Sang CEO Tersakiti

Sang CEO Tersakiti
Part 41 Penolakan Raka Berakhir Ancaman Leo


__ADS_3

Raka memegang kedua pundak Launa yang menatap khawatir pada kondisi Papa Rayhan.


"Tenanglah, aku akan membawa Papa ke rumah sakit elit dan memberikan pengobatan canggih. Dengan begitu, Papa tidak merasa sakit lagi di bagian kepalanya yang mengalami pembekuan darah," ucap Raka membuat Launa kaget saat mendengar kalimat akhir Raka.


"Apa? Bagian kepala Papa mengalami pembekuan darah. Bagaimana bisa terjadi separah itu? Aku takut papa ku terjadi kenapa-kenapa." sahut Launa yang ingin berlari menuju Papa Rayhan tapi Raka langsung memeluk tubuh mungil Launa untuk menenangkannya.


"Semua akan baik-baik saja, jika mendapatkan perawatan intensif secepatnya." balas Raka seraya melirik ke arah Dokter Dion agar memindahkan Papa Rayhan menuju rumah sakit.


Mama Siska yang melihat tubuh suaminya akan digendong oleh dua perawat pria. Ia pun berjalan mengikuti mereka dan membiarkan Raka yang masih memeluk Launa yang terkejut.


"Dok, aku ikut ke rumah sakit," ucap Mama Siska saat pintu mobil ambulan terbuka dan dua perawat pria memasukkan tubuh Papa Rayhan ke dalam brankas kasur tidur rumah sakit.


"Baiklah Nyonya. Bisa naik ke dalam mobil." sahut Dokter Dion lalu melangkah pergi menuju kursi penumpang di sebelah kursi pengemudi mobil.


Kini mobil ambulan telah melaju keluar dari pekarangan rumah mewah Raka dan suara sirene khas ambulan mulai terdengar di sekitar jalanan raya.


Sementara Launa yang mulai tenang, ia mendengar suara sirine khas mobil ambulan. Ia langsung melepaskan pelukan hangat Raka.


"Kak Raka, dimana papa sekarang? Apa papa sudah dibawa ke rumah sakit?" tanya Launa dengan tatapan mata fokus mencari kebenaran Papa Rayhan yang ternyata sudah tidak ada di atas tempat tidur.


"Iya, ayo kita pergi kesana." jawab Raka mengajak Launa dan ia langsung menggenggam tangan Launa agar melangkah keluar dari ruang kamar.


Raka yang melihat Nenek Melati baru masuk ke dalam rumah, ia pamit pergi ke rumah sakit.


"Nek, Raka sama Launa pamit ke rumah sakit dulu. Nenek di rumah saja karena pasti menunggu jadwal operasi lama. Nanti Raka kabarin kondisi Papa Rayhan pada Nenek," ucap Raka dengan mengulurkan tangannya untuk mencium punggung Nenek Melati.


"Baiklah hati-hati di jalan." sahut Nenek Melati dan dibalas anggukan cepat oleh Raka.


Di luar rumah, Raka menyuruh kepala bodyguard rumahnya -- Jimmy agar menjaga rumahnya dengan ketat.


"Saya pergi ke rumah sakit dulu, jaga rumah saya dan jangan beri siapapun yang mau masuk ke dalam rumah," ucap Raka tegas.


"Baik Tuan." jawab Jimmy cepat.


Setelah mengatakan itu Raka melangkah masuk ke dalam mobil diikuti oleh Melodi yang duduk di kursi penumpang di sebelah kursi pengemudi mobil. Raka menstarterkan mobilnya untuk melaju kecepatan sedang mobil keluar dari pekarangan rumahnya menuju ke jalanan raya.


Di luar ruangan operasi, Mama Siska duduk menunggu jadwal operasi dadakan itu. Ia terlihat tidak tenang karena sudah satu jam lebih, pintu ruang operasi belum dibuka.


"Haduh, Launa dan Raka dimana? Kenapa mereka belum datang kesini? Aku sendiri disini semakin khawatir takut terjadi apa-apa pada suamiku." lirih Mama Siska pelan. Ia mengambil ponsel dari saku celananya untuk menelpon Launa. Iya, Mama Siska hanya membawa ponselnya saja dan tidak membawa tas dan dompet karena mendadak pergi ke rumah sakit.


