Sang CEO Tersakiti

Sang CEO Tersakiti
Part 24 Pelayan Wanita Bermasker


__ADS_3

Setelah kepergian Launa dari kediamannya, Raka memilih membersihkan diri di dalam kamar mandi. Ia membiarkan setiap tetesan air membasahi wajah tampannya. Ia sengaja berdiri di bawah guluran air shower untuk menenangkan pikirannya yang menjadi kacaw nan tak nyaman.


"Apa aku salah mengambil keputusanku tadi? Apa benar kata Launa kalau dia bukan pencurinya? Tapi, bukti fisik sudah ada di depan mata." Raka menjambak rambutnya dengan kasar untuk mencoba menenangkan pikirannya.


"Ya Allah, beri aku petunjuk agar tidak salah menuduh orang yang salah." setelah membersihkan diri, ia berganti pakaian santai casual rumahan.


Raka menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 6 sore yang menandakan sudah waktunya sholat magrib. Dirinya beragama muslim, memilih untuk mengambil air wudhu untuk melakukan sholat magrib agar bisa berdoa meminta ampun kepada sang pencipta.


Di sujud terakhirnya, Raka meminta petunjuk dari Allah SWT agar dia tidak salah mengambil keputusan. Lalu, ia melipat sajadah dan sarung yang dikenakannya saat sholat dan mengisi di dalam lemarinya.


Raka berjalan menuju pintu ruang kamarnya untuk pergi menuju ruang makan bersama Nenek. Ia menuruni anak tangga dengan cepat. Dari kejauhan Raka melihat sudah ada Nenek Melati yang duduk di ruang makan.


"Hai Nek, sudah lama menunggu," ucap Raka sembari mencium pipi kanan Nenek Melati dengan sayang.


"Iya, sudah 1 abad menunggumu agar datang kesini." sahut Nenek Melati asal.


Raka menyenggir kuda saat mendengar perkataan neneknya.


"Biasalah Nek, Raka mandi dan sholat dulu. Baru turun ke bawah." sahut Raka.


"Baguslah, Nenek senang cucu kesayangan nenek sudah taat agama. Makan yang banyak agar kamu tidak lelah menghadapi kerasnya kehidupan."


"Iya Nek, Raka maunya begitu. Tapi, Raka tidak mau tubuh sispek tergantikan lemak jahat." sahut Raka yang sedang mengambil sedikit nasi dan memilih lauk sayur tempe saja.


Nenek Melati yang melihat Raka yang memakan makan malam yang sedikit saja dan mengikuti gaya diet wanita. Ia hanya geleng-geleng kepala saja melihat tingkah aneh cucunya.

__ADS_1


"Kamu ini fisiknya saja laki-laki, tapi hati seperti hello Kitty. Ayo makan stik daging sapi dan ayam guyai, nanti kamu kurang gizi." Nenek Melati langsung menarik piring Raka dengan cepat.


Raka hanya pasrah saja saat melihat neneknya mengisi potongan daging sapi stik berukuran besar dan ayam guyai yang bumbunya banyak santan.


"Sudah nek, nanti Raka tidak habis memakan makanannya," ucap Raka tetapi Nenek Melati langsung memplototinya dengan tajam.


"Makan saja, semua makanan di atas meja rasanya nikmat dan lezat. Jangan menolak rezeki, masih banyak orang-orang di luar sana susah mencari makan." sahut Nenek Melati dengan menaruh kembali piring Raka di hadapannya.


"Okey." Raka hanya mengiyakan saja dan memulai menikmati makanan berlemak yang diberikan oleh nenek.


"Lain kali, aku akan menyuruh Bibi Lesti agar tidak memasak daging sapi dan ayam lagi. Ujung-ujungnya aku kena getahnya memakan makanannya yang mempengaruhi berat badanku." kata Raka dalam hati.


Nenek Melati sedang menikmati makan malamnya, ia melirik sinis ke arah Raka karena mendengar isi hati Raka.


"Jangan banyak protes Raka! Makan saja kalau tidak mau nenek tarik semua saham nenek agar kamu tahu rasanya kelaparan," ucap Nenek Melati ketus.


"Iya Nek, Raka cuma bercanda, hehehe..." setelah mengatakan itu tidak ada perdebatan kecil lagi di meja makan. Raka dan Nenek Melati sedang menikmati makan malamnya.


