Salah!! Direvisi Di Naskah Infinity

Salah!! Direvisi Di Naskah Infinity
Senyuman Tipisnya


__ADS_3

Baru saja aku dan Ranti sampai di lantai tiga, tempat di mana kelas kami berada, dengan masih asyik mengobrol, tiba-tiba...


Brukkk...


Seseorang jatuh di depanku. Buku-buku yang dia bawa pun berserakan. Suara buku jatuh itu mengagetkanku. Melihatnya yang kerepotan membereskan buku-bukunya, aku pun berusaha membantunya.


"Lain kali hati-hati. Kalau kerepotan bawa buku banyak, kenapa nggak minta tolong temen kamu?"


Lelaki itu tidak menjawab. Dia masih sibuk merapikan buku-bukunya. Dia menatapku sekilas sambil tersenyum.



"Makasih," ucapnya singkat. Dia berjalan cepat seolah ingin menghindariku.


Mungkin tatapannya tadi hanya tiga detik, tetapi aku seakan terhipnotis dengan tatapannya. Aku masih memandanginya hingga dia turun tangga.


"Woy! Bengong lo. Ayo masuk kelas. Kenapa sih senyum-senyum sendiri?" Ranti mengejutkanku yang masih saja memandang lelaki itu meski langkahnya sudah begitu jauh.


"Lo lihat gak cowok itu tadi? Entah kenapa gue suka lihat senyumannya, lihat tatapannya, pokoknya kaya ada sesuatu yang menarik dari dia."


"Kayanya lo agak nggak sehat hari ini, Van. Lo aneh. Lo biasanya nggak semudah itu tertarik sama cowok yang baru pertama lo temui. Apalagi belum lo kenal. Lagian apanya yang manis? Dia biasa-biasa saja. Pikirin dulu tuh Misterious Boy lo itu. Ini udah mikirin cowok lain."


"Lo masa nggak lihat sih betapa kerennya dia."


"Biasa aja menurut gue. "Ah lo mah. Kalau lo yang jadi gue tadi, lo pasti juga akan terpesona sama dia. Senyumnya manis banget dan tatapannya itu. Gimana ya, susah dijelasin."


"Nggak ada istimewanya menurut gue. Lagian dia aneh. Cowok lain berusaha godain lo, eh dia cuek aja gitu sama lo. Nggak bisa lihat kecantikan lo apa ya."


"Emangnya semua cowok harus jatuh cinta gitu sama gue? Ya mungkin karena dia itu cowok yang beda dari yang lain. Cowok yang istimewa."


"Udah ayo cepetan masuk kelas sebelum lo semakin ngelantur. Berhenti muji-muji cowok yang nggak lo kenal itu."


Ranti menarik paksa tanganku. Sementara aku masih terus memikirkan cowok dengan senyum manis itu. Senyumnya seakan terus menempel dalam otakku. Dari semua senyuman lelaki, mengapa hanya senyumannya saja yang mampu menarik hatiku? Bahkan dari pandangan pertama.


Begitu duduk di kelas, aku masih senyum-senyum sendiri memikirkan lelaki itu.


"Lo masih mikirin cowok itu? Wah jangan-jangan dipelet lo." Ranti kembali meledek.


"Jangan ngaco deh. Ada-ada aja lo."


"Ya lo sih aneh. Baru lihat sekali udah melayang-layang gitu. Dulu aja waktu Alby nembak lo, lo bilang lo nggak percaya sama cinta pandangan pertama. Sampe lo langsung nolak dia mentah-mentah. Sekarang malah lo sendiri kan yang ngalamin."


"Emang kata siapa gue lagi jatuh cinta? Gue cuma suka aja sama senyumannya."


"Dari senyum turun ke hati."


"Kalau cemburu ngomong, Ran."


"Idih mana ada gue naksir sama cowok kaya gitu. Ambil aja."

__ADS_1


"Coba deh ya besok-besok kalau kita ketemu tu cowok lagi, lo perhatiin baik-baik baru lo akan nyadar betapa gantengnya dia. Bukan ganteng sih sebenernya, apa ya, mungkin emang auranya dia kali ya."


"Terserah lo deh. Gue nggak akan tertarik sama dia."


