Sang CEO Tersakiti

Sang CEO Tersakiti
Part 45 Raka Selamat


__ADS_3

Leo yang sedari tadi mengawasi Raka dan Mita dari balik dinding ruangan tidak jauh dari ruang kamar Mita. Ia mengepalkan kedua tangannya saat mendengar bujukan Raka yang dengan mudahnya mempengaruhi Mita agar melepaskannya begitu saja.


"Seenaknya saja, kamu menyuruh anak gadisku untuk melepaskanmu, Raka. Setelah semua perjuangannya yang mencarimu tanpa arah hingga memantapkan diri agar menemuimu menjadi manusia baik. Tetapi, kamu dengan teganya menolak keinginan Mita demi gadis miskin itu. Huh, dasar pria bodoh tak ada akhlak!" maki Leo dalam hati. Ia melangkah cepat mendekati Mita dan Raka.


Prok! Prok! Prok!


Leo bertepuk tangan dengan keras di hadapan Raka dan Mita. Sehingga Mita yang lemah akan bujukkan Raka. Mita langsung menghapus air matanya dengan cepat di hadapan papanya.


"Hebat... Hebat... Hebat sekali ya kamu, Raka. Dengan mudahnya mempengaruhi Mita tanpa menghargai perjuangan Mita untuk menemuimu. Hei Raka! Apa kamu tahu dengan semua penderitaan Mita yang menyesal meninggalkanmu saat lagi cintanya dan kamu hilang tanpa jejak. Belum lagi, Mita mengalami depresi dan penyakit lama kambuh karena terlalu sering memikirkan keberadaanmu, hem? Apa kamu bisa mengerti dengan kondisi Mita selama ini? Apa kamu bisa memahami bahagia Mita yang berhasil menemukan tempat tinggalmu dan memantapkan hati untuk memperbaiki diri agar kamu bisa menerima Mita lagi, walaupun kamu sudah menikah?" berbagai pertanyaan Leo lontarkan pada Raka yang diam di tempat.


Leo menatap wajah tampan Raka yang terlihat diam saja. Ia menghela nafasnya dengan kasar untuk melanjutkan perkataannya.


"Saya rasa kamu tidak punya hati untuk merasa kasihan pada orang lain. Saya sadar kalau saya bukan orang baik tetapi saya berusaha menjadi orang baik demi kebahagiaan anak saya. Tetapi, apa yang Mita dan saya dapatkan setelah bertemu denganmu? Kamu dengan mudahnya menolak permintaan Mita dan mengusir kami. Kamu jahat! Sangat jahat sebagai laki-laki tidak memberi kesempatan berkompromi. Hahaha... Nikmati saya, resiko penolakanmu kemarin. Apa kamu sudah bahagia sekarang setelah menerima resiko itu." Leo tersenyum miring ke arah Raka.


"Resiko selanjutnya yaitu menyiksa istri kesayanganmu dan ibu mertuamu itu, hahaha..." tawa Leo terdengar menyeramkan di indera pendengaran Raka. Suara tawanya menggema di seluruh ruangan lantai tiga.


Raka menelan salivanya dengan susahnya, dapat dipastikan setiap perkataan Leo akan terjadi dan tidak bisa dibantah oleh apapun.


"Ya Allah, beri aku kekuatan untuk menghadapi dua manusia berhati iblis ini. Jika aku sekedar menjelaskan yang sebenarnya saja, mereka pasti tidak menerima penjelasanku. Jika aku menyerang mereka sama saja aku akan mati di tangan mereka dan keluargaku hancur berkeping-keping oleh mereka." kata Raka dalam hati.


Raka menoleh ke arah Mita yang hanya diam saja.


"Baiklah, aku salah karena menolak permintaan Mita dan aku minta maaf atas kesalahanku. Aku benar-benar tidak bermaksud untuk menyakiti Tuan dan Mita. Tetapi, aku ingin membangun hubungan baik seperti dulu lagi, sebelum ada rasa saling menyakiti satu sama lain. Jadi, apa yang kalian inginkan dariku?" ucap Raka meminta pastian pada Leo dan Mita.


Seketika raut wajah Leo menjadi dingin dan datar. Ia tidak mengerti raut pikiran Raka. Tidak sesuai ekspektasinya tadi, ia mengira Raka akan mengamuk dan memberontak. Tapi, nyatanya Raka memilih mengalah saja.


