
Mobil yang dikendarai oleh Raka telah memasuki area pekarangan rumah mewahnya. Kedatangan Raka, Launa dan Mama Siska disambut hangat oleh Nenek Melati yang pulang lebih dulu.
"Raka!" teriak Nenek Melati dengan berlari kecil menuju Raka dan ia masuk ke dalam pelukan Raka.
"Nenek baik-baik saja, apa ada yang terluka?" tanya Raka membuat Nenek Melati melepaskan pelukannya dan menjewer telinga Raka hingga pemilik telinga itu meringis kesakitan.
"Haduh nenek, sakit sekali telingaku." keluh Raka.
"Kamu ini selalu saja memikirkan keselamatan nenek. Seharusnya nenek yang menghawatirkan kondisimu menghilang begitu saja," ucap Nenek Melati cetus.
"Iya nek, Aku sangat sayang sama nenek. Tidak ada lagi orang tua aku selain nenek. Aku tidak ingin kehilangan nenek, cukup kedua orang tua aku saja yang meninggal karena dibunuh oleh Tuan Leo. Aku menghilang karena disekap oleh Mita di dalam rumahnya saat aku datang ke rumahnya untuk membujuk Mita." Raka menatap sendu ke arah Nenek Melati.
"Lihatlah pakaianku sekarang nek, pakaian agak lain dari yang lain. Masa aku dikenakan pakaian pengantin pria disaat aku jatuh pingsan oleh Mita. Apalagi Mita hampir memperkosaku. Sungguh dia sudah gila dan tropsesi padaku. Sampai mau hamil duluan." lanjut Raka menjelaskan panjang lebar di hadapan Nenek Melati.
Launa dan Mama Siska yang mendengar perkataan Raka membuat mereka murka. Rupanya Mita si pelakor yang berani menghancurkan rumah tangga Launa dengan Raka. Memang gak ada akhlak jadi wanita.
"Kurang ajar si Mita! Gak ada harga dirinya sebagai wanita. Memangnya tidak mampu mencari pria lajang sampai sengaja merebutkan suami orang," ucap Launa terpancing emosi.
Raka langsung mengelus kepala Launa agar lebih tenang.
"Sudahlah sayang, jangan dimasukkan ke dalam hati. Anggap saja Mita itu angin berlalu dan tidak penting untuk dipikirkan. Maafkan aku baru berterus terang padamu." sahut Raka menatap sendu ke arah Launa.
"Iya Launa, Benar kata Raka. Kita boleh dendam dan biarkan Mita mendapatkan hukum karma atas perbuatannya. Mama sangat memahami perjuangan Raka untuk menjaga hatinya untukmu." imbuh Mama Siska.
"Sebaiknya kita masuk ke dalam rumah, Mama dan Launa sudah lapar dan butuh makan." ajak Raka dan jawab anggukan cepat oleh Launa dan Mama Siska.
"Benar sekali, setelah nenek yang sempat ikut bersama para bodyguard tadi. Nenek dibawa pulang oleh satu bodyguard karena ada satu vampir berjubah hitam berusaha masuk ke dalam mobil. Untung saja, bodyguard lebih cepat tanggap dan membawa nenek pergi jauh dari sana. Nenek sudah memasakkan makanan banyak untuk kalian. Makanannya masih hangat, mari kita masuk ke dalam rumah saja," ucap Nenek Melati panjang lebar di hadapan Raka, Launa dan Mama Siska yang mengangguk setuju.
Akhirnya mereka menikmati makan malam sekaligus makan siang yang sempat tertunda. Di meja makan hanya terdengar dentingan sendok dan garpu saja. Raka, Launa, Mama Siska dan Nenek Melati telah menyelesaikan makan malamnya dengan nikmat.
Raka meneguk habis air putih di gelas yang dipegangnya. Ia menaruh gelas yang telah kosong di atas meja makan. Ia melihat kedatangan Zack dan 9 bodyguard yang menyelamatkannya tadi.
"Zack!" panggil Raka.
"Iya Tuan." jawab Zack berjalan cepat menuju Raka dan ia menghentikan langkah kakinya tepat di hadapan Raka.
"Kalian sudah makan?" tanya Raka.
