
Mama Siska yang mendengar perkataan anaknya yang memiliki uang banyak, ia menatap penuh selidik ke arah Launa.
"Launa sedang tidak bercanda kan kalau punya uang banyak. Atau kamu sedang melakukan aneh-aneh dalam mendapatkan uang banyak? Berapa uang yang kamu punya untuk melunasi biaya operasi Papa senilai 100 juta?" tanya Mama Siska.
Launa menggeleng cepat karena tidak terima atas tuduhan dari mamanya.
"Tidak Ma, Launa mendapat uang yang halal. Uang yang Launa dapatkan dari gaji Launa saat bekerja pada Kak Raka. Launa dapat gaji 400 juta dan mengambil cuti beberapa hari. Launa bisa membayar biaya operasi Papa seharga 100 juta itu." jawab Launa panjang lebar di hadapan Mama Siska.
Seketika senyuman manis terbit di sudut bibir Mama Siska.
"Alhamdulillah, kamu dapat rezeki yang banyak Launa. Dengan begitu bisa membayar biaya uang operasi Papa."
"Dimana dokter yang menangani Papa, Ma? Launa mau bertemu agar segera di operasi." Launa menatap ke arah sekeliling ruangan rumah sakit yang ternyata ada dua perawat wanita yang sedang berjalan masuk ke dalam ruang rawat papanya.
Launa langsung mengikuti langkah kaki kedua perawat masuk ke dalam ruang rawat ICU Papanya. Ia tidak memperdulikan larangan dari Mama, Nenek dan Kakeknya.
Ceklek!
"Nona, kenapa kamu masuk ke dalam ruangan? Kami sedang memeriksa kondisi Tuan Rayhan?" tanya salah satu perawat wanita yang menyadari keberadaan Launa di dalam ruang rawat ICU.
__ADS_1
Launa yang melihat tatapan tajam tak bersahabat dari perawat bernama Irma. Ia membalas tatapan tajam itu.
"Karena saya anaknya dan saya ingin menjenguk papa saya. Dimana ruangan dokter untuk menanyakan biaya operasi Papa saya?" tanya Launa balik.
"Emang kamu mampu bayar tagihan biaya operasi Papamu yang mahalnya bukan kaleng-kaleng?" sinis Perawat Irma membuat Launa menatap kedua bola mata malas ke arah perawat sombong itu.
"Kamu nanyeak? Ya sudah berhubung saya ini orang baik. Saya akan kasih tahu kepada kamu." Launa mengambil ponsel di dalam tasnya dan ia membuka kunci layar ponselnya.
"Lihat ini saldo rekening bank saya. Apa kurang cukup?" Launa mengarahkan ponsel di hadapan Perawat Irma.
Perawat Irma yang menatap ke arah layar ponsel Launa membuat mulutnya terbuka lebar.
Launa yang melihat perubahan drastis dari pelayanan Perawat Irma membuat ia muak. Ia langsung menarik ponselnya agar masuk ke dalam tasnya.
"Bisa-bisanya dia meremehkan orang tampang biasa saja yang tidak memiliki uang banyak. Giliran aku, pamer uang pemberian Kak Raka baru mereka tunduk dan hormat padaku. Memang benar kata pepatah, bekerjalah dengan rajin agar menghasilkan banyak uang dan jabatan. Sebab, orang banyak uang akan dihargai dan dihormati dibandingkan orang yang tulus berbuat baik." kata Launa dalam hati. Dengan kedua bola matanya menilai ke arah Perawat Irma dan ia menoleh ke arah satu perawat yang sibuk memberikan suntikan dan memeriksa alat medis yang melekat di tubuh papanya.
"Oh, ya sudah. Bisa antarkan saya pada dokter yang menangani Papa saya. Saya ingin bertemu dengan dokter secara empat mata."
"Iya, boleh mari saya antar nona." sahut Perawat Irma dengan ramah dan Launa hanya mengangguk saja dengan langkah kaki keluar dari ruangan menuju ruang kerja dokter yang menangani Papanya.