Untung saja, ponsel pengeluaran terbaru 2023 yang baru dibeli oleh Nenek Melati kemarin, Mama Siska memasukkannya ke dalam kantong celananya.


Drt... Drt... Drt...


Mama Siska menunggu sambungan panggilan masuk diangkat oleh Launa.


Launa yang telah keluar dari mobil dan ia berjalan bergandengan tangan dengan Raka. Ia dikejutkan dengan suara panggilan masuk di ponselnya. Ia mengambil ponsel dari saku celananya untuk mengangkat telepon dari Mama Siska.


Launa : "Hallo assalamualaikum Ma,"


Mama Siska : "Wa'alaikumsalam, kamu sama Alex sudah dimana nak? Mama sendirian menunggu papamu masih di dalam ruangan operasi."


Launa : "Iya Ma, Launa dan Kak Raka sudah di depan rumah sakit. Ini mau pergi kesana. Mama tunggu sebentar ya, berdoa baik-baik untuk papa agar diberi kelancaran proses operasinya."

__ADS_1


Mama Siska: "Aamiin, baiklah."


Launa menatap layar ponselnya yang rupanya sambungan panggilan masuk telah dimatikan secara sepihak. Lalu, ia memasukkan ponsel di dalam saku celananya.


"Ayo kak, kita masuk ke dalam rumah sakit. Mama sendirian menunggu papa masih di ruang operasi." ajak Launa.


"Baiklah." jawab Raka sambil melangkah masuk ke dalam pintu rumah sakit dan langkah kakinya memasuki area ruang lift menuju lantai dua rumah sakit.


Setibanya Raka dan Launa di ruang operasi, Alex menatap ke arah Mama Siska yang menangis sendirian.


"Mama kenapa menangis? Tenang saja Ma, Raka sudah memberikan perawatan intensif dari dokter bedah terbaik," ucap Raka mencoba menghibur Mama Siska agar berhenti menangis.


"Mama percaya Raka pasti melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan Papa Rayhan. Tapi, mama sangat takut dengan kehendak lain." sahut Mama Siska.


"Mama, jangan berbicara seperti itu. Kita cukup berdoa saja dan menunggu hasil dari operasi ini saja. Mama sudah makan belum?" tanya Raka dan dijawab gelengan cepat oleh Mama Siska.


"Baiklah aku akan memesan makanan dulu, nanti ada kurir makanan yang mengantar makanannya." Disaat Raka telah memesan makanan di medsos. Ia mendapatkan sambungan panggilan masuk dari kepala bodyguard rumahnya.


Raka menoleh ke arah Launa yang sedang duduk menenangkan Mama Siska.


"Launa, kamu temani mama disini saja. Aku ingin mengangkat telepon dulu, ini uang untuk membayar makanan pada kurir nanti." Raka menyerahkan lima lembar uang berwarna merah pada Launa.


"Baik Kak, terima kasih banyak." Launa menerima uang yang diberikan oleh Raka.


Raka langsung melangkah pergi dari hadapan Mama Siska dan Launa untuk mengangkat telepon dari Jimmy -- Kepala bodyguard.


Raka : "Hallo, katakan apa yang terjadi?"


Jimmy : "Tuan, maafkan aku mengganggu waktunya, di rumah tuan datang Nona Mita dan Tuan Leo yang ingin menemuinya. Mereka mengamuk tidak jelas dan membawa lima bodyguard keturunan vampir yang siap menghisap darah pelayan rumah.


Raka : "Baiklah, aku akan segera pulang. Beri tahu mereka agar menungguku. Beri mereka masuk ke dalam ruang tamu saja. Nanti para tetangga julid dengan urusanku."


Jimmy: "Tapi Tuan, apa tidak membahayakan keberadaan mereka masuk ke dalam rumah Tuan. Sementara mereka menggunakan ilmu sihirnya agar gerbang pintu terbuka secara otomatis."


Raka : "Tenang saja, mereka tahu diri dan tidak menyakiti orang lain, kecuali sasaran utamanya yaitu aku."


