Salah!! Direvisi Di Naskah Infinity

Salah!! Direvisi Di Naskah Infinity
Kejutan 17


__ADS_3

Cahaya matahari menyeruak masuk ke kamarku ketingga ibu membuka gorden jendela kamarku. Aku masih enggan untuk membuka mata. Sekilas kumelihat ibu, namun aku kembali memejamkan mata sambil memeluk boneka beruangku. Tiba-tiba kurasakan selimutku ditarik.


“Sayang, bangun. Ini udah siang. Ini hari Senin. Tumben kamu kesiangan bangunnya. Ayo bangun.”


“Jam berapa sih, Bu? Vanella masih ngantuk banget.”


Ibu duduk di dekatku dan memaksaku membuka mata.


“Kamu buka mata kamu terus kamu lihat jam ini,” ucap ibu sambil menunjukkan jam bekerku.


Sambil menguap, aku memaksakan membuka mataku dan kulihat jam yang ditunjukkan ibu. Aku terkejut. Ternyata sudah hampir pukul 7 pagi.


“Ya ampun udah siang. Ibu kenapa nggak bangunin dari tadi.”


Aku bergegas menyiapkan baju dan segera ke kamar mandi. Ibu hanya bisa menggelengkan kepala melihatku. Memang ini adalah kali pertama aku bangun terlambat. Ibu pasti merasa heran.


Jika biasanya aku suka berlama-lama di kamar mandi, kali ini aku mandi begitu cepat. Usai mandi aku segera memakai seragam sekolah dan menyisir rambutku. Memang masih belum terlalu rapi, tetapi kubiarkan saja. Aku langsung berlari keluar kamar. Namun begitu sampai di ruang tamu, aku langsung menghentikan langkahku. Aku teringat bahwa ini adalah hari Minggu.


“Oh my goodness. Kok lo bisa lupa sih, Vanella.” Aku terus mengomel kepada diriku sendiri.


Masih merasa kesal dengan diriku sendiri, tiba-tiba kudengar langkah kaki beberapa orang yang berjalan di belakangku. Aku menengok ke belakang.


“Happy birthday, Vanella.”


Ranti, Tara, Malvin, Alby, dan Fero berdiri dengan membawa sebuah kue tart. Aku tidak tahu lagi harus berkata apa. Mereka memberiku kejutan tak terduga.


“Happy sweet seventeen, My bestie,” teriak Ranti dan Tara serentak.


Mereka berdua berlari memelukku. Ibu pun tak mau ketinggalan. Aku tidak bisa menahan rasa haruku.


“Kita juga mau dong dipeluk,” ucap Malvin, Alby, dan Fero dengan kompak. Kami pun tertawa.


Kami menyanyikan lagu ulang tahun, lalu aku mulai memotong kue. Kuberikan potongan pertama kepada ibu. Potongan kedua dan ketiga kuberikan secara bersamaan kepada Ranti dan Tara. Ketika aku akan memotong kue lagi, Malvin menghentikanku dengan mengambil pisau yang kupegang.


“Eh, Vin. Kenapa?”


“Jangan dipotong dulu. Kita punya kejutan buat lo.”


“Kejutan? Apa?”


“Masuk, Bro.”


Aku melihat ke arah pintu. Aku penasaran siapa yang sebenarnya dipanggil Malvin. Kutunggu seseorang muncul dari balik pintu. Tiba-tiba...


“Arka?”


Arka datang dengan membawa boneka beruang pink besar. Dia berjalan pelan mendekatiku sambil terus tersenyum menatapku. Matanya seolah telah terfokus dengan mataku. Begitu telah sampai di hadapanku, tanganku terasa begitu dengan. Kakiku gemetar. Aku seakan tidak ingin mengalihkan pandanganku darinya.


“Vanella.”


“Iya. Ada apa?”


“Maaf baru ngomong sekarang. Aku cuma nunggu waktu yang tepat. Hari ini di hari istimewa kamu, aku mau ngungkapin apa yang aku pendam selama ini. Aku suka sama kamu. Sejak pandangan pertama, aku langsung kepikiran kamu terus. Aku suka senyum kamu. Do you wanna be my girl?” ucap Arka dengan terbata-bata.



Pacu detak jantungku menjadi tidak normal, di luar kendaliku. Bibirku menjadi kelu, tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Bagaimana tidak, tiba-tiba dia datang dan mengatakan tentang perasaannya. Sebuah pernyataan yang telah kutunggu-tunggu selama ini. Karena tidak bisa berkata-kata lagi, aku hanya mengangguk dan tersenyum padanya. Kuterima boneka yang dia berikan.



“Yes! Akhirnya!”

