Sang Asisten CEO Jilid 2

Sang Asisten CEO Jilid 2
SAC jilid 2 Bab 5


__ADS_3

Bianca benar-benar menjadi anak pendiam setelah pertemuan nya dengan Miss Lala, dia memikirkan cara bagaimana agar sang Daddy tidak bertemu dengan guru home schooling nya tersebut. Dia tak akan membiarkan Daddy nya kembali mengingat masa lalu. Rasa sakit masih terpancar jelas di mata sang Daddy.Dan Bian tak akan membiarkan Daddy nya kembali sakit hati.


"Ooh Tuhan!!! aku tidak percaya ini!! Daddy tidak boleh bertemu dengan nya, aku tidak mau calon suamiku menemui guru itu!!" seru Shasa sambil memandang ke sebuah foto yang ada di dompet Bianca.


plaak.... suara pukulan tepat mendarat di paha Shasa.


"Bian!! sakit!!" pekik Shasa sambil terus mengusap pahanya yang sakit.


"Jangan bermimpi untuk merebut Daddy dari ku!!! " kata Bian dengan tatapan tajam dan tak suka.


"Apalagi menjadi ibu tiri ku!!! oh Tuhan!! sampai Daddy berjenggot pun,aku tak akan membiarkan nya!!" lanjutnya.


"Kenapa? aku ini gadis dewasa! sebentar lagi umur ku 17 tahun, dan aku sudah pantas untuk menikah!!" kata Shasa.


"Dan aku akan memikat Daddy, dan selanjutnya aku akan menjadi istri nya!!" lanjut Shasa dengan antusias.


"Sebelum kau berhasil menjadi ibu tiri ku!! aku yang akan menjadi istri kedua Papa mu!!" saut Bian dengan kesal.


"Eh bocil!! bicara apa sih!! kecil-kecil sudah mau jadi pelakor!!" kata Shasa dengan suara yang agak meninggi.


"Kakak yang mulai!!"


Mereka berdebat tanpa ujung, sedang kan di tempat lain, Fabri sedang bertemu dengan ke tiga sahabat nya. Mereka sepakat bertemu di sebuah cafe yang menjadi langganan tempat nongkrong mereka. Leo tertawa tak berhenti ketika Lee menceritakan bagaimana Shasa dan Bianca melakukan ulah,dan bahkan sekarang berakhir dengan hukuman yang sangat tak di sukai keduanya. Shasa sosok yang suka dengan kebebasan, dia sama dengan sang Mama yang tak mau di kekang dengan aturan-aturan yang membuat nya tak leluasa. Dan Bianca, jiwa petualang nya dan jiwa ingin taunya masih sangat tinggi, anak-anak di usianya,masih ingin mencoba berbagai hal.


"Jadi Mereka berdua sekarang kalian kurung?" tanya Leo setelah berhenti tertawa.


"Hemmmm.... mereka menempati paviliun belakang rumah Fabri, Gue sengaja menjadikan mereka satu tempat,agar mereka sama-sama introspeksi diri dan sama-sama saling mendukung" kata Lee sambil meminum kopi di tangannya.


"Apa loe yakin Lee?" kali ini Boy yang ikut bersuara.

__ADS_1


"Hemmmm...."


"Gue gak yakin! mereka kan kalau di jadikan satu, seperti kucing dan anjing!! gak ada akur-akur nya sama sekali" lanjut Boy.


"Entahlah..... biarkan saja seperti itu, toh mereka berdua di hukum lantara saling membantu " jawab Fabri.


"Membantu berantem hahahahahaha " saut Leo yang di akhiri dengan tawa kerasnya.


Lee hanya menepuk jidatnya pelan, sedangkan Fabri hanya bisa geleng-geleng kepala, entahlah,Fabri berpikir apa Bianca kekurangan kasih sayang seorang ibu, hingga dia kadang kala bersikap berlebihan dan sering kali menimbulkan masalah, Rasanya Fabri, Desi sang Oma, serta Kevin Opa nya, sudah mencurahkan segala cinta dan kasih sayang pada Bianca, Bianca tak pernah kekurangan kasih sayang, baik dari keluarga nya sendiri, ataupun dari para istri empat sekawan, sahabat Daddy nya.


