
"Karena wajah Miss Lala, mengingatkan dia pada mendiang Mama nya!"
Kata-kata tersebut terus membayangi dan terngiang di telinga Sheila, dia benar-benar tak pernah berpikir akan seperti itu, wajar saja, Desi, Nyonya besar rumah tersebut, jarang sekali di temuinya semenjak pertemuan pertama mereka, mungkin saja Desi,si nyonya besar juga menghindari nya, setidaknya itulah yang sedang di pikirkan oleh Sheila saat ini. Apalagi Sheila juga tak pernah sekalipun bertemu dengan Daddy nya Bian, entah mengapa dia hanya fokus pada Bian, dan tak pernah mempedulikan yang lainnya.
Drt.....drt.....drt.....
Ponselnya berbunyi, dia melihat sekilas pada layar ponsel nya yang menampakkan nama seseorang yang menyayangi nya itu, seseorang yang telah lama bersama nya.
"Hallo....." sapa Sheila pada seseorang yang saat ini menelpon nya.
"Bagaimana? kamu betah di sana?" tanya orang tersebut,yang tak lain adalah sang Papa.
__ADS_1
"Ya Pa, Lala senang di sini, Lala bertemu dengan....." Sheila tak sanggup menyelesaikan kata-katanya, dan karena sang Papa tau betul bagaimana anak-nya, akhirnya Vano memotong perkataan sang anak.
"Ya.. Papa mengerti, Papa akan sangat mendukung mu sayang" saut Vano.
"Bagaimana dengan Mama pa?" tanya Sheila.
"Mama baik-baik saja, jangan pikirkan dia" kata Vano yang mencoba menenangkan anaknya, yang terdengar khawatir akan keadaan Mama nya.
Mereka akhirnya ngobrol dengan topik yang bergonta-ganti, Vidia,Mama Sheila masih tidak rela bila anaknya kembali ke tanah air, karena menurut Vidia, tanah air banyak sekali menorehkan luka di hati sang Mama, banyak kenangan pahit yang tertinggal di sana. Namun tekad Sheila untuk tetap pulang ke tanah air, membuat sang Mama marah. Dan Sheila sedikit berusaha keras untuk meluluhkan hati sang Mama.
"Iya Pa, pasti aku akan pulang!" jawab Sheila.
__ADS_1
Sheila nampak termenung setelah mendapatkan telepon dari Papa nya, dan masih jelas sekali kalau sang Mama belum memaafkan nya. Akhirnya,dia bersiap untuk tidur, karena esok hari dia harus menghadapi Bian dan meluluhkan hatinya juga.
Di sisi lain, Desi sedang termenung di depan meja rias kamar nya, dia benar-benar menghindari wanita yang menjadi guru home schooling cucunya.Dia tak mau mengenal jauh wanita tersebut dengan alasan tertentu.
"Kenapa? masih memikirkan nya?" tanya Kevin sang suami.
"Papa yakin kan dengan informasi dari orang suruhan Papa?" tanya Desi sekali lagi, dia ingin menyakinkan dirinya bahwa informasi yang Kevin dapatkan benar-benar akurat.
"Tentu saja, Dia adalah kepercayaan Papa selama bertahun-tahun"
Kevin sudah menyuruh anak buahnya ketika Desi melaporkan keberadaan Sheila di rumah tersebut, bahkan Kevin sudah bertemu langsung dengan Sheila, menurut penuturan orang suruhan Kevin, Sheila Revania Putri, salah satu anak pemilik saham di yayasan sekolah di mana Bianca dan Shasa sekolah, bahkan sedari umur 11 tahun dia hidup di luar negeri, dan baru beberapa waktu lalu, dia pulang ke tanah air. Jadi orang suruhan Kevin, menyimpulkan bahwa kesamaan wajah mereka hanya sebuah kebetulan belaka, Toh umur wanita itu baru sekitar 22 tahunan, sedangkan Ella seharus sudah berusia 30 tahunan.. Namun yang membuat Desi merasa curiga dengan Sheila,adalah tatapan mata Sheila yang terlihat begitu sangat mencintai dan menyayangi Bianca, cucu nya. Bahkan kadangkala, Desi bisa melihat tatapan sendu Sheila untuk Bianca, seolah ada sebuah penyesalan yang mendalam di dalam mata wanita tersebut.
__ADS_1
"Sebenarnya apa tujuan mu datang ke rumah ku!" ucap Desi lirih, entah apa yang akan terjadi pada Fabri, seandainya dia bertemu dengan Sheila, karena hampir 1 bulan mengajar Bian dan Shasa, mereka sama sekali tak pernah bertemu.
bersambung