
Baru saja Launa membersihkan dirinya dari noda-noda masa lalu itu. Ia yang telah berganti pakaian baju kaos santai dengan celana pendek mendengar suara ketukan pintu berulang kali.
Launa yang sedang memberikan cream di wajahnya, dengan terpaksa ia melangkah keluar dari kamar menuju ke arah pintu rumah kontrakannya.
"Raka? Kenapa kamu berada disini?" tanya Launa spontan karena ia terkejut bukan main. Dikala ia melihat wajah tampan yang sangat dirindukannya telah berdiri di hadapannya. Rasanya ia ingin berhamburan masuk ke dalam pelukan hangat Raka. Tetapi, ia sangat sakit hati saat teringat cerita kelam itu.
Seketika Launa memasangkan wajah dinginnya di hadapan Raka.
"Apa yang kamu inginkan, Tuan Raka?" tanya Launa lagi.
"Tentu saja, aku ingin menemuimu, Launa. Sekaligus, aku ingin melamarmu sebagai istriku." jawab Raka jujur.
"Cih, jangan mengada-ada kamu! Aku masih muda dan tidak terpikirkan bagiku untuk menikah." sahut Launa cetus.
"Siapa yang datang, Launa?" tanya Mama Siska yang telah berjalan Keluar dari rumah menuju ke arah depan pintu rumahnya.
"Eh, ada pria tampan dan mapan. Banyak sekali tamu prianya, mama coba hitung dulu. Satu, dua, tiga, empat, wah banyak sekali pria yang naksir sama anak mama yang cantik ini." perkataan Mama Siska membuat Launa menelan salivanya dengan susah payah.
"Itu banyak sekali bawaan oleh-olehnya, buat kami kah?" tanya Mama Siska dan dijawab anggukan oleh Raka.
"Oh begitu, ayo silahkan masuk ke dalam rumah. Pasti kalian capek udah datang kesini," ucap Mama Siska mempersilahkan Raka dan tiga pria di belakang Raka untuk masuk ke dalam rumah.
Sementara Launa yang melihat sikap baik Mama Siska yang menyambut hangat kedatangan Raka dan tiga pria di belakangnya agar masuk ke dalam rumah kontrakannya. Ia memijat keningnya merasa sedikit pusing karena Raka telah memenangkan hati mamanya.
Raka melangkah masuk ke dalam rumah kontrakan Launa, ia mendudukkan dirinya di atas kursi sofa yang hampir penyok itu tidak ada rasa nyaman dan empuk. Tapi, ngilu saat menduduki kursi rongsokkan itu. Raka menatap ke sekeliling ruang tamu berukuran kecil yang hanya ada kursi sofa dan meja saja.
__ADS_1
"Oh, seperti ini kehidupan rakyat jelata. Kasihan." kata Raka dalam hati.
"Maaf, Tuan tampan namanya siapa? Tuan berasal darimana?" tanya Mama Siska yang telah duduk di kursi sofa yang berhadapan langsung dengan Raka.
Baru saja, Raka ingin menjawab pertanyaan Mama Siska. Ia mendengar Mama Siska memarahi Launa agar ikut bergabung berbicara.
"Launa, duduk di sebelah mama. Gak usah kemana-mana, kasihan teman kamu datang jauh-jauh, kamu tidak meladeni dengan baik," ucap Mama Siska tanpa menerima bantahan apapun.
Launa yang mendengar perkataan Mama Siska hanya mengangguk mengiyakan saja perkataannya. Ia putar balik posisi berjalannya agar mendekati kursi di sebelah mamanya.
"Bisa dijawab pertanyaan Mama tadi, nak?" tanya Mama Siska.
"Baik Bu, saya Raka berasal dari Jakarta, Indonesia. Saya pengusaha di perusahaan Tekstil. Kebetulan, saya datang kesini ada jadwal kerjasama dengan teman kerja Launa. Makanya, saya mau berkunjung disini. Sekaligus, saya mau melamar Launa menjadi istri saya." perkataan Raka diakhir kalimat membuat kedua bola mata Launa mau copot saja. Bagaimana bisa baru bertemu satu kali dengan mamanya, Raka dengan mudahnya berbicara seperti itu?
"Raka, sungguh terlalu. Seenak jidatnya saja mau melamar anak gadis orang." maki Launa dalam hati.
