
Setelah selesai rapat, Launa langsung pamit pulang pada Tuan Ceqi. Tidak ada topik pembicaraan yang dibahas setelah menikmati menu makan siang di tempat kafe hotel. Launa tidak suka berlama-lama dengan Raka yang terus menatap dirinya tanpa berkedip.
“Tuan Ceqi! Tuan Raka! Saya pamit pulang dulu,” ucap Launa menundukkan kepalanya di hadapan mereka sebagai salam hormat.
“Baiklah, semoga lekas membaik orang tuamu, Launa. Hati-hati di jalan.” sahut Ceqi cepat.
“Baik Tuan, terima kasih.” balas Launa langsung undur diri di hadapan Ceqi dan Raka.
Raka menatap kepergiaan Launa yang mulai menjauh dari hadapannya, ia masih meneguk habis jus lemon kesukaannya. Hari ini dirinya merasa lebih sehat dan semangat karena berhasil menemukan keberadaan Launa.
“Sejak kapan sekretarismu itu bekerja di perusahaanmu, Ceqi?” tanya Raka memulai membuka topik pembicaraan setelah menyelesaikan makan siangnya bersama.
Ceqi yang menerima pertanyaan dari Raka, ia langsung menghentikan suapan terakhir makan siangnya.
“Oh Launa baru bekerja hampir satu tahun, aku kasihan pada dirinya sebagai tulang punggung keluarga. Untung saja, Launa bertemu denganku, kalau tidak dia masih menjadi penjual makanan Indonesia keliling.” jawab Ceqi.
“Penjual makanan Indonesia keliling?’ tanya Alex mengulangi perkataan Raka di akhir kalimat.
“Iya, pokoknya kasihan banget Raka, setelah dia pindah negara kesini, dia hanya memegang uang 500 ribu saja dan uang itu sebagai biaya hidup dan model usaha jual makanan kelilingnya. Belum lagi dia dan kedua orang tuanya diusir dari kontrakkan karena tidak mampu membayar uang sewa kontrakkan. Beruntunglah aku bisa menemukan Launa dan memperkerjakannya sebagai sekretaris dan dia bisa melanjutkan kuliahnya yang sempat berhenti.” Ceqi menceritakan panjang lebar kisah hidup Launa pada Raka. Ia berusaha mendekatkan dirinya pada Raka yang telah memberikan penawaran mudah untuk meningkatkan perusahaannya.
Raka tampak berpikir sejenak, ia menatap intens menuju ke arah Ceqi.
“Bisa beritahu aku dimana alamat kontrakan Launa dan kedua orang tuanya? Aku akan menambahkan 20% lagi untuk menanam saham perusahaanmu untuk perusahaanmu,” ucap Raka membuat kedua bola mata Ceqi berbinar senang.
“Benarkah Tuan? Tuan akan menambahkan sahamnya?” tanya Ceqi dengan senyuman manisnya.
“Iya.” jawab Raka cepat.
“Baiklah Tuan, aku akan mengirimkan lokasi alamat kontrakkan Launa. Terima kasih Tuan atas kebaikannya, mohon ditunggu dulu.” setelah mengatakan itu Ceqi langsung mengambil ponsel dari saku celanannya, ia mengirimkan lokasi alamat kontrakkan Launa melalui google map pada Raka.
Raka yang mendengar notifikasi pesan masuk dari ponselnya, ia langsung mengambil ponsel di saku celanannya. Lalu, ia langsung memeriksa pesan yang dikirimkan oleh Ceqi.
__ADS_1
“Baiklah, aku sudah membaca isi pesannya, terima kasih kerjasamanya hari ini. Semoga berkah dan saling mendukung. Aku pamit dulu,” ucap Raka berdiri dari duduknya dan ia menjabat tangan Ceqi sebagai salam penutup kerjasamanya.
“Terima kasih kembali, Tuan.” sahut Ceqi tersenyum.
Raka melirik ke arah Zack yang berdiri di sampingnya dan memberi kode untuk melanjutkan rencananya. Kemudian, ia melangkah keluar dari ruangan diikuti Zack dan dua bodyguardnya.
“Zack,” ucap Raka menoleh sekilas ke arah Zack yang berjalan di belakangnya.
“Iya Tuan.” jawab Zack cepat.
“Bawa semua barang-barangku di kamar hotel dan cepat kita pergi ke lokasi kontrakkan Launa!” titah Raka.
“Baik Tuan.” Zack langsung pamit di hadapan Raka karena ia ingin mengambil semua barang Tuan Raka, dirinya dan dua bodyguard.
