
"Kamu yakin kalau pelayan wanita bermasker itu adalah Ria?" tanya Nenek Melati dan dijawab anggukkan cepat oleh Raka.
"Raka sangat yakin, karena ada aura yang berbeda pada diri Ria. Apa Nenek tidak merasakan ada yang aneh pada respon Ria?" tanya Raka balik.
"Iya, nenek juga merasakannya. Tapi, coba kamu lanjutkan videonya." balas Nenek Melati.
"Video kelanjutannya rusak dan tidak bisa diputar Nek." Raka mencoba klik semua rekaman video CCTV hingga muncul kembali hasil video CCTV yang memiliki jeda panjang.
"Tapi kok ada Launa yang berjalan masuk ke dalam ruang kamar Nenek. Mana memegang tas nenek pula. Waduh, ada yang tidak beres dengan video ini."
"Iya nenek rasa Launa yang mencurinya." balas Nenek Melati dengan tatapan mata menuju ke arah layar komputer.
Raka menoleh ke arah Nenek Melati dengan tatapan binggung.
"Kenapa nenek bisa mengambil kesimpulan seperti itu? Apa nenek tidak ingin menindaklanjuti hasil video CCTV yang macet tadi?"
"Tidak Raka, Nenek sudah puas dan mengerti. Kalