
Seketika detak jantung Launa berdetak lebih kencang tak karuan, disaat ia melihat sikap romantis Raka yang melamar dirinya seperti film drakor yang sering ditontonnya. Apalagi, tatapan mata penuh cinta Raka membuat Luna percaya dengan perkataannya sangat menjanjikan.
Raka yang tidak menerima tanggapan apapun dari Launa, ia menghela nafas kasar. Ia dengan terpaksa memberikan pilihan pada Launa agar menjawab pertanyaannya.
“Launa, jika kamu menerima lamaranku ini kamu bisa mengambil cincin ini dan pasangkan di jari manismu. Begitupula sebaliknya, jika kamu menolak lamaranku ini kamu bisa mengambil cincin ini dan lembarkan saja.” jelas Raka tegas.
Launa tersenyum menatap ke arah Raka, tangan kanannya mulai bergerak untuk mengambil cincin dari tangan Raka untuk memberikan jawaban dari pertanyaan tadi. Disaat Launa yang terhanyut dengan sikap romantis Raka dan bersedia memasangkan cincin di jari manisnya. Launa teringat perkataan seseorang dulu.
*Flashback On*
Launa yang menangis di sekitar taman kota yang berada tidak jauh dari rumah mewah Raka, ia dikejutkan oleh kedatangan seorang wanita cantik yang duduk di kursi taman.
“Kamu kenapa menangis?” tanya Wanita itu yang telah duduk di kursi berhadapan langsung dengan dirinya.
Launa yang mendengar pertanyaan seseorang, ia langsung menghapus buliran kristal di wajahnya. Ia menatap ke arah wanita itu.
“Tidak apa-apa, aku suka menangis.” jawab Launa asal dan memberikan senyuman paksanya.
“Huh, kamu bisa saja bercanda. Tidak baik berbohong pada orang tua, aku tahu kamu pasti ada masalah dengan Raka.” perkataan Wanita itu membuat Launa menyerhitkan keningnya merasa heran.
"Darimana kakak tahu kalau aku ada masalah dengan Tuan Raka?" tanya Launa to the point.
"Kenalin aku, calon istrinya Raka. Namaku Mita dan tentu saja Raka menceritakan semua tentangmu." jawab Mita dengan menyodorkan tangannya di hadapan Launa.
Seketika detak jantung Launa berhenti berdetak saat mendengar perkataan wanita itu.
"Apa? Calon istrinya? Apakah kamu yang telah meninggalkan Tuan Raka dulu?" tanya Launa dengan raut wajah pucatnya.
Mita langsung menggeleng cepat tidak setuju.
"Bukan aku yang meninggalkan, Raka. Tapi, Raka sendiri yang meninggalkanku. Ketahuilah hubungan percintaan kami seperti suami istri, Raka sering menyentuhku. Disaat aku hamil anaknya dan meminta pertanggung jawaban, malahan Raka menyuruhku menggugurkan janinku dan mengancamku meninggalkanku. Tetapi, kenyataannya, Raka tetap meninggalkanku." Mita memasangkan wajah sedih di hadapan Launa yang terlihat terkejut.
"Sekejam itukah Tuan Raka? Dengan mudahnya membuang wanita yang hamil anaknya dan menyuruhnya menggugurkan anak kandungnya," ucap Launa dengan tubuh mulai bergetar hebat karena ia sangat bersimpati dan berempati atas kejadian kelam itu.
Mita mengangguk dan ia menatap sendu ke arah Launa.
"Kamu pasti disuruh bekerja dan tinggal di rumahnya kan lebih tepatnya bekerja paruh waktu?" tanya Mita dan dibalas anggukan cepat oleh Launa.
"Berhati-hatilah, dulu aku diperlakukan seperti itu hingga akhirnya aku jatuh cinta padanya dan Raka menjanjikan aku sebagai calon istrinya. Dengan mudahnya aku percaya dan memberikan kesucianku. Tetapi, disitulah aku dicampakkan begitu saja." Mita menggenggam tangan Launa yang terasa dingin dan bergetar.
