Salah!! Direvisi Di Naskah Infinity

Salah!! Direvisi Di Naskah Infinity
Aku Masih Peduli


__ADS_3

Aku melakukan jogging mengelilingi kompleks untuk menghilangkan segala beban pikiran yang terus menggangguku. Rasa lelah hampir tidak terasa.


Lupain Arka. Lupain semua tentang Arka dan Leony.


Kupaksa diriku untuk berlari lebih cepat. Terus kuteriakkan dalam batinku untuk melupakan pengkhianatan mereka. Aku tidak peduli dengan keringat yang terus mengucur. Hingga kakiku merasa lemas dan tidak sanggup berlari lagi, aku baru menghentikan langkahku. Tanpa kusadari, aku berhenti tepat di samping lapangan, di mana terakhir kali aku menonton Arka yang tengah bertanding yang pada akhirnya membawaku kepada sebuah kenyataan pahit. Aku baru saja ingin berlari lagi meninggalkan tempat pembawa kenangan buruk tersebut, tetapi sebuah tangan menahanku. Tangan tersebut mengulurkan sebuah botol minum.


“Kalau capek istirahat dulu, Mbak. Jangan dipaksa.”


Aku menatap orang tersebut. Wajahnya terlihat tidak asing. Aku pun teringat bahwa dia adalah kakak kelasku saat SD, Fius Bagus Mulia atau yang akrab kusapa Mas Gus, meski sebagian besar orang memanggilnya Kak Fius.


“Makasih, Mas,” ucapku sambil menerima botol minuman yang dia berikan.


Aku langsung meneguknya karena memang sebenarnya aku merasa haus.


“Sama-sama, Mbak. Kok kayanya maksain diri banget buat lari. Mau diet, Mbak? Mbak itu tubuhnya udah kecil. Nggak usah diet.”


“Enggak kok, Mas. Cuma lagi pengen lari aja.”


“Ngomong-ngomong udah lama ya kita nggak ketemu. Mbak masih awet muda aja. Apa sih resepnya, Mbak? Badannya juga masih kecil segini-segini aja. Cocok kalau jadi model.”


“Bisa aja, Mas. Nggak ada resep kok, Mas. Emang nggak bisa gemuk aja. Eh tumben ketemu, Mas. Kayanya aku nggak pernah lihat.”


“Iya, Mbak. Kan aku kerja di luar kota. Sekarang kebetulan aja lagi pulang. Kangen ibu.”


“Oh gitu.”


“Ya udah aku duluan ya, Mbak.”


“Iya, Mas.”


Mas Gus rupanya banyak berubah. Sekarang dia bertubuh tinggi besar. Perutnya semakin buncit saja. Aku masih memperhatikannya hingga dia menghampiri dua orang wanita di seberang jalan. Seorang wanita paruh baya yang kuketahui bahwa itu adalah ibunya dan seorang gadis yang terlihat sangat dekat dengan dia dan ibunya. Aku merasa seperti mengenalnya. Saat kuperhatikan lebih dekat lagi, ternyata itu adalah Leony. Tentu saja aku terkejut.


Kenapa Leony bisa sama Mas Gus dan ibunya? Apa hubungan mereka?


Aku merasa curiga dan terus bertanya-tanya dalam hatiku. Hingga aku tiba di rumah, aku terus dihantui rasa penasaran. Aku tidak akan merasa tenang sebelum mendapat jawaban dari pertanyaanku. Aku pun memutuskan untuk menyelidikinya. Setelah selesai mandi, aku ke rumah Ranti untuk menceritakan kepadanya tentang apa yang kulihat.


“Serius lo? Wah kayanya ada yang nggak beres. Jangan-jangan mereka ada apa-apa lagi.” Ranti terkejut mendengar ceritaku.


“Maksudnya?”


“Ya kalau dia deket sama Mas Gus dan ibunya, emang lo nggak curiga kalau mereka ada hubungan khusus?”


“Jangan berpikiran negatif dulu, Ran. Leony kan udah pacaran sama Arka.”


“Bukan berarti dia nggak bisa pacaran sama cowok lain juga, kan? Van, kita udah lama nggak ketemu Leony ataupun komunikasi sama dia. Kita nggak tau seberapa besar perubahan dia. Kita nggak tau Leony yang sekarang itu kaya gimana. Sama kita aja dia udah berubah, kan? Dia yang delete nomor kita dan nggak pernah mencoba menghubungi atau menemui kita lagi.”


