
Sekarang sukma Raka telah kembali pada raganya. Ia membuka kedua bola matanya dan dilihatnya ke sekeliling ruangan kerjanya. Raka merebahkan diri di atas kasur untuk mengistirahatkan tubuhnya terasa lelah saat bertapa selama satu jam.
Raka menatap ke arah langit-langit ruangan, ia memikirkan cara untuk mendapatkan kebenaran yang terjadi. Ia menoleh ke arah meja sofa yang ternyata ada ponselnya. Diraihnya ponselnya untuk menelpon seseorang.
"Hallo Tuan," ucap Zack saat menerima sambungan telepon dari Raka.
"Zack, cari informasi tentang Perawat Irma dan buat dia kehilangan pekerjaannya serta jangan beri dia peluang untuk mendapatkan pekerjaan!" sahut Raka.
"Baik Tuan, saya akan melakukannya." balas Zack cepat.
"Satu lagi Zack, dapatkan rekaman video CCTV di rumahku yang error itu! Sepertinya ada yang membuat video CCTV rusak. Saya tunggu satu jam dari sekarang!" setelah mengatakan itu Raka langsung mematikan sambungan panggilan telepon secara sepihak. Ia terlihat berpikir keras untuk memecahkan permasalahan Launa yang sempat ia lihat dan rasa kasihan pada keluarga Launa membuat Raka bersikeras untuk mendapatkan kebenaran dari kasus sore hari.
"Haus sekali tenggorokanku. Jam sudah jam 10 malam lagi. Pasti para pelayan sudah beristirahat. Lebih baik aku ambil sendiri saja. Daripada berteriak tidak jelas." Raka bangun dari posisi berbaringnya agar bisa berjalan menuju keluar pintu ruangan.
Raka menuruni anak tangga menuju ke ruang dapur. Samar-samar suara kedua orang berbicara membuat Raka menyerhitkan keningnya merasa binggung. Tidak ingin merasa penasaran tingkat dewa, ia menghampiri sumber suara itu.
"Jadi kamu yang mencuri perhiasan Nyonya besar dan merusak hasil rekaman video CCTV di rumah ini?" tanya Klodi -- Pelayan rumah Raka.
"Hush... Kamu bisa memperkecil tidak suaranya. Nanti ada orang yang dengar." jawab Ria dengan tatapan mengawasi ke sekelilingnya.
Bukannya mendengar perkataan Ria, Klodi semakin memperjelas suaranya.
"Ya ampun Ria, Kamu tidak punya hati dan perasaan ya untuk menfitnah dan menjatuhkan orang lain. Sadar Ria, jangan mementingkan egomu. Apa kamu tidak kasihan atas resiko yang diterima oleh Launa atas kejahatanmu ini?" ucap Klodi memarahi Ria dengan tatapan tajamnya.
"Cukup Klodi! Kamu tidak tahu dengan perasaanku selama ini! Aku sangat kecewa, Tuan Raka tidak membalas cintaku selama ini. Semenjak kehadiran Launa di rumah ini aku tidak bisa berusaha mencari perhatian pada Tuan Raka. Apa kamu pernah berpikir dengan perjuanganku selama ini sangat sia-sia untuk mendapatkan cintanya?" sahut Ria jujur.
__ADS_1
Klodi menggeleng tidak setuju atas alasan klasik Ria yang tidak etis. Ia tidak tertarik untuk bersimpati pada toxic seperti Ria.
"Aku tidak puas atas alasan klasikmu yang tidak tepat! Aku sangat kecewa karena pernah mempercayaimu yang aku anggap wanita baik-baik. Aku akan memberitahu Tuan Raka atas perbuatan kejimu, Ria! Kamu berhak mendapatkan hukuman atas perbuatanmu agar kamu bisa sadar dengan perbuatanmu yang salah ini." setelah Klodi mengatakan itu ia melangkah pergi dari hadapan Ria tapi tangannya ditahan oleh Ria membuat Klodi memberontak.
"Lepaskan! Aku jijik ditarik oleh tangan kotormu, Ria! Aku mau beritahu pada Tuan Raka saja!" ucap Klodi berusaha melepaskan tangan Ria yang menahan tangannya.
Raka yang sedari tadi berdiri di belakang lemari piring dan emosinya yang meledak-ledak itu. Ia langsung melangkah tegas menuju ke arah kedua pelayan rumahnya.