Aku asyik membicarakan tentang lelaki itu bersama Ranti hingga tidak menyadari bahwa kamera pengintai kembali memotretku secara diam-diam dari balik jendela. Ranti yang menyadarinya pun tertawa.


"Lihat tuh para penggemar lo mulai lagi aksinya. Udah kaya artis aja lo. Ke mana-mana ada aja kamera yang moto lo diem-diem.


Aku hendak keluar kelas untuk menghampiri mereka. Jujur saja aku merasa tidak nyaman dengan sikap mereka yang menurutku terlalu berlebihan. Namun Pak Irgi, guru MTK sudah masuk kelas sehingga aku terpaksa membatalkan rencanaku untuk keluar kelas. Ranti langsung menghela napas. Matematika merupakan mata pelajaran yang paling tidak Ranti sukai. Dia selalu mengeluh setiap kali Pak Irgi masuk kelas.


"Belum mulai lo udah stres duluan."


"Kapan sih gue bebas dari pelajaran satu ini, Van? Gue capek tau nyariin x sama y melulu. Ngapa mereka nggak jadi manusia aja terus gue jodohin. Bikin pusing orang terus deh. Apalagi kalau udah ada sin cos tan. Bisa meledak otak gue."


"MTK itu nggak susah kok. Lo aja yang kebanyakan ngeluh sebelum berjuang. Dihayati dulu, dinikmatin dulu, dipikir baik-baik, pasti lo bisa."


"Lo mah enak bisa ngomong gitu. Gue heran kenapa sih lo suka sama pelajaran macem ini?"


"Karena matematika itu selalu bikin penasaran. Cocok banget sama gue yang orangnya super kepo dan nggak bisa nahan rasa penasaran."


"Aneh. Suka kok sama matematika."


Kami berhenti bicara ketika Pak Irgi mulai memperhatikan kami. Mungkin beliau menyadari bahwa sedari tadi kami asyik mengobrol sendiri. Kali ini aku memperhatikan penjelasan Pak Irgi dengan seksama. Beliau menjelaskan tentang teorima sisa. Setelah itu beliau menulis soal di papan tulis dan meminta siswa untuk mengerjakannya di depan.


"Sudah kuduga. Contoh sama soal itu pasti beda. Contohnya sederhana banget, gampang banget, tapi soalnya kaya gini susahnya. Ini adalah pelajaran yang paling nggak gue mengerti sejak dulu. Satu-satunya mata pelajaran yang aneh." Ranti kembali mengeluh.


"Lo cuma perlu mahami pelan-pelan. Soal itu gampang banget kok. Nih ya gue tunjukin."


Aku pun mengangkat tangan. Aku ingin mengerjakan soal itu. Tetapi Ellisa telah mengangkat tangan lebih dulu. Jadi dialah yang diminta untuk maju. Setelah Ellisa selesai mengerjakan soal nomor satu, Pak Irgi mengoreksi jawabannya. Ternyata jawabannya salah.


"Dipelajari lagi ya, Ellisa. Silahkan duduk."


Ellisa langsung tertunduk malu. Dia mengangkat tangan dengan penuh percaya diri tadi, tetapi ternyata hasilnya tidak seperti yang dia harapkan. Dia pun kembali duduk dengan masih menundukkan wajah.


"Ayo siapa lagi yang mau nyoba ngerjain? Ini masih soal yang gampang lo." Pak Irgi kembali bertanya.


Aku kembali mengangkat tangan. Aku pun dipersilahkan maju.


"Seperti biasa ya, Vanella. Kayanya kalau Vanella pasti bener."


"Vanella coba dulu ya, Pak. Semoga aja bener."


Aku mengerjakan soal itu dengan cepat. Saat dikoreksi, Pak Irgi mengatakan bahwa jawabanku benar.


"Tuh kan bener apa Bapak bilang. Kasih applause buat Vanella, bintangnya kelas 11 IPA2."


Pak Irgi memujiku dan teman-teman pun bertepuk tangan untukku. Aku senang setiap kali bisa menaklukkan soal dari mata pelajaran yang aku sukai. Saat aku kembali duduk, teman-teman juga memujiku. Aku membalas pujian mereka dengan senyuman. Namun tidak sengaja saat aku melihat kearah Ellisa, dia tampak kesal.