“Satu lagi, kamu Zino bantu Zack untuk membawakan semua barangnya.” lanjut Raka.
“Baik Tuan.” Zino ikut berjalan menyusul Zack yang telah berjalan menjauh darinya.
“Dion, bagaimana penampilanku sekarang? Apakah masih terlihat pria tampan dan mapan?” tanya Raka sebelum melangkah masuk ke dalam mobil mewah yang disewanya selama di Rusia.
“Benar Tuan, Tuan sangat tampan dan mapan. Sedikit pun tidak mengurangi kadar penampilan tuan yang sempurna.” jawab Dion cepat.
Raka tersenyum miring ke arah Dion, membuat Dion menelan salivanya dengan susah payah.
“Baguslah, kamu masih berani mengombaliku. Aku suka gayamu,” ucap Raka lalu menyentir kening Dion hingga pemilik kening lebar itu meringkis kesakitan.
Raka duduk di kursi penumpang untuk menunggu kedatangan Zack dan Zino. Ia memeriksa google map untuk melacak bentuk bangunan kontrakkan Launa.
“Oh tidak, kecil sekali rumah kontrakkannya. Ini mah namanya rumah sapi di kebunku. Huh, kenapa Launa bisa betah tinggal di tempat kontrakkan kumuh ini?” tanya Raka pada dirinya sendiri saat menatap bentuk kontrakkan Launa di layar ponselnya.
“Tuan, semua barang telah dimasukkan ke dalam bagasi mobil,” ucap Zack melaporkan tugasnya pada Raka.
__ADS_1
Raka mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya menuju ke arah Zack dan Zino.
“Baiklah, kita pergi ke supermarket sekarang!” perintah Raka membuat Zack dan Zino menatap heran ke arah Raka.
Raka yang ditatap heran oleh ketiga karyawannya, memang agak lain karyawannya yang meminta disentil keningnya agar paham maksudnya.
"Kita sebagai tamu jauh harus memberikan oleh-oleh pada tuan rumah. Agar menerima kita dengan baik. Cepat ikuti sesuai instruksiku tadi! Setelah itu pergi ke rumah kontrakan Launa." jelas Raka membuat Zack dan bodyguardnya mengangguk cepat.
Setibanya, di tempat supermarket Rusia, Raka memberikan perintah pada Zack agar memberikan makanan pokok hingga makanan ceminan, minuman dan buah-buahan untuk Launa.
Raka sengaja tidak turun dari mobil, ia terlihat gugup untuk menemui kedua orang Launa untuk pertama kalinya.
"Apakah kedua orang tua Launa mau menerimaku sebagai menantunya? Atau aku ditolak begitu saja setelah mengetahui sikapku dulu pada Launa?" tanya Raka dalam hati.
Raka yang sibuk dengan pikirannya yang berkelana dimana-mana. Tanpa disadarinya, mobil telah memasuki gang sempit rumah kontrakan Launa. Mobil mewahnya berhenti tepat di hadapan rumah kontrakan yang disewa oleh Launa.
"Tuan, sudah sampai di rumah kontrakan Launa," ucap Zack yang telah membukakan pintu mobil untuk Raka.
Raka yang mendengar suara berat dari Zack, ia langsung tersadar dari lamunannya.
"Baiklah, bisa langsung bawa saja semua barang belanjaan tadi." sahut Raka seraya bangun dari posisi duduknya dan ia berjalan tegas menuju ke arah pintu rumah kontrakan Launa.
Di sekitar pekarangan rumah kontrakan Launa, banyak emak-emak yang usil dan julid berkumpul di dekat rumah kontrakan Launa. Mereka berbisik-bisik manja untuk menceritakan kedatangan seorang pria tampan dan mapan yang berasal dari luar negeri. Apalagi ada tiga pria tampan yang ikut berjalan di belakang pria tampan dan mapan itu.
Raka tidak memperdulikan penampilan dirinya yang keren dan formal. Ia ingin secepatnya menyelesaikan masalah agar tak ada yang salah paham lagi.
Tok! Tok! Tok!
"Permisi, apa ada orang di dalam rumah," ucap Raka seraya terus mengetuk pintu rumah kontrakan Launa.
Tidak berapa lama, pintu rumah terbuka lebar dan muncullah seorang wanita cantik dan muda sedang menatap terkejut ke arah dirinya.
__ADS_1
"Tuan Raka? Kenapa kamu datang kesini?" tanya Launa spontan membuat Raka menatap kedua bola mata malas ke arah dirinya.