“Tapi gue nggak yakin kalau Leony kaya gitu. Dia masih kelihatan seperti Ony kita dulu.”


“Menurut gue enggak. Dia beda. Kita harus cari tau tentang ini. Nanti sore ikut gue.”


“Ke mana?”


“Udah ikut aja.”


Sore harinya Ranti membawaku ke lapangan voli. Aku hanya menurut saja tanpa tahu apa tujuan dia membawaku ke lapangan voli.


“Kita mau ngapain di sini?”

__ADS_1


“Waktu kecil Mas Gus seneng banget nonton pertandingan voli. Dia pasti ada di antara salah satu dari mereka. Lo harus temuin dia dan tanya langsung tentang hubungan dia sama Leony.”


Aku memperhatikan penonton yang berdiri di pinggir lapangan dan mencari keberadaan Mas Gus. Benar saja, kulihat dia berdiri di sana.


“Itu Mas Gus.” Aku menunjuk ke arah Mas Gus.


“Nemu juga lo. Ayo ke sana, Van.”


“Tunggu, Ran. Kita harus pastiin kalau Leony nggak ada di sana.”


“Nggak akan ada. Arka check-up ke rumah sakit. Leony lagi nemenin dia. Alby yang ngasih tau gue.”


“Oke. Kita samperin sekarang.”


Aku dan Ranti berusaha menyusup di antara kerumunan warga yang sedang menonton pertandingan voli. Akhirnya kami sampai pada Mas Gus.


“Mas.”


“Eh kalian. Nonton juga?”


“Mas, maaf mengganggu. Apa aku boleh ngomong sama Mas bentar. Bentar doang kok.”


“Boleh aja kok. Ya udah kita ke sana aja ya. Di bawah pohon itu. Di sini berisik.”


Aku senang karena Mas Gus setuju. Aku dan Ranti mengikutinya.


“Mau nanya apa?”


“Maaf sebelumnya. Bukannya kita berdua mau ikut campur urusan pribadi, Mas. Kita cuma mau nanya. Tadi pagi kan aku lihat Mas sama ibu Mas dan Leony. Mas kan tau Leony itu temen aku dari kecil. Aku cuma penasaran aja, kalian ada hubungan apa? Soalnya Leony agak tertutup kalau soal urusan pribadi.”


Aku berbicara dengan hati-hati dan berusaha menutupi fakta tentang aku dan Leony.


“Deket? Maksudnya?”


“Ya Leony sih belum secara resmi nerima aku, tapi dia selama ini selalu perhatian sama aku ya biarpun cuma di chat karena aku kan kerjanya juga jauh. Selama aku pergi dia juga sering dateng ke rumah, ngobrol-ngobrol sama ibu. Kalau bisa sih, aku pengennya bisa jalin hubungan yang serius sama dia suatu saat nanti. Sekarang biarin dia fokus sekolah dulu.”


Aku dan Ranti saling bertukar pandang. Aku terkejut mendengar cerita Mas Gus.


“Oh gitu. Ya udah makasih, Mas. Oh ya, tolong jangan bilang sama Leony ya kalau kita berdua tanya-tanya tentang ini.”


“Oke siap. Ya udah aku mau nonton lagi. Permisi, Mbak.”


“Iya, Mas.”


Setelah Mas Gus pergi, Ranti langsung menggoyang-goyangkan badanku.


“Lo denger sendiri kan, Van? Kecurigaan gue bener. Mereka emang ada apa-apa.”


“Gue nggak nyangka, Ran. Kalau mereka deket udah lama dan Leony juga udah akrab sama keluarganya Mas Gus, kenapa dia harus nerima Arka? Terus kalau dia beneran cinta sama Arka dan dengan status mereka yang udah pacaran, kenapa dia masih tetep ngasih harapan ke Mas Gus dan keluarganya?”


“Ini nggak bisa dibiarin. Kita harus kasih tau Arka.”


“Jangan, Ran. Tolong jangan bilang ini ke siapa-siapa. Arka itu sayang banget sama Leony. Hati dia akan hancur kalau dia tau soal ini. Apalagi Arka masih sakit. Dia masih butuh Leony. Gue nggak bisa bayangin gimana jadinya kalau dia kehilangan Leony disaat kaya gini.”


“Ya udah deh. Lo itu aneh ya. Udah disakitin masih aja peduli sama dia.” Ranti menghela napas kesal.


