Salah!! Direvisi Di Naskah Infinity

Salah!! Direvisi Di Naskah Infinity
Benarkah Dia?


__ADS_3

Seminggu telah berlalu. Namun aku belum juga menemukan jawaban tentang siapa Misterious Boy yang mengirimkan puisi itu. Aku malah hampir melupakan tentang itu dan justru memikirkan lelaki yang telah membuatku terpesona dengan tatapan dan senyuman. Lelaki yang bahkan belum kuketahui namanya, tetapi sudah mampu memikatku.


Bersamaan dengan bunyi bel tanda istirahat, perutku pun ikut berbunyi seolah menangis meminta makanan. Aku sangat lapar. Aku ingin ke kantin, tetapi...


“Van, ayo ikut gue,” ajak Ranti dengan menarik tanganku.


“Ran, gue laper. Kita mau ke mana? Ayo ke kantin.”


“Rasa laper lo itu bakalan hilang setelah lo lihat apa yang akan gue tunjukin ke lo nanti.”


“Apa emangnya? Lo tega banget sih biarin gue kelaperan.”


“Udah diem. Gue yakin lo nggak mau melewatkan kesempatan ini.”


Aku tidak tahu ke mana Ranti akan membawaku. Dia kelihatan sangat bersemangat seolah-olah akan memberiku kejutan besar. Aku terus bertanya dan dia tetap tidak mau menjawabnya. Saat sampai di GOR sekolah kami, Ranti berhenti.


“Lo ngapain bawa gue ke sini?”


“Karena Misterious Boy ada di sini.”


“Bercanda ya lo? Emang lo tau siapa dia?”


“Tau lah. Rencana lo sukses. Ada yang udah nemuin siapa cowok itu. Cowok yang suka pelajaran IPA dan jago bikin puisi.”


“Serius lo? Mana orangnya?”


“Di sana.”


Ranti menunjuk ke arah segerembolan siswa yang baru saja selesai bermain sepak bola.


“Itu kan rombongan anak-anak 11 IPA1. Jadi dia...”


“Iya dia salah satu dari mereka.”


“Yang mana sih orangnya? Gue penasaran banget.”


“Tunggu mereka lewat ya.”


Kami duduk menunggu rombongan anak kelas 11 IPA1 itu lewat. Tak lama kemudian, beberapa dari mereka mulai berjalan melewati kami. Aku memperhatikan mereka satu per satu.


“Eh eh itu anaknya.”


Ranti mengejutkanku dengan meremas tanganku dan menunjuk seseorang. Aku tercengang.



“Hah dia? Dia kan yang jatuhin bukunya di depan gue waktu itu.”


“Iya. Dia orangnya. Seneng kan lo? Bukannya lo udah jatuh cinta dari pandangan pertama?”

__ADS_1


“Ini lo nggak asal ngomong kan? Seriusan dia orangnya?”


“Gue yakin dia orangnya. Namanya Arka. Dia itu bintang kelas kaya lo. Apalagi kalau udah bersangkutan dengan pelajaran MIPA, dia jago banget. Namanya aja anak IPA1, nggak heran deh. Pantes aja kan puisinya kaya gitu. Masuk akal kan kalau itu dia.”


Aku langsung memeluk Ranti dengan penuh kegirangan. Aku hampir tidak percaya. Aku begitu senang mengetahui bahwa lelaki yang selama ini kucari adalah dia yang juga telah berhasil memikatku dengan pesonanya.


“Makasih, Ran. Lo emang sahabat terbaik di dunia. Sumpah gue seneng banget. Kok bisa kebetulan gitu sih. Kalau dia orangnya mah gue juga mau dikirimin puisi tiap hari.”


“Gue juga mau kalau gitu. Lo bener juga. Dia itu menarik. Banyak cewek yang naksir dia.”


“Tuh kan apa gue bilang. Gitu katanya biasa aja. Eh tapi kenapa ya dia pake cara misterius gitu? Kenapa nggak langsung nembak gue?”


“Kayanya lo deh yang ngebet pengen buru-buru jadian. Tunggu aja. Biarin lo nikmatin cara romantis dia ngungkapin perasaannya ke lo.”


“Iya deh nggak papa. Gue pura-pura nggak tau dulu deh. Emm sebagai tanda terima kasih gue karena lo udah bikin gue bahagia banget dan ngasih gue kejutan sebesar ini, gue mau nraktir lo ke kantin. Ayo.”


“Giliran bahagia aja baru nraktir gue. Gue sih nggak mungkin nolak. Ayo.”


“Eh ke kelas bentar ya. Gue juga mau ngajak Tara, Malvin, sama Alby. Mereka juga harus tau soal ini.”


