
Nenek Melati yang mengikuti tatapan mata Raka yang sedang menyelidiki salah satu pelayan wanita yang terlihat memucat itu membuat dirinya tersenyum miring.
"Ria, bisa kesini!" ucap Nenek Melati membuat Raka menoleh ke arah Neneknya.
Ria yang mendengar namanya disebutkan oleh Nyonya besar, ia langsung melangkahkan kakinya dengan sedikit gemetar.
"Baik Nyonya." sahut Ria.
"Benar sekali, tidak salah lagi dengan perasaanku mengatakan dia pelakunya. Nenek Melati pun bisa mendeteksinya." kata Raka dalam hati.
Raka menatap ke arah Ria yang telah berdiri sopan di hadapannya. Ia mendengar beberapa pertanyaan yang Nenek Melati berikan pada Ria.
"Ria, apa kamu tahu siapa yang berani masuk ke dalam ruang kamarku?" tanya Nenek Melati berbasa-basi.
"Ti-tidak Nyonya." jawab Ria terdengar terbata-bata.
"Lalu, menurutmu siapa yang berani mencuri perhiasan emas dan ATM saya? Jika kamu bisa menunjukkan siapa orangnya, saya akan menaikkan gajimu dua kali lipat. Beserta bukti fisiknya pada saya," ucap Nenek Melati menawarkan keuntungan pada Ria yang sepertinya menyembunyikan sesuatu.
"Bukan dua kali lipat Nek, Raka akan tambahkan empat kali lipat saja bagi orang yang berhasil menemukan siapa pencurinya. Tidak perlu bermain kasar dengan menakuti semua karyawan atas ancaman kejam Raka. Raka masih lelah pulang dari kerja. Cukup bermain cantik saja untuk mengetahui siapa pencurinya. Benar begitu Ria?" sahut Raka dengan tatapan intens menuju ke arah Ria.
"Benar Tuan." jawab Ria cepat.
Raka menoleh ke arah Nenek Melati yang ingin mengeluarkan kata tajamnya.
__ADS_1
"Nek, biarkan Raka saja yang menyelesaikan permasalahan ini. Nenek cukup duduk cantik disini saja." setelah mengatakan itu Raka berjalan mendekati Ria dan ia mengelilingi tubuh mungil Ria untuk mencium bau kebohongan atau kejujuran dari tubuhnya.
"Hem... Saya mencium bau kebohongan. Apa benar kamu sedang berbohong Ria? Apa kamu yang mencuri perhiasan emas dan ATM Nenek saya? Jika benar, kamu cukup mengaku saja. Saya tidak akan marah dan tidak akan memecat kamu bekerja disini. Tapi, kamu wajib mengembalikan barang nenek saya dan masalah penawaran gaji akan tetap saya berikan asalkan kamu tidak mengulangi perbuatan ini lagi." perkataan Raka membuat Nenek Melati dan seluruh karyawan di rumahnya dibuat terkejut.
"Ternyata Tuan Raka dan Nyonya Melati memiliki indera keenam. Aku rasa Ria pelakunya karna dia selalu bersikap aneh." batin Ibu Rika.
Ria hanya diam saja, ia merubah tatapan dinginnya pada Raka. Ia tidak ingin dipermalukan tanpa adanya bukti fisik.
"Maaf Tuan, saya beneran tidak tahu siapa pencurinya. Mohon jangan menuduh saya, saya tidak tahu apa-apa tentang permasalahan ini. Bisa saja orang lain yang menyusup di rumah Tuan untuk mencuri barang semewah itu. Saya masih memiliki nalar dan logika yang baik dalam berpikir agar tidak mengancam pekerjaan saya disini. Saya sadar diri kalau saya ini orang miskin yang selalu dihina dan dicurigai. Tapi, mohon kali ini Tuan percayalah saya bulan pencurinya. Saya percaya semua karyawan Tuan adalah orang baik dan konsisten dengan sumpah janjinya sebelum bekerja di rumah Tuan." jelas Ria panjang lebar di hadapan Raka. Ia berhak membela diri untuk harga dirinya tidak diinjak-injak oleh orang lain.
Raka yang mendengar pembelaan diri dari Ria, ia memejamkan kedua bola matanya sejenak untuk berpikir jernih.
"Benar katamu, Ria. Kalau menuduh itu wajib ada bukti fisiknya. Maafkan saya yang terbawa perasaan dan saya rasa harus membuka video CCTV di rumah ini agar tidak ada orang yang akan terkena tuduhan lagi," ucap Raka mantap.