“Arka boleh nyakitin gue, tapi cinta gue ke dia beneran tulus dan gue nggak akan dengan sengaja nyakitin dia.”

__ADS_1


“Gue beruntung punya sahabat kaya lo. Suatu saat lo pasti akan dapetin cowok yang punya cinta sebesar cinta lo.”


“Udah kok jadi mellow gini sih. Ayo pulang.”


Sepulangnya dari Lapangan, pikiranku malah tidak tenang. Aku terus teringat dengan cerita Mas Gus. Aku mengkhawatirkan Arka yang mungkin saja suatu saat akan tahu tentang ini. Bagaimanapun aku tidak ingin melihat dia terluka.


**


Aku tengah asyik menikmati makanan di kantin bersama Ranti dan Tara. Berbincang santai dan bercanda selagi jam istirahat.


“Pergi lo dari sini! Gue males lihat muka lo di sini!”


Terdengar suara keributan. Dari teriakannya sepertinya itu suara Malvin. Entah dia membuat masalah dengan siapa lagi. Aku berlari menuju sumber suara itu.


“Vin, ada apaan sih?”


Aku melihat ke laki-laki yang ada di sebelah Malvin.


“Arka?”


“Kasih tau ni ke cowok lo yang sok jagoan ini, nggak usah bikin masalah sama gue. Gue nggak tau salah gue apa. Dateng-dateng langsung diserang.”


“Malvin bukan cowok gue. Vin, bener yang dibilang Arka?”


“Iya bener. Gue inget banget waktu TK ni anak polos banget. Sekarang bisa-bisanya ya dia jadi manusia nggak punya hati. Tiap lihat muka dia gue pengen nampol rasanya.”



“Bilang aja lo nggak terima kan cewek yang lo suka gue bikin nangis? Pake sok jadi pahlawan lagi. Kalau Vanella tau muka asli lo dia juga bakalan marah sama lo kali. Jadi nggak usah sok jadi tamengnya dia deh. Pikirin aja nasib lo kedepannya gimana.”


“Maksud lo apa? Gue udah lihat muka asli Malvin. Dia itu baik. Nggak kaya lo.”


“Saling membela ya. Romantis banget. Kenapa nggak jadian aja biar lo berhenti mengkhayal tentang gue?”


Malvin mengangkat tangannya, bersiap untuk memberi tonjokan ke wajah Arka. Namun aku langsung mencegahnya.


“Vin, tolong nggak usah main tangan. Nggak usah besar-besarin masalah kaya gini.”


“Ternyata lo itu sombong banget ya. Nyesel gue pernah biarin sahabat gue pacaran sama makhluk kaya lo. Lo nggak usah kepedean. Sahabat gue bisa dapetin seribu cowok yang lebih baik dari lo. Lo yang nggak bisa dapetin satu cewek pun yang sebaik dia. Lo nggak tau kan kalau sebenarnya cewek lo...”


Aku membungkam mulut Ranti. Kuberikan kode dengan tatapanku.


“Kenapa sih lo masih peduli sama dia? Lo lihat gimana dia nyombongin diri di depan lo.” Ranti menyingkirkan tanganku dan berkata dengan kesal.


“Monster ini nggak pantes lo belain, Van,” sahut Tara.


Arka melangkah maju mendekatiku. Dia menatapku dengan serius.


“Gue nggak ngerti drama apa yang kalian mainin. Apapun itu, lo nggak usah sok baik dan belain gue. Gue nggak butuh. Pulang ambil cermin dan lihat wajah lo di cermin. Wajah lo nggak cukup cantik buat bisa dapetin hati seorang Arka. Jadi berhenti bermimpi.”



“Mulai sekarang nggak akan lagi. Jadi lo nggak perlu berkali-kali ngingetin gue.”


“Coba aja kalau bisa. Jelas-jelas di mata lo gue masih melihat cinta.”


Arka melangkah pergi, meninggalkanku yang mulai menitikkan air mata. Dia hampir terjatuh. Tampaknya dia masih kesulitan berjalan menggunakan tongkat. Aku berusaha menahan tubuhnya, tetapi dia langsung menepis tanganku dan berlalu begitu saja. Malvin yang hendak mengejarnya pun kucegah. Ranti dan Tara langsung meluapkan kemarahan mereka usai Arka pergi.

__ADS_1


“Gue nggak papa kok. Arka bener. Mulai sekarang gue akan hapus semua tentang Arka.”



__ADS_2