
Setelah menyelesaikan jadwal rapat dimajukan oleh rekan bisnisnya, Raka berniat untuk pulang lebih dulu. Ia ingin membelikan makanan kesukaan Nenek Melati. Sudah lama Raka tidak melihat Nenek Melati setelah dia pulang dari rumah sakit.
"Aku beli susu coklat dan kue cemilan kesukaan nenek saja. Sudah lama aku tidak melihat wajah bahagia nenek," ucap Raka bergegas keluar dari ruangannya.
Raka yang telah sampai di depan mobilnya, ia membuka pintu mobil untuk melangkah masuk ke dalam mobil. Ia menstarter mobil untuk melanjutkan kecepatan mobil meninggalkan area pekarangan parkiran.
Di sepanjang jalan terasa sepi karena jam masih menunjukkan pukul 14.30 siang. Ia langsung membeli makanan untuk neneknya. Setelah cukup barulah ia membayar belanjaannya di tempat kasir lalu mengendarai mobilnya menuju ke rumah mewahnya.
Tit! Tit!
Raka memberikan tlakson mobil saat mobil di hadapannya ingin belok ke kanan tanpa ada retting kanan mobil.
"Bisa-bisanya orang yang membawa mobil itu tidak menekan retting kanan mobil. Kalau aku tidak teliti, aku sendiri yang menabrak mobil sejuta umat," ucap Raka yang terlihat menahan emosi dan tatapannya fokus ke arah depan.
Tidak ingin menyia-nyiakan waktu, ia mempercepat laju mobilnya hingga sampai di depan gerbang tinggi bernuansa gold yang dibukakan secara otomatis dan mengurangi pekerjaan satpam rumahnya.
Raka memasuki mobil menuju area pekarangan rumah mewahnya. Ia menghentikan laju mobil di depan pintu utama. Baru saja Raka melangkah keluar dari mobil dan ia berjalan melewati beberapa pelayan yang berkumpul untuk menyambut kedatangannya itu. Raka mendengar suara keributan dari dalam rumahnya. Ia menghela nafas kasar saat melihat Nenek Melati yang sudah tiba di rumahnya dan marah-marah tidak jelas.
"Baru saja aku datang ke rumah dan mau menyuruh pelayan untuk membawakan belanjaanku. Aku sudah mendengar suara keributan di rumahku. Huh... Apa yang terjadi, nek?" ucap Raka yang melihat Nenek Melati memasang wajah kusamnya di hadapannya. Ia mengulurkan tangannya untuk mencium punggung tangan Nenek Melati.
Nenek Melati menerima uluran tangan Raka dan ia mengajak Raka agar masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Raka, lihatlah tas nenek ditinggal sebentar ke taman belakang rumahmu. Semua perhiasan dan ATM nenek hilang di dalam tas." jelas Nenek Melati membuat Raka menyerhitkan keningnya merasa binggung.
"Maksudnya Nek?" tanya Raka pada Nenek Melati untuk meminta penjelasan lebih.
"Jadi begini, Nenek sudah sampai satu jam yang lalu. Nenek yang tidak menemukan keberadaan Launa di dalam rumah, Nenek memutuskan untuk menghirup udara segar di taman belakang yang dipenuhi oleh berbagai tanaman hias yang tumbuh mekar. Begitu Nenek merasa bosan dan Nenek ingin mengambil ponsel untuk menanyakan keberadaan kamu kapan pulang? Nenek memutuskan untuk pergi menuju ruang kamar utama di lantai dasar saja karena Nenek tidak suka naik tangga dan naik ruang lift. Rupanya Nenek yang melihat tas selempang dan tas koper sudah terbuka dan semua barangnya berantakan dan berhasil membuat Nenek mengamuk besar." jelas Nenek Melati panjang lebar. Untung saja Raka sudah pulang dari kantor perusahaannya, dengan begitu Nenek Melati tidak menyulitkannya untuk menggunakan ilmu sihir yang tidak pernah digunakannya lagi.
Raka yang mendengar penjelasan panjang lebar dari Neneknya membuat ia menghela nafasnya dengan kasar.
"Nek, kita duduk dulu untuk menenangkan diri. Kita bisa kumpulkan semua pelayan di rumah ini agar bisa bertanya siapa yang masuk ke dalam kamar Nenek? Bila perlu membuka hasil rekaman CCTV agar tahu siapa yang pencurinya?" ucap Raka menenangkan Nenek Melati dan ia merangkul tubuh Nenek Melati agar duduk di sofa ruang tamunya.
Sebenarnya, Raka sedikit lelah setelah melakukan rapat dadakan dan menyetir mobil yang hampir menabrak orang yang menyetir ugal-ugalan di jalanan dan sampai di rumah Raka dikejutkan dengan masalah barang emas dan ATM Nenek Melati hilang di dalam tasnya. Sungguh melelahkan tapi nyata untuk mengatasi semua cobaan hari ini.
"Oh iya Zack masih di kantor, hehehe..." ucap Raka menyenggir kuda dan membuat Nenek Melati menatap kedua bola mata malas ke arah dirinya.
"Ibu Rika!" teriak Raka saat memanggil kepala pelayan di rumahnya.
Wanita cantik paruh baya langsung berjalan cepat menuju ke arah Raka.
"Iya Tuan Muda Raka," ucap Bibi Rika sopan.
Raka tersenyum hormat pada wanita yang seumuran dengan mamanya dulu. Ia tidak ingin memanggil bibi tetapi Ibu saja. Walaupun dia hanya kepala pelayan rumah mewahnya.
__ADS_1
"Tolong kumpulkan semua karyawan di rumahku sekarang!" titah Raka.
"Baik Tuan." sahut Bibi Rika pamit undur diri di hadapan Raka.
Raka yang menoleh ke arah Nenek Melati yang mulutnya sedang berkomat-kamit dalam membaca mantra.
"Nenek, tenang dulu. Jangan gegabah menggunakan ilmu sihir! Jangan tergantung sama ilmu sihir itu walaupun cara praktis untuk mengetahui siapa dalang pencurinya." bujuk Raka.
"Bagaimana Nenek bisa tenang, Raka? Semua harta berharga Nenek hilang begitu saja. Kenapa kamu bisa memperkerjakan pelayan yang panjang tangan di rumahmu? Bisa bahaya hidupmu Raka?" sahut Mama Melati dengan wajah kesalnya.
Raka menghela nafas kasar untuk menetralkan pikirannya yang mengiyakan perkataan Nenek Melati tapi ia masih berpikir positif. Barang kali, Neneknya salah menaruh barang atau bisa jadi memang hilang diambil maling.
"Iya Raka mengerti, Kita tunggu saja dulu. Ibu Rika sedang memanggil semua karyawan di rumah Raka." Raka menoleh ke arah Ibu Rika yang telah membawakan semua karyawan di hadapannya.
"Baiklah, buat barisan sekarang. Aku ingin menghitung seluruh jumlah karyawan di rumahku. Berhitung semua!" titah Raka dan semua karyawan mulai berhitung dari awal hingga akhir. Aktivitas Raka yang terlihat seperti paskibra dalam mengumpulkan semua karyawan dan berhitung untuk memudahkannya menyelidiki semua ekspresi wajah karyawannya. Raka bisa membacakan isi hati orang melalui ekspresi wajahnya.
"Tuan Muda Raka, jumlah seluruh karyawan yang bekerja di rumah Tuan. Mulai dari bagian pelayan rumah ada 12 orang, pelayan bersih taman ada 4 orang, pelayan bersih kendaraan ada 4 orang, bodyguard ada 14 orang, satpam ada 4 orang, supir ada 3 orang. Total seluruhnya ada 41 orang." jelas Ibu Rika panjang lebar di hadapan Raka.
Raka yang hanya mengangguk mengiyakan perkataannya. Tatapan matanya masih fokus menuju ke arah semua ekspresi wajah semua pelayan.
"Sepertinya ada yang aneh dengan satu pelayan ini, apa dia pelaku yang mengambil emas dan ATM Nenek?" tanya Raka dalam hati. Ia masih menatap intens menuju ke arah pelayan wanita itu yang terlihat ketakutan.
__ADS_1