Sang CEO Tersakiti

Sang CEO Tersakiti
Part 29 Rencana Menemui Launa


__ADS_3

Malam telah berganti pagi dan semua orang mulai melakukan aktivitas hidupnya masing-masing. Begitu juga dengan Raka yang telah berpakaian rapi casual kaos berwarna biru navi senada dengan celananya. Hari ini Raka tidak pergi ke kantor perusahaannya. Ia berniat untuk menjenguk orang tua Launa yang dirawat di rumah sakit.


Wajah tampan Raka terlihat cerah dengan senyuman manisnya di depan cermin. Dirinya menatap pantulan dirinya yang telah tapi dan tampan sempurna.


"Sudah jam 7 pagi, waktunya sarapan pagi dan bertemu dengan Launa," ucap Raka pelan dengan senyuman manis masih terpancar di sudut bibirnya.


Raka melangkah keluar dari ruang kamarnya untuk menuruni anak tangga menuju ruang makan. Disana Raka melihat sudah ada Nenek Melati yang duduk dan menikmati sarapan paginya.


"Pagi Nek, cepat sekali sarapannya. Gak nungguin Raka," ucap Raka sembari mencium pipi neneknya dengan sayang.


Nenek Melati menoleh ke arah Raka yang telah mendudukkan diri di kursi yang berhadapan langsung dengan Raka.


"Gak mau, nanti Nenek kelaparan nungguin kamu yang belum tentu mau ikutan sarapan pagi." sahut Nenek Melati cetus.


Raka mengerucutkan bibirnya di hadapan Nenek Melati dan wajahnya terlihat lucu dan imut.


"Tapi Raka hari ini sarapan pagi bersama nenek kok cuma saja kalau Raka gak sarapan pagi karena ada jadwal rapat mendadak." balas Raka.


"Iya nenek tahu itu tapi biasakan sarapan pagi untuk mengisi perutmu agar tidak lapar Raka. Nanti kamu sakit kalau tidak makan." Nenek Melati menyerahkan piring pada Raka.


"Ini kamu ambil sendiri roti panggang dan selai kesukaanmu." lanjut Nenek Melati.


Raka mengangguk cepat dan ia mengambil Piring untuk mengisi dua roti panggang putih yang akan diisi selai strawberry dan coklat. Tidak lupa mengambil susu putih untuk diminumnya.


Setelah menyelesaikan sarapan paginya, Raka pamit pergi menemui Launa di rumah sakit.


"Nek, Raka pergi ke rumah sakit dulu. Assalamualaikum," ucap Raka sembari mencium punggung tangan Raka.


"Wa'alaikumsalah, hati-hati di jalan." sahut Nenek Melati menerima uluran tangan Raka.


Raka mengangguk cepat dan ia melanjutkan langkah kakinya menuju pintu utama rumah mewahnya.

__ADS_1


Di luar rumah, Raka melihat ada supir pribadinya sedang mengelap kaca mobil.


"Pak Xio, saya bawa mobil sendiri saja," ucap Raka pada pria paruh baya di hadapannya.


"Baik Tuan." jawab Pak Xio dengan membuka pintu mobil.


Raka langsung melangkah masuk ke dalam mobil dan mulai menstarterkan mobil untuk melaju meninggalkan area kediaman rumah mewahnya.


Di sepanjang perjalanan, Raka sudah tidak sabar untuk menemui Launa. Hanya tidak bertemu satu hari saja, Raka merasa rindu tak karuan. Kini mobilnya telah memasuki area rumah sakit. Raka memilih memarkirkan mobilnya di depan pintu utama rumah sakit. Raka yang telah melangkah masuk ke dalam rumah sakit, ia disambut hangat oleh semua karyawan rumah sakit. Ia hanya tersenyum untuk membalas sapaan mereka. Dipikirannya, ia lebih memprioritaskan bertemu dengan Launa dan keluarganya untuk meminta maaf serta meminta izin agar Launa tetap bekerja di rumah mewahnya.


"Dimana ruangan Tuan Rayhan?" tanya Raka pada salah satu repsioner rumah sakit.


Seketika kedua bola mata Nia membulat dengan sempurna saat pria terkaya di dunia ini berdiri di hadapan dirinya.


"Tuan Raka," ucap Nia tanpa menjawab pertanyaan Raka.


Raka menatap kedua bola mata malas ke arah repsioner perempuan di hadapannya yang menatap penuh cinta.


"Bisa jawab pertanyaan saya tadi?" sahut Raka.


Raka yang mendengar perkataan Nia -- repsioner perempuan rumah sakit. Ia menghela nafas dengan kasar.