Aku mencari mereka bertiga di kelas. Tanpa menjelaskannya terlebih dahulu, aku langsung mengajak mereka ke kantin.


“Ini ada acara apaan nih. Lo ulang tahun, Van? Kayanya bukan bulan ini deh,” tanya Malvin heran.


“Emang bukan. Gue mau ngasih kabar gembira. Sebentar lagi kayanya gue bakalan melepas status jomlo gue. Eits tapi sabar ya, masih proses.”


“Ada deh pokoknya. Nanti kalau udah jadian gue kasih tau. Yang penting kita makan-makan dulu.”


“Biarin aja guys dia lagi kasmaran. Keuntungannya kita bisa makan gratis, kan?”


“Kasmaran sama siapa sih, Ran? Penasaran gue.” Wajah Malvin tampak begitu serius. Sepertinya dia sangat penasaran.


Aku tidak menjawabnya dan hanya tersenyum. Kami menikmati makanan kami sambil mengobrol. Namun sejak tadi kulihat Alby hanya diam saja. Belum habis makanan di piringnya, dia sudah beranjak dari tempat duduknya.


“Mau ke mana, Al?”


“Gue ke kelas dulu ya. Lanjutin aja makannnya.”


Begitu Alby pergi, Tara langsung menyeletuk.


“Lo sih, Van. Pake cerita soal kaya gitu. Pasti cemburu tuh dia. Nggak kasian lo? Pasti hatinya lagi patah. Ambyar.”


“Kan gue nggak bermaksud gitu. Gue pikir dia udah nggak ada perasaan sama gue.”


“Kapan sih Alby bisa move on dari lo? Kayanya sampai lulus pun dia bakalan tetep nunggu lo terima cintanya dia. Kurang setia gimana lagi coba? Lo malah pdkt sama cowok yang bahkan temen-temen lo aja nggak kenal.”


“Namanya jatuh cinta kan nggak bisa dipaksa, Tar. Lagian gue lebih seneng kalau Alby jadi sahabat gue.”


“Ya udah gue juga cabut ya, guys. Kasian Alby pasti merenung sendiri. dia butuh seorang Malvin buat menghibur dia.”

__ADS_1


“Bener juga lo, Vin. Cepet sana hibur dia.”


Malvin pun menyusul Alby. Sementara aku, Ranti, dan Tara melanjutkan menghabiskan makanan kami.


**


Sepulang sekolah, aku memeriksa lagi vas bunga di depan rumahku. Setelah beberapa hari tidak menerima puisi dari Misterious Boy, kali ini kuharap aku mendapatkannya. Benar saja, kutemukan lagi pesawat kertas yang kuyakini dari Misterious Boy. Aku langsung memasukkannya ke dalam tasku sebelum masuk ke rumah.


“Anak Ibu udah pulang,” sapa ibu ketika membukakan pintu.


Aku langsung memeluk ibu. Ibu pun memberikanku kecupan penuh cinta di keningku.


“Kayanya lagi bahagia banget.”


“Ibu tau aja.”


“Ibu itu pasti tau kalau kamu lagi seneng atau lagi sedih. Sini duduk cerita sama Ibu.”


“Enggak ada apa-apa, Bu. Vanella masuk dulu. Mau langsung ganti baju, gerah.”


“Ngeles aja kamu ini.”


Aku bergegas menuju kamarku. Tidak lupa aku menguncinya. Aku ingin membaca surat dari Misterious Boy itu tanpa ibu ketahui karena ibu akan banyak bertanya tentang itu nanti.


*Dear Vanella,


Apakah kamu merindukanku?


Sudah beberapa hari lamanya


Angin tak menerbangkan rangkaian kataku menuju tempatmu singgah


Meski begitu, aku yakin


Eksponen jiwa kita telah saling bertemu


Aku rela selalu menunggumu


Hingga melalui ratusan deret aritmatika kehidupan


Menandingi hukum kekekalan energi


Karena kekekalan ada pada cinta kita


With infinity love,


Misterious Boy*


Kudekap puisi itu dalam pelukanku. Lagi-lagi dia berhasil membuatku tersenyum tanpa menampakkan wajahnya di hadapanku. Mungkin inilah cinta. Sebelum jatuh cinta dengan tatapannya, aku telah lebih dulu jatuh cinta dengan puisinya. Tulisan yang membuat hatiku bergetar saat membaca setiap kata yang tertulis. Tulisan yang mampu membuatku tersenyum tanpa kutahu siapa pengirimnya. Tulisan yang selalu membuatku menunggu. Dia unik. Dia istimewa.

__ADS_1


__ADS_2