
Ruangan kerja sang Papa ternyata lebih menyeramkan daripada ruang BP yang beberapa saat lalu mereka duduki, Shasa dan Bianca nampak duduk sambil *******-***** tangannya mereka dengan perasaan takut. Bianca yang baru pertama kali ketahuan Fabri berbuat ulah di sekolah nya terlihat gemetaran, padahal tanpa sepengetahuan Bianca, Fabri tahu semua seluk-beluk dan tingkah sang anak, sedangkan Shasa yang begitu terlihat ketakutan di depan Lee, karena memang bisa saya terkenal anak yang menurut dan berprestasi di sekolahnya, tentu saja Shasa merasa tercoreng wajahnya di depan Sang Papa.
"Ada yang bisa menjelaskan semuanya?" tanya Lee dari balik meja kerjanya, dia duduk dengan sedikit angkuh.
"Jelaskan!!" Fabri ikutan buka suara ketika tak mendapati jawaban dari pertanyaan Lee.
"tidak seperti apa yang Papa pikirkan!! kami tidak bersalah, mereka berdua yang bersalah pa, dan mereka yang menyulut emosiku karena itu aku membalasnya!" saut Shasa.
"lagian mungkin ini juga salah Bianca!iya kan B" lanjut Shasa yang tentunya mencari nama baik untuk dirinya sendiri di depan Papa dan Daddy nya.
"Kok Kakak malah nyalahin aku?? gak iklhas banget bantuin nya!!" saut Bianca yang tak mau di salah kan.
"tentu saja ini salah kamu Bi!!! kalau kamu tidak membuat lutut temanmu itu berdarah, kita tidak akan pernah dipanggil BP! dan tentu saja kita tidak pernah bertengkar dengan kakaknya itu!" jelas Shasa
"Apa??? jadi Kakak menyalahkanku?? Aldi yang salah Kak!! dia yang sudah membuat masalah denganku, karena itu aku membalasnya" kata Bianca yang tak mau kalah.
"Salah kakak sendiri!! kenapa sok jadi pahlawan!!" lanjutnya.
"Eh kunyuk!! loe di bantuin bukannya makasih ya!! malah nyolot!!" ucap Shasa sedikit emosi, hingga kata-katanya sudah tak terkontrol lagi, dia bahkan lupa kalau mereka berada di ruangan Papa nya.
"Lha!! ngapain Kakak bantuin kalau ujung nya tetep aja nyalahin aku! bikin kesel aja!!" Bianca pun tak mau kalah.
"Kalian bisa diaaam!!" ucap Lee penuh penekanan.
Baik Shasa maupun Bianca diam seketika, entah mengapa aura Lee sangat menakutkan bagi mereka.Beberapa kali mereka berdua meminta bantuan Fabri dengan kode melirik nya, Namun Fabri sepertinya tak berniat membantu sama sekali. Shasa takut kalau dia di kirim ke asrama wanita yang di rencanakan oleh Lee beberapa waktu lalu, Lee menginginkan sang anak kuliah dengan fasilitas asrama perempuan, sedangkan Shasa tidak mau, dia masih ingin bebas.Tak jauh beda dengan Bianca, dia tidak mau home schooling, hal itu sama saja dengan merenggut kebebasan nya.
"Shasa, Bian!! Sekarang pulang dan berkemas" kata Lee
__ADS_1
"Mau kemana Pa?" tanya Shasa dengan cepat, dan Bianca pun ikutan tegang mendengar nya.
"Home schooling!!..... bagaimana Bri?" tanya Lee dengan ujung bibirnya naik sedikit, aura yang sedikit menakutkan bagi mereka.
################
"Bisa gak sih!! kamu gak mondar-mandir begitu??!!" ucap Shasa yang terlihat kesal melihat Bian mondar-mandir di depannya.
"Kak!! lakukan sesuatu!! aku gak mau home schooling!! aku masih mau main basket sama temen-temen aku!! aku masih mau jalan-jalan!!! masih mau ini itu dan masih banyak lagi!!" kata Bian di depan Shasa.