"Saranku, cepat tinggalkan Raka sejauh mungkin. Aku tahu Raka berencana melakukan apa yang kurasakan terulang kembali padamu. Sebab, aku tidak ingin nasib hidupmu hancur berkeping-keping. Aku akan memberikan uang 5M untukmu untuk memulai hidup di luar negeri. Jangan terlalu dipikirkan mengenai bahasa negara lain, aku akan menyuruh satu temanku membimbingmu mempelajari bahasa Inggris dan Rusia." jelas Mita panjang lebar di hadapan Launa.
"Bahasa Inggris dan Rusia? Sebenarnya aku mau dibawa kemana?" tanya Launa dengan raut wajah herannya.
"Rusia saja, disana lebih aman. Kamu diajarkan bahasa internasional dan bahasa negara Rusia. Aku akan memberikan fasilitas rumah untukmu dan bisa bekerja." sejak saat itulah Launa mempercayai Mita dan ia mengajak kedua orang tuanya pindah ke negara Rusia. Tetapi, semua perkataan manis Mita tidak sesuai ekspektasi, Mita hanya memberikan uang 1M saja. Sisanya, untuk biaya uang administrasi pelatihan bahasanya. Launa dan kedua orang tuanya tidak anggap oleh Mita lagi disaat pindah di Rusia. Hidup Launa menjadi pontang-panting karena uang yang diberikan semakin menipis dan belum mendapatkan pekerjaan yang tetap.
Untunglah, ada Tuan Ceqi yang mau menawarkan pekerjaan pada dirinya. Hingga ia bisa mencukupi biaya kebutuhan hidup di Rusia. Launa berjanji pada dirinya sendiri agar tidak mudah mempercayai orang lain dan ia sangat membenci Raka yang berniat jahat pada dirinya.
*Flashback off*
Raka yang tidak mendapatkan jawaban apapun lagi dari Launa yang sedang termenung. Ia langsung menggenggam tangan Launa untuk membaca pikiran Launa.
__ADS_1
"Astaga, ternyata Launa sedang diracuni oleh Mita. Rupanya Mita biang kerok Launa yang pergi jauh dari kehidupanku. Mita oh Mita, kamu sungguh terlalu. Agak lain jadi orang, suka menghasut orang lain agar membenciku. Aku tidak terima atas keburukanmu, Launa. Aku tuntut kamu diakhirat nanti. Kamu tidak akan tenang hidup setelah kematian." Raka terus memaki dalam hati saat mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Dengan segera Raka ingin menghapus ingatan Launa itu. Namun, Raka kalah cepat dengan Launa yang sudah tersadar dari lamunannya.
"Hei! Apa yang tuan lakukan padaku?" tanya Launa saat melihat wajah Raka sangat dekat dengan wajah dirinya dan hanya berjarak 2 cm saja. Launa mendorong tubuh Launa hingga Raka jatuh terpental ke arah belakang.
Raka meringis kesakitan saat merasakan bokongnya mencium lantai dingin.
"Haduh, kenapa kamu melukaimu, Launa? Aku bukanlah pria jahat seperti yang kamu pikirkan." Raka mencoba bangun dari posisi duduknya agar bisa kembali lagi. Tetapi, keseimbangan tubuhnya lemah dan tidak setabil.
"Tuan Muda!" ucap Zack yang berjalan cepat menuju Raka untuk membantu berdiri.
"Tuan, apa butuh obat nyeri?" tanya Zack yang masih memegang tangan Raka.
"Tidak Zack, saya baik-baik saja. Kamu bisa membantu Mama untuk membawakan makanan." jawab Raka.
"Baik Tuan, saya akan mengawasi Tuan disini. Agar Nona Launa tidak berbuat macam-macam lagi." sahut Zack.
"Terserah." balas Raka yang memilih duduk di kursi tadi.
