
Mita yang tengah berdiri di balkon rumah mewahnya, ia menatap suasana jalanan raya yang ramai berlalu lalang.
"Seharusnya kamu mengikuti keinginanku, Raka. Seharusnya kamu memilih aku daripada mempertahankan wanita rakyat jelata itu. Jika saja kamu menerima keinginanku. Mungkin saja, aku dan papa tidak berbuat jahat lagi." Mita menghela nafas kasar, ia memejamkan kedua matanya untuk menenangkan dirinya sejenak.
Lalu, pikiran kotor terlintas dibenak Mita.
"Hahaha... Tidak, aku belum kalah sekarang. Masih ada kesempatan untuk mendapatkan Raka lagi. Aku kan sudah mengurung dua wanita miskin itu di penjara ruang bawah tanah. Oh ya, aku perlu menghukum mereka sedikit, dengan begitu mereka menyesal telah mencuri Raka dariku, hahaha..." tawa Mita terdengar menyeramkan bak iblis yang menggelegar di sekitar balkon lantai tiga rumahnya.
Sementara Launa dan Mama Siska yang duduk di kursi dengan kedua tangannya diikat di belakang kursi membuat mereka terus memberontak tetapi tidak bisa melepaskannya. Berkali-kali Launa dan Mama Siska berteriak meminta pertolongan tetapi tidak satu orang pun berani menyelamatkan mereka.
Launa mengatur deru nafasnya yang mulai sesak nafas, ia menoleh ke arah Mama Siska yang tampak lelah berteriak seperti dirinya.
"Mama," ucap Launa pelan.
Mama Siska menoleh ke arah Launa yang duduk di sebelah kursinya.
"Launa, bagaimana kondisi papamu? Apa papa baik-baik saja setelah penyerangan secara brutal itu?" tanya Mama Siska yang terus memikirkan kondisi suaminya. Ia ingat betul saat para vampir gila itu memaksa masuk ke dalam ruangan operasi tetapi Mama Siska dan Launa terus mencegah mereka. Hasilnya, tubuh mereka terbanting 1 meter hingga pingsan di tempat.
"Kita berdoa kepada Tuhan agar papa diberi perlindungan Ma. Hal terpenting sekarang kita harus mencari jalan untuk kabur di tempat menyeramkan ini." jawab Launa seraya melirik sekitar ruangan minim cahaya, tak terurus dan pengap udara.
"Ruangan ini tak layak huni, bau anyir membuat kepalaku terasa pusing ma." lanjut Launa yang menahan muntah akan bau anyir mematikan.
"Benar sekali Launa, apa jangan-jangan ruangan ini khusus menyiksa musuh mereka. Lihat sisa darah beku itu sepertinya darah manusia," ucap Mama Siska membuat Launa bergidik ngeri.
"Mama, jangan berpikir seperti itu jika memang benar. Kita berpura-pura tidak tahu saja untuk mengurangi rasa cemas dan takut yang berlebih-lebihan." sahut Launa membuat Mama Siska menatap kedua bola mata malas ke arah Launa.
"Iya deh, lebih baik kita berdoa saja agar pemilik rumah menyerahkan ini memberikan makanan untuk kita yang belum makan siang." balas Mama Siska membuat Launa mengangguk cepat.
Sementara Raka yang telah sampai di depan rumah sakit milik Dion. Ia melangkah masuk ke dalam pintu utama rumah sakit. Di setiap ruangan yang dilalui oleh Raka, dipenuhi oleh tenaga medis rumah sakit yang mati di atas lantai dengan bersimbah darah segar. Ia menatap miris saat melihat kondisi rumah sakit yang rapi dan bersih kini berubah menjadi berantakan dan banyak korban yang mati bersimbah darah.
Raka mempercepat langkah kakinya menuju ke ruang lift. Kepalanya terasa pusing dan mau muntah saat mencium bau amis darah dimana-mana.
Ting!
Pintu ruang lift terbuka lebar dan Raka langsung berjalan cepat menuju ruangan operasi untuk memastikan keberadaan istri dan mama mertuanya masih berada di rumah sakit atau sudah diculik.
Di sekitar ruangan menuju ruangan operasi, Raka mendengar samar-samar suara yang sangat dikenalinya. Ia mempercepat langkah kakinya menuju masuk ke dalam ruangan operasi yang terkunci.