"Apa perlu Bianca kita cariin mommy baru?" tanya Leo dengan wajah serius nya.


"Gue sih oke-oke saja" saut Lee.


"Apa perlu, gue yang seleksi?" tawar Boy.


"Ini cocok Lee!!" pekik Leo


"Yang mana?" tanya Lee antusias, mereka saling merapat demi melihat apa yang di baca Leo.


"Wanita berusia 27 tahun, berstatus janda tanpa anak, mencari pasangan dengan kriteria, wajah setengah bule.....yaaahh....ini buat loe Boy!! dia minta setengah bule!" kata Leo terlihat kecewa.


"Loe mau gue di sunat sama papa Jo!!" saut Boy membawa nama Papa mertuanya di iringi tawa Fabri yang mendengar kegilaan sahabat nya.


"Ini nih cocok!!" kata Lee


"Wanita 25 tahun.....wiihhh masih seger nih!!" Leo membaca sebuah biodata salah satu peserta aplikasi biro jodoh tersebut.


"Wanita 25 tahun, berstatus gadis, mendambakan pasangan hidup yang sudah mapan, bukan matre tapi realita kehidupan, hidup tak hanya membutuhkan cinta tapi juga uang!.....waahh jujur amat nih cewek" lanjutnya.

__ADS_1


"Leo cepat teruskan!!" pinta Lee.


"Sifat,sabar, penyayang dan keibuan, di utamakan perjaka, tapi duda juga lebih menggoda!!" lanjut Leo.


"Bagus!! itu aja.....atur pertemuan.... hubungi dia!" kata Boy yang juga ikut antusias.


"Loe pada gila ya!!?? Gak!! gue gak mau loe jodoh-jodohin!!!" tolak Fabri.


"Kita gak peduli!!!" saut mereka serempak, dan lagi-lagi Fabri hanya bisa pasrah.


Fabri hanya diam ketika mereka mulai menghubungi wanita tersebut, Fabri sibuk dengan pandangan di depan nya yang memperlihatkan jalanan sore hari ini, Mereka memang duduk di bagian pinggir dari cafe tersebut.Hingga pandangan Fabri menangkap seseorang yang berada di sebrang jalan. Tubuh Fabri menegang seketika, dia menatap seseorang tersebut bahkan tanpa berkedip sama sekali. Sepertinya, seseorang tersebut sedang menunggu taksi datang, Dan benar saja, sebuah taksi menghampiri dan hal itu membuyarkan rasa kagetnya hingga dia hanya terpaku di sana, Namun di detik berikutnya, Fabri berdiri dan mendorong kursi yang di duduki nya, dia berlari keluar cafe, mencoba mengejar seseorang tersebut. Ketiga kawannya pun ikut kaget, dan mereka spontan mengikuti arah Fabri lari, di tengah jalan, tanpa mempedulikan mobil dan motor yang berlalu-lalang, Fabri mencoba mengejar orang tersebut.


"Fabri!!! loe udah gila!!!" teriak Leo ketika melihat sebuah motor hampir menabraknya, bahkan sang pengendara memaki-maki Fabri tanpa henti, dan Fabri tak mempedulikan nya, dia hanya fokus mengejar orang tersebut.


"Fabri!!!"


"Fabri!!!"


"Fabri!!!"


Teriakan mereka bertiga tak di hiraukan Fabri, dia sudah sampai di sebrang jalan dan mencoba mengejar taksi tersebut. Fabri nampak tersengal nafas nya,ketika tidak berhasil mengejar taksi yang semakin menjauh.


"Loe gila!!! brengseeek loe!!! mau mati loe!!!" teriak Leo sambil mencengkram kerah baju Fabri. Lee dan Boy bahkan sudah siap-siap untuk ikut mengamuk.


"Gue....gue.....gue melihat Ella" jawab Fabri lirih dengan mata berkaca-kaca.


Leo melepaskan cengkraman nya perlahan, dia tak pernah melihat wajah frustasi dan penuh harap seperti ini selama hampir 10 tahun lamanya, Lee dan Boy saling pandang, mereka rasa nya tak ingin percaya, Karena mereka menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana mereka menguburkan jenazah Ella, walaupun sudah tidak bisa di kenali lagi, Namun kata-kata Fabri selalu bisa di percaya.


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2