
"Mama, kami baru membuat bayi dan butuh proses sebelum berhasil," ucap Launa dan Mama Siska mengacungkan jempol pada Launa.
"Anak pinter, baiklah mama dan nenek tetap menunggu kabar baiknya. Kapan rencananya jadwal wisuda Kuliahmu, Launa?" tanya Mama Siska membuat Launa menyadari dirinya sudah tujuh bulan menunggu jadwal wisuda bersama temannya. Mengingat Launa menjadi mahasiswa lulus sidang skripsi perdana dan terbit jurnal di google Scholer. Launa masih menunggu teman-temannya yang tidak selesai menyusun skripsi dengan baik dan mengulangi semester lagi.
"Sepertinya awal bulan mei, ma. Nanti akan dikasih tahu oleh sekretaris kaprodi." jawab Launa cepat.
"Ya sudah, Siska. Jangan diajak berbicara di luar rumah. Pasti Launa dan Raka capek dan butuh istirahat. Ayo ajak mereka masuk ke dalam rumah saja." celetuk Nenek Melati.
"Siap nek." Mama Siska mengandeng tangan Launa di sebelah kanannya dan mengandeng tangan Raka di sebelah kirinya.
Di dalam ruang keluarga, Raka dan Launa duduk santai bersama Mama Siska dan Nenek Melati. Mereka tampak berpikir santai dan bercanda ria. Hingga Bibi Lesti telah membawa makanan cemilan dan minuman jus untuk mereka.
"Oh ya Ma, Papa Rayhan dimana?" tanya Raka yang baru menyadari keberadaan Papa Rayhan tidak ada di ruang keluarga.
"Papa Rayhan sedang beristirahat, Raka. Penyakitnya kambuh dan seperti biasanya minum obat dan beristirahat di kamar." jawab Mama Siska membuat Launa terlihat panik.
"Apa kepala papa terasa berdenyut tiba-tiba ma? Kenapa tidak dibawa ke rumah sakit saja, takutnya kejadian kecelakaan itu membahayakan bagian kepala Papa." sahut Launa.
"Benar, Papa Rayhan butuh perawatan khusus agar tubuhnya pulih dan sehat. Aku akan memanggil dokter pribadi untuk merawat Papa Rayhan di rumah ini." balas Raka.
Launa menatap berbinar ke arah Raka yang menolong kondisi Papanya.
"Terima kasih, kak. Sudah membantu orang tuaku," ucap Launa.
Raka tersenyum mendengar perkataan Launa.
"Tenang saja, sekarang orang tuamu sudah menjadi orang tuaku juga." Raka mengambil ponsel dari saku celananya untuk mencari nomor seseorang di layar ponselnya dan melakukan sambungan panggilan masuk di ponselnya.
Drt... Drt... Drt...
__ADS_1
Raka menunggu sambungan panggilan masuk diangkat oleh seseorang. Tidak berapa menit kemudian, sambungan panggilan diangkat oleh seseorang.
Raka : "Hallo Dion, dimana kamu sekarang?"
Dion : "Iya Tuan, saya berada di ruang kerja saya di rumah sakit."
Raka : "Baiklah, segera kamu datang ke rumahku. Bawa dua perawat laki-laki untuk membantumu memeriksa kondisi papa mertuaku."
Dion : "Tapi Tuan, saya masih memeriksa dokumen pasien yang--"
Raka : "Aku tunggu 30 menit dari sekarang! Jika kamu terlambat satu detik saja, maka aku akan menarik semua sahamku di rumah sakitmu!"
Setelah Raka mengatakan itu ia langsung mematikan sambungan panggilan secara sepihak. Raka yang telah memasukkan ponsel di dalam saku celananya, ia menatap heran ke arah Launa dan Mama Siska yang ekspresi wajahnya menjadi pucat.
"Kenapa Ma? Launa? Apa ada yang salah dengan diriku?" tanya Raka.
"Ternyata menantuku ini terkenal pria tampan, baik dan mapan. Dia juga memiliki sikap tegas dan dingin. Aku suka gayamu, Raka," ucap Mama Siska memuji Raka yang terlihat binggung.
"Iya Ma, aku memang begini orangnya serba bisa, hehehe..." sahut Raka dengan tertawa kecil.
