
Raka menghela nafas kasar saat mendengar suara isak tangis bayi laki-lakinya semakin keras hingga membangunkan Launa dari tidurnya.
"Sudah ku bilang jangan rebutan, lihatlah hasil dari perdebatan kecil kalian. Dua bayiku ikut menangis," ucap Raka memarahi Mama Siska dan Nenek Melati karena bayi yang digendongnya ikutan menangis.
"Apa yang terjadi, kak? Kenapa bayi kembar kita menangis? Apa bayi kembar kita lapar butuh minum asi?" tanya Launa dengan kepala menoleh ke kiri dan ke kanan.
Raka yang berdiri membelakangi Launa, ia membalikkan tubuhnya dan membawa bayi yang digendongnya agar berada di dalam gendongan Launa.
"Biasalah, ada perdebatan kecil membuat bayi kembar kita menangis. Ini bayi kita sayang, dia haus dan butuh asi." Raka menyerahkan bayi mungil laki-laki pada Launa dan Launa menerima bayinya dengan bahagia dan menenangkannya hingga diam.
"Hallo anak mama yang cantik, udah lapar ya nak. Ayo kita minum susu dulu," ucap Launa mengajak bayinya berbicara.
Raka menatap bahagia melihat interaksi mama muda dengan bayi mungil sedang mencari sumber kehidupan di ASI Launa. Sedangkan bayi laki-laki Raka dan Launa digendong oleh Nenek Melati dan Mama Siska mencoba mengajaknya berbicara.
Suasana di ruangan rawat Launa terasa sejuk dan bahagia saat menyaksikan kedatangan dua bayi mungil mereka yang lucu dan pintar.
Keesokan harinya, Launa telah pulang dari rumah sakit. Sebelum sampai di rumah mewahnya, Raka telah memerintahkan Zack agar menyiapkan dekor bunga di dalam ruang kamar bayi kembar mereka dan mengundang semua teman dan rekan bisnisnya untuk ikut menikmati kebahagiaannya telah menjadi Papa dan Mama untuk kedua bayi kembarnya.
Mobil yang dikendarai oleh Raka telah sampai di depan halaman rumah mewahnya. Banyak kendaraan mobil dan motor yang terparkir rapi di sekitar pekarangan rumahnya hingga di luar gerbang rumahnya.
Launa terlihat heran dengan suasana ramai rumahnya apalagi banyak dekor bunga yang menghiasi seluruh ruangan rumahnya dan banyak tamu datang untuk mengucapkan selamat atas kelahiran buah hati Launa dan Raka. Ia menoleh ke arah Raka yang berjalan di sebelahnya.
"Sayang mengundang semua orang untuk menyambut kedatanganku dan bayi kembar kita setelah melahirkan?" tanya Launa to the point.
Raka mengangguk cepat dan ia menggenggam tangan Launa di sebelah kirinya.
"Iya, aku sengaja mengadakan acara syukuran atas kelahiran dua bayi kembar kita agar mereka tahu kita sudah menjadi orang tua. Lihatlah wajah bahagia Mama dan Nenek yang terus mengajak berbicara dengan bayi kembar kita sampai melupakan tamu undangan yang ingin mengucapkan selamat."
__ADS_1
"Iya, aku senang melihat Mama dan Nenek bahagia. Terima kasih Kak Raka." perkataan Launa membuat Raka mengerutkan keningnya merasa binggung.
"Terima kasih untuk apa?" tanya Raka.
Launa yang melihat wajah binggung Raka yang sangat lucu dan menambah ketampanannya itu. Ia langsung mencubit hidung mancung Raka.
"Terima kasih sudah menjadi suamiku dan papa dari kedua bayi kembarku. Aku sangat bersyukur telah memilikimu." jawab Launa membuat Raka tersenyum bahagia mendengar perkataannya.
"Alhamdulillah, aku bahagia jika kamu bahagia Launa. Aku bersyukur mendapatkan pasangan sefrekuensi denganku." sahut Raka jujur.
"Bagaimana kita bergabung dengan Mama dan Nenek disana? Mereka sibuk dengan bayi kita hingga melupakan kehadiran para tamu." ajak Raka dan Launa mengangguk cepat.
Akhirnya, Raka dan Launa berjalan menuju ruang keluarga untuk menemui Mama Siska dan Nenek Melati yang sibuk dengan dua bayi mungil mereka.
Di tengah perjalanan mereka, banyak tamu undangan mengucapkan selamat atas kelahiran dua bayi mungil mereka. Salah satu tamu undangan Raka dan Launa yaitu Dion dan dua dokter yang menangani operasi Papa Rayhan ikut menghadiri acara syukuran di rumah Raka.
"Selamat atas kelahiran anak kembarnya Tuan,"
"Selamat Tuan, Nona sudah menjadi papa dari dua bayi kembar."