Jimmy : "Baik Tuan, saya akan melakukan sesuai perintah. Hati-hati di jalan Tuan."


Raka : "Iya."


Raka mematikan sambungan panggilan secara sepihak, ia mengusap wajahnya dengan kasar.


"Baru saja, aku berhasil membuka lembaran hidup baruku bersama Launa dan bahagia di bulan maduku. Tetapi, ada-ada saja berbagai masalah muncul di kehidupanku lagi. Apa sebenarnya yang diinginkan oleh Mita dan Papanya? Aku tidak pernah mengusik bisnis dan kehidupan mereka. Tetapi mereka selalu saja mengganggu hidupku." lirih Raka dengan wajah gusarnya.


Sebelum Raka berjalan pulang ke rumahnya, ia mengetik pesan pada Launa.


"Aku pulang dulu, masih ada kerjaan dadakan di rumah. Tetaplah di rumah sakit bersama Mama Siska nanti aku akan datang lagi ke rumah sakit." pesan Raka yang dikirimkan pada Launa.


Barulah Raka melangkah pergi menuju ruang lift untuk turun ke lantai dasar dan menuju ke parkiran mobil.


Sesampainya di tempat parkiran mobil, Raka mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk meninggalkan area pekarangan rumah sakit.


Setengah jam kemudian, mobil Raka telah memasuki area pekarangan rumah mewahnya. Gerbang rumahnya terbuka dan tidak dikunci karena ia yakin para pelayan rumahnya merasa ragu-ragu dengan kedatangan Mita dan Leo. Ia memarkirkan mobilnya di depan pintu rumahnya dan ia melangkah keluar dari mobil yang ternyata disambut hangat oleh Mita.

__ADS_1


Raka menatap heran ke arah Mita yang memberikan senyuman tulus pada dirinya.


"Sudah berapa lama kamu dan Papamu datang kesini?" tanya Raka menghentikan langkah kakinya tetap di hadapan Mita.


"Sudah setengah jam, kamu semakin tampan, Raka. Aku semakin cinta." jawab Mita yang ingin berhamburan ke dalam tubuh Raka untuk memeluknya tetapi Raka dengan cepat berjalan menjauhinya.


"Jangan peluk dulu, saya baru pulang ke rumah sakit. Pasti banyak virus yang menempel, nanti kamu ketularan lagi. Lebih baik kita masuk ke dalam saja." tolak Raka secara halus. Lalu, ia berjalan meninggalkan Mita yang berdiri diam di tempat.


Di dalam ruang tamunya, Raka melihat Nenek Melati, Zack dan Papa Leo yang duduk diam saja.


"Tuan Leo," ucap Raka yang memilih duduk di sebelah Nenek Melati dan posisi duduknya berhadapan langsung dengan Leo.


Raka menoleh sekilas ke arah Mita yang duduk di sebelah papa Leo.


"Apa yang kalian inginkan? Sehingga, kalian dapat meluangkan waktu untuk datang ke rumah saya," ucap Raka to the point.


Leo tersenyum tipis saat mendengar perkataan Raka.


"Kamu baru pulang ke rumah, apa tidak merasa capek jika berbicara ke intinya saja. Tidak maukah kita berbicara berbasa-basi dulu." sahut Papa Leo.


"Tidak, saya sangat menghargai waktu untuk menyelesaikan tugas saya. Cepat katakan saja, saya akan mendengarnya." Raka memasangkan wajah dinginnya saat melihat Mita terus tersenyum manis menatap ke arah dirinya.


"Okey, kedatangan saya dan anak gadis saya -- Mita untuk menemuimu dan Nenek Melati dalam menjalin hubungan baik seperti dulu."


"Terus?"


"Saya sangat menyesali perbuatan keji saya yang menyakitimu dan memisahkan cinta kalian. Saya minta maaf atas keegoisan saya yang gila harta. Dua anak cabang perusahaan saya terbakar yang mengakibatkan saya mengalami kerugian besar, belum lagi Mita yang terserang penyakit kanker otak membuat saya sangat menyesali perbuatan saya. Sungguh saya sangat menyesali semua perbuatan saya terhadap kamu, Nenek Melati dan kedua orang tuamu. Saya sadar semua cobaan yang menimpa kehidupan saya ini hukum karma yang telah saya tabur dan sudah saya tuai. Jadi, untuk menebus semua kesalahan saya, kedatangan saya kesini untuk menyatukan cinta kamu pada Mita. Tolong, jangan benci Mita! Mita tidak bersalah dan saya biang masalahnya. Jadi, saya ingin meminangmu sebagai menantu saya." jelas Leo panjang lebar dan Raka menggeleng cepat.


