
Setelah kepergian Mita dan Papa Leo, Raka baru bisa bernafas dengan lega. Bagaimana Raka merasa tegang dan terusik, jika Mita dan Papa Leo membawa bodyguard vampir yang ia tidak tahu darimana asal-usul mereka mendapatkan ilmu hitam itu.
Memang terdengar aneh tapi nyata, di jaman modern ini masih ada yang menganut ilmu vampir atau biasanya disebut setengah manusia setengah vampir yang bisa keluar di siang hari.
Raka berjalan mendekati Nenek Melati yang terlihat pucat dan diam.
"Nek, tenang saja, semua akan baik-baik saja. Jangan dengarkan omongan kosong mereka. Aku pastikan itu semua tidak akan terjadi," ucap Raka seraya menggenggam tangan keriput Nenek Melati yang terasa dingin.
Nenek Melati yang sedang berpikir keras dan menerka-nerka kejadian apa yang terjadi selanjutnya membuat ia takut karena ia tahu betul sifat asli Leo dan Mita yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkannya. Nenek Melati menoleh ke arah Raka yang menatap sendu ke arah dirinya.
"Nenek percaya dengan sikapmu selalu melindungi keluarga kita. Bisa saja kamu berhasil melindungi keluarga kita dari serangan gaib Leo dan Mita. Tetapi, bagaimana dengan nasib Launa dan kedua orang tuanya yang tidak memiliki ilmu sihir atau pengaman di tubuhnya? Mereka dengan mudah tertimpa ilmu sihir santet dan lainnya. Itulah yang menjadi pilihan Nenek, Raka." Nenek Melati menjelaskan panjang lebar pada Raka.
Raka menghela nafas kasar dikala ia teringat sisi gelap Leo dan Mita saat menyakiti dirinya dulu.
"Astaghfirullah, aku tidak ingin kisah kelam ini sampai terulang kembali. Apalagi Launa dan kedua orang tuanya ikut terseret oleh kasus lama yang tak pernah aku lakukan." sahut Raka dengan gusar.
"Zack!" panggil Raka yang menatap ke arah Zack yang masih berdiri di sebelah Nenek Melati.
"Iya Tuan. Bolehkan saya membantu Tuan dan Nyonya besar untuk menyelesaikan permasalahan ini? Mohon maaf sebelumnya, saya keturunan keluarga elf dan sedikit memiliki ilmu sihir untuk penawar kaum vampir." jawab Zack.
Seketika Raka membulatkan kedua matanya saat mengetahui kejujuran Zack.
__ADS_1
"Jadi, kamu tidak seratus persen keturunan manusia? Kamu hampir sama sepertiku berasal dari keturunan ilmu sihir dari penyihir dan setengah manusia?" tanya Raka dan dijawab anggukan cepat oleh Zack.
"Baiklah, terima kasih sudah berniat membantuku Zack, tapi tolong pantau terus keberadaan Tuan Leo dan Mita. Aku tidak ingin mereka berbuat nekat lagi." jawab Raka.
"Baik Tuan, saya akan melakukannya sekarang." pamit Zack langsung undur diri dari hadapan Raka dan Nenek Melati.
"Nenek, minum dulu." Raka memberi minum air putih pada nenek Melati.
"Baiklah." Nenek Melati meneguk habis air putih yang diberikan oleh Raka.
Drt... Drt... Drt...
Baru saja, Raka ingin mengambil gelas untuk diisinya air putih. Ia mendengar suara panggilan masuk dari ponselnya. Ia pun menaruh kembali gelas di atas meja dan ia mengambil ponsel di dalam saku celananya.
"Iya Dion, ada apa?" ucap Raka melalui sambungan panggilan masuk di ponselnya.
"Tu-tuan Raka, tolong aku! Di rumah sakitku terjadi penyerangan oleh para vampir. Kondisi rumah sakitku hancur berantakan dan para karyawanku mati kehabisan darah. Aku dan dokter lain yang hampir selesai melakukan operasi Tuan Rayhan pun berhenti karena lampu rumah sakit mati total. Banyak keributan dan pemberontakan membuat aku dan dua dokter bersembunyi di ruangan persembunyianku. Tolong aku! Tolong istri dan Nyonya Siska yang sepertinya ditangkap oleh rombongan Tuan Leo dan Mita." jelas Dino panjang lebar melalui sambungan panggilan masuk di ponselnya.
