Sang CEO Tersakiti

Sang CEO Tersakiti
Part 39 Udah Hamil Belum?


__ADS_3

Sepulangnya mereka dari tempat wisata, Raka mengajak Launa ke tempat restoran favoritnya. Ia memesan makanan paling mahal dan enak di restoran itu pada pelayan pria yang mencatat semua pesanan Raka.


Sementara Launa membulatkan kedua bola matanya saat membaca daftar menu makanan yang harga satu porsi makanan 500k saja.


"Waduh, makanan orang kaya mahal-mahal banget. Padahal cuma makan daging sapi saja satu porsi, tapi harga makanan di restoran ini mengalahkan penjual sapi mentah di pasar kaki lima." kata Launa dalam hati.


"Launa sayang, kamu mau tambahan makanan?" tanya Raka.


"Tidak, aku cukup makanan yang kakak saja itu sudah lebih dari cukup." jawab Launa dengan senyuman terpaksanya.


Raka yang mengerti raut wajah Launa itu ia mengangguk setuju saja.


"Ini saja pesanannya, ditunggu secepatnya," ucap Raka pada Pelayan pria itu.


"Baik Tuan." jawab Pelayan pria sopan dan pamit undur diri dari hadapan Raka dan Launa.


Launa menatap ke sekeliling ruangan restoran versi VVIP. Tidak ramai orang berlalu lalang tapi ruangannya mewah dan nyaman. Ia menatap ke arah Raka yang sedang sibuk memeriksa ponselnya. Ia tidak ingin mengganggu Raka yang terlihat fokus berbicara pada seseorang melalui sambungan panggilan masuknya.


Seketika Launa teringat dengan pertemuan singkat dengan seorang pria tampan -- Miko yang pernah menjadi pemilik hatinya tanpa status.


"Miko?" ucap Launa pelan.


Miko yang menatap wanita cantik yang sangat dirindukannya, ia ingin memeluk tubuh mungil itu tetapi ia masih menahan diri karena teringat begitu kejam dirinya dulu yang mengusir wanita yang selalu membantu dirinya kesusahan dan ia tinggalkan demi wanita kaya raya yang tidak perawan lagi.


"Apa kabar kamu, Launa?" tanya Miko dengan senyuman tulusnya.


"Kabarku baik." jawab Launa dengan wajah dingin dan datar. Ia tidak ingin kehidupan barunya bertemu dengan pria jahat dan tidak menghargainya. Ia menyadari dirinya wanita baik-baik dan keturunan serba kekurangan. Berbeda jauh dengan Miko yang hidupnya serba ada dan kaya.


"Sudah lama tidak melihatmu, Launa. Oh iya, kamu bersama siapa datang kesini?" tanya Miko lagi.


"Launa, sudah menemukan tempat foto yang bagus," ucap Raka sedikit berteriak karena ia baru keluar dari toilet dan menemui istrinya yang berada tidak jauh dari ruang toilet.

__ADS_1


Launa yang mendengar suara Raka, ia langsung berjalan pergi meninggalkan Miko. Sedangkan Miko merasa terabaikan oleh Launa, ia langsung menahan Launa.


"Launa, aku belum selesai bicara," ucap Miko.


Launa menoleh ke arah Miko yang memegang tangannya, ia langsung menghempaskan tangan Miko dari tangannya.


"Lepaskan! Kamu tidak berhak tahu tentang diriku. Aku bukanlah siapa-siapa bagimu dan aku bukan tipe wanitamu. Maka pergilah dari kehidupanku seperti dulu karena aku sudah memiliki kehidupan baru bersama suamiku." setelah mengatakan itu Launa melangkah pergi dari hadapan Miko yang kaget bukan kebayang saat mendengar kata suami dari mulut Launa.


"Oh tidak, aku benar-benar merasa kehilangan Launa. Putus sudah harapanku untuk mengejar Launa lagi.


Sementara Launa yang mempercepat langkah kakinya karena tidak ingin Miko mengejar dirinya. Akhirnya, langkah kakinya terhenti di hadapan Raka yang menunggu dirinya.


"Maaf aku membuatmu khawatir, aku hanya berjalan-jalan di sekitar taman di sebelah sana," ucap Launa dengan mengarahkan jari telunjuknya menuju ke arah sana.