Cekrek!
Raka melangkah masuk ke dalam ruangan, ia melihat punggung tiga pria berpakaian jas putih yang sedang menutupi brankas kasur ruang operasi.
__ADS_1
"Dion, Dimana istri dan mama mertuaku? Apa mereka selamat seperti kalian. Lalu, bagaimana kondisi papa mertuaku, apa dia selamat dari--" seketika perkataan Raka terhenti saat menatap tubuh seseorang pria paruh baya yang organ bagian kepalanya sudah hancur tak berbentuk.
"Tidak! Tidak mungkin! Ini pasti ada yang salah! Kenapa bisa terjadi seperti ini!" Raka sangat terkejut akan pemandangan yang mengenaskan di depan mata. Ia menggelengkan kepalanya tidak setuju akan kenyataan pahit ini kedua kakinya berjalan mundur ke belakang hingga tanpa sengaja tubuhnya terbentur oleh dinding ruangan membuat ia terjatuh di atas lantai.
Sementara Dion yang ikut terkejut dengan kedatangan Raka secara tiba-tiba, ia semakin takut dengan amarah Raka, bisa saja nantinya profesi Dion sebagai dokter bisa terancam atas penyerangan secara brutal di rumah sakit.
"Tuan, apa ada yang terluka? Mari saya bantu Tuan," ucap Dion yang berjalan mendekati Raka dan ia berniat untuk membantu Raka berdiri dari duduknya.
Raka menjambak rambutnya dengan kasar, rasa penyesalannya baru terasa dikala orang tak bersalah menjadi korban keegoisan Leo dan Mita. Kini Papa Rayhan telah pergi untuk selama-lamanya. Lalu, apa yang harus Raka katakan pada Launa dan Mama Siska nanti? Jika ia berbicara jujur kalau Papa Rayhan telah meninggal secara tragis, bisa saja Launa dan Mama Siska menjadi depresi dan membencinya.
"Ya Allah, kenapa bisa terjadi sekejam ini? Sederhana saja, aku inginkan dalam hidupku. Aku ingin hidup bahagia bersama nenek dan keluarga baruku dengan damai dan tidak merusak kebahagiaan orang lain. Lalu, kenapa dua manusia berhati iblis itu datang lagi ke dalam kehidupanku? Aku sudah mengikhlaskan kepergian kedua orang tuaku dan rasa luka teramat dalam atas keegoisan mereka dulu, sudah aku maafkan. Lalu, kenapa mereka masih menginginkan aku hadir di kehidupan mereka setelah habis-habisan menyakitiku?" lirih Raka dengan menitikkan buliran kristal di wajah tampan. Sungguh, siapapun yang mendengar perkataan Raka yang menyayat hati itu pasti ikutan sedih termasuk Dion dan dua rekan kerjanya.
Dion yang telah menghentikan langkah kakinya di hadapan Raka yang masih duduk di atas lantai dengan memeluk kedua lututnya. Ia berjongkok untuk mensejajarkan posisinya di hadapan Raka.
"Tuan Raka harus banyak bersabar, aku mengerti dengan perasaan Tuan yang hancur berkeping-keping atas perbuatan keji dari dua manusia berhati iblis itu percayalah dibalik adanya cobaan pasti ada kemudahan, dibalik kejahatan orang yang menabur maka mereka akan menuai hukum karmanya. Maafkan saya tidak bisa menjaga Tuan Rayhan saat melakukan operasi. Sungguh, penyerangan secara brutal di rumah sakitku menewaskan semua karyawan medisku. Tapi, saya heran dengan mereka membiarkan saya dan dua rekan kerja saya selamat. Tetapi, Tuan wajib menyelamatkan istri dan mama mertua Tuan diculik oleh mereka. Saya percaya Istri dan Mama mertua masih hidup karena target mereka untuk memancing tuan agar datang menemui mereka." Dion menghentikan perkataannya sejenak, ia menatap ke arah Raka yang diam dengan tatapan kosongnya.
"Saya percaya Tuan pasti bisa menyelamatkan mereka sendiri. Setelah saya baca menurut ilmu kejiwaan mereka, mereka ingin mendapatkan Tuan saja. Entah saya tidak tahu permasalahan yang jelas, intinya, Tuan harus memahami permainan mereka dan mengikuti semua permainan mereka. Dengan begitu, Tuan bisa membebaskan orang-orang yang Tuan sayangi." lanjut Dion menjelaskan pada Raka.