"Selamat bayi kembarnya imut dan pintar seperti Tuan dan Nona."
Begitulah kira-kiranya semua ucapan para tamu atas kelahiran dua bayi mungil Raka dan Launa.
"Wih, Tuan Raka sudah menjadi papa keren dan mapan untuk dua bayi mungilnya, selamat ya Tuan," ucap Dion dengan menjabat tangan Raka dan Raka menyambutnya dengan antusias.
"Terima kasih Dokter Dion sudah datang di acara syukuran anakku ini. Terima kasih dua dokter yang datang kesini." Raka mengucapkan terima kasih atas tiga dokter hebat yang mau menolong Papa Rayhan. Tetapi Tuhan berkehendak lain.
__ADS_1
"Iya, seharusnya kami yang berterima kasih atas kebaikanmu, Tuan. Sudah membantu memberikan dana yang sangat besar pada rumah sakitku. Jika tidak ada dana atas kejadian itu aku belum bisa memulai bisnisku lagi karena satu-satunya bisnisku berkembang di rumah sakitku itu." sahut Dion dengan tatapan sendunya.
Raka menepuk pundak Dion agar tidak berkecil hati atas musibah itu.
"Sudahlah, jangan dipikirkan. Sesuatu yang sudah terjadi, biarlah berlalu dan kita semua berhak membuka lembaran kehidupan baru." balas Raka memberi semangat pada Dion dan dokter lainnya.
"Baiklah, aku dan istriku kesana dulu. Silahkan mencicipi hidangan makanan dan minuman yang tersedia." pamit Raka yang mengandeng tangan Launa agar mengikuti langkah kakinya menuju ke ruang keluarga.
Sesampainya di ruang keluarga, Raka dan Launa berdiri di hadapan Mama Siska dan Nenek Melati yang tidak menghiraukan keberadaan mereka.
"Ehem... Bahagianya Mama dan Nenek bermain dengan bayi kembar L." sindir Raka pada Nenek Melati dan Mama Siska.
Dengan sebutan bayi kembar L merupakan nama dua bayi mungil Raka dan Launa. Dimana bayi perempuan bernama Lisa Salisa Raka dan nama bayi laki-lakinya bernama Lino Ramadhan Raka. Dua bayi mereka disematkan nama Raka dibelakangnya. Dua nama yang diberikan oleh Raka sewaktu di rumah sakit, sempat membuat Launa mengambek kesal. Bagaimana Launa merasa tidak kesal, Raka memberi namanya di ujung nama dua bayi mereka. Sementara Launa yang mengandung selama 9 bulan tidak ada nama yang tercantum.
Setelah adanya kompromi kedua belah pihak, akhirnya, Launa menyetujuinya karena ia tahu Raka kepala rumah tangga dan memiliki tanggung jawab besar untuk menghidupi keluarga kecil mereka.
"Iya, Mama dan Nenek senang dengan bayi kembar L udah pintar senyum. Mana wajah mereka imut pula." sahut Mama Siska sembari memberi tempat duduk pada Launa dan Raka.
"Syukurlah, bayi kembar L udah pintar senyum. Itu berarti udah bisa tambah adik lagi nih," ucap Raka dengan polosnya membuat Launa mencubit perut Raka dengan keras hingga Raka meringis kesakitan.
"Sayang, jangan jahat begitu, sakit tahu perut sispek aku. Kamu gak kasihan apa dengan aku yang kurang istirahat." sahut Raka dengan wajah sedihnya membuat Launa merasa bersalah.
"Iya, maafin aku, sayang. Aku gemas mendengar katamu tadi. Padahal luka abis lahiran belum kering dan bayi kembar L masih kecil. Bisa ditunda dulu rencana program hamil lagi." jelas Launa dan dijawab acungan jempol oleh Raka.
Mama Siska dan Nenek Melati yang melihat drama kecil diantara Raka dan Launa. Mereka selalu berdoa agar rumah tangga Raka dan Launa tetap bahagia hingga tua. Tidak ada lagi adanya pelakor dan penjahat yang menggangu rumah tangga Raka dan Launa.
Begitupula dengan Raka yang sedang tersenyum bahagia menatap wajah cantik Launa yang sedang mengajak berbicara dengan kedua bayi kembar L mereka. Ia sangat bersyukur karena dirinya bisa sampai di titik bahagia ini.
__ADS_1
"Semoga hidup kita selalu bahagia hingga tua nanti tanpa adanya orang yang menjatuhkan kita, semoga hidup kita tenang dan selalu bersyukur tanpa merebut kebahagiaan orang lain." doa Raka tulus dalam hati pada Tuhan agar melindungi keluarga kecil mereka agar tetap bahagia.
*Tamat*