku.
"Van, tenang. Lo nggak perlu takut. Biar gue buang."
Malvin membuang tisu itu ke kotak sampak, lalu kembali menghampiriku. Dia menggenggam tanganku dengan erat.
"Udah gue buang, kan? Lo nggak perlu takut lagi."
"Gue takut darah, Vin."
Malvin kembali memelukku dan terus mengusap kepalaku. Begitu aku tenang, aku melepaskan pelukan itu dan menatapnya.
"Vin, maaf ya. Gue mau bantuin lo malah gue jadi nyusahin lo."
"Iya nggak papa, Van. Lagian lo phobia darah masih aja maksain buat ke sini. Gue kan udah bilang, jangan deket-deket gue kalau gue lagi mimisan."
"Gue kan khawatir sama lo. Lo kenapa sih sering mimisan? Lo juga sering kesakitan gitu di kepala lo. Lo sakit apa? Sekarang apa masih sakit?"
"Gue baik-baik aja. Gue nggak sakit apa-apa. Jadi nggak perlu khawatir. Udah nggak sakit kok. Ini mimisan gue juga udah berhenti. Ayo ke kelas. Nanti dikira kita ngapain lama."
"Bener lo udah baikan? Kalau masih sakit biar gue ijinin aja."
"Gue udah nggak papa, Van. Cepetan lo balik kelas."
"Terus lo?"
"Gue mau cuci muka dulu. Lagian kalau kita balik ke kelasnya barengan nanti pada mikir macem-macem. Lo duluan aja ya."
"Ya udah. Kalau ada apa-apa panggil gue ya."
"Iya."
__ADS_1
Malvin tersenyum dan mengusap kepalaku lagi. Aku pun meninggalkannya sendirian. Begitu sampai di kelas, aku masih dihinggapi rasa khawatir. Aku baru bisa tenang setelah Malvin kembali ke kelas. Saat itu barulah aku bisa bernapas lega.
Lo emang nyebelin, tapi kalau lo sakit kenapa gue sekhawatir itu, Vin?