"Oh, tidak masalah Launa yang penting kamu bisa kembali." sahut Raka dengan tatapan mata mengikuti jari telunjuk Launa.


"Ngomong-ngomong, aku penasaran suasana taman disana. Bagaimana kita pergi kesana lagi sebelum pulang?" tanya Raka mengajak Launa menuju tempat yang dilewati Launa tadi.


Launa langsung menggeleng cepat tidak setuju, ia menarik tangan Raka agar keluar dari tempat wisata ini.


"Baiklah, aku akan mengajakmu ke tempat restoran favoritku." sahut Raka tersenyum dan dibalas anggukan cepat oleh Launa.


Setelah menunggu 30 menit, makanan yang dipesan oleh Raka telah disajikan oleh dua pelayan pria.


"Selamat menikmati makanannya, Tuan, Nona," ucap Max -- Pelayan pria ramah dan ia yang mencatat menu makanan tadi.


"Baiklah." sahut Raka dengan senyumannya.


Raka menoleh ke arah Launa yang tampak diam saja.


"Launa, ayo dicoba makanan kesukaanku. Pasti kamu ikutan suka. Memang benar makanan ini harganya mahal, tetapi harga sesuai kualitas makanan," ucap Raka seraya mengambil piring kosong dan mengisi makanan yang dipesannya.

__ADS_1


Disaat Raka ingin menyuapi makanan di mulutnya, ia mengalihkan pandangannya dari makanan menuju ke arah Launa.


"Pasti Launa banyak pikiran, jadinya ia melamun seperti itu." batin Raka.


Raka berdiri dari duduknya dan ia menyentuh pipi imut Launa hingga Launa tersadar dari lamunannya.


"Masih mau lanjut melamun, atau makan?" tanya Raka dengan posisi wajahnya sangat dekat dengan wajah Launa.


"Makan saja, aku lapar dan butuh asupan makanan." jawab Launa cepat dan ia langsung mengambil piring untuk mengisi makanan yang baru ditemuinya.


Sementara Raka memilih duduk di kursinya dan melanjutkan memakan makanannya. Ia menatap fokus ke arah Launa yang gugup saat ditatap.


"Biasa saja makannya, tidak perlu gugup seperti itu," ucap Raka dengan senyuman manisnya.


"Iya." sahut Launa dengan menyenggir kuda.


Setelah pembicaraannya singkat itu tidak ada topik pembicaraan lagi. Suasana makan malam terasa hening dan hanya terdengar dentingan garpu dan sendok saja.


Kemudian, Raka dan Launa yang telah selesai makan malam. Raka membayar makanan menggunakan transfer nomor rekening bank kepada bagian kasihan. Setelah selesai, barulah Raka memesan hotel melalui ponselnya, dengan begitu Raka tidak susah lagi untuk menunggu tiket pesan ruangan hotel.


Raka telah melajukan kecepatan mobilnya menuju jalan raya, ia menggenggam tangan kanan Launa dengan sayang. Setibanya, di ruangan hotel, Raka mengajak Launa untuk sholat dulu setelah itu barulah mereka berbulan madu lagi.


Selama satu minggu ini Raka terus mengajak Launa jalan-jalan di tempat wisata dan bermain di dalam kamar hotel. Kini Raka telah membawa Launa pulang ke rumah mewahnya.


Kedatangan Raka disambut hangat oleh Nenek Melati dan Mama Siska yang sedang duduk di teras depan rumah.


"Tak biasanya, Nenek duduk di depan rumah. Biasanya, duduk santai di taman belakang rumah," ucap Raka pelan tetapi masih terdengar jelas oleh Launa.


"Oh pasti Mamaku yang mengajak Nenek untuk melihat suasana di luar rumah. Kadang-kadang, kita butuh melihat kehidupan orang lain sejenak agar bisa bersyukur atas kenikmatan hidup." sahut Launa ada benarnya dan Raka menyetujui perkataan Launa.


Raka berjalan keluar dari mobil dan diikuti oleh Launa.

__ADS_1


"Nek, Ma, apa kabar kalian?" tanya Raka sambil mencium punggung tangan Nenek Melati dan Mama Siska secara bergantian dan diikuti oleh Launa.


"Alhamdulillah, baik. Bagaimana kabar baik dari kalian, udah hamil belum?" tanya Mama Siska to the point membuat Raka mengaruk kepalanya yang tidak gatal.


__ADS_2