Sang CEO Tersakiti

Sang CEO Tersakiti
Part 31 Raka Bertemu Launa


__ADS_3

Satu tahun telah berlalu, Raka belum bisa menemukan keberadaan Launa dan keluarganya. Berbagai macam cara Raka gunakan untuk mendeteksi Launa baik dalam dunia gaib maupun dunia nyata. Hasilnya tetap nihil. Seperti saat ini Raka duduk termenung di kursi kebesarannya sebagai CEO di Perusahaan Tekstil.


“Sudah satu tahun berlalu, tetapi kamu tetap menghilang tanpa jejak apapun. Dimana sebenarnya kamu berada Launa? Aku sangat merindukanmu,” ucap Raka sambil menyentuh foto Launa di bingkai foto mininya. Iya, Raka sengaja mencetak foto Launa agar memudahkan dirinya untuk mengurangi rasa rindu yang teramat dalam di hatinya.


Pepatah memang benar, bila sudah tidak ada pasti baru terasa kehilangan. Begitupula. Raka sangat menyelesali pertemuan singkat bersama Launa, ia memperlakukan Launa kurang baik.


“Tuhan, tolong pertemukan aku dengan Launa. Aku janji tidak akan mengecewakannya dan ku jadikan dia menjadi istri sahku saja.” Doa Raka dalam hati. Tatapan sendunya masih setia menatap wajah Launa yang sedang tersenyum manis ke arah kamera. Raka memeluk bingkai foto itu seakan-seakan ia sedang memeluk tubuh mungil Launa.


Tok! Tok! Tok!


“Masuk!” ucap Raka tanpa mengalihkan pandangannya sekalipun.


“Maaf menggangu waktunya Tuan, saya ingin memberi informasi bahwa Sabtu pagi ada rapat kerjasama dengan perusahaan Cezi di Rusia,” ucap Zack berdiri hormat di hadapan Raka.


“Terserah saja, aku tidak perduli dengan kerjasama apapun itu. Aku ingin wanitaku kembali padaku.” sahut Raka jujur.


Zack menghela nafas kasar saat ia selalu menerima jawaban yang sama dari Tuan muda Raka. Untung saja, Nenek Melati selalu melatih dirinya agar bisa memahami Tuan Raka yang mentalnya berantakan dan tidak fokus bekerja.


“Baiklah Tuan, saya akan memesan tiket keberangkatan kita di Rusia secepatnya. Setelah itu saya akan mencari keberadaan Nona Launa.” Perkataan Zack membuat Raka tersenyum lebar. Setelah mendengar nama Launa, Raka sangat bersemangat untuk bekerja lagi. Begitulah yang dilakukan oleh Zack untuk menyemangati Tuan muda Raka yang patah hati ditinggal oleh wanita yang diinginkannya.


Sore harinya, Zack yang ditugaskan oleh Nenek Melati sebagai tangan kanan Raka sekaligus supir pribadinya dengan gaji tiga kali lipat. Raka diantar pulang oleh Zack. Entah kenapa Zack bisa pusing sendiri saat melihat sikap Tuan Raka yang berubah drastis saat ditinggal pergi oleh Launa. Padahal terakir kali, sikap Raka dingin dan kejam pada Launa. Itulah namanya cinta yang teramat dalam berasal dari benci teramat dalam.


“Tuan Raka, mari kita sudah sampai,” ucap Zack yang telah membukakan pintu mobil untuk Raka.


Raka yang sibuk memeriksa keberadaan Launa melalui ilmu teknologinya di ponsel pengeluarkan terbaru 2023 itu ia mengalihkan pandangannya menuju ke arah Zack.


“Baiklah, terima kasih.” sahut Raka dengan wajah datarnya dan ia melangkah keluar dari mobil.


Di dalam rumah mewah milik Raka, sudah ada Nenek Melati yang selalu setia menunggu Raka pulang bekerja.


“Assalamualaikum nek,” ucap Raka yang menghentikan langkah kakinya di hadapan Nenek Melati dan ia mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.


“Wa’alaikumsalam, kamu sudah makan? Bagaimana kondisi perusahaanmu mengalami peningkatan?” tanya Nenek Melati dengan senyuman tulus di hadapan Raka.


Raka membalas senyuman manis itu.


“Iya, Raka sudah makan. Kondisi perusahaan baik-baik saja, ada Zack yang pandai menghandel kerjasama antar perusahaan.” Jawab Raka lalu menoleh sekilas ke arah Zack yang berdiri di belakangnya.