__ADS_1
***
Raka tampak gelisah gak menentu saat ia teringat akan perkataan Launa sore tadi.
"Apa aku kirim saja uang yang ditolak oleh Launa? Karena dia sudah bekerja satu bulan lebih di rumah ini." Raka yang sedang duduk di sofa ruang kerjanya di lantai atas setelah keluar dari ruang kerja lantai dasar sekaligus ruang CCTV di rumahnya. Ia berniat untuk memeriksa hasil saham perusahaan tapi pikirannya selalu teringat dengan kejadian sore tadi.
"Sebaiknya aku harus mentransfer uang untuk Launa. Dia pasti butuh uang banyak untuk biaya kebutuhan hidupnya dan biaya kuliahnya. Terserah saja, dia pelaku yang maling perhiasan nenek. Hal terpenting sekarang aku sudah membantu kehidupan Launa saja." Raka langsung mengirimkan uang sebanyak 400 juta untuk Launa.
Setelah berhasil terkirim, Raka ingin mengetahui keberadaan Launa sekarang. Ia duduk tegak di atas sofa empuk dengan kedua kaki melipat dan kedua tangannya menangkup menjadi satu. Dengan kedua bola matanya terpejam untuk fokus membacakan mantra ilmu sihirnya hingga sukmanya keluar dari raganya.
Raka membuka kedua bola matanya dan ia berdiri dari duduknya. Ia menatap raga yang masih duduk dengan posisi melipatkan kedua tangannya menangkup dan kedua bola matanya terpejam. Seketika sukmanya terbawa oleh sebuah angin yang berhembus kencang hingga ia bisa melihat sebuah hasil video Launa yang berada di dalam kamarnya hingga ada mamanya yang mengajaknya pergi ke rumah sakit. Ia mendengar dengan jelas, bagaimana keluh kesah Launa dalam menghadapi musibah di kehidupannya. Ia bisa melihat Perawat Irma yang berani memandang Launa sebelah mata.
"Kurang ajar, tidak sadar diri! Apa mereka tidak tahu kalau Launa itu wanita yang sempat aku cintai? Awas saja Perawat itu! Aku akan hilangkan mata pencariannya. Dengan begitu, dia akan tersadar akan sikapnya dapat membuat orang terluka," ucap Raka dengan mengepalkan kedua tangannya merasa kesal. Ia tidak mengerti dengan perasaannya yang tidak ingin Launa dijahatin oleh orang-orang tak punya hati. Walaupun ia sangat kecewa dengan sikap Launa yang mencuri perhiasan neneknya. Tapi, ia tetap memantapkan hati untuk mengawasi Launa melalui teknik ilmu sihirnya ini.
Raka terus berjalan mengikuti Launa menuju ruang operasi yang pastinya papanya saat itu juga melakukan operasi. Ada rasa bahagia karena ia bisa membantu membayar biaya operasi orang tua Launa. Kemudian, Raka yang melihat wajah cemas Launa yang duduk di ruang tunggu operasi bersama mamanya dan kedua suami istri yang usianya sudah renta itu. Ia ikut duduk tepat di kursi yang berada di samping Launa. Keberadaan dirinya tidak terdeteksi. Sebab, dia datang kesini hanya sukmanya saja tapi bukan raganya. Ia terus mendengar perkataan Launa yang tampaknya sedih karena papanya ditabrak oleh orang yang tak bertanggung jawab.
"Sialan! Aku akan pastikan orang yang menabrak papa Launa hidupnya menderita dan sial seumur hidup. Aku tidak akan melepaskan dia sampai meminta maaf dan bertanggung jawab atas perbuatannya," ucap Raka dengan suara beratnya dan tatapan tajam bak elang.
Sebelum Raka pergi dari sini, ia menatap wajah cantik natural Launa yang sedang menangis dalam diam dan terus menenangkan mamanya yang menangis.
__ADS_1
"Launa, tunggu aku. Aku akan membongkar kasus tabrak lari ini dan aku ingin tahu permasalahan pencurian di sore hari nanti," ucap Raka terdengar tulus dan tidak bisa di dengar oleh Launa.