"Sudah ku duga, pasti Launa berusaha menghindariku." lirih Raka.


"Maaf Tuan, tidak ada pasien bernama Launa di rumah sakit ini." balas Nia dengan senyuman manis di hadapan Raka.


"Kamu nanyeak? Ya sudah, aku kasih tahu kalau bukan Launa yang ada di rumah sakit ini dan tidak usah ikut campur dalam urusan hidup orang lain." setelah Raka mengatakan itu ia memilih pergi meninggalkan Nia yang melongo tidak jelas.


Raka melangkah masuk ke dalam mobil, ia menjambak rambutnya yang tidak gatal untuk melampiaskan kekesalannya karena tidak menemukan keberadaan Launa.


"Baru saja, aku datang disini. Tapi, Launa sudah pulang. Coba saja aku suruh Zack untuk memantau keberadaan Launa dan keluarganya lebih dulu. Bisa saja aku tidak menyia-nyiakan waktuku untuk datang di rumah sakit ini," kesal Raka dengan mengambil ponsel di saku celananya untuk menelpon seseorang.

__ADS_1


"Zack, cari tahu keberadaan Launa dan keluarganya sekarang!" titah Raka setelah sambungan panggilan masuk diangkat oleh Zack.


"Baik Tuan, saya akan laksanakan secepatnya." jawab Zack melalui sambungan panggilan masuk di ponselnya.


"Baguslah, aku tunggu sekarang." Raka menutup sambungan panggilan secara sepihak. Hatinya terasa gundah dan tak nyaman. Apa perlu dirinya pergi ke rumah Launa saja untuk memeriksa keberadaannya masih di kota ini.


Tidak tinggal diam, Raka langsung melajukan kecepatan mobilnya keluar dari pekarangan rumah sakit. Ia menerobos jalanan raya di pagi hari yang terasa ramai dan macet.


"Hah, meresahkan! Macet pula jalanan di pagi hari. Kenapa aku tidak memilih jalur jalan tikus saja agar tidak terkena macet." Raka menatap ke arah depan yang banyak sekali antrian mobil yang menunggu jalanan raya agar bisa dilewati. Raka mengambil ponsel untuk memeriksa hasil laporan dari Zack.


"Kenapa sinyal ponselku tiba-tiba hilang segala? Haduh, hilang sudah jejak informasi Launa." Raka memejamkan kedua bola matanya sejenak untuk menenangkan emosinya yang meledak-ledak.


Dua jam kemudian, Raka bisa melajukan kecepatan mobilnya seperti biasa tanpa hambatan. Ia menatap fokus ke arah depan untuk mempercepat laju mobilnya menuju rumah minimalis Launa bersama kedua orang tuanya. Ia melirik sekilas jam tangan yang menunjukkan pukul 10 pagi.


"Semoga saja, Launa masih tinggal di rumah mini dan tak mewah ini." lirih Raka yang telah memasuki jalanan perumahan minimalis subsidi pemerintah dan melewati beberapa rumah kecil tapi terpisah tanpa menyatu di dalam gang perumahan.


"Kalau tidak salah, rumah minimalis berwarna pink dengan pagar putih keliling yang banyak ditumbuhi tanaman di sekitar rumah ini rumah kedua orang tua Launa. Tapi, kenapa kondisi rumahnya terasa sepi dan tak berpenghuni? Apa jangan-jangan Launa dan kedua orang tuanya sudah pindah?" Raka menggeleng cepat, mana mungkin Launa pergi begitu saja setelah ia memberikan banyak uang untuk bonus gajinya.


"Tidak-tidak, aku tidak boleh overthingking dulu. Lebih baik aku periksa dengan kedua mataku sendiri." Raka turun dari mobilnya dan ia melangkah menuju pintu pagar rumah minimalis di hadapannya.


"Assalamualaikum, Launa."


"Assalamualaikum, ini aku Raka."


"Assalamualaikum," Raka terus memanggil pemilik rumah yang sepertinya tidak menerima tamu.


"Kamu mau nyari siapa, nak?" tanya seorang pria paruh baya yang menghampiri Raka.


Raka menoleh ke arah samping yang ternyata ada pria berpakaian sederhana ala rakyat jelata di hadapannya.


"Saya mau nyari Launa, Pak." jawab Raka tersenyum.

__ADS_1


"Oh nona Launa anak dari Pak Rayhan. Mereka sudah pindah dari rumah ini semalam, nak." jelas Pak Tohir membuat Raka terkejut.


"Apa? Launa dan kedua orang tuanya sudah pindah rumah semalam?" ucap Raka dan dijawab anggukkan cepat oleh Pak Tohir.


__ADS_2