"Mita, keluarkan semua keinginan hatimu. Jika kamu masih menyimpan rasa cinta maka perjuangan cintamu atau abaikan saja jika tidak cinta." tegas Leo.


Mita memejamkan kedua matanya sejenak untuk menjernihkan pikirannya. Ia sedikit terkejut dengan perkataan Raka itu. Ia mengira Raka menolak cintanya. Rupanya Raka memilih mengalah saja.


"Iya Pa, Mita sangat mencintai Raka. Mita tidak ingin kehilangan Raka lagi." Mita langsung memegang tangan Raka dengan erat.


Raka menoleh ke arah tangannya dipegang oleh Mita yang seperti adegan anak yang takut kehilangan ibunya. Lalu, ia mengalihkan pandangannya dari tangan Mita menuju ke arah Leo yang terlihat pusing.


"Kamu yakin menerima Raka secepat ini? Kamu tidak ingin menyelediki unsur apa Raka bisa mengalah saja?" tanya Leo memastikan.


"Raka, katakan apa yang kamu rencanakan pada kami? Saya tidak suka bertele-tele dengan drama klasikmu?" tanya Leo to the point.


"Tentu saja, aku ingin membangun hubungan yang baik agar tidak ada korban yang terluka atas keegoisanku." jawab Raka cepat.


"Maksud saya, kamu pasti memiliki niat untuk menyelamatkan istri dan ibu mertuamu?" tanya Leo lagi dan Raka mengangguk cepat.


"Benar sekali Tuan, saya akan menuruti keinginan Mita. Asalkan Tuan mau menerima syarat saya yaitu membebaskan istri dan ibu mertua saya dari sini. Saya berjanji tidak akan kabur lagi, tapi jangan sakiti orang-orang yang saya sayangi." jawab Raka dengan tatapan sendu ke arah Leo.


"Mita, apa kamu bersedia menerima syarat itu?" tanya Raka pada Mita yang terdiam.


"Apa kamu meragukan keputusanku? Jika kamu tidak percaya sedikit pun lepaskan saja aku dari hidupmu," ucap Raka membuat Mita bergelayut manja di tangan kekarnya.

__ADS_1


"Iya, aku menerima syaratmu, Raka. Tetapi, berjanjilah setelah aku melepaskan istri dan ibu mertuamu. Disaat itulah kamu talak istrimu!" perkataan Mita membuat Raka menelan salivanya dengan susah payah.


Bagaimana bisa Mita memberikan syarat yang membangongkan seperti itu? Bercerai dari wanita yang sangat dicintai sangat sakit dan sulit untuk menyetujui permintaan Mita.


Raka berpikir keras untuk memberi alasan yang tepat pada Mita yang seenak jidatnya menyuruh dirinya bercerai. Padahal kan dia hanya main-main saja dan menyelamatkan istri dan ibu mertuanya dari genggaman mereka.


Leo yang ikut menunggu jawaban Raka yang menjadi bungkam setelah menerima permintaan Mita. Ia semakin yakin kalau Raka hanya main-main saja.


"Kamu serius sama anak saya atau main-main? Awas saja, cuma main-main, saya semakin kejam dan bejat untuk menyakiti orang-orang yang kamu sayangi!" ancam Leo terdengar tak main-main.


Raka menoleh ke arah Mita yang sedang menatap penuh cinta pada dirinya. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah Mita hingga ia berhasil mencium bibir mungil Mita di hadapan Leo. Raka semakin lama mencium Mita hingga melupakan keberadaan Leo.


Leo yang menyadari dirinya menjadi nyamuk diantara Raka dan Mita. Ia langsung melangkah pergi meninggalkan Raka dan Mita.


Setelah melihat kepergian Leo, barulah Raka melepaskan ciumannya dan ditatapnya wajah cantik Mita dengan penuh cinta.


"Maafkan aku, terlalu lancang menyentuhmu. Aku tidak bisa mengontrol nafsu birahiku. Dulu, aku bisa menjagamu dengan baik. Tetapi, setelah aku menikah, aku sudah berbeda dengan pria lajang yang bisa menahan diri dari wanita secantik dirimu," ucap Raka sedikit gombal membuat wajah Mita bersemu merah merona.


