
“Ony!”
Dia adalah Leony, sahabat masa kecilku selain Ranti. Matanya terbalalak saat melihatku. Dia tampak begitu terkejut. Terlihat jelas kepanikan di wajahnya.
“Sayang, mereka siapa? Kamu kenal?”
Sayang? Aku merasa bingung melihat kedekatan orang tua Arka dan Leony. Terlebih saat mendengar ibu Arka memanggilnya dengan sebutan sayang.
“Mereka temen Leony, Bu. Temennya Arka juga.”
“Oh kalian temen pacarnya Arka? Temen sekolahnya Arka juga ya?”
Terasa seperti ada sesuatu yang menghujam dengan kuat di dadaku. Rasanya begitu menyesakkan. Pacar Arka? Leony? Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.
“Permisi bentar ya, Bu.”
Leony menarik tanganku dan Ranti, membawa kami menjauh dari orang tua Arka. Setelah berhenti, dia menundukkan wajahnya. Aku pun mendongakkannya dan memaksanya menatapku.
“Udah lama kita nggak ketemu. Setelah sekian lama aku nggak percaya kita dipertemukan kembali dengan suasana kaya gini. Pacar Arka? Sejak kapan?”
Aku berusaha menguatkan diriku untuk berbicara kepadanya, tetapi air mataku tak bisa terbendung lagi.
“Van, gue minta maaf. Gue tau kok lo sebelumnya pacarnya Arka, kan?”
“Sebelumnya? Bahkan sampai sekarang dia masih pacar gue. Nggak pernah ada kata putus di antara gue sama Arka. Lo bilang lo tau itu, tapi kenapa lo...”
“Ony, apa maksudnya ini? Kita bertiga itu sahabat sejak kecil. Kenapa lo tega macarin pacar sahabat lo sendiri? Lo masih Onynya kita, kan?” Ranti mencengkeram tangan Leony dengan erat dan memelototinya sambil menangis.
Air mata Leony mulai menetes. Dia melepaskan tangan Ranti.
“Gue cinta sama Arka. Maaf gue bukan Ony yang dulu.”
Leony berlalu begitu saja meninggalkan kami. Dia kembali mengampiri orang tua Arka. Tubuhku langsung terasa lemas mendengarnya. Tangan Ranti berusaha menopangku yang hampir terjatuh.
“Van, tenang. Gue udah bilang kan nggak seharusnya kita ke sini. Gue udah lihat Leony di lapangan tadi.”
“Kenapa harus dia, Ran? Dari semua cewek di dunia ini, dari sekian banyak cewek yang deketin Arka, kenapa harus dia yang ngambil Arka dari gue? Kenapa harus sahabat gue?”
“Lo nggak pantes sebut dia sebagai sahabat lagi. Dia itu nggak peduli sama perasaan lo. Ayo kita pulang.”
“Bentar, Ran.”
Aku berjalan menghampiri Leony dan orang tua Arka. Di hadapan mereka aku berusaha menahan agar tidak meneteskan air mata.
“Tante, gimana keadaan Arka?”
“Cideranya cukup serius. Tante nggak tau apa Arka masih bisa berjalan dengan normal lagi.”
__ADS_1
Aku begitu terpukul mendengarnya. Menjadi pemain timnas adalah impian besar Arka. Aku tidak bisa membayangkan betapa sedihnya dia saat ini begitu mengetahui keadaan kakinya. Ingin sekali aku masuk dan menghiburnya, tetapi aku sadar bahwa dia tak lagi membutuhkanku. Sudah ada perempuan lain yang dia butuhkan saat ini.
“Semoga Arka bisa cepet pulih ya, Tante. Semoga Arka bisa main sepak bola lagi. Maaf saya dan teman saya harus pamit.”
“Kalian nggak masuk dulu?”
“Enggak, Tante. Kami ada urusan. Lagian udah ada pacarnya Arka yang nemenin Arka dan menghibur Arka.”
Aku melihat ke arah Leony. Dia langsung memalingkan wajahnya dariku.
“Vanella sama Ranti pulang dulu, Tante. Salam buat Arka.”
“Iya, Nak. Hati-hati ya. Makasih udah dateng.”
Aku membalikkan badan dan melangkah keluar rumah sakit dengan perlahan. Begitu sampai di luar, Ranti berdiri di depanku dan menghentikanku.
“Van, lo baik-baik aja, kan?”
Aku hanya diam. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi.
“Van, jawab gue. Jangan diem aja kaya gini. Van, gue tau ini berat banget buat lo. Makanya gue larang lo datang ke sini. Van, gue yakin lo kuat. Are you okay?” ujar Ranti yang mulai menangis.
“Gue baik-baik aja. Ayo kita pulang,” jawabku sambil berpura-pura tersenyum.
Menatap mataku, Ranti sepertinya meragukan senyumanku. Dia terus mengusap punggungku sebelum akhirnya kami pulang. Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan antara aku dan Ranti. Aku yang biasanya tidak bisa diam setiap berboncengan dengannya, mendadak berubah seperti patung. Apa yang baru saja kulihat terus teringat dalam benakku. Rasanya begitu sakit. Namun aku berusaha menahan air mataku.
Begitu sampai di rumah, aku langsung berlari ke kamar. Kurebahkan tubuhku dan kutumpahkan semua air mata yang tertahan sedari tadi. Kulemparkan boneka beruang pemberian Arka ke lantai. Tiba-tiba ibu masuk dan langsung memelukku.
“Sayang, tenang. Sayang, nggak boleh kaya gini. Ibu yakin anak Ibu nggak lemah. Ibu tau apa yang terjadi, sayang. Ranti udah ceritain semuanya. Inget, kamu nggak boleh nangisin cowok kaya gitu. Dia sama sekali nggak pantes buat dapetin hati anak ibu yang baik ini,” ucap ibu berusaha menenangkanku.
“Sayang, dengerin Ibu ya. Kamu jangan benci sama Leony. Dia itu sahabat kamu. Inget, kita nggak boleh benci sama orang biarpun orang itu udah nyakitin kita.”
“Enggak kok, Bu. Vanella nggak benci sama Ony. Arka yang jahat, bukan Ony. Sampai kapanpun Ony tetap sahabat Vanella.”
Ibu mencium keningku dan membelai rambutku lagi. Aku tenggelam dalam pelukan ibu yang benar-benar membuatku tenang hingga akhirnya aku pun tertidur setelah cukup lama menangis.
Esoknya ketika aku akan belanja di minimarket, aku tidak sengaja berpapasan dengan Leony yang baru saja keluar. Kulihat dia membeli banyak makanan. Mungkin untuk Arka. Aku hanya melihatnya sekilas lalu mempercepat langkah kakiku. Namun tiba-tiba tangannya menahanku. Aku pun menoleh dan menatapnya dengan tersenyum.
“Ada apa, Leony?”
“Lo nggak mau panggil gue Ony lagi?”
“Mau gue panggil lo apapun, lo tetep Ony sahabat gue, kan?”
“Van, nggak usah pura-pura. Lo marah kan sama gue?”
“Marah untuk apa? Enggak. Nggak ada alasan untuk gue marah,” jawabku santai sambil tersenyum kepadanya, berusaha menahan kesedihanku.
“Tapi gue udah...”
“Bukannya dari dulu kita udah saling berbagi apapun, kan? Lo sering bilang, apapun yang gue punya itu adalah punya lo, dan begitu pun sebaliknya. Lagian lo sahabat gue. Apa sih yang nggak bisa gue kasih buat lo? Apa selama ini gue pernah larang lo buat ngambil apapun yang gue punya? Enggak, kan?”
__ADS_1
Aku menggenggam tangan Leony. Kali ini aku tidak bisa menahan air mataku yang menetes.
“Gue titip Arka ya. Lo jagain dia. Dia pasti lagi frustrasi dengan keadaan dia sekarang. Jangan sampai dia down. Lo harus selalu semangatin dia. Lo harus selalu ada buat dia. Lo harus di samping dia terus.”
“Maafin gue. Gue cinta sama Arka dan gue nggak bisa nolak dia.”
“Lo nggak perlu jelasin apa-apa. Apapun yang terjadi biar kalian berdua aja yang tau. Gue nggak cukup cantik untuk bikin dia setia sama gue. Selamat.”
Leony berusaha meraih tanganku, tetapi aku langsung berlalu begitu saja. Aku tidak sanggup lebih lama berhadapan dengannya. Dadaku terasa sakit setiap kali teringat apa yang terjadi di rumah sakit.
**
Hari terus berlalu. Rasanya seperti kembali ke masa lalu di mana dalam keseharianku hanya ada cerita persahabatan, tanpa adanya cinta. Hubunganku dan Arka berakhir begitu saja tanpa kata putus. Dia bahkan tak pernah menghubungiku lagi meski sekadar meminta maaf. Aku benar-benar merasa salah mengenali karakternya selama ini.