__ADS_1
"Belum Tuan." jawab Zack cepat.
"Ya sudah, kamu dan semua bodyguard bisa ikut menikmati makanan di atas meja ini." sahut Raka membuat Zack tersenyum senang.
"Beneran Tuan?" tanya Zack memastikan dan Raka mengangguk cepat.
"Terima kasih Tuan." jawab Zack dan 10 bodyguard secara bersamaan.
Setelah acara makan malam bersama di meja makan yang panjang. Raka mengajak Zack dan 10 bodyguard untuk berkumpul di ruang keluarga.
"Zack, apa sudah selesai tugasmu tadi?" tanya Raka membuka topik pembicaraan pada tangan kanannya.
"Sudah Tuan, saya sudah mengurung Nona Mita menuju ruang bawah tanah di rumahnya dan Tuan Leo sudah saya bawa ke rumah sakit. Semua pelayan yang memberitahu informasi kepada kita sudah saya beri uang jaminan hidup mereka otomatis dipecat dan seumur hidupnya diamankan. Kini rumah mewah Nona Mita dan Tuan Leo hanya Mita saja yang menghuninya di ruang bawah tanah." jelas Zack panjang lebar pada Raka.
Raka dapat bernafas lega setelah mendengar perkataan Zack.
"Sudah beritahu bagian keamanan RT di komplek rumah mewah itu? Rumahnya sudah dikunci?" tanya Raka memastikan lagi.
"Sudah Tuan, semua pintu rumah dan pintu gerbang sudah dikunci. Tidak ada lagi yang bisa mencuri harta mereka." jawab Zack cepat.
"Terima kasih banyak Tuan, jadi gaji kami dari 10 juta menjadi 100 juta?" tanya salah satu bodyguard Raka.
"Benar sekali, doakan saya agar rezeki saya banyak dan perusahaan saya semakin maju dan berjaya. Dengan begitu bisa memberikan banyak bonus untuk kalian." jawab Raka tersenyum.
"Aamiin ya rabbal alamin." doa 10 bodyguard secara bersamaan.
Raka mengalihkan pandangannya dari 10 bodyguard menuju ke arah Zack.
"Kenapa wajah kamu ditekuk jelek seperti itu Zack? Kamu tidak senang gajimu dinaikkan?" tanya Raka to the point.
"Saya sangat senang Tuan menaiki gaji saya. Saya sangat senang bisa membantu Tuan dan keluarga Tuan. Saya juga sangat senang Nyonya menaiki gaji 10 kali lipat." jawab Zack jujur.
Raka menyerhitkan keningnya merasa heran saat mendengar perkataan Zack yang memberitahu gajinya dinaikkan oleh Nenek Melati.
"Nenek tidak memberitahuku info yang ini," ucap Raka.
"Tentu saja, nenek tidak memberitahumu lebih tepatnya belum memberitahumu. Kamu kan disekap oleh Mita dan Leo. Jadi, nenek langsung saja mengambil keputusan sepihak. Sudahlah Raka, nenek sedang bersedekah pada Zack yang sangat berjasa membantu kita. Dia rela menghadap Papanya untuk melakukan transfer ilmu elf dan membagikan ilmu elf pada 10 bodyguard berlaku ilmunya selama 1 hari. Nenek sudah menganggap Zack seperti cucu nenek sendiri dan tidak perlu pelit-pelit." jelas Nenek Melati membela dirinya agar Raka tidak bertanya panjang kali lebar.
__ADS_1
"Benarkah begitu Zack? Masya Allah, perjuanganmu begitu besar untuk menyelamatkan saya, istri dan ibu mertua saya. Saya tidak perhitungan apalagi pelit pada karyawan saya yang dapat diandalkan. Saya bersyukur berkat kamu Zack dapat membantu saya dalam menyelesaikan permasalahan kesalahpahaman ini dengan baik."
"Oh ya, bagaimana kabar Papa Rayhan? Apa dia sudah selesai operasinya?" tanya Raka membuat Zack dan Nenek Melati bungkam.
Launa dan Mama Siska yang sedari tadi hanya menjadi pendengar yang baik. Mereka mulai bergabung untuk berbicara.