Seketika tatapan Raka yang kosong berubah penuh makna. Perkataan Dino hampir menyerupai Nenek Melati. Lalu, apakah Raka sanggup berpura-pura bahagia dalam berada di lingkaran permainan mereka?
Raka menghapus buliran kristal di wajah tampannya, ia tersenyum tipis pada Dion.
"Kamu benar Dion, sesekali aku berhak mengalah demi kemenangan agar tak mau kehilangan orang-orang yang aku sayangi. Walaupun hatiku tersiksa dan jiwaku hampir runtuh dalam menghadapi sikap keji mereka pada keluargaku. Aku akan melakukannya sendiri dan takkan ku biarkan orang-orang tak bersalah menjadi korban keegoisan mereka." setelah mengatakan itu Raka bangun dari posisi duduknya dibantu oleh Dion.
"Sama-sama Tuan, tolong maafkan saya, Tuan atas kejadian ini saya sangat menyesal tidak bisa membantu tuan." sahut Dion dengan tatapan sedihnya.
"Tidak masalah, kejadian hari ini bukanlah salahmu, Dion. Tetapi, mereka yang selalu menyerang kehidupanku. Tolong bantu aku untuk mengebumikan Papa mertuaku di pemakaman umum. Aku akan memberikan uang ganti rugi atas kerugian rumah sakit." jelas Raka dengan wajah seriusnya membuat Dion tidak enak hati.
"Tuan Raka, tidak usah memberikan uang ganti rugi. Aku yang gagal membantu Tuan dan Tuan memaafkan aku sudah lebih cukup untukku," ucap Dion.
"Sudah jangan banyak penolakan! Aku akan tetap membantumu. Oh iya, apa kamu tahu dimana lokasi tempat tinggal mereka?" tanya Raka yang baru teringat dengan tempat tinggal Mita dan Tuan Leo yang baru datang kesini tanpa adanya keluarga dan rumah pribadi, kecuali baru beli rumah pribadi.
Dion berusaha mengingat perkataan salah satu bodyguard vampir yang melewati ruangan mereka. "Rumah mewah elit blok d di jalan Mawar." kalimat itulah yang langsung terniang-niang di kepala Dion.
"Iya, aku tahu Tuan, lokasi tempat tinggal mereka di Rumah mewah elit blok d di jalan Mawar. Aku masih ingat salah satu bodyguard vampir yang berbicara panjang lebar pada temannya saat melewati ruangan persembunyianku tadi." jawab Dion memberi petunjuk pada Raka.
Seketika Raka bisa bernafas lega karena satu jalan bisa ditemukannya. Tinggal ia fokus melacak posisi rumahnya.
"Baiklah, terima kasih atas informasinya. Aku akan pergi sekarang. Sebaiknya, kamu dan teman-temanmu pulang saja dari sini. Untuk mengantisipasi serangan susulan." jelas Raka dan Dion beserta dua rekan kerjanya mengangguk cepat.
"Mobil kalian ikut hancur oleh tembakkan mereka, apa kalian mau aku antar pulang?" tawar Raka.
__ADS_1
"Tidak Tuan, terima kasih kami bisa pulang sendiri. Kami tidak ingin merepotkan Tuan yang ingin menemui mereka." tawar Zian dan Kino secara halus.
"Baiklah kalau begitu, aku temani kalian menuju ruangan pribadi saja. Barangkali mau mengambil tas kalian." sahut Raka.
"Iya Tuan, ayo kita pergi sekarang agar Tuan bisa secepatnya menemui mereka."
"Okey." balas Raka dan ia berjalan bersama tiga dokter menuju ruang pribadinya masing-masing di rumah sakit. Dengan tujuan untuk mengamankan tiga dokter berkompeten tetap hidup tenang.
Setelah Raka yang telah memastikan tiga dokter mendapatkan mobil taksi. Barulah, Raka menstarterkan mobilnya untuk melaju kecepatan mobil meninggal bangunan rumah sakit yang hancur setengah akibat penyerangan brutal Mita dan Leo. Sebelum pergi dari rumah sakit tadi, Raka telah menghubungi bagian kepolisian untuk melakukan otopsi jenazah di rumah sakit dan menyuruh rumah sakit lain untuk membantu membawa jenazah untuk di pindahkan ke ruang kamar mayat sementara.