"Mama dan Launa, tunggu sebentar lagi ada dokter Dion datang kesini." lanjut Raka.
Tiga puluh menit kemudian, dokter Dion dan dua perawat pria datang tepat waktu. Raka yang sedang meminum habis jus sembari menunggu dokter pribadinya yang datang tepat waktu di hadapannya. Ia langsung mengajak Dokter Dion menuju ruang kamar Papa Rayhan di lantai dasar rumahnya.
Ceklek!
Raka membuka pintu ruang kamar Papa Rayhan yang telah ternyata Papa Reyhan sedang tidur nyenyak.
"Tolong periksa kondisi papaku yang sering sakit di bagian kepala setelah kejadian kecelakaan dulu," ucap Raka pada Dokter Dion.
__ADS_1
"Baik Tuan, saya izin periksa dulu." Dokter Dion mengeluarkan alat medisnya di dalam tas kerjanya. Ia dibantu oleh dua perawat pria yang mengambil alat medis statescop dan alat suntik diberikan kepada Dokter Dion.
Dokter Dion sedang memeriksa tubuh Rayhan, ia menyentuh bagian kening Rayhan yang menonjol.
"Sepertinya ada sistem saraf yang terputus dan aliran darah yang membeku di bagian sini. Saya berikan suntik dulu untuk mengurangi rasa sakit."
"Iya, apapun tindakanmu, Dion. Aku percayakan saja semuanya padamu." Raka berdiri tidak jauh dari Dokter Dion dan perawat yang sibuk memeriksa kondisi Papa Rayhan.
Sementara Launa dan Mama Siska telah berjalan masuk ke dalam ruang kamar Papa Rayhan. Salah satu Perawat pria menahan mereka agar tidak menggangu aktivitas pengobatan mereka.
"Seharusnya, dokter yang menangani papa Tuan melakukan operasi di bagian kepala ini agar tidak ada kerusakan otak. Kalau sudah begini, secepatnya kita harus melakukan tindakan operasi bedah otak untuk menghentikan pendarahan otak beku." jelas Dokter Dion panjang lebar di hadapan Raka.
Raka menghela nafas kasar saat mendengar perkataan Dokter Dion.
"Jika aku tahu kejadiannya bisa berdampak bahaya seperti ini sudah dari dulu aku membantu membiayai pengobatan Papa Rayhan. Tetapi, Launa tidak berterus terang padaku agar meminta bantuan padaku," ucap Raka dengan wajah murungnya.
"Tenanglah Tuan, ini belum terlambat. Masih ada tindakan medis lain untuk menyelamatkan kondisi pasien. Tuan, saran saya agar Papa mertua Tuan ini dibawa ke ruang sakit saya saja untuk melakukan operasi dengan peralatan medis yang canggih dan terpercaya." sahut Dokter Dion.
"Baiklah, aku akan menyetujui saranmu. Sekarang juga aku mau memindahkan perawatan di rumah sakitmu. Semakin cepat bertindak maka semakin cepat sembuhnya. Berapapun biaya pengobatannya aku mampu membiayainya hingga sembuh," ucap Raka tegas.
Raka menoleh ke arah belakang, ternyata pintu ruang kamar ditutup.
"Pantas saja, ruangan ini terasa panas tanpa menghidupkan AC ruangan. Ternyata pintunya ditutup. Cepat panggilkan istri dan mama mertuaku yang ingin masuk ke dalam ruangan!" titah Raka.
"Baik Tuan." Dokter Dion berjalan cepat menuju pintu kamar dan dibukanya pintu kamar Papa Rayhan yang rupanya Launa dan Mama Siska sudah berdiri dengan menyilangkan kedua tangan di atas perut untuk menunggu detik-detik pintu dibuka.
"Nyonya besar! Nona muda! Mari masuk ke dalam ruangan. Maafkan asisten saya yang tidak memberi Nyonya dan Nona masuk ke dalam ruangan karena masih melakukan perawatan medis," ucap Dokter Dion sopan.
"Baiklah." jawab Launa cepat lalu ia melangkah masuk ke dalam ruangan diikuti oleh Mama Siska.
__ADS_1
"Kak Raka, bagaimana kondisi Papa Rayhan? Apa Papa baik-baik saja?" tanya Launa yang telah menghentikan langkah kakinya di hadapan Raka.