Mita malu-malu tapi mau saat Raka mengambil ciuman pertamanya.


"Iya tidak apa-apa, Raka. Aku bahagia ciuman pertamaku diambil oleh kamu." sahut Mita membuat Raka sedikit terkejut.


"Maksudnya kamu tidak mencari pria lain setelah meninggalkanku?" tanya Raka dijawab anggukan cepat oleh Mita.


"Ya ampun, kamu sudah umur 28 tahun dan tidak melakukan apapun. Sungguh kamu hebat sama seperti istriku. Bisa menjaga kesuciannya dari pria yang bukan suami sahnya." lanjut Raka.


"Kamu kenapa, hem? Lagi PMS dan mudah tersinggung? Iya, maafkan aku salah bicara padamu. Sudah lama kali tidak berbicara empat mata sama kamu. Kangen aku bisa bicara santai seperti ini," ucap Raka lagi.


Raka menatap dirinya yang masih mengenakan pakaian pengantin pria. Ia menarik Mita agar melangkah masuk ke dalam ruang kamarnya sejenak.


Baru saja Raka melangkah masuk ke dalam ruang kamar, Mita dengan cepat mengunci pintunya.


"Hei! Apa yang kamu lakukan Mita? Jangan dikunci pintunya! Aku ingin mengajakmu duduk dan bicara saja," ucap Raka tetapi Mita mengarahkan jari manisnya tepat di bibir Raka.


Mita mendorong tubuh Raka hingga terjatuh di atas kasur tidur yang dihiasi oleh berbagai bunga mawar. Ia berusaha menggoda Raka agar ia bisa hamil anak Raka. Sungguh murahan bukan? Sudah merebut suami orang, dan dengan mudahnya memberikan harga dirinya pada pria yang belum menjadi suaminya? Dasar Mita, terlalu bucin sama Raka. Tempenya pun dengan mudah dikasih cuma-cuma.


Raka yang melihat gelagat tidak ramah dari Mita. Ia berusaha menolak sentuhan Mita yang gak ada akhlak itu. Ia menahan tubuh Mita yang ingin naik di atas kasur.


"Hei jangan macam-macam Mita! Kita belum menikah! Tolong, jangan perkosa aku! Walaupun aku sudah menjadi suami orang, tetapi aku masih punya harga diri!" tolak Raka cepat.


"Tidak Raka, tidak lama lagi kita akan menikah. Biarkan saja, kita nikmati sensasi barunya." sahut Mita yang ingin mencium Raka tetapi Raka dengan cepat menahannya.


"Haduh, jangan berbicara seperti itu, Mita. Sadar Mita, perbuatan ini dosa besar dalam agama dan tidak baik hamil duluan sebelum menikah. Apa kamu tidak kasihan jika anak yang lahir dari rahimmu digunjing sebagai anak haram," ucap Raka mencoba mengingat Mita yang tetap pada pendiriannya.


"Masa bodoh dengan omongan kosong mereka! Yang penting aku bisa memilikimu seutuhnya, Raka." Mita langsung melancarkan aksinya pada Raka yang terasa sesak karena tidak bisa menolak penyerangan Mita.


"Launa maafkan aku, aku tidak bermaksud mengkhianatimu. Aku berjanji akan tetap setia setelah ini jadi tolong jangan benci aku." kata Raka dalam hati. Ia hanya diam menyaksikan sikap nekat Mita yang seenak jidatnya menyentuh dirinya.

__ADS_1


Disaat Mita ingin melepaskan masa gadisnya, seketika pintu ruangan dibuka paksa oleh seseorang. Lebih tepatnya, pintu terbuka dengan posisi rusak karena ditendang oleh seseorang.


"Hei pelacur! Menyingkir dari suamiku! Kamu tidak berhasil menyentuh apapun yang ada pada suamiku!" ucap seorang wanita yang berdiri di sebelah seorang pria yang menendang pintu hingga rusak.


Raka yang melihat kedatangan Zack, Launa dan Mama Siska. Ia langsung mendorong tubuh Mita hingga terjatuh di atas lantai.


"Haduh sakit." Mita meringis kesakitan tapi tak dihiraukan oleh Raka.


Raka bangun dari posisi tidurnya dan ia berjalan menuju Launa.


"Launa, kamu tidak apa-apa? Apa yang terluka pada dirimu?" tanya Raka yang telah berdiri di hadapan Launa dan ia memeriksa seluruh bagian tubuh Launa karena takut terjadi apa-apa.


Launa tersenyum mendengar perkataan Raka yang selalu perhatikan pada dirinya.


"Tidak kak, aku baik-baik saja. Berkat Kak Zack yang menyelamatkan aku dan mama di ruang bawah tanah. Kami bisa keluar dengan selamat dan aku bersyukur berhasil menyelamatkan kakak tepat waktu. Jika saja terlambat satu detik saja kakak sudah menjadi milik dia." jawab Launa dengan mengarahkan jari telunjuknya pada Mita yang berusaha bangun dari posisi duduknya.


Mita yang melihat adegan romantis Raka dan Launa membuat ia murka.


"Hei enak sekali kalian bisa hidup bahagia! Takkan ku biarkan Raka menjadi milikmu! Raka milikku selamanya. Lihatlah betapa hebatnya aku saat Raka menikmati sentuhanku itu. Kamu pasti kecewa kan sudah aku sentuh sedikit suamimu," ucap Mita mencoba mencari kompor agar hubungan Launa dan Raka pecah.


Raka yang menerima tatapan tajam Launa, ia langsung menggendong Launa ala bridal style saja untuk menjauhi ruangan itu.


"Zack, cepat urusi wanita itu agar tidak salah bicara! Dia sudah menjadi wanita penggoda tak ramah bertemu dengan pria beristri!" titah Raka pada Zack yang berdiri di sebelahnya.


"Baik Tuan." jawab Zack cepat.


"Oh ya Zack, jangan lemparkan dia pada pria hidung belang. Dia masih perawan, kamu cukup kurungkan saja dia di ruang bawah tanah sama seperti Launa agar dia bisa merasakannya." sahut Raka dan Zack mengangguk mengiyakan perkataan Tuan Raka.


"Mama, Raka bawa pulang Launa dulu. Dia pasti salah paham atas karangan Mita itu. Aku tidak mau rumah tanggaku pecah atas kesalahpahaman." pamit Raka pada Mama Siska yang terlihat pucat menahan lapar.


"Iya Raka, tunggu Mama mau ikut pulang bersama kamu saja. Mama lapar banget." sahut Mama Siska yang mengikuti langkah kaki Raka menuju ruang lift.


"Kak Raka, lepaskan aku! Jangan gendong aku seperti ini! Aku mau jalan sendiri!" ucap Launa yang baru mengeluarkan suaranya setelah mendiami Raka. Ia ingin memberontak agar Raka menuruninya.


"Tidak sayang, aku akan menggendongmu sampai di rumah kita. Aku yakin kamu pasti lapar karena tidak diberi makan. Aku tidak ingin kamu jatuh pingsan karena marah padaku." sahut Raka mempererat pegangan gendongannya dari tubuh Launa.


Raka melirik jam di tangannya yang menunjukkan pukul 5 sore. Ia menghela nafas kasar saat memikirkan nasib istri dan ibu mertuanya yang dikurung di ruang bawah tanah tanpa diberi makan.


Launa yang melirik pakaian pengantin pria yang dikenakan oleh Raka, ia semakin murka bukan main.


"Kak Raka sudah menikahi pelakor itu?" tanya Launa dan Raka langsung menggeleng cepat.


"Tidak sayang, aku masih memiliki satu istri dan tidak mengkhianati cintamu. Tadi itu Mita berusaha menjebakku dengan berbagai pilihan klasik. Aku ingin menolaknya tapi aku tidak bisa." jawab Raka dengan tatapan sendunya di hadapan Launa.


"Sudahlah Launa, simpan dulu tenaganya kita belum makan. Apa kamu lupa kalau kita butuh menyimpan sedikit tenaga untuk hidup." celetuk Mama Siska yang terlihat pucat menahan lapar.


"Ma, kalau boleh tahu, bagaimana Mama dan Launa bisa selamat? Sedangkan Zack dan beberapa bodyguardku memiliki sedikit ilmu elf saja?" tanya Raka membuat Launa dan Mama Siska yang teringat dengan perjuangan Zack dan beberapa bodyguard yang berhasil menyelamatkan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2