“Jam 7 malam nanti, aku dan Zack mau berangkat ke Rusia, nek. Ada rapat penawaran kerjasama dengan perusahaan Cezi. Aku harap nenek bisa menjaga diri baik-baik disini dan aku akan menyuruh Pak Tohir dan Bibi Lesti tetap mengawasi kinerja karyawan di rumah.”


“Oh ya Zack, beritahu Lino agar menghandel perusahaan saat kita pergi.”


“Nenek, aku mau mandi dulu dan bersiap-siap untuk pergi ke Rusia. Doakan aku semoga kerjasama ini berjalan dengan lancar dan aku bisa menemukan keberadaan Launa.”


Nenek Melati mengangguk mengiyakan perkataan Raka.


“Aamiin, nenek selalu mendoakan yang paling terbaik untukmu, Raka. Hal terpenting kamu tetap semangat menjalani hidupmu tanpa kehadiran Launa. Jika kamu berhasil menemukan Launa, bawa dia pulang ke rumah ini bila perlu kamu nikahin saja dia agar kamu tersiksa dengan rasa rindu itu.” sahut Nenek Melati yang akhirnya mendukung keingian Raka. Ia tidak ingin Raka hidup segan mati berguyur lagi. Hanya Raka satu-satunya yang ia miliki di dunia ini. Harta dan tahta tidak akan berarti apabila tidak ada keluarga. Apa salahnya, jika Nenek Melati menyetujui keinginan Raka untuk memiliki Launa, sedangkan Launa itu wanita baik-baik.


Raka langsung memeluk tubuh Nenek Melati dengan sayang.


“Terima kasih nek atas dukungannya,” ucap Raka pelan tetapi masih terdengar jelas di indera pendengaran Nenek Melati.


“Sama-sama.” sahut Nenek Melati.


Malam harinya, setelah makan malam dimajukan menjadi pukul 6 sore. Raka pamit pergi pada Nenek Melati di depan pintu rumah mewahnya.


“Nek, Raka pamit pergi dulu. Nenek tetap jaga kesehatan dan jangan banyak pikiran. Raka baik-baik saja kok ada Zack dan dua bodyguard yang akan ikut pergi ke Rusia. Doakan Raka agar sampai tujuan dengan selamat,” ucap Raka sembari mencium punggung tangan Nenek Melati.


“Aamiin, iya Raka. Hati-hati di jalan.” sahut Nenek Melati dengan mengelus kepala Raka dengan sayang.

__ADS_1


“Nek, Zack pamit berangkat dulu.” pamit Zack yang ikut mencium tangan Nenek Melati.


“Iya Zack, tolong jaga cucu kesayangan nenek ini jika dia nakal. Kamu cubit saja perutnya yang gak sispek lagi karna jarang berolahraga. Biar tahu sakitnya.” perkataan Nenek Melati membuat Raka dan Zack tertawa.


Dua bodyguard juga mencium tangan Nenek Melati untuk pamit pergi dan membawa dua koper besar milik Raka dan Zack masuk ke dalam bagasi mobil.


“Semua barang sudah dimasukkan?” tanya Raka pada dua bodyguard yang ikut masuk ke dalam satu mobil yang sama dengan dirinya.


“Sudah Tuan.” jawab Bodyguard secara bersamaan.


“Baiklah, jika semua barangku dan barang kalian sudah dimasukkan. Mari kita berangkat sekarang,” ucap Raka.


“Baik Tuan.”


Raka melangkah masuk ke dalam mobil dan pintu mobil ditutup rapat oleh Zack. Kini mobil yang ditumpangi oleh Raka yang keluar dari pekarangan rumah mewahnya. Raka melambaikan tangannya pada Nenek Melati yang setia berdiri menatap kepergiannya.


Suasana jalanan raya terlihat ramai dilalui oleh pemuda-pemudi. Bagaimana tidak ramai, jika malam ini malam kamis yang menandakan banyak pasangan belum menikah itu berpacaran.


“Zack, tiket pesawat kamu pesan sudah dibooking khusus kita saja?” tanya Raka memastikan pada tangan kanannya – Zack. Ia tidak suka ada orang lain yang berisik di dalam pesawat.


Zack menatap kaca spion di dalam mobil untuk melihat wajah tampan Raka.


“Iya tuan.” jawab Zack membuat Raka puas.


Setibanya di bandara Soekarta Hatta Jakarta, Raka berjalan keluar dari mobil dan dikawal oleh Zack dan dua bodyguard yang membawa barangnya. Raka disambut hangat oleh karyawan pesawat dan pilotnya. Raka hanya tersenyum membalas sapaan mereka, ia memilih melangkah masuk ke dalam pesawat.


Perjalanan pesawat nonstop dari Indonesia menuju Rusia selama 34 jam 40 menit. Untung saja, Zack selalu cerdas dalam menargetkan jadwal rapatnya sampai tujuan di hari Sabtu pagi. Itu berarti Raka, Zack dan dua bodyguard tetap setia berada di dalam pesawat hampir 2 hari itu.


Pelayanan elit di pesawat ternama itu selalu memberikan pelayanan fasilitas terbaik pada Raka. Raka hanya diam saja dengan menonton TV dan makanan yang disediakan.


“Zack!” panggil Raka.


“Apakah aku akan bertemu dengan Launa di Rusia?” tanya Raka sekenanya membuat Zack menggarukkan kepalanya tidak gatal karena takut salah jawab.


“Anu tuan, anu—” perkataan Zack terhenti saat Raka memotong pembicaraannya.


“Anu tidak tahu menahu keberadaan Launa sampai sekarang, hahaha…” jawab Raka dan Zack menyenggir kuda.


“Duduk sini Zack, aku mau cerita.” ajak Raka yang menggeserkan posisi duduknya di sofa pesawat agar Zack bisa mendapatkan jatah duduk di kursi sofa empuknya.


“Baik Tuan.” Zack berjalan menuju kursi sofa di sebelah Raka.


Disaat Zack duduk di sebelah Raka, Raka langsung merapikan model gaya rambut Zack yang terlihat tua.


“Zack, biar aku betulkan model gaya rambutmu agar tidak tua. Umurmu jauh lebih muda dariku tetapi kamu terlihat lebih tua dariku. Tidak heran, jika kamu tidak memilih potongan gaya rambut kekinian.” jelas Raka panjang lebar pada Zack yang hanya diam menurut saja.


Sejak kepergiaan Launa di kehidupan Raka, Raka memiliki keterampilan baru, seperti saat ini Raka membetulkan gaya rambut Zack ke samping. Agar terlihat pria tampan dan menawan.


“Bagus, perlu ku beri lipbalm agar bibirmu tidak turu.” tawar Raka dengan tatapan tajamnya pada Zack yang ingin menolak tetapi nyalinya menciut saat menerima tatapan tajam itu.


Raka pun mengambil alat make up pria agar wajahnya tetap fresh dan tampan maksimal. Sudah menjadi kebiasaan Raka untuk mendadani tangan kanannya yang wajahnya tampan natural tanpa polesan bedak dan lipbalm. Raka mengukir lipbalm di bagian bibir mungil Zack dan memberikan bedak bubuk tipis saja agar wajahnya terlihat glowing. Untuk alis sudah keren karena alis Zack tebal seperti dirinya.


“Selesai, ini baru tampan maksimal. Sudah kamu bisa beristirat kembali,” ucap Raka dengan memberikan kaca kecil di hadapan Zack agar melihat hasil mahakaryanya itu.


Zack yang menatap wajah tampannya lebih keren dan menawan. Ia tersenyum senang dan mengucapkan terima kasih pada Raka yang mau mendadaninya.


“Terima kasih, Tuan muda Raka. Tuan sangat berbakat dalam berbagai bidang.” sahut Zack membuat Raka besar kepala.


“Tentu saja, itu ilmu baruku dan tidak perlu repot-repot untuk menyewa mua. Aku bisa melalukannya sendiri.”

__ADS_1


Keesokan harinya, pesawat yang ditumpangi oleh Raka, Zack dan dua bodyguard telah tiba di Kawasan negara Rusia. Zack menyewa mobil untuk mengantarkan mereka menuju hotel bintang lima untuk beristirahat. Di jumat pagi ini hingga besok, Zack mengikuti jadwal kegiatan selama berada di Rusia sesuai intruksi Raka.


“Zack, waktu kita di negara Rusia ini cukup tiga hari saja. Setelah pertemuan dengan perusahaan Cezi besok pagi. Hari minggunya kita pulang,” ucap Raka tegas.