"Maaf saya tidak bisa," ucap Raka cepat.


Seketika senyuman manis Mita luntur dan tergantikan dengan tatapan sendunya.


"Kenapa Raka? Apa kamu tidak mencintaiku lagi? Apa kamu dendam dengan apa yang telah aku dan Papaku lakukan padamu, Raka? Kenapa kamu tidak mau menikah denganku? Tolong, beri aku kesempatan kedua untuk menghabiskan sisa waktuku tidak lama lagi." Mita memberikan berbagai pertanyaan pada Raka yang hanya diam dan tatapan dingin ke arah dirinya.


"Maafkanlah saya, saya tidak bisa mencintaimu lagi, Mita. Rasa cinta itu telah sirna dan apapun yang terjadi padamu, bukan urusan saya lagi," ucap Raka dingin.


"Raka, jangan berbicara seperti itu. Tolong hargai cinta Mita. Mita selalu mendoakanmu agar menjadi jodohnya dan ia selalu membujuk saya agar menemuimu. Apa kamu tidak menyesal meninggalkan wanita yang sangat mencintaimu." celetuk Leo mulai geram atas penolakan Raka.


"Tidak Tuan, saya sudah mengikhlaskan Mita pergi dari kehidupan saya. Bukan saya yang pergi meninggalkan Mita. Tetapi, Mita sendiri yang meminta saya." jawab Raka mantap.


"Raka, kamu tidak bisa menolak semudah itu. Kami datang dari jauh-jauh hingga kesini untuk niat yang baik," ucap Leo mencoba membujuk Raka.


"Leo, masalah hati jangan dipaksakan! Biarkan Raka memilih siapa yang pantas bersamanya," ucap Nenek Melati mulai berbicara dan sedari tadi hanya diam saja saat memantau kedatangan Leo dan Mita.


"Diam nek! Saya tidak ada urusan denganmu!" tegas Leo dengan suara lantangnya.


Seketika Raka terpancing emosi atas sikap tidak sopan Leo.


"Cukup Tuan Leo yang terhormat! Jangan membentak nenek saya! Jika kalian tidak bisa berbicara baik-baik untuk menolak permintaan kalian, maka pergilah dari sini! Saya tidak pernah mengganggu hidup kalian dan tolong jangan ganggu hidup saya dan nenek saya lagi. Urusan di masa lalu, saya anggap selesai dan tak perlu merasa bersalah satu sama lain karena kita tidak ada urusan apa-apa lagi!" tegas Raka yang telah berdiri dari duduknya dan ia mengarahkan tangannya menuju keluar pintu.


"Kau berani mengusir saya! Niat saya baik dan ditolak mentah-mentah. Baiklah, jangan salahkan saya kembali berbuat jahat! Itu karena kau yang berani membantah perkataan saya. Cuma kau sudah menikah dan menutupi hati istri tak selevel itu kau pertahankan! Tunggu pembalasan saya! Kau pasti menyesal!" ancam Leo.


"Saya tidak takut dengan kamu! Saya punya Tuhan yang akan melindungi saya. Jangan mengancam saya seperti itu negara ini negara hukum! Jika kamu masih mau menghirup udara segar." sahut Raka pedas membuat Leo dan Mita angkat kaki dari rumahnya.

__ADS_1


Mita yang dipaksa keluar oleh Papa Leo melangkah keluar dari rumah Raka. Ia memberontak keras tetapi ia masih takut dengan papanya yang terlihat tidak baik-baik saja.


"Awas kamu, Raka! Aku sakit hati atas penolakanmu itu. Aku pastikan hidupmu takkan bahagia selama-lamanya," ucap Mita membuat Raka cuek bebek saja.


__ADS_2