Shasa yang merasa jengkel dengan perkataan Bian, tiba-tiba mendorong kening gadis kecil itu. Dia kesal sekali, pasalnya Lee dan Fabri sepakat menempatkan mereka di paviliun belakang di rumah Fabri, dan mereka tak di ijinkan memegang ponsel mereka, dan itu artinya,mereka tak bisa menikmati sosial media yang biasanya menemani mereka di saat santai.
"Kamu pikir aku mau??"
Bersamaan dengan itu, bunyi ketukan pintu menghentikan perdebatan mereka.Dan beberapa saat kemudian seorang wanita masuk ke dalam paviliun.
"Mbak Nur!! mau panggil kita buat makan malam ya?" tanya Bian dengan antusias.
Karena dia yakin ini adalah satu-satunya cara untuk bisa meluluhkan hati Sang Daddy, Fabri memang pendiam dan tegas terhadap Bianca,tapi bila Bianca sudah merajuk atau merengek Fabri tidak akan tega melihatnya, dan setiap apa yang dikatakan Bian, Fabri akan mengabulkannya. Bianca sangat yakin sedari tadi siang Fabri diam saja ketika berada di ruangan Lee, karena dia takut luluh hatinya bila berhadapan dengan Bian, makanya Lee yang turun tangan menghukum mereka berdua.
"Maaf Nona Bian, mbak Nur cuma bawa makan malam ke sini, gak di perintah Tuan" kata Nur.
"Ya Mbak, Shasa sudah laper, bawa masuk aja" kata Shasa yang sepertinya sudah mulai menerima hukuman yang di berikan padanya.
Hari berganti pagi, mereka berdua terlihat bermalas-malasan di atas ranjang, Shasa yang sedari tadi bangun pun tak secepat beranjak dari ranjang, hingga sebuah ketukan pintu terdengar.
"Oh Tuhan!! aku seperti sedang di penjara!" seru nya dengan kesal, membantu Bian ternyata membuat nya menderita, tapi mau bagaimana pun dia juga tak terima jika Bian di sakit i.
__ADS_1
"Ya Mbak...." teriak nya karena mendengar suara Nur yang membawa sarapan.
"Nona Shasa dan Nona Bian, di tunggu nyonya besar setengah jam lagi, seperti nya guru nya sebentar lagi datang.
"Ya Mbak..."
Dan benar saja di depan berdiri seorang wanita dengan pakaian rapinya, Berulang kali memencet bel rumah, Namun tak seorang pun menyambut nya, Desi yang baru saja membuat kan kopi sang suami, beranjak untuk membuka pintu, Karena Nur sedang membawakan sarapan pagi untuk Shasa dan Bianca.
Ceklek..........
"Siapa ya.....?" tanya Desi sambil sibuk membenahi rambut nya.
"Permisi Nyonya......Saya guru home schooling rekomendasi dari sekolah" saut wanita cantik tersebut.
Desi seketika menatap ke arah suara, Seketika dia menutup mulutnya sendiri dengan tangan kanannya, sungguh dia sangat shock melihat wanita yang ada di hadapannya saat ini.
"Ka-kamu?..... ka-kamu?"
"Saya Sheilla nyonya......guru home schooling Shasa dan Bianca"
"Oh Tuhan.......oh Tuhan....."
Wanita itu nampak tersenyum tipis melihat reaksi Desi, wanita paruh baya itu bahkan sudah bersandar di daun pintu sambil memegang dadanya.
"Nyonya... Anda baik-baik saja?" ucap Nur yang berlari dari dalam, dan membantu sang majikan berjalan menuju sofa,serta mempersilahkan tamu nya untuk masuk. Satu langkah kaki wanita itu menginjak ruang tamu rumah Fabri, dengan di iringi senyum manisnya dia akhirnya duduk di sofa.
"Akhirnya aku bisa masuk!!" Batin nya dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
bersambung