"Apa maksudmu, Ria?" tanya Raka dan Nenek Melati secara bersamaan.
"Saya hanya memprediksi saja, buktinya Launa sedang tidak berkumpul disini. Bisa saja Launa merasa ketakutan karna kejahatannya terbongkar." jawab Ria mencoba menghasut Tuan Raka, Nyonya Melati dan seluruh pelayan rumah agar memberikan rasa simpatik pada dirinya. Dengan ekspresi wajahnya yang menyakinkan dan berwajah duanya Ria mampu membuat semua orang percaya atas perkataannya. Ia melihat Tuan Raka dan Nyonya Melati tampak berpikir keras.
"Jika Tuan dan Nyonya tidak percaya dengan kata saya. Setidaknya cari keberadaan Launa untuk menanyakan perihal masalah ini." lanjut Ria.
"Hem... Kamu benar. Ilham panggilan Launa sekarang!" titah Raka pada kepala bodyguard di rumahnya.
"Baik Tuan." Raka melihat kepergian Ilham yang mencari keberadaan Launa di seluruh ruangan rumahnya.
__ADS_1
Raka memilih duduk di sofa yang berada di sebelah Nenek Melati yang tampak meragukan perkataan Ria.
"Nenek sabar dulu, kita buktikan perkataan Ria itu benar atau tidak. Sebenarnya Raka bisa menghandalkan ilmu sihir untuk menemukan pelaku pencurinya. Tapi, kita nikmati saja permainan kecil ini," ucap Raka dengan tenangnya.
Sementara Launa yang sedang berada di tempat kebun binatang yang baru dibangun di dekat parkiran kendaraan yang di sebelah kanan rumah. Launa tampak bahagia melihat berbagai hewan lucu seperti: anak ayam, anak bebek, anak angsa dan ikan lele yang hidup dalam kandangnya masing-masing.
Launa memegang dua anak ayam warna-warni yang imutnya luar biasa. Ia mengelus bulu ayam dengan gemas sebagai penghipur lara dikala ia merasa kesepian karna semua pekerjaan rumah mewah Raka sudah selesai dikerjakannya. Daripada Launa berjalan bolak-balik di setiap ruangan untuk mencari sesuatu untuk dibersihkan. Lebih baik ia datang ke tempat kebun binatang mini saja. Agar ia tetap waras dalam pikirannya.
"Huh, mau mengeluh lelah karna aku sedang kuliah sambil kerja. Tapi, kalau aku tidak kerja, aku tidak menghasilkan uang dalam membantu perekonomian kedua orang tuaku. Apalagi, Kak Raka selalu baik padaku. Aku mana mungkin menolak kebaikannya karna memberikan pekerjaan dengan gaji yang fantastis," ucap Launa dengan posisi jongkoknya dengan kedua tangan memeluk kedua lututnya. Ia menatap gerak-gerik hewan anak ayam lucu sedang makan dan berlari kecil.
"Lucu sekali anak ayam ini, rasanya aku ingin memeliharanya di rumah. Apalagi ayam warna-warni kota dan ayam bertelur kampung yang sangat bermanfaat jika besar nanti bisa dikurbankan."
Sedangkan Ilham yang mencari keberadaan Launa di seluruh ruangan rumah mewah Raka hingga menuju taman belakang. Ia tidak menemukan keberadaan Launa.
"Dimana keberadaan Launa sekarang? Apa dia kabur dari rumah ini?" tanya Ilham dalam hati. Kedua kakinya Ilham terasa lelah karna memeriksa seluruh bangunan mewah berlantai empat dengan menggunakan tangga.
"Hah... Hah... Capek sekali aku hari ini, tapi tidak apa-apa. Anggap saja, aku sedang berolahraga untuk mencari Launa. Jika Launa tidak ada di seluruh ruangan rumah dan taman belakang. Berarti ada tiga tempat lagi yang belum aku temui. Kalau bukan taman depan rumah, ruang parkiran kendaraan dan taman kebun mini."
"Oh iya, Launa suka dengan binatang anak ayam. Pasti dia berada disana." tidak ingin menunda waktu, Ilham langsung melangkahkan kakinya menuju ke area tempat taman mini belakang.
"Ketemu, benar dugaanku kalau Launa berada disini." batin Ilham dalam hati. Tatapan matanya fokus ke arah seorang wanita yang sedang duduk membelakangi dirinya.
"Launa, masuk ke dalam rumah! Tuan Raka ingin bertemu denganmu," ucap Ilham sedikit berteriak membuat Launa menoleh ke arah Ilham dengan tatapan binggung.
__ADS_1