Sang CEO Tersakiti

Sang CEO Tersakiti
Part 12 Tolong, Jangan Tinggalkan Aku


__ADS_3

Setelah kejadian yang memilukan itu Mita tampak murung di dalam kamarnya. Ada rasa penyesalan yang mendalam pada hatinya karena menyakiti pria yang sangat mencintainya.


"Raka, maafkan aku. Maafkan aku telah mengkhianati cintamu dengan cara menjadikanmu timbal ayahku. Aku sungguh menyesal telah menghancurkan harapanmu untuk tetap hidup bersamaku hingga maut memisahkan. Aku sangat menyesal telah meninggalkanmu, hiks..." Mita menangis tersedu-sedu saat teringat kenangan manis bersama Raka -- Pria yang tulus mencintainya.


Jika hatinya terasa sakit tentu saja ia tidak menyangka keputusannya mengikuti kemauan ayahnya membuat dirinya menyesal teramat dalam.


"Tidak, aku tidak boleh terlihat lemah seperti ini. Aku tidak boleh kehilangan cintaku, aku berhak hidup bersama Raka. Sekalipun, aku menentang larangan ayah untuk tidak menemuinya lagi. Aku akan menerima resiko apapun karena kesalahan yang telah aku perbuat." Mita mengambil ponsel di atas meja riasnya dan mencari nomor seseorang yang dirindukannya.


Mita menunggu sambungan panggilan dari ponselnya tapi ternyata ditolak. Ia mencoba menelpon kembali tapi tidak diangkat. Ia pun mengetik pesan untuk Raka atas permintaan maafnya. Tapi, ternyata nomornya telah diblokir.


"Astaga, aku benar-benar diusir dari kehidupannya. Apa yang harus aku lakukan? Sepertinya Raka marah besar padaku, aku tidak ingin kehilangannya," ucap Mita dengan berjalan mondar-mandir merasa gelisah dengan kehilangan kabar Raka.


"Tidak, aku harus melakukan sesuatu. Aku harus memeriksanya melalui ilmu sihirku." Mita mendudukkan dirinya di atas kasur, ia melipatkan kedua kakinya lalu memejamkan kedua matanya untuk mengeluarkan sukma dari tubuhnya. Ia menatap tubuhnya yang terpejam dengan melipatkan kedua kaki di atas kasur tidurnya. Ia pun terbang keluar dari rumah orang tuanya menembus dinding kokoh untuk mendeteksi keberadaan Raka.


Disaat Mita melewati ruang keluarga yang dimana ada ayah Leo dan mamanya yang sedang duduk santai di hari minggu pagi. Ayah Leo menarik sukmanya hingga terpental masuk ke dalam tubuh aslinya.


"Hah... Hah.... Kenapa ayah menarik tanganku," ucap Mita terbangun dari alam sadarnya.


Cekrek!


"Mau kemana kamu, Mita? Jangan coba-coba untuk mencari keberadaan Raka! Ayah tidak suka kamu berhubungan dengan pria miskin seperti dia," ucap Ayah Leo yang sudah berada di dalam kamarnya. Ayah Leo terlihat murka saat mengetahui keinginan Mita yang tetap mencari Raka.


"Ayah, biarkan aku mencari keberadaan Raka. Aku sangat merindukannya, aku tidak rela jika Raka dimiliki oleh wanita lain," ucap Mita dengan tatapan sendunya menatap ke arah tatapan tajam bak elang dari ayah Leo.


"Tidak akan pernah aku biarkan kamu menemui Raka lagi. Untuk apa kamu berhubungan dengan dia, kita sudah sukses dan bergelimang harta. Tentunya untuk mendapatkan pria jauh lebih baik di bandingkan Raka sangatlah mudah. Jangan bodoh jadi wanita untuk menginginkan satu pria yang telah membencimu. Asal kamu tahu, Raka mengalami kecelakaan dan ia telah mendapatkan wanita lain yang jauh lebih baik darimu. Jadi, biarkan Raka pergi dan buka lembaran baru hidupmu." perkataan Ayah Leo membuat Mita diam seribu bahasa. Rasanya ia tersambar petir di siang hari, disaat mendapatkan kabar yang menyayat hati.

__ADS_1


"Tidak! Aku tidak ingin Raka menjadi wanita lain. Aku tidak mau! Raka milikku! Selamanya milikku!" teriak Minta histeris.


