
Keheningan nampak berlangsung di ruang tamu di rumah besar Fabri, Sheila terlihat sedikit salah tingkah dalam duduk nya, Ajeng, sang rekan sesama gurunya,mencoba menenangkan Sheila dengan isyarat tangan nya, dia mengelus pelan paha Sheila, seketika Sheila menatap Ajeng, dan Ajeng mengedipkan kedua matanya pelan, seakan-akan berkata, semuanya akan baik-baik saja. Ayana, Vita dan Kay, benar-benar di buat terdiam dengan semua yang dia lihat saat ini. Vita menyandarkan punggungnya di sofa, namun matanya tak berpindah dari wajah Sheila, Jika di lihat-lihat, Sheila memang berwajah mirip sekali dengan Ella, namun itu 10 tahun yang lalu, dan jika diperkirakan Ella masih hidup saat ini,maka wajahnya pun tak semuda Sheila saat ini. Lalu siapa wanita yang ada di hadapannya saat ini.
"ehmmm..... begini Nyonya Desi..."
Kata Ajeng,yang memecah keheningan mereka, Ajeng merasa sudah cukup lama mereka saling terdiam. Ajeng memutar arah duduknya ke arah Desi, dia melihat Sheila yang sudah tak nyaman di sana, dia akan segera berpamitan, karena hari ini mereka sudah tak mengajar di rumah besar tersebut. Ajeng merasa Sheila sudah tak nyaman berada di rumah tersebut, jelas sekali ketiga wanita yang baru mereka lihat selama mengajar Bian dan Shasa, menatap Sheila dengan tatapan mata yang sulit di artikan.
"Terima kasih telah menerima kami selama ini di sini, kami sangat senang sekali bisa mengajar Bianca dan juga Shasa selama ini,dan hari ini kami berdua pamit karena hari ini adalah hari terakhir kami berada di sini Nyonya Desi" lanjut Ajeng.
"Terima kasih kembali untuk Miss Lala dan Miss Ajeng, maaf bila selama ini Bian dan Shasa banyak menyusahkan kalian berdua " jawab Desi, walaupun dia berbicara dengan Ajeng, Namun matanya tak lepas dari Sheila.Selama Sheila mengajar di rumah tersebut, Desi memang sengaja menghindari Sheila,karena entah mengapa, jika melihat wajah Sheila, dia akan teringat dengan Ella, sang menantu.
"Miss Lala sudah lama menjadi guru?" tanya Vita tiba-tiba.
"Hah??'' jawab Sheila saking kagetnya, karena dia dan Ajeng sedang fokus kepada Desi.
"Saya baru pindah ke kota ini Nyonya, jadi saya baru menjadi guru anak-anak" jawab Sheila.
"Memang sebelumnya tinggal di mana?" tanya Kay yang juga sangat penasaran dengan sosok Sheila.
"Saya tinggal di luar negeri nyonya" jawab Sheila yang pandangan nya beralih ke Kay.
"Benarkah? bersama kedua orang tua mu?" tanya Kay lagi.
__ADS_1
"Benar Nyonya, saya hanya ingin mencoba hidup sendiri, dan tanah air adalah tujuan saya, kebetulan teman dari Papa saya merekomendasikan guru di yayasan nya" jawab Sheila dengan sangat yakin.
"Maaf, saya menyela nya" potong Ajeng.
Ajeng sangat yakin ada sesuatu yang ingin dikorek dari Sheila,dan Ajeng merasa tak suka dengan itu, menurut Ajeng, Sheila punya privasi sendiri,dan orang lain tak perlu banyak tahu tentang dirinya, karena itu Ajeng mencoba untuk menghentikan pembicaraan mereka dan mulai berpamitan, dia ingin segera keluar dari rumah itu bersama Sheila.
"Saya rasa sudah tidak ada lagi yang perlu kami bicarakan lagi nyonya Desi, kami harus pamit dan kembali ke sekolah karena kami harus membuat laporan untuk pemberhentian mengajar homeschooling di rumah ini" lanjut Ajeng.
Kay, Vita dan Ayana saling pandang, mereka seakan tak terima bila Sheila pergi secepat itu, mereka masih ingin tau banyak hal dari Sheila.
"Kebetulan sekali,ini adalah jam makan siang, pelayan sudah mempersiapkan banyak sekali makan untuk makan siang, Miss Ajeng, Miss Lala,bagaimana kalau kita makan terlebih dahulu" kata Desi.
"Baiklah Nyonya, terima kasih atas jamuan Anda"
Mereka segera beranjak ke ruang makan, Pandangan mata Sheila tak lepas dari Bian, dia sangat tak rela berpisah dari gadis kecil tersebut.Namun dia tak bisa berbuat apa-apa, karena memang Fabri yang mencabut hukuman home schooling anaknya, tapi Sheila masih bernafas lega,dia bisa bertemu dengan Bian di sekolah nantinya.
Di tempat yang berbeda, ternyata empat sekawan tengah makan siang bersama, mereka mendapatkan pesan singkat dari masing-masing istri mereka mereka membatalkan acara kumpul mereka untuk makan siang.
"Apa Kay juga mengirimkan pesan?" tanya Lee pada Boy.
"Hemmm" jawab Boy.
__ADS_1
"Ayana juga, Mereka kompak sekali!" saut Leo.
"Berarti mereka masih merasa kasihan sama gue! kasihan gue gak ada pasangan nya" kata Fabri sambil menyesap kopi di tangannya.
"Heleh!!!....sok jadi Pria menyedihkan loe!! giliran di carikan pasangan aja kabur!!" ucap Lee
"Udah berapa CEO yang chat gue!! minta asisten kesayangan gue ini jadi mantunya, nyatanya di tolak semua!!" lanjut Lee, dan Fabri hanya mencebik saja.
Ting.....
Tanda sebuah pesan masuk di ponsel Fabri, dengan santainya dia membuka pesan tersebut, dan ternyata pesan itu dari Vita.
"Hp loe mana Lee? kok Vita chat gue? tumben-tumbenan!" kata Fabri
"Masa' sih? tumben!" jawab Lee sambil mengeluarkan ponselnya dari saku, dia tak melihat pesan masuk dari sang istri.
Tiba-tiba wajah Fabri menegang,ketiga sahabatnya pun bingung, dan tiba-tiba Fabri berdiri, dia bergegas lari keluar cafe.
"Lagi???" ucap Leo seakan mengulang peristiwa beberapa waktu lalu dimana Fabri melihat wajah yang mirip Ella, bahkan dia hampir saja tertabrak motor.
bersambung
__ADS_1