
Launa yang telah menyelesaikan semua pekerjaan rumah, ia tersenyum senang karena tugasnya sudah selesai. Ia memang cepat selesai bekerja dan tidak ada kata keluhan sedikit pun yang keluar dari mulut Launa saat diberi tugas dari kepala pelayan -- Rika.
"Semua pekerjaan rumah sudah aku selesaikan, sekarang jam 12 siang. Itu berarti aku boleh beristirahat dan memberitahu Ibu Rika kalau aku sudah selesai bekerja." Launa membereskan peralatan bersih dan dibawanya menuju ruang bersih. Ia berjalan menuju Ibu Rika yang sedang sibuk memeriksa laporan pekerjaan pelayan yang telah menyelesaikan pekerjaannya.
"Ibu Rika, aku telah selesai mengerjakan tugasku," ucap Launa sopan.
Ibu Rika yang sedang berbicara dengan pelayan lain, ia menghentikan pembicaraannya sejenak. Lalu, ia menoleh ke arah Launa.
"Baiklah, aku periksa sekarang." sahut Ibu Rika dan Launa mengangguk cepat.
Launa mengikuti langkah kaki Ibu Rika dari arah belakang menuju ruang keluarga. Disana semua benda dan lantai bersih dan tapi.
Ibu Rika tersenyum senang ke arah Launa.
"Bagus, aku bisa menyelesaikan semua pekerjaan rumah dengan cepat. Kalau begitu, kamu bisa beristirahat untuk makan siang dan menunggu Tuan Raka pulang," ucap Ibu Rika membuat Launa merasa senang dan dihargai.
"Terima kasih Bu." jawab Launa membalas senyuman Ibu Rika dengan tulus.
Launa pamit undur diri dari hadapan Ibu Rika, ia berjalan menuju ruang dapur untuk memasak makanan untuk dimakannya. Semua bahan makanan diambilnya di dalam kulkas untuk menjadi modal makanannya. Ia melihat sekilas ke arah Ria yang baru menyelesaikan tugasnya.
"Hai Ria!" sapa Launa membuat Ria menoleh ke arah dirinya.
"Eh Launa, kenapa kamu disini? Kamu tidak membantu membersihkan pekerjaan rumah setelah tidak merawat Tuan Raka?" tanya Ria dengan mulut tajamnya.
Launa yang memahami sifat Ria yang selalu iri/dengki pada semua pelayan. Ia hanya bisa tersenyum saja dan berpikir positif.
__ADS_1
"Aku telah menyelesaikan pekerjaan rumah sesuai perintah Ibu Rika. Sekarang aku mau memasak makanan untuk makan siang. Oh iya, kamu mau aku buat makanan untukmu?" sahut Launa dengan mengajak Ria agar bisa bersahabat dengan dirinya. Launa tidak pernah memilih teman, walaupun ia mengetahui Ria hanya lulusan SD saja dan berusia 23 tahun lebih tua dua tahun darinya. Ia menghargai Ria sebagai kakaknya.
"Tidak, aku tidak mau memakan masakan orang lain. Pasti tidak higenis, aku bisa buat makanan sendiri." tolak Ria kasar membuat Launa bisa mengelus dada agar bersabar dalam menghadapi sikap Ria yang jahat.
"Baiklah, tidak apa-apa. Aku mau memasak dulu." sahut Launa dengan membawa bahan makanan menuju dapur kotor karena ia malas berlama-lama berada di dekat Ria.
"Huh, Ria sungguh terlalu kejamnya. Aku disini untuk bekerja tapi dia terlihat cemburu kalau aku menjadi pelayan khusus Kak Raka. Kalau dia ingin mendapatkan hati Kak Raka, wajib bersaing secara sehat dong tapi bukan bersaing secara kotor dengan menghasut orang lain ataupun menjatuhkan aku yang tidak sesuai fakta. Jika saja, aku Nona muda disini, aku sudah lama memecat pelayan tidak ramah anak itu. Bisanya membuat orang emosi saja atas sikapnya, mulutnya jahat dan dia sudah termasuk tergolong orang masuk neraka. Tunggu Malaikat Munkar dan Nankir datang untuk mencabut nyawamu. Dengan begitu, tidak ada lagi orang-orang tersakiti atas mulut jahatmu." kata Launa dalam hati. Ia memotong sayur yang ambilnya agar bisa dimasaknya untuk menambah protein tubuhnya.