***


Sementara di tempat lain, Raka yang terbangun dari tidurnya. Ia merasakan kondisi Mita yang tampak tidak baik-baik saja.


"Kenapa aku memikirkan dia? Bukankah aku sangat membencinya? Memang benar ternyata rasa cinta dan benci itu beda tipis. Aku wajib membedakannya dengan teliti." Raka mengusap wajahnya dengan kasar, ia menatap ke sekelilingnya yang terlihat sepi dan hanya ada Zack yang menemaninya di dalam ruang rawat inap. Itupun Zack sedang tidur nyenyak setelah memberikan dirinya obat sejak empat jam yang lalu.


Raka melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 11 siang.


"Biasanya jam segini, aku sedang senam fitness di ruang olahraga rumahku." lirih Raka.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk," ucap Raka dan pintu terbuka dengan lebar yang menampilkan seorang wanita muda yang sedang tersenyum ke arah dirinya.


"Tidak apa-apa, terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk menjengukku." sahut Raka yang melihat Launa duduk di kursi yang berhadapan dengan dirinya.


"Bagaimana kabar kakak? Apa sudah baik-baik saja."


"Iya, rasa sakitnya mulai reda."


"Lalu, apakah dokter sudah memeriksa kondisi kakak?"


"Sudah."

__ADS_1


"Oh begitu, kakak Raka suka makanan seefoad?"


"Iya, aku tidak memiliki riwayat alergi makanan apapun kecuali pengkhianatan."


Launa yang mendengar perkataan Raka diakhir Kalimat membuatnya cuek saja. Ia tidak ingin ikut campur urusan pribadi Raka, biarkan saja masalah pribadi Raka dapat diselesaikan oleh dirinya sendiri.


"Kakak mau coba masakan ku? Walaupun makanannya tidak seenak masakan restoran tapi lumayan untuk dicoba." tawar Launa dengan mengambil rantang makanan yang dibawanya tadi. Ia menunjukkan berbagai makanan seafood kesukaannya untuk dicoba oleh Raka.


"Mau coba makanan apa kak? Biar aku ambil untuk kakak?" tanya Launa dan Raka mengangguk setuju saja.


"Eh tunggu dulu kak, apa makanan seefoad bisa tawar dengan obat yang kakak minum? Maaf aku kurang mengerti tentang dunia medis, aku kuliah jurusan pemerintahan." lanjut Launa.


"Tentu saja tidak, mana makanannya biar aku coba masakanmu." sahut Raka dengan tatapan mata fokus ke arah makanan Launa. Setelah melihat masakan Launa membuat Raka merasa lapar lagi.


"Baiklah." Launa pun mulai menyuapi makanan yang dimasaknya ke dalam Raka dan ia melihat Raka memakannya dengan lahap.


"Rasanya enak," puji Raka.


"Terima kasih, nanti aku sering-sering bawakan makanan kesukaanku yang lain untuk kakak setelah sembuh." perkataan Launa membuat Raka tersedak.


Launa langsung memberikan gelas berisi air putih untuk Raka yang langsung diterimanya. Launa mengingat kembali perkataannya tadi, jika dirinya membawakan makanan setelah Raka sembuh itu berarti ia tidak akan menjenguk Raka di rumah sakit dan tidak bertemu dengan dirinya lagi.


Raka dan Launa terdiam, suasana yang awalnya hangat menjadi dingin. Mereka menatap satu sama lain yang terlihat tidak ingin berpisah satu sama lain.


Raka mendekatkan dirinya menuju wajah Launa yang tidak ada tanda-tanda menghindar dari dirinya. Kini posisi Raka dan Launa sangat dekat hingga ciuman yang diberikan Raka mendarat di bibir mungil Launa. Mereka saling menyalurkan rasa yang tak biasa, rasa tak ingin kehilangan satu sama lain tanpa adanya hubungan apapun. Jika ditanya adanya rasa aneh secepat itu karena saling bersama.

__ADS_1


Tidak ingin kehilangan kendali, Raka melepaskan ciumannya dan ia menatap wajah cantik natural dari Launa.


"Tolong, jangan pernah tinggalkan aku," ucap Raka terdengar tulus di indera pendengaran Launa.


__ADS_2