
Pada akhirnya Sheila bersama Mama dan Papa nya kembali ke tanah air.Tidak mudah bagi seorang Vidia, kembali ke tanah air, banyak sekali kenangan pahit yang tercipta di sana, bahkan ketika pertama kali menginjakkan kaki nya di bandara, hati Vidia sudah terasa bimbang, namun Vano setia memeluk sang istri, mencoba menenangkan hati istrinya. Sebenarnya bukan keinginan Vano juga untuk kembali ke tanah air, kalau bukan untuk kesembuhan sang istri, Vano pun enggan kembali ke tanah air, Namun Vano akan melakukan segala cara agar istrinya sembuh dari sakitnya, dan bahkan dokter Arron, selaku dokter pribadinya pun menyarankan untuk mengikuti terapi atau pengobatan alternatif di samping pengobatan medis. Dokter Arron tidak menjanjikan pengobatan alternatif itu 100% berjalan baik, namun setidaknya hal itu bisa membantu Vidia untuk segera sembuh.
"Ayo Ma, kita sudah di jemput"
Kata Sheila, Hari Sheila sebenarnya sangat bimbang ketika memutuskan untuk kembali ke tanah air, Karena dia di paksa untuk menjauhi keluarga Fabri.Mungkin jika menjauhi anggota keluarga yang lain, seperti Fabri, Mama dan Papa nya, Sheila masih tidak keberatan, namun menjauhi Bianca, rasanya sangat berat.Akan tetapi Sheila kembali berpikir akan kesehatan sang Mama, hingga akhirnya,dia memutuskan untuk memenuhi janjinya pada Vidia, Mama nya.
"Kita tinggal di sini pa?" tanya Sheila berbinar sesampainya dia di sebuah rumah dengan pekarangan yang cukup luas, dan pemukiman mereka tidak terdapat di perumahan mewah, melain di sebuah pinggiran kota dengan suasana yang cukup nyaman, bersih dan segar.
" Iya sayang.... gimana? Mama suka?" Vano menjawab pertanyaan Sheila, dan Bahkan dia juga menanyai sang istri.
__ADS_1
"Aku suka!!.... Mama juga kan?" tanya Sheila pada Mama nya yang terdiam sejak sampai di bandara beberapa waktu lalu, dan Vidia hanya bisa mengangguk saja.
Akhirnya, mereka menempati kamar masing-masing untuk beristirahat, Sheila segera memasuki kamarnya yang terletak di bagian samping dari rumah tersebut, sedangkan Vano dan Vidia lebih memilih kamar yang belakang, berdekatan dengan taman belakang rumah, agar mempermudah Vidia menikmati pagi hari yang sejuk di daerah rumah nya, setidaknya itu akan membantu mood dari wanita tersebut. Di dalam kamar nya, Sheila nampak termenung, dia memikirkan permintaan sang Mama,yang meminta nya untuk tidak mendekati keluarga Fabri.Sheila menggelengkan kepalanya pelan, tidak berjumpa dengan yang lainnya, Sheila mungkin bisa, tapi tidak dengan Bian, dia benar-benar merindukan gadis kecil tersebut.
"Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan?" gumam Sheila lirih, dan siapa yang menyangka,sang Papa sedang memandangi nya dari pintu kamar yang ternyata tak di tutup oleh Sheila. Vano seakan tahu akan kegelisahan hati anaknya.
"Sheila....."
"Duduklah.….." perintah Vano yang sudah duduk di sofa kecil yang ada di kamar tersebut.
__ADS_1
"Papa tau apa yang kamu rasakan......Mama hanya memikirkan hal yang baik untuk mu, dia hanya tak ingin anaknya terluka" kata Vano.
"Tapi itu semua bukan salah Mama pa" ucap Sheila
"Dan bukan juga salah kamu Sheila sayang....tapi lihat....kamu masih menyalahkan diri mu, bahkan sudah hampir 13 tahun lamanya sayang..." kata Vano sambil mengelus kepala sang anak.
"Kesalahan yang belum termaafkan,akan selalu menjadi kesalahan pa" saut Sheila dengan mata berkaca-kaca.
"Tapi Papa yakin, dia selalu memaafkan mu, kamu masih terlalu kecil saat itu sayang"
__ADS_1
bersambung