Seketika detak jantung Raka berhenti berdetak, ia merasa devaju akan kejadian yang terjadi di rumah sakit. Benar kata Mita yang tidak membiarkan hidupnya bahagia dan melakukan segala cara untuk menghancurkan dirinya dan hidupnya.
"Tidak! Aku tidak boleh kehilangan orang-orang yang aku sayangi. Aku harus menyelamatkan Launa dan Mama Siska yang ditangkap oleh Mita dan Tuan Leo. Tidak, ini belum terlambat, aku harus menyelesaikan permasalahan ini hingga tak ada lagi orang tak bersalah menjadi korban dari permasalahan ini," ucap Raka dengan tatapan kosongnya.
__ADS_1
Sedangkan Nenek Melati yang mendengar penjelasan dari Dokter Dion, ia semakin yakin kali ini sikap kejam Mita dan Leo sepuluh kali lipat dari sebelumnya.
"Ya Allah, aku percaya engkau memberikan cobaan yang bertubi-tubi pada kami yang kuat dan tegar dalam menghadapi permasalahan ini hingga selesai." lirih Nenek Melati yang merasa kasihan pada Raka yang tidak bersalah apa-apa. Tetapi, Leo yang memulai permasalahan lebih dulu pada kedua orang tua Raka. Lalu, kenapa Leo yang memiliki dendam teramat dalam pada Leo tak melakukan kesalahan apapun pada dirinya? Sungguh aneh sekali pola pikir Leo dan anaknya. Tetapi, Nenek Melati mencari cara agar bisa menyelamatkan Launa dan ibunya dari permasalahan tak kunjung usai.
"Raka, nenek ada rencana untukmu. Kali ini, kamu harus mengalah dan bersabar dengan begitu, bisa meredamkan amarah Leo dan Mita," ucap Nenek Melati membuat Raka merasa binggung.
"Seperti apa caranya nek?" tanya Raka lalu Nenek Melati langsung membisikkan sesuatu di telinga Raka.
Dion dan dua rekan kerjanya merasa suasana rumah sakit menjadi kondusif karena tidak ada lagi suara langkah kaki dan keributan dari luar ruangan.
"Sepertinya sudah aman, ayo kita keluar dari tempat persembunyian," ucap Dion mengajak dua rekan kerjanya.
"Dion, aku tidak menyangka di jaman modern sekarang ini masih ada keturunan vampir yang menyerang rumah sakit mewahmu." sahut Zian yang meregangkan kedua otot tangannya merasa kaku karena ia bergantung di atas tiang pintu.
"Entahlah, aku sama berpikir sepertimu. Setidaknya, kita sudah aman." balas Kino cepat.
Dion berjalan mendekati pintu ruangan, ia membuka kunci pintu dan membuka sedikit saja pintunya dan kepalanya menonggol keluar untuk mengintip kondisi di luar ruang. "Kosong dan aman, ayo kita pergi ke ruangan operasi. Untuk menyelesaikan bagian jahitan terakhir pada pasien Rayhan." ajak Dion yang berjalan lebih dulu diikuti oleh kedua rekan kerjanya yang mengiyakan perkataannya.
Setibanya mereka di depan pintu ruang operasi, Dion mencari ponsel di dalam saku celananya untuk menekan tombol pencahayaan pada ponselnya. Disaat lampu pencahayaan ponselnya terpasang dan menyoroti seluruh ruangan rumah sakit. Tatapan matanya terfokus pada satu pasien yang sedang terbaring lemah di atas brankas kasur rumah sakit.
Dion melangkah cepat mendekati brankas kasur operasi pasien. Disaat ia semakin dekat, seketika kedua kakinya terhenti saat kondisi tubuh pasien Rayhan hancur dipenuhi oleh darah.
__ADS_1
"Tidak! Ini tidak mungkin! Jangan bilang para vampir itu termasuk zombie yang menggigit habis organ tubuh manusia," ucap Dion dengan wajah kagetnya saat melihat bagian wajah pasien Rayhan sudah tidak lengkap lagi kedua mata, hidung, bibir dan bagian otaknya dimakan habis oleh vampir kini tinggal tulang belulang di bagian kepalanya.