__ADS_1


Arka terlihat begitu gembira. Semua teman-temanku pun ikut merasa bahagia. Di 17 tahunku, dia telah menjadi kado terindah bagiku. Cinta pertamaku.


Pagi itu menjadi awal hubunganku dengan Arka. Hari yang benar-benar istimewa di mana aku mendapatkan seseorang yang istimewa pula. Tidak hanya paginya, malamnya aku pun mendapat kejutan dari ibu juga. Ulang tahun yang terasa begitu sempurna dengan cinta kasih dari orang-orang terdekatku.


Sejak saat itu aku mulai menjalani hari-hariku sebagai pacar Arka. Hal yang tidak mudah karena aku harus terbiasa dipandang dengan tatapan sinis oleh para pengagum Arka. Berbagai teror dalam bentuk chat pun selalu kuterima hampir setiap hari. Memang itulah resikoku ketika aku memutuskan untuk berpacaran dengan cowok paling populer di sekolah. Meski awalnya itu sangat mengganggu dan membuatku tidak nyaman, tetapi perlahan aku mulai bisa menyesuaikan diri.


**


Hari senin telah tiba. Upacara akan segera dilaksanakan, tepat waktu seperti biasa. Dengan cuaca yang sedikit mendung, membuat siswa lebih bersemangat karena tidak akan merasa kepanasan meskipun harus berdiri cukup lama. Namun tidak denganku. Aku yang masih di kelas begitu panik karena lupa membawa topi. Sesuai aturan sekolahku, siswa yang tidak memakai atribut lengkap saat upacara akan diberi hukuman, berdiri di halaman sekolah hingga pelajaran pertama selesai. Aku sama sekali tidak ingin melakukannya.


“Seorang Vanella, siswi paling populer di sini, harus dihukum berdiri di sana sendirian? What? Itu bukan gue banget. Gue nggak mau malu. Kenapa lo bisa lupa sih, Van. Bego banget. Belum tua udah lupaan gini.” Aku terus mengomeli diriku sendiri sambil mondar-mandir berusaha memikirkan jalan keluarnya.


Aku tidak tahu harus meminta tolong pada siapa atau melakukan apa. Ranti, Tara, dan siswa lainnya sudah turun ke bawah.


“Van, kok masih di sini?”


Suara Alby mengagetkanku. Jantungku berdetak dengan cepat.


“Ya ampun lo ngagetin gue aja, Al. Gue pikir guru. Iya nih gue bingung. Gue lupa nggak bawa topi. Lo tau kan apa artinya? Gue bakalan dihukum. Gue nggak malu. Gue paling nggak suka dipermalukan di depan umum.”


“Kenapa nggak ngomong gue dari tadi? Ni pake aja topi gue.” Alby memberikan topinya sambil tersenyum.


Aku diam tertegun. Aku ragu ingin menerimanya atau tidak.


“Tapi, Al. Lo gimana? Nanti lo yang dihukum?”


“Udah nggak usah mikirin gue. Cuma dihukum doang gue nggak takut. Gue kan cowok. Ahli bela diri. Udah biasa panas-panasan.”


“Nggak sombong ya?”


“Ya sombong dikit nggak papa, kan? Udah cepet turun. Pake dulu topinya.”


“Iya, Vanella. Sana turun. Nanti gue nyusul.”


“Ya udah, gue duluan. Makasih ya.”


Aku segera berlari menuruni tangga, menuju halaman sekolah. Aku berdiri di belakang Ranti.


“Lo ngapain aja lama? Mojok di kelas? Eh tapi Arka kan udah di bawah dari tadi.”


“Gila lo mikir kaya gitu. Gue lupa nggak bawa topi.”


“Hah?! Parah lo! Terus itu topi siapa?”


“Topi Alby. Dia minjemin ke gue.”


“Terus nanti Alby yang dihukum? Wah nggak beres. Tega banget lo, Van.”


“Orang Alby yang minta sendiri.”


“Emang ya Alby itu perhatian banget sama lo. Lo aja yang nggak pernah mau menghargai pengorbanan dia. Lihat tuh sekarang dia sampai rela gantiin lo dihukum, kan? Nggak kasihan?”


Aku merenung memikirkan ucapan Ranti. Kurasa dia benar. Selama ini aku tidak pernah menghargai perhatian Alby dan sekarang aku malah membuatnya berada dalam masalah.


Tak lama, kulihat Alby turun. Semua pandangan siswa tertuju pada Alby yang berjalan santai tanpa memakai topi. Pak Rendi, wakil kepala sekolah kami langsung menghampiri Alby. Jelas terlihat kemarahan Pak Rendi. Alby pun diminta berdiri di barisan para siswa yang tidak memiliki atribut lengkap. Sudah jelas mereka akan dihukum setelah upacara selesai. Aku jadi merasa bersalah.