Raka yang telah menghidupkan google map di layar ponselnya sebagai pedoman perjalanannya agar tidak tersesat.
Di sepanjang perjalanan, Raka terus merapalkan doa untuk Launa dan Mama Siska agar baik-baik saja. Urusan utamanya memang menemui Mita dan Leo untuk menyelesaikan permasalahan dan tak ada lagi kesalahpahaman diantara mereka.
Kini titik tuju google map menunjukkan salah satu rumah mewah sesuai alamat rumah yang diketik oleh Raka tadi. Raka memilih memarkirkan mobilnya di area parkiran supermarket tidak jauh dari rumah mewah yang menjadi tujuannya. Ia melangkah keluar dari mobil dan mengunci pintu mobil dengan rapat. Ia menatap layar ponsel yang berada di dalam genggaman tangannya.
"Tidak salah lagi, rumah mewah itu lokasi alamat rumahnya," ucap Raka pelan.
Sebelum Raka melangkah pergi kesana, ia menelpon Zack agar membawa pasukan bodyguard di rumahnya.
"Zack! Aku sudah berada di lokasi rumah Mita dan Papanya. Siapkan pasukan bodyguard yang telah kamu transfer ilmu elf untuk perlindungan diri. Aku akan mengirimkan alamat rumah padamu," ucap Raka saat sambungan panggilan masuk diangkat oleh Zack.
"Baik Tuan." sahut Zack melalui sambungan panggilan masuk di ponselnya. Iya, Zack masih melatih semua bodyguard yang telah ia berikan ilmu elf untuk melawan pasukan vampir keji itu. Ia tidak ingin Tuan muda Raka terus disakiti oleh orang-orang biadab seperti mereka. Tuan Raka sangat baik dan menolong kehidupan dirinya. Maka, ia harus menolong Tuan Raka sekarang.
"Terima kasih." setelah Raka mengatakan itu ia mematikan sambungan panggilan secara sepihak. Lalu, ia langsung mengirimkan alamat rumah Mita pada Zack.
Raka kembali melancarkan aksinya untuk melangkah masuk ke dalam gerbang utama rumah mewah itu.
Tok! Tok! Tok!
Raka mengetuk gerbang pintu pagar dan pintu gerbang dibuka oleh satpam rumah.
"Permisi pak, apa benar ini rumahnya Mita dan Tuan Leo?" tanya Raka pada Satpam berkepala botak itu.
"Iya benar, Tuan ini namanya Tuan Raka kah?" tanya Satpam berkepala botak balik.
"Benar, kok bapak tahu nama saya? Saya kan belum memperkenalkan diri sama bapak. Jangan-jangan bapak netizen ya yang suka kepoin akun resmi medsos saya. Wajar saja, saya tampan dan mapan jadi banyak yang mengincarnya saya," ucap Raka dengan penuh percaya diri tingkat dewa di hadapan satpam itu.
Satpam berkepala botak bernamtage Aryo itu hanya mengangguk saja karena Raka terus mengajaknya berbicara tanpa henti.
"Tuan Raka, apakah sudah selesai berbicaranya? Kepentingan Tuan datang kesini mau menemui Nona Mita dan Tuan Leo kan?" tanya Aryo -- Satpam berkepala botak.
__ADS_1
"Kalau sudah tahu kok bertanya lagi, saya sudah lama tidak bercanda, mau reflessing otak sejenak baru bertempur lagi. Oh ya, bisa antarkan saya pada Mita -- Mantan tunanganku itu masih tergila-gila padaku, buktinya dia dan papanya memohon-mohon untuk menerima lamaran Mita agar menjadikanku suaminya. Lalu, saya menolaknya karena saya setia pada satu wanita maka pertempuran habis-habisan dimulai. Lalu, dimana tempat pertemuan agar saya bisa berbicara empat mata dengan Mita?" ucap Raka panjang lebar membuat Aryo yang melirik sekilas hanya bisa bersabar.
"Oh ya, nitip buatin saya makan siang ya karena saya belum makan siang karena ada--" seketika perkataan Raka terhenti disaat kepalanya dipukul oleh seseorang oleh belakang. Kedua bola mata Raka menjadi gelap hingga tubuhnya tumbang dan tak sadarkan diri.