"Iya, benar Bu. Saya juga berniat mau mengajak Launa dan Ibu sekeluarga agar pulang ke Indonesia saja. Saya sudah menyiapkan rumah mewah beserta peralatan rumah. Saya sudah kenal lama sama Launa." jawab Raka mantap.
"Apa? Sudah kenal lama dengan anak saya?" tanya Mama Siska melirik sekilas ke arah Launa yang wajahnya ditekuk masam.
"Iya Bu, saya dan Launa kenal waktu Launa bekerja di rumah saya sebagai pelayan paruh waktu. Saya jatuh hati pada Launa dan hampir frustasi disaat Launa meninggalkan saya begitu saja. Saya menyesal karena baru mengungkapkan isi hati saya." jelas Raka dengan tatapan sedihnya.
"Jatuh hati padaku? Frustasi saat aku meninggalkannya? Hem... Apa-apaan ini! Katanya tidak jelas saja!" ucap Launa dengan menyerhitkan keningnya merasa heran.
"Oh... Waktu Launa bekerja yang mendapat gaji gede itu. Rupanya kamu bos baik itu. Syukur Alhamdulillah, terima kasih nak Raka. atas kebaikannya."
__ADS_1
"Panggil saya Mama saja, Mama pasti setuju dengan pria baik-baik dan mencintai anak mama." sahut Mama Siska dengan senyuman manisnya.
"Mama, kenapa semudah itu menerima lamaran pria baru dikenal?" tanya Launa dan Mama Siska langsung mencegahnya.
"Sudahlah Launa, tidak masalah baru kenal. Tapi kamu sudah lama kenal kan sama nak Raka. Nak Raka ini pria baik dan bisa menjagamu. Mama setuju kok jika kamu menikah dengan pria yang mencintaimu." jawab Mama Siska mantap.
Launa hanya pasrah saja, ia menoleh sekilas ke arah Raka yang tersenyum penuh kemenangan ke arah dirinya.
"Ya sudah, mama tinggal dulu ya biar kalian bisa berbicara empat mata. Ayo tiga pria tampan ini boleh bantu mama bawakan semua barang ini," ucap Mama Siska.
"Baik Bu." jawab mereka secara bersamaan.
Kini tinggallah Launa dan Raka di ruang tamu, suasana menjadi canggung dan mereka tampak menata satu sama lain.
"Apa kabar kamu, Launa? Sudah lama tidak bertemu. Kamu terlihat cantik dan lebih dewasa," ucap Raka memulai topik pembicaraan.
Launa tersenyum tipis saat menanggapi perkataan Raka.
"Alhamdulillah baik, Tuan. Alhamdulillah, semua cobaan hidup yang ku hadapi membuat diriku semakin dewasa dan cerdas dalam menangani jalan terbaik. Terima kasih sudah berkunjung di rumah rongsokanku ini dan terima kasih atas oleh-olehnya sangat bermanfaat bagi kami." sahut Launa panjang lebar pada Raka.
Raka membalas senyuman Launa.
"Sama-sama Launa, sudah kebaikan setiap manusia saling membantu. Maafkan aku terlalu lancang datang ke rumahmu dan meminta restu dari kedua orang tuamu untuk melamar mu menjadi istriku. Aku sungguh mencintaimu, Launa." Raka bangun dari posisi duduknya dan ia berjalan mendekati Launa. Ia berjongkok di hadapan Launa dan mengeluarkan sebuah kotak kecil buldru berwarna merah.
"Aku tahu ini terasa cepat dan aneh bagimu, Launa. Percayalah, semenjak kamu pergi dari kehidupanku selama satu tahun ini menyadarkanku apa artinya cinta dan sayang. Aku baru menyadari bahwa aku sangat mencintaimu, cinta tumbuh dari kebiasaan saling bertemu dan ketulusanmu untuk menolongku dari orang yang salah. Aku percaya kamu adalah jodohku." Raka menghentikan perkataannya sejenak, ia menarik nafas panjang untuk melanjutkan perkataannya.
__ADS_1
"Launa, maukah kamu menikah denganku? Maukah kamu menjadi istri dan ibu dari anak-anakku nanti?" tanya Raka dengan membuka kotak buldru yang berisi cincin berlian The Cullinan Dream termahal di dunia ini tepat di hadapan Launa.