
Raka menatap ke arah kedua pelayan rumahnya yang menundukkan kepalanya di hadapannya.
"Kalau ada orang yang sedang berbicara itu angkat kepalanya! Apa kalian tidak punya etika untuk menghargai orang yang sedang berbicara pada kalian!" ucap Raka tegas.
Ria dan Klodi langsung mengangkat kepalanya agar menatap ke arah Raka yang terlihat murka.
"Ampun Tuan, saya tidak ada kaitannya pada kasus pencurian perhiasan Nyonya besar," ucap Klodi berusaha membela diri.
"Saya tidak bertanya sama kamu! Saya tahu kamu tidak ada kaitannya. Saya ingin tahu kebenaran seperti apa yang diceritakan oleh Ria? Sehingga kamu mau memberitahu saya?" sahut Raka dengan tatapan intens menuju ke arah Klodi.
"Baik Tuan, saya izin cerita--" perkataan Klodi terhenti saat Raka memberikan isyarat tangan untuk diam.
"Saya ingin mendengar pengakuanmu, Ria! Kalau kamu tidak berkata yang sebenarnya, jangan salahkan saya akan menghancurkan hidup kamu beserta keluarga kamu!" ancam Raka terdengar tidak main-main.
Ria langsung menggeleng cepat dan ia tidak ingin ancaman Raka sampai terjadi.
"Tuan, mohon maafkan saya. Saya sangat menyesal telah berbuat sehina itu. Saya khilaf melakukan kejahatan pada Launa. Saya gelap mata akan termakan cemburu. Saya yang mencuri perhiasan Nenek dan merusak video rekaman video CCTV. Saya tidak bermaksud untuk menghilangkan mata pencaharian orang tapi saya sangat mencintai Tuan." jelas Ria jujur dan ia menunduk takut karna mengeluarkan isi hatinya.
Raka menghela nafas kasar saat mendengar pengakuan Ria. Jika sudah cinta sedalam itu pasti seseorang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan orang yang diinginkannya. Raka memahami perasaan Ria tapi ia tidak tertarik pada wanita yang mengejar pria. Ia sangat paham betul atas hukum wanita itu dikejar oleh pria tapi bukan mengejar pria.
"Lalu, dengan kata maaf kamu itu apa bisa mengembalikan nama baik Launa seperti semula? Apa kamu bisa membuat rasa kekecewaan Launa yang difitnah dan dijatuhkan atas apa yang tidak dilakukannya?" tanya Raka dan dibalas gelengan cepat oleh Ria.
"Baguslah, kamu sudah mengerti. Kamu bisa menerima hukuman sebagai seorang Pengkhianat seperti apa." Raka memberi isyarat pada Hans -- Kepala bodyguard agar berjalan mendekatinya.
__ADS_1
"Bawa dia di ruang bawah tanah, ikat kedua tangannya di atas kolam piranha dan biarkan kedua kakinya menjadi santapan makan malam piranha!" titah Raka.
"Baik Tuan." jawab Hans yang langsung menarik tangan Ria.
Ria berusaha memberontak dan tidak mau diberi hukuman kejam seperti itu.
"Tuan, jika memberikan hukuman kejam kepada saya. Beri saya teman agar tidak kesepian," ucap Ria.
"Baiklah, saya akan kabulkan permintaan kamu." sahut Raka dengan senyuman menyeringai menuju ke arah Klodi.
"Untuk kamu, hukuman yang pantas untukmu dikurung di ruang bawah tanah selama tiga hari tanpa diberi makan dan minum." lanjut Raka yang mengisyaratkan Hans agar membawa Klodi juga di ruang bawah tanah.
Setelah melihat kedua pelayan yang dibawa oleh Hans dibantu oleh dua bodyguard agar menjaga tidak ada drama kabur-kaburan. Raka memilih duduk di sebelah neneknya yang hanya duduk diam menyaksikan hukuman dari Raka.
"Kalian bisa lihat apa hukuman untuk seorang Pengkhianat! Hukuman ini masih umum dan tidak berat karena tidak ada tetesan darah atau dirugikan. Tapi, penderitaan mental yang menyiksa dan tidak mendapatkan gaji bagi seorang Pengkhianat. Cukup kali ini saja, saya memberikan hukuman umum dan ringan seperti ini! Jika ada orang yang berani berkhianat, saya akan mematahkan tulangnya! Catat itu!" ucap Raka dan semua pelayan mengangguk cepat.