"Bagus! Bagus sekali kalian! Sekarang sudah berani menjadi pengkhianat!" ucap Raka dengan suara beratnya dan senyuman miring itu membuat Ria dan Klodi menelan salivanya dengan susah payah.
"Tuan, saya tidak ada sangkut pautnya atas kejahatan Ria. Saya baru tahu saat Ria menceritakan pada saya tadi. Tolong jangan hukum saya! Hukum Ria saja yang berhati iblis itu," ucap Klodi dengan menghempaskan tangannya dari tarikan Ria. Ia mengatup kedua tangannya di hadapan Raka untuk meminta maaf.
"Diamlah! Saya tidak butuh penjelasan dari kalian." Raka menoleh ke arah belakang yang ternyata ada Jimmy -- bodyguard rumahnya yang sedang berjaga.
"Jimmy!" ucap Raka.
"Bawa dua pengkhianat ini di ruang keluarga! Aku ingin memberi mereka hukuman!" titah Raka yang langsung melangkah pergi dari hadapan mereka tanpa mendengarkan permintaan maaf dari kedua pelayan rumahnya.
Raka mengambil ponsel dari saku celananya untuk memanggil kepala bodyguard baru di rumahnya.
"Hans! Panggil seluruh pelayan di rumah ini! Kumpulkan mereka di ruang keluarga lantai dasar sekarang!" ucap Raka melalui sambungan teleponnya dan ia mematikan sambungan panggilan masuk secara sepihak.
Langkah kakinya terhenti di depan pintu ruang kamar Nenek Melati.
Tok! Tok! Tok!
__ADS_1
Tidak ada suara seseorang di dalam ruangan, pasti neneknya sudah tidur. Tapi, apa boleh buat, Raka harus membangunkan nenek agar bisa meluruskan permasalahan ini. Raka membuka pintu dengan kunci cadangan rumahnya untuk masuk ke dalam ruangan.
Di dalam ruangan, Raka melihat neneknya sedang tertidur pulas di atas kasur empuk berukuran king size. Raka yang merasa tidak tega untuk membangun neneknya, ia langsung menggendong tubuh neneknya yang sedang tertidur menuju ke ruang keluarga.
Setelah sampai di ruang keluarga, Raka membaringkan tubuh neneknya di atas sofa ruang keluarga. Ia membisikkan kata di telinga neneknya.
"Nenek, tolong bangun sebentar! Raka ingin memberitahu orang yang mencuri perhiasan nenek," ucap Raka dengan sedikit berbisik.
Nenek Melati tampak gelisah karena tidurnya diganggu oleh Raka.
"Raka, bukankah Launa yang mencuri perhiasan nenek? Lalu kalau bukan Launa, siapa pencuri sebenarnya?" tanya Nenek Melati dengan kedua bola mata terpejam dan sukmanya masih di alam bawah sadarnya.
"Ria pencuri perhiasan nenek." jawab Raka membuat kedua bola mata nenek terbuka lebar dan tatapan matanya bertemu dengan wajah tampan Raka.
"Raka, jauhkan wajahmu dari nenek! Nenek hampir terkejut setengah mampus," ucap Nenek Melati seraya mendorong wajah Raka dengan pelan.
Raka menyenggir kuda saat neneknya mengusir dirinya.
"Baiklah, setidaknya aku berhasil membangunkan nenek." Raka membantu Nenek Melati agar duduk dengan rapi.
"Kenapa mengendong nenek di ruang keluarga? Kamu mau memberi hukuman pada pengkhianat itu?" tanya Nenek Melati dengan tatapan mata menuju ke arah sekeliling ruangan.
"Benar Nek. Lihatlah sekarang jam 10 malam dan aku akan mengambil waktu satu jam saja untuk meluruskan permasalahan ini." jawab Raka dengan tatapan mengarah pada semua pelayan berpakaian tidur yang sedang berjalan mendekatinya untuk berkumpul di ruang keluarga.
"Hans! Bawa Ria dan Klodi di hadapanku!" titah Raka.
__ADS_1
"Baik Tuan." sahut Hans yang menarik paksa tangan Ria dan Klodi agar mengikuti langkah kakinya menuju ke arah Tuan Raka.
"Kenapa kalian berbuat jahat pada Launa? Ada dendam apa yang membuat kalian menjebak Launa hingga mendapatkan fitnah dan tuduhan yang tak sebenarnya terjadi?" tanya Raka to the point.