***
Setelah berkelana jauh di kota lain, sukma Raka telah kembali pada tubuhnya. Ia terlihat kesal dan banyak berhati-hati pada rencana jahat Mita yang tidak main-main.
"Aku harus membawa Nenek Melati agar tinggal di rumahku saja. Supaya aku bisa memantau Nenek dan menjaga Nenek dari orang-orang tak punya hati." batin Raka.
Raka berjalan menuju pintu ruangannya dan membuka kunci pintu agar memudahkan tangan kanannya masuk ke dalam ruangannya. Raka melihat ruang Zack yang berdekatan dengan ruangannya dalam satu ruang yang berbatasan dengan tembok dan dinding.
"Iya Tuan." jawab Zack menaruh berkas yang dipegangnya di atas meja. Lalu, ia bangun dari duduknya dan ia berjalan masuk menuju ruang kerja Tuan Raka.
Raka yang melihat Zack telah berdiri di hadapannya. Ia menyuruh Zack agar duduk di kursi yang berhadapan dengan dirinya.
"Duduk dulu, aku ingin memberitahu sesuatu."
"Baik Tuan." Zack duduk dikursi yang sesuai perintah Raka.
"Dimana Nenek Melati sekarang?" tanya Raka to the point.
__ADS_1
"Nenek Melati berada di kebunnya Tuan." jawab Zack sesuai pesan yang diberikan oleh bodyguard yang menjaga Nenek Melati.
"Kebun belakang rumah Nenek yang pagarnya hanya dibuat teralis saja itu?" tanya Raka memastikan.
"Benar Tuan, mudah dilihat oleh orang lewat." jawab Zack cepat.
"Haduh, kenapa bodyguard yang menjaga Nenek tidak melarang Nenek pergi ke kebun? Untuk apa Nenek pergi ke kebun? Semua buah-buahan dan sayuran bisa beli di pasar," ucap Raka dengan nada kesalnya.
"Maaf Tuan, Nenek Melati masih berada di bawah pengawasan dua bodyguard yang menjaganya. Saya tidak bisa menghalangi nenek tanpa seizin Tuan."
"Benar juga, ya sudah, bilang sama dua bodyguard itu agar membawa nenek masuk ke dalam rumahnya saja. Urusan kebun bisa ada Pak Lilo yang merawatnya."
"Baik Tuan, saya akan laksanakan sesuai perintah."
"Satu lagi, bantu saya agar keluarga Mita tidak mengacaukan kehidupanku lagi. Saya merasa mereka ingin berbuat jahat pada kehidupan saya dan Nenek."
"Dengan cara apa Tuan?" pertanyaan Zack membuat Raka tampak berpikir.
"Seperti apa cara yang tepat untuk menjaga Nenek?" tanya Raka balik.
"Hem... Bagaimana Nenek Melati bawa ke rumah Tuan saja? Di ruang Tuan, ada Launa yang bisa merawat nenek dan bisa menjadi teman nenek." saran Zack membuat Raka tersenyum lebar dan mengangguk setuju.
"Pintar sekali idemu Zack, aku naikkan gajimu 10% karena kamu memberikan saran yang tepat untukku." setuju Raka dan Zack tersenyum lebar saat mendengar gajinya naik lagi.
"Terima kasih Tuan atas kebaikannya. Saya akan melakukannya semaksimal mungkin. kalau begitu saya izin pamit untuk menelpon bodyguard dulu." pamit Zack dan Raka mengangguk mempersilahkan Zack pergi dari hadapannya.
__ADS_1
Raka mengambil gelas yang berisi air putih, diteguknya air itu tanpa sisa. Ia menatap ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 12 siang.
"Tidak terasa sudah jam istirahat, waktunya aku sholat Zuhur dulu dan makan siang." Raka membuka Jaz kerjanya dan ia melipatkan kedua lengan panjang baju kemeja untuk mengambil air wudhu dan melakukan sholat di ruang istirahatnya yang berada dalam ruang kerjanya.