"Baik Tuan, terima kasih." pamit semua pelayan di rumahnya.
Raka menoleh ke arah Nenek Melati yang tampak diam saja dengan wajah sendunya.
"Sudah jelas kan nek siapa pencurinya? Kita tidak perlu salah paham lagi pada Launa. Launa itu wanita baik-baik dan aku rasa mulai mencintainya." ucap Raka membuat Nenek Melati menoleh ke arah dirinya.
"Benar Raka, Nenek sangat menyesal atas perkataan nenek yang menghina Launa habis-habisan sore tadi. Nenek merasa Launa sangat kecewa atas kejadian ini.
__ADS_1
"Iya Nek, Raka mengerti atas tuduhan yang tak semestinya terjadi pada Launa. Sekarang nasi sudah menjadi bubur. Raka akan mencari Launa dan membawanya agar bekerja disini lagi. Raka janji tidak akan membuat Launa terluka." sahut Raka dengan tatapan sendunya di hadapan Nenek Melati.
"Tuan, maafkan saya terlambat lima menit. Jalan raya tiba-tiba macet. Ini semua laporannya tuan, mohon diterima," ucap Zack yang sudah berdiri hormat di hadapan Raka dan Nenek Melati dengan tangannya membawa dua berkas penting berisi hasil penyelidikan dua orang.
Raka mengalihkan pandangannya dari wajah Nenek Melati menuju ke arah Zack. Ia tersenyum tipis saat membalas perkataan Zack. Ia menerima berkas penting di tangan Zack dan menyuruh Zack agar duduk di sofa kosong.
"Terima kasih Zack, malam ini kamu boleh menginap di rumahku saja. Tidak usah pulang ke apartemenmu yang jaraknya jauh itu."
"Terima kasih Tuan." sahut Zack cepat.
"Nek, lihatlah perawat bernama Irma di rumah sakit Swekti itu. Dia menyiksa Launa dengan pandangan sebelah matanya," ucap Raka mengadu pada Nenek Melati.
"Darimana kamu tahu Raka tentang kehidupan Launa sekarang? Jangan bilang kamu menggunakan salah satu ilmu sihir yang nenek ajarkan padamu?" tanya Nenek Melati dengan tatapan curiga.
"Iya Nek, Raka sangat penasaran dengan keberadaan Launa. Raka tidak ingin Launa menghilang dari kehidupan Launa. Makanya, Raka jalan-jalan ke rumah sakit yang dimana ada Launa dan keluarganya yang menjaga papanya yang ditabrak lari oleh seseorang." jawab Raka membuat kedua bola mata Nenek Melati membulatkan dengan sempurna.
"Apa? Papanya Launa ditabrak lari. Apa kamu sudah tahu siapa orang yang menabraknya?" tanya Nenek Melati cepat.
"Sudah nek, pria itu bernama Aidan -- bodyguard yang dikerjakan oleh Mita. Ternyata Mita memata-matai kehidupanku selama ini. Dia belum bisa melepaskanku, padahal dia sendiri yang menyakitiku dan menjnggalkanku." jawab Raka dengan pasrah.
Nenek Melati mengelus pundak Raka untuk menenangkannya.
"Jangan banyak berpikir negatif, nenek percaya kamu bisa melindungi orang-orang yang sangat kamu sayangi. Jangan biarkan Mita menghancurkan orang-orang tak bersalah karena cemburu melihat dirinya bahagia bersama orang lain, Raka. Kamu berhak hidup bahagia bersama wanita yang tepat." saran Nenek Melati.
__ADS_1
"Benar Nek, Raka percaya kata nenek. Besok pagi, Raka akan menemui Launa dan keluarganya agar membawa mereka menuju tempat yang aman agar tidak disakiti oleh orang suruhan Mita lagi." Raka menoleh ke arah Zack yang duduk diam di sofa.
"Zack, besok pagi, gantikan posisi aku di pertemuan jadwal rapat. Aku ingin menemui wanitaku!' titah Raka tanpa menerima bantahan apapun.