“Baik Tuan, tapi maaf sebelumnya tuan tidak berniat untuk berlibur di tempat wisata di negara ini yang terkenal dengan—" perkataan Zack terhenti disaat Raka mengangkat tangannya untuk menyuruh Zack keluar dari kamarnya.


“Baik Tuan.” Zack memilih keluar sesuai perintah Tuannya. Iya, Mereka menyewa hotel mewah yang berbentuk apartemen. Jadi, memudahkan Zack untuk mengawasi aktivitas tuannya.


Di sabtu pagi harinya, Raka telah mengenakan pakaian kemeja hitam setelan celana formal. Ia menatap dirinya di pantulan kaca kamar hotelnya. Ia tersenyum kecut saat teringat Launa menghilang sampai saat ini.


“Launa, aku percaya suatu hari nanti kita pasti bertemu dan dipersatukan kembali.” lirih Raka lalu melangkah pergi dari kamarnya.


Raka melangkahkan kakinya dengan tegas menuju ke arah ruang tamu yang ternyata Zack dan dua bodyguard sudah menunggu dirinya.


“Ayo pergi!” ucap Raka.


“Baik Tuan.” jawab Zack dan dua bodyguard secara bersamaan.


Zack berjalan lebih dulu untuk menekan tombol ruang lift agar terbuka dan Raka langsung masuk ke dalam ruang lift diikuti Zack dan dua bodyguard.


“Tuan, Pemilik perusahaan Ceqi mau bertemu di hotel ini saja,” ucap Zack membuat Raka menoleh ke arah dirinya.


“Kenapa tidak bertemu di perusahaannya saja, janjinya kan bertemu di perusahaannya. Kenapa berubah mendadak seperti itu?” tanya Raka cepat.


“Maaf Tuan, saya baru mendapatkan informasinya ini baru sekarang. Kata Tuan Ceqi, Perusahaan Tuan Ceqi sedang libur dan sebaiknya bertemu di kafe hotel ini saja.” jawab Zack menundukkan kepalanya merasa takut pada Raka.


“Huh, baiklah. Tidak masalah, kita bisa pergi kesana.” sahut Raka.


Ting!


Pintu lift terbuka dan Raka melangkah keluar menuju ke ruang kafe hotel diikuti oleh Zack dan dua bodyguardnya.


Kedatangan Raka disambut hangat oleh Ceqi dan tangan kanannya.


“Selamat pagi, Tuan Raka,” ucap Ceqi menyapa Raka dalam bahasa Inggrisnya.


“Pagi juga.” sahut Raka cepat. Ia menatap ke sekeliling ruangan kafe khusus vvip yang berisi Tuan Ceqi dan tangan kanannya saja. Ia memilih duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Ceqi.


“Bisa kita mulai sekarang, bagaimana bentuk kerjasama yang kamu tawarkan di perusahaanku?” tanya Raka.


“Bisa Tuan, apa sebaiknya kita duduk sambil menikmati makanan dan minuman disini.” jawab Ceqi yang berusaha mendekati dirinya pada Raka.


“Baiklah, pesan makanan dan minuman yang terbaik disini. Aku mau mencobanya, dimana sekretarismu? Apa tidak ada yang menulis hasil kerjasama ini?” tanya Raka tidak suka membuang-buang waktu, jika berbicara tong kosong nyaring bunyinya.


Ceqi tersenyum terpaksa saat mendengar perkataan Raka yang tidak suka bersantai ria seperti dirinya.


“Maaf tuan, sekretaris saya masih dalam perjalanan. Dia izin terlambat dikarenakan orang tuanya sedang sakit.”


“Cih, terserah deh apa alasannya. Bisa langsung jelaskan saja bentuk kerjasamanya?” sahut Raka acuh.


Cekrek!


Pintu ruangan kafe VVIP terbuka dan menunjukkan seorang wanita cantik berpakaian formal telah berdiri di depan pintu.


“Maafkan saya, Tuan Ceqi. Saya datang terlambat hari ini,” ucap wanita itu dengan suara merdunya.


Raka yang sedang sibuk membaca hasil penawaran kerjasama langsung mengalihkan pandangannya menuju ke arah wanita itu.


“Suaranya mirip seseorang.” batin Raka. Ia pun menoleh ke arah samping yang ternyata wanita itu sangat dikenalinya.

__ADS_1


“Launa,” ucap Raka pelan.


__ADS_2