Begitu upacara selesai, semua siswa kembali ke kelas masing-masing. Aku menaiki tangga dengan perasaan ragu. Aku terus teringat akan Alby. Saat baru sampai di lantai 2, aku pun berlari turun kembali.


“Van, mau ke mana?” tanya Tara yang berusaha menahan tanganku.


“Lo duluan aja. Gue ada urusan.”

__ADS_1


Aku melepaskan tangan Tara dan berlari menghampiri Alby. Dia tampak bingung saat melihatku berdiri di hadapannya dengan napas terengah-engah.


“Lo ngapain di sini, Van?”


“Bentar, gue mau napas dulu.”


Aku mengatur napasku. Lalu aku tersenyum padanya.


“Gue mau nemenin lo di sini. Lo kan dihukum karena gue. Jadi gue harus tanggung jawab.”


“Ah apaan sih lo. Tanggung jawab apaan. Udah kaya lo ngapa-ngapain gue.”


“Eh ngawur banget kalau ngomong. Gue serius, Al.”


“Udah balik kelas sono. Gue nggak papa. Nanti malah lo pingsan di sini malah nyusahin gue tau nggak.”


“Gue janji nggak akan pingsan.”


“Nggak percaya gue. Udah pergi pergi. Nanti kulit lo item kaya gue lagi. Lo itu nggak boleh kena panas.”


“Idih lebay lo. Seorang sahabat itu nggak akan membiarkan sahabatnya berada dalam kesulitan sendirian.”


“Nanti aja ya kalau mau nyampein kata-kata mutiaranya. Cepet pergi. Nanti lo kena marah Pak Rendi.”


Alby terus mendorongku, berusaha memintaku pergi. Namun aku masih bersikeras untuk menemaninya berdiri di sana bersama para siswa yang lain. Tiba-tiba sebuah tangan menarikku hingga membuatku hampir terjatuh di pelukan orang tersebut. Saat kutatap matanya, jantungku berdegup kencang. Dia adalah Arka. Lagi-lagi bibirku seakan terkunci saat menatap matanya.


“Ngapain di sini?”


“Aku... Aku...”


Aku terbata-bata, tidak sanggup meneruskan kata-kataku saat wajahku berada sedekat ini dengan wajahnya. Dia pun menutup bibirku dengan jari telunjuknya.


“Ini waktunya masuk. Nggak seharusnya kamu di sini. Ayo,” ucapnya sambil tersenyum.


Arka menggenggam tanganku dengan erat, mengajakku masuk kelas. Tatapan dan senyumannya hampir menghipnotisku. Namun begitu aku tersadar, aku langsung menoleh ke arah Alby. Aku ingin kembali ke sana, tetapi aku juga tidak ingin membuat Arka marah dan salah paham. Dengan mataku aku berusaha mengatakan permintaan maafku kepada Alby. Dia hanya tersenyum kecil. Terlihat jelas kekecewaan di wajahnya.


Begitu sampai di tangga yang ada di lantai 2, Arka menghentikan langkahnya.


“Kok berhenti?”


“Aku mau ngomong dulu. Jangan terlalu deket sama cowok lain. Kamu tau kenapa?”


“Karena sekarang aku adalah Vanellanya Arka.”


Arka mengacak-acak rambutku dan tersenyum.


“Anak pinter. Oh ya aku ada sesuatu buat kamu. Kemarin aku lupa bawa. Ini masih kado sweet seventeen kamu.”


Lelaki bermata sipit itu mengeluarkan sesuatu dari kantong almamaternya. Sebuah kotak musik berwarna pink. Dia memberikannya sambil tersenyum. Aku langsung menerimanya.


“Bagus banget. Makasih. Kamu tau banget aku suka benda-benda warna pink. Lucu kotak musiknya.”



“Aku seneng kalau kamu suka. Kalau kamu susah tidur, kamu puter aja kotak musik itu. Dia akan bantu kamu tidur nyenyak.”


“Kamu emang selalu punya cara romantis. Sekali lagi makasih. Aku suka banget.”


“Ya udah. Ayo ke kelas.”


Dia kembali mengusap kepalaku yang membuat jantungku semakin berdetak kencang. Sambil menaiki tangga, kami terus bergandengan tangan. Sesekali aku tertunduk malu karena para siswa memperhatikan kami. Namun tidak dengan Arka. Dia bisa berjalan dengan santai sambil sesekali tersenyum ke arahku, seolah tidak peduli dengan pandangan orang-orang.

__ADS_1


__ADS_2