"Iya, Papa Rayhan dimana? Aku sangat merindukannya? Apa dia sudah dipindahkan di ruang rawat?" tanya Launa.
"Suamiku, apa sudah sadar dari obat bius operasi?" tanya Mama Siska.
Zack menarik nafas dalam-dalam untuk menjawab pertanyaan Launa dan Mama Siska.
"Tuan Rayhan sudah sembuh dari penyakitnya. Tetapi, mohon maaf, dia sudah tenang di dunia lain." jawab Raka seketika Launa dan Mama Siska berhenti berdetak. Begitu juga Raka yang baru mendapatkan kabar buruk tentang Papa Rayhan dari Zack. Ia ikut terkejut bukan main membuat ia tak bisa bernafas dengan baik.
"Kamu serius Zack? Papa tidak selamat dari operasi? Apa Dion dan dokter lainnya yang membantu proses operasi tidak berhasil?" tanya Raka cepat.
Zack menggeleng cepat dan ia menatap satu persatu wajah Raka, Launa dan Mama Siska.
"Tuan Rayhan meninggal bukan karena gagal dalam proses operasi. Tetapi, disaat proses operasi di rumah sakit Dion mendapatkan serangan brutal dari pasukan vampir Tuan Leo dan Nona Mita. Saya tidak tahu jelas bagaimana kondisi penyerangan itu terjadi. Tetapi, setelah saya sampai di rumah sakit. Kondisi bangunan rumah sakit berantakan, banyak tenaga medis mati bersimbah darah di sepanjang ruangan rumah sakit." Zack menghentikan perkataannya sejenak membuat Raka, Launa dan Mama Siska merasa penasaran.
"Lanjutkan saja ceritanya Zack, saya akan menerimanya dengan lapang dada," ucap Raka membuat Zack mengangguk cepat.
"Setelah saya sampai di ruangan operasi, saya sangat terkejut melihat kondisi Tuan Rayhan mati mengenaskan dan lebih parahnya seluruh bagian kepala Tuan Rayhan hancur tak berbentuk karena gigitan prajurit vampir Tuan Leo dan Nona Mita." sambung Zack membuat tubuh Mama Siska hampir jatuh dan Raka dengan cepat menangkap tubuh Mama Siska.
"Mama Siska, tenanglah. Kita harus ikhlas menerima cobaan ini," ucap Raka membujuk Mama Siska yang mengeluarkan air matanya.
"Tidak mungkin! Papa tidak mungkin meninggal. Hiks... Hiks..." ucap Launa disela Isak tanggisnya begitupula Raka ikut menangis karena kehilangan Papa Rayhan.
"Zack, apa kejadian ini ada kaitannya penculikan Launa dan Mama Siska?" tanya Raka mulai mengorek informasi pada Zack.
"Iya Tuan, Tuan Raka dan Nona Mita menjadikan Nona Launa dan Nyonya Siska sebagai bahan pancingan agar Tuan datang ke rumah mereka. Lalu, memaksa Tuan agar menceraikan Nona Launa agar membebaskan Nona Launa dan Nyonya Siska. Asalkan mau menikahi Nona Mita." jawab Zack cepat.
"Kurang ajar! Murah sekali mereka bermain licik seperti itu. Mereka tidak mampu apa menyerangku saja tanpa melibatkan orang yang aku sayangi sebagai kelemahanku. Hah, meresahkan sekali. Lalu, bagaimana dengan Dion dan dokter lainnya, apa mereka dibunuh?" ucap Raka lagi.
"Tidak Tuan, Dokter Dion dan dokter lainnya berhasil bersembunyi dan mereka membiarkan Dokter Dion dan dokter lainnya tetap hidup. Mereka tahu siapa lawan dan teman. Saya rasa mereka ingin membutuhkan Tuan Raka saja." jelas Zack membuat Raka teringat dengan perkataan Mita yang memberi dirinya pilihan seperti itu.
"Mita! Leo! Takkan ku biarkan kalian sakiti aku dan orang-orang yang ku sayangi lagi. Akan ku pastikan kalian menyesali apa yang kalian perbuat padaku!" Raka mengepalkan kedua tangannya dengan kuat, rahangnya mengeras dan tatapan tajam bak elang membuat siapapun menciut nyalinya.
__ADS_1