Meski baru saja mengalami patah hati, tetapi bukan berarti hari-hariku menjadi menyedihkan. Aku tetap menjadi Vanella yang ceria dan sering tertawa, terutama karena adanya sahabat-sahabat terdekatku yang selalu berusaha menghiburku. Mereka adalah Ranti, Tara, Malvin, dan Alby. Melihatku yang awalnya sering murung membuat Malvin banyak melakukan tingkah gila di kelas. Aku sendiri tidak habis pikir mengapa dia mau mempermalukan dirinya sendiri. Tetapi aku tahu niatnya baik, untuk membuatku terhibur karena itulah dia, orang yang rela melakukan apa saja demi menghibur orang lain.
“Hai semuanya lihatin gue. Gue mau nyanyi nih. Gue mantan anggota boyband ini mau konser dulu,” teriak Malvin sambil naik ke atas meja.
Malvin menyanyi sambil berjoget di atas meja tersebut. Anak-anak sekelas pun tertawa melihat tingkahnya. Perutku saja sampai sakit melihat dia menggoyangkan pinggulnya tanpa rasa malu.
“Vin, turun! Nggak sopan naik-naik ke atas meja. Nanti kotor mejanya. Cepet turun!” teriakku pada Malvin.
Malvin hanya berhenti menyanyi sebentar lalu kembali melanjutkan lagi tingkah gilanya itu. Dia tidak mau mendengarkanku. Aku pun menarik kaki Malvin, tetapi dia terlalu kuat. Ranti dan Tara yang melihat kami malah tertawa terbahak-bahak dan merekam momen tersebut. Malvin yang melihat ada kamera yang merekamnya pun semakin bertingkah gila.
“Malvin, turun! Kalau nggak, gue panggilin kepsek ya?”
“Lo daripada teriak-teriak nggak guna mending sini naik ikut konser sama gue.”
“Lo gila ya? Nyebelin banget sih lo! Ayo turun!”
Malvin malah meledekku dengan menjulurkan lidahnya. Merasa gagal membuatnya turun, aku pun menarik dengan kuat kaki Malvin. Kali ini Ranti, Tara, dan Alby turut membantuku. Dengan tarikan yang kuat akhirnya kami berhasil menariknya hingga hampir membuatnya jatuh. Anak-anak yang lain pun tertawa. Namun tawa kami terhenti ketika tiba-tiba Arka masuk ke kelas kami. Dia berjalan perlahan menggunakan tongkat karena kakinya belum bisa untuk berjalan dengan normal tanpa pegangan. Semua orang menatapnya dengan serius. Aku sendiri tidak ingin menatap matanya lagi. Mata dan senyumannya yang dulu menjadi hal favorit untuk kutatap kini aku benci untuk menatapnya.
“Van, gue mau ngomong sama lo,” ujar Arka sambil berjalan mendekatiku.
Malvin yang mendengar perkataan Arka langsung melompat menghadangnya dengan berdiri di depanku. Dia menatap Arka dengan sinis.
“Mau apa lagi lo? Belum cukup lo nyakitin sahabat gue? Udah bikin dia nangis, nggak ada rasa bersalah lagi. Cowok macam apa lo?!”
Aku memegangi bahu Malvin berusaha menenangkannya.
“Vin, udah. Jangan diladenin,” bisikku pada Malvin.
“Cowok kaya gini nggak boleh didiemin, Van. Nanti makin banyak lagi korbannya.”
“Iya, Van. Dia harus dikasih pelajarin. Gue sama Malvin nggak akan diem aja kalau ada yang nyakitin lo.” Alby juga berdiri di depanku menatap tajam mata Arka.
“Malvin, Alby udah ya. Jangan marah-marah. Dia lagi sakit. Aku nggak ijinin kalian marahin dia.
“Lo lihat sendiri, kan? Cewek yang udah lo sakitin aja masih belain lo, masih nglarang gue buat marahin lo. Dia kurang baik apa?” Malvin maju selangkah dan mulai memegang kerah baju Arka.
“Gue emang sahabat lo, Ka. Tapi jujur gue kecewa banget sama lo. Gue nggak nyangka lo bakalan kaya gini. Lo nggak lihat pengorbanan Vanella selama ini buat lo? Dia selalu nemenin lo panas-panasan di lapangan meskipun lo nggak pernah nganggep dia ada. Dia selalu ceritain dan bangga-banggain lo di depan temen-temennya biarpun lo sendiri nggak pernah ngakuin dia sebagai pacar lo,” timpal Alby dengan penuh kemarahan.
__ADS_1
Aku yang melihat suasana semakin panas merasa tidak tahan lagi. Aku tidak ingin mereka pertengkaran mereka membuat mereka saling melukai satu sama lain. Apalagi Arka hanya diam saja sedari tadi. Aku pun berusaha menghentikannya.
“Cukup! Ini masalah pribadi gue sama Arka jadi biarin kami berdua yang selesaiin.”