Setelah menghabiskan makan malamnya, Raka berniat untuk berjalan menuju ruang kerjanya di lantai dasar rumah mewahnya.


"Raka!" panggil Nenek Melati membuat Raka menghentikan langkah kakinya dan membalikkan tubuhnya ke arah belakang.


"Iya Nek." jawab Raka.


"Kamu pasti mau ke ruang kerja di lantai dasar?" tanya Nenek Melati to the point.

__ADS_1


"Benar Nek, ruang kerjaku itu sudah jarang aku tempati dan menjadi tempat ruang hasil CCTV saja." jawab Raka cepat.


"Oh begitu, baiklah nenek ikut." sahut Nenek Melati dan Raka mengangguk setuju.


Sesampainya di depan pintu ruang kerjanya, Raka membuka kunci pintu ruang kerjanya dan mengajak nenek agar masuk ke dalam ruangan.


"Nenek pasti curiga dengan kasus sore tadi? Makanya nenek mau ikut kesini?" ucap Raka memulai pembicaraan pada Nenek Melati yang sedang duduk di sofa empuk ruang kerjanya.


"Benar, Nenek juga sudah tahu Mita masih mengganggu hidupmu." sahut Nenek Melati.


"Baguslah Nek, kalau sudah tahu jadi Raka tidak menceritakan hal-hal yang meresahkan pada Nenek. Raka tidak ingin nenek diculik atau disiksa oleh dajal wanita itu. Saat ini, Raka ingin hidup tenang dulu. Untuk masalah rencana balas dendam, Raka akan memikirkan cara yang tepat agar tidak gagal." balas Raka dengan tatapan tulus dan menyimpan sebuah luka berat yang dilihat oleh Nenek Melati cukup dengan kedua bola mata rapuh itu.


"Sudahlah Raka, jangan terlalu dipikirkan akan hal-hal yang menyakitimu. Nenek tidak akan tinggal diam, jika dajal-dajal itu berani menapakkan wajah lagi. Nenek pastikan akan menghancurkan mereka dengan ilmu sihir terakhir nenek."


"Iya Nek, Raka percaya pada nenek yang memiliki ilmu lebih kuat dari dajal pengecut itu. Sekarang Raka ingin memastikan dajal kecil yang berani berkhianat." Raka menarik nafas dalam-dalam untuk menghilangkan rasa penat dan gundah yang menyelimuti kasus-kasus yang muncul di beberapa hari yang dilewatinya ini. Lebih baik ia menyalakan komputer untuk memeriksa hasil video CCTV di seluruh rumah mewahnya.


"Nek, Raka mulai periksa dulu agar hati kita puas." Raka mengalihkan pandangannya dari Nenek Melati menuju ke arah layar komputer untuk mencari file video CCTV.


Dari berbagai macam hasil video CCTV yang dilewatinya selama satu tahun lalu hingga hari ini. Ia telah menemukan detik-detik terjadinya kasus kehilangan perhiasan Nenek Melati. Disana, Raka melihat ada seorang pelayan wanita yang wajahnya tertutupi oleh masker sedang berjalan masuk ke dalam ruang kamar neneknya. Namun, video CCTV itu seketika terputus dan rusak saat diputar.


Hal ini membuat Raka menjadi kesal bukan main, ia yang tidak mengenali siapa pelayan wanita yang wajahnya tertutupi masker itu di kliknya zoom untuk mendetail wajah pelayan wanita itu.


"Hem... Sepertinya aku sangat mengenali pelayan wanita yang mengenakan masker yang berjalan masuk ke dalam ruang kamar Nenek," ucap Raka.


"Benarkah? Siapa pelayan wanita itu Raka? Nenek ingin melihatnya?" Nenek Melati bangun dari posisi duduknya agar berjalan mendekati Raka.

__ADS_1


Raka menoleh sekilas ke arah belakang yang ternyata sudah ada Nenek Melati yang mengenakan kacamata plus untuk melihat jarak dekat.


"Ini Nek hasil rekaman video CCTV, ada seorang pelayan wanita bermasker masuk ke dalam ruang kamar Nenek. Dari poster tubuhnya, sepertinya pelayan wanita itu Ria," ucap Raka membuat Nenek Melati membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna.


__ADS_2