**

__ADS_1


"Ran, ke perpus yuk," ajakku kepada Ranti begitu waktu istirahat tiba.


"Van, lo bisa nggak biarin otak gue istirahat? Udah pusing sama soal matematika, sekarang lo malah ngajak ke perpus? Tambah pusing gue. Lo kan tau gue nggak suka baca buku."


"Sekali aja ngapa sih ikut gue ke perpus. Masa tiap gue ke perpus gue sendiri."


"Lain kali deh gue temenin. Kali ini nggak dulu ya. Masih pusing gue sama rumus-rumus tadi."


"Ah nggak asyik lo. Ya udah deh. Tara, sini."


Tara, salah satu sahabat dekatku pun mendekat ke tempat duduk kami.


"Kenapa, Van?"


"Lo ajak ni Ranti ke kantin. Gue mau ke perpus. Dia stres ni abis dikasih makan rumus-rumus yang dia nggak suka itu."


"Kenapa nggak kita bertiga aja ke perpusnya?"


"Lo jangan ketularan Vanella deh, Tar. Ayo ikut gue ke kantin."


"Yaelah ni anak nggak pernah mau diajak pinter. Ya udah gue ke kantin ya sama Ranti. Lo nggak papa sendiri?"


"Udah biasa kali. Selama ada banyak buku, gue nggak ngerasa sendiri kok. Ya udah. Bye."


Lagi-lagi aku harus ke perpustakaan sendiri karena Ranti kembali menolak ajakanku. Padahal aku ingin menghabiskan waktu istirahatku setiap hari di perpustakaan. Namun dia tidak pernah mau kuajak berkenalan dengan buku-buku yang menjadi benda favoritku.


Meski hanya seorang diri, aku tak merasa sepi. Buku adalah sahabatku yang akan membawaku keliling dunia hanya dengan membacanya. Hanyut dalam imajinasiku membuatku tak terlalu memperhatikan sekelilingku. Ada yang duduk di sampingku untuk membaca buku juga, kemudian pergi dan berganti dengan orang lainnya. Entah sudah berapa orang yang berlalu lalang, tetapi aku masih asyik dengan diriku sendiri, dengan duniaku di dalam buku-buku yang kubaca.


Tiba-tiba terdengar suara buku jatuh yang membuyarkan imajinasiku. Aku menoleh ke sumber suara itu. Seseorang menjatuhkan bukunya. Lagi-lagi dia. Dia yang tadi juga menjatuhkan bukunya di depanku. Entah mengapa aku senang melihatnya juga ada di sini. Sepertinya dia juga suka membaca buku. Aku kembali membantunya untuk merapikan buku-buku yang berserakan di lantai.


"Mau pinjem semua buku ini?"


"Iya." Lagi-lagi dia menjawab dengan singkat.


"Ni bukunya. Bawanya hati-hati ya."


"Makasih."


Dia melangkah pergi begitu saja tanpa menatapku. Aku kecewa. Padahal aku ingin melihat senyumannya lagi. Aku kembali melanjutkan membaca buku. Baru saja duduk beberapa detik, sebuah tangan terasa menyentuh bahuku. Aku langsung menoleh ke belakang. Lelaki itu lagi?


"Ada apa? Ada yang ketinggalan?"


"Enggak. Ini. Buat kamu."


Lelaki aneh itu memberikan sebuah pena kepadaku. Aku merasa bingung. Aku menerimanya dengan ragu. Dia tersenyum lalu meninggalkanku. Aku duduk masih dengan penuh tanda tanya. Kuperhatikan pena yang dia berikan. Saat memutarnya, aku melihat sebuah tulisan terukir di pena itu.


"Gadis dengan senyuman manis."


Di atas tulisan itu ada gambar sebuah bendera. Kulihat itu adalah bendera Korea Selatan, negara yang sangat ingin kukunjungi. Aku langsung tersenyum. Hatiku dipenuhi tanda tanya. Apa maksudnya semua ini? Dari mana dia tahu tentang aku?

__ADS_1


__ADS_2