
Sheila masih memandangi wajah sang Papa yang sedang duduk di hadapannya sambil memegang erat tangan Sheila, Vano selalu menjadi penasihat yang terbaik untuk Sheila, lelaki yang sudah 13 tahun merawatnya seperti anak sendiri itu pun selalu menjadi andalan untuk Sheila. tidak ada yang bisa menjadi sosok Vano sebagai papanya di mata Sheila, walaupun itu Papa kandungnya sendiri, Vano dan Vidia tak pernah memiliki seorang anak, hingga suatu ketika Vano menemukan Sheila sedang menggigil kedinginan di sebuah emperan ruko di tengah malam, waktu itu Vano yang baru saja pulang dari kantor mendapati seorang gadis kecil yang tengah kedinginan di pinggir jalan di emperan sebuah toko, entah takdir yang sudah Tuhan gariskan untuknya, atau kebetulan belakang, Vano merasa sangat senang bisa bertemu dengan Sheila kecil saat itu, dan tanpa pikir panjang,dia membawa Sheila pulang ke rumah nya.
Flashback 13 tahun yang lalu
"Siapa namamu?"
tanya Vano yang duduk jongkok di depan seorang gadis kecil yang sedang menggigil kedinginan di tengah malam, dan Vano melepaskan jas kerja nya dan membalut tubuh dingin gadis kecil itu.Gadis itu menggeleng ketakutan, bahkan selain menggigil, tangan nya juga gemetaran karena ketakutan. Vano segera menggendong gadis itu,dan entah kenapa gadis itu hanya menangis saja tanpa bersuara sama sekali, dari sorot matanya, Vano tahu bahwa gadis itu sangat ketakutan.Vano membawa gadis tersebut ke rumahnya, dan siapa yang menyangka, Vidia sang istri begitu senang mendapati Vano membawa seorang gadis kecil yang tengah kedinginan tersebut,Vidia memperlakukannya bak putrinya sendiri, walaupun itu adalah hari pertama dia bertemu dengan gadis tersebut. Sampai beberapa hari, gadis tersebut tetap membisu tanpa mau berbicara sepatah katanya.
"Sheila.....nama mu sekarang Sheila....." kata Vidia pada gadis yang bahkan seminggu ini tak berbicara sama sekali.
"Ini Mama...." lanjut Vidia, menunjukkan dirinya yang harus di panggil Mama.
__ADS_1
"Itu Papa...." kata Vidia yang menunjuk ke arah Vano.
Gadis itu terdiam, dia secara bergantian memandang Vano dan Vidia.
"Ma-ma..." ucap nya.
Vidia secara spontan menangis mendengar gadis kecil yang diberi nama Sheila tersebut memanggilnya Mama,dia memeluk Sheila kecil dengan sangat erat. Entah kenapa hatinya begitu terpaut dengan gadis yang baru saja dia kenal selama 1 minggu ini,itupun di bawah Vano di tengah malam di saat hujan deras, Butuh perjuangan yang cukup panjang kala itu untuk membuat Sheila berbicara mengenai keluarga ataupun orang-orang yang ada di sekitar nya,dia seakan-akan menutup diri dari masa lalu, Vano sampai mendatangkan psikolog anak yang terbaik di kota tempatnya tinggal untuk bisa mengetahui masa lalu dari mulut gadis tersebut.
"Dengar kan Papa baik-baik, kita akan mencari jalan, agar kamu bisa mendekati gadis itu" bujuk Vano akhirnya, dia tak bisa melihat anak gadis nya murung.
"Bener pa? kita akan mencari jalan kan?" tanya Sheila menyakinkan dirinya.
__ADS_1
"Tentu saja, nanti akan Papa usahakan bertemu dengan Fabri" kata Vano.
"Beneran pa?" tanya Sheila lagi dengan mata berkaca-kaca.
"Ya..... dia harus tau siapa kamu" kata Vano.
"Tapi .....tidak dalam waktu dekat ya sayang...kita fokus ke pengobatan Mama dulu" lanjut nya.
Sheila hanya mengangguk sambil tersenyum, walaupun dia harus menahan rasa rindu pada Bian, tapi ada secercah harapan ketika sang Papa akan berbicara dengan Fabri, Sheila tidak hanya merasa senang, tapi juga takut akan reaksi Fabri nantinya.
bersambung
__ADS_1