Launa terlihat ketakutan dan kedua tangannya memegang ujung bajunya.
"Maafkan aku, Tuan. Aku reflek melakukannya," ucap Launa menundukkan kepalanya merasa bersalah.
Raka menghela nafas kasar saat melihat wajah Launa yang terlihat ketakutan.
"Baiklah, aku sudah memaafkanmu. Ketahuilah, aku tidak pernah berbuat bajingan sesama wanita apalagi menghamilinya dan menyuruhnya mengugurkan bayinya. Semua cerita Mita itu hanya karangan cerpen saja. Jika kamu tidak percaya apa kataku, coba kamu ingat kata Mita yang berjanji akan membantu biaya kehidupan di Rusia. Tetapi, dia lepas tangan dan tak ada kabar untuk membantumu. Lalu, apa kamu masih mempercayai Mita dibandingkan aku yang memberikanmu pekerjaan dan menolongmu dari pria jahat seperti Ceqi." jelas Raka panjang lebar di hadapan Launa.
Launa yang mendengar penjelasan Raka membuat pola pikirnya memiliki sisi lain dan lebih positif. Tetapi, ia terkejut kalimat akhir Raka yang memberitahu Tuan Ceqi itu pria jahat.
"Ketahuilah, Ceqi itu pria picik dan cassanova. Ia memiliki bisnis protitusi *** dan bekerja sama dengan Mita -- Mantan tunanganku yang membuat aku terluka di pikir jalan dulu." jawab Raka membuat Launa menutup mulutnya dengan kedua tangannya merasa terkejut atas sifat asli Ceqi.
"Apa? Ba-bagaimana bisa Tuan Ceqi sebaik itu rupanya seorang pria picik dan cassanova?" tanya Launa terbata-bata.
"Aku tahu dari hasil penyelidikan dari tangan kananku yang handal itu." Raka melirik matanya ke arah Zack yang berdiri tegap tidak jauh dari kursi sofa ruang tamu.
Launa mengikuti arah tatapan mata Raka.
"Tuan Zack," ucap Launa dibalas anggukan oleh Raka.
"Iya, aku tak menyangka rekan bisnisku yang terkenal pria baik dan bersahabat itu rupanya seorang pria bejat dan picik. Awalnya isu miring itu aku tidak mudah percaya, tetapi, dengan bertemu satu kali dengannya tadi. Membuat aku yakin Ceqi itu bukan pria baik-baik." Raka merubah posisi duduknya agar duduk di sebelah Launa.
Raka langsung menggenggam tangan mungil Launa.
"Launa, apa kamu masih mempercayaiku dan mengabaikan berita hoax dari Mita?" tanya Raka lagi.
Launa yang melihat tangannya digenggam erat oleh Raka dan tatapan mata sendu Raka membuat ia merasa bimbang bukan kepalang.
"Lantas, aku harus percaya dengan siapa ya Allah? Apa aku harus membiarkan hatiku menjadi miliknya lagi?" tanya Launa dalam hati.
"Ehem... Ehem... Romantis sekali kalian ini sampai-sampai pacaran tidak mengenal tempat." sindir Papa Rayhan yang telah berjalan mendekati Launa dan Raka.
Launa langsung mengalihkan pandangannya dari Raka menuju ke arah Papa Rayhan.
__ADS_1
"Papa? Udah gak sakit lagi?" tanya Launa yang langsung melepaskan genggaman tangan Raka.
"Maaf Tuan, kita tunda sebentar." Raka hanya mengangguk mengiyakan perkataan Launa dan ia melihat ke arah Launa yang berjalan mendekati Papanya yang berjalan pincang.
Raka bangun dari posisi duduknya dan ia berjalan mendekati Papanya Launa. Lalu, ia mencium punggung tangan Papanya Launa.
"Pak, perkenalkan saya Raka," ucap Raka memperkenalkan diri di hadapan Papa Rayhan.
Papa Rayhan tersenyum tulus menatap ke arah Raka.
"Oh nak Raka yang mau melamar anak saya. Ayo nak, duduk dulu, Papa mau menginterogasimu." sahut Papa Rayhan.
Raka mengangguk cepat dan ia memilih duduk di kursi sofa yang berhadapan langsung dengan Papa Rayhan.
"Baik Pak." balas Raka.
"Nak Raka berasal dari Indonesia juga, Papa dengar kata istri saya, kamu cinta sama anak saya?" tanya Papa Rayhan.
"Benar Pak." jawab Raka cepat.
"Lalu, kapan pertama kali kamu ketemu dengan anak saya? Sudah berapa lama kalian kenal hingga ada rasa cinta diantara kalian? Ingat, pernikahan itu ibadah seumur hidup. Tapi bukan, pernikahan sebagai ajang pamer mengikuti jaman sekarang," ucap Papa Rayhan dengan raut wajah seriusnya.
Raka menelan salivanya dengan susah payah, ia harus menjawab jujur kalau ia bertemu dengan Launa waktu itu dan mencintainya setelah kepergian Launa atau mengarang cerita indah.
"Sudah satu tahun Pak, saya mengenal Launa disaat ia menyelamatkan saya dari kecelakaan tunggal. Saya menawarkan Launa bekerja di rumah saya untuk merawat saya. Berkat kinerja Launa yang selalu tulus merawat saya dan rajin bekerja. Timbullah rasa cinta di hati saya. Maafkan saya, Pak. Baru menemui Bapak untuk melamar Launa karena saya baru menyadari saya sangat mencintai Launa." jelas Raka jujur dilubuk hatinya terdalam dan tak bisa dipungkiri jika ia benar-benar mencintai Launa.
"Launa, apa kamu mencintai nak Raka?" tanya Papa Rayhan menoleh ke arah Launa yang hanya diam saja menjadi pendengar yang baik.
Launa terlihat binggung dan takut salah untuk memberikan jawaban yang tepat.
"Aku-- Aku," ucap Launa terputus.
"Sepertinya kamu ragu-ragu Launa, semua keputusan ini papa serahkan padamu, Launa. Turuti apa keinginan hatimu dan memantapkan hatimu agar tidak salah memilih." saran Papa Rayhan.
Datanglah Mama Siska yang telah memasak cemilan sub buah dan jus jeruk. Lalu, meletakkan makanan di atas meja dibantu oleh dua bodyguard yang membawa makanan cemilan lainnya.
"Ayo nak Raka dan tiga pria tampan dimakan dulu," ucap Mama Siska menawarkan makanan pada tamunya.
Raka mengangguk cepat dan ia tersenyum manis ke arah Mama Siska. Ia masih menunggu jawaban dari Launa yang sepertinya masih berpikir sejenak.
"Beri aku tiga hari untuk menjawab pertanyaanmu, Tuan Raka. Aku mau sholat tahajud untuk meminta bantuan pada Tuhan. Dengan begitu, hatiku bisa tenang untuk menjawab pertanyaanmu tadi," ucap Launa tegas dan tidak bisa digugat oleh apapun. Ia berhak memiliki pilihan apapun dan tidak seorang pun mampu mengusik menghasut pikirannya.
"Baiklah, aku menghargai keputusanmu. Boleh minta nomor ponselmu, Launa?" tanya Raka.
"Boleh Tuan. Dengan senang hati." jawab Launa.
"Tolong, jangan memanggilku Tuan, cukup panggil saja Raka." sahut Raka mantap.
"Tidak Tuan, aku tidak bisa memanggilmu Raka saja. Kamu lebih tua dariku, bolehkan aku memanggil kakak saja?" tawar Launa.
"Jangan kakak, panggil saja Sayang lebih romantis," ucap Papa Rayhan ikut campur dalam pembahasan kecil antara Launa dan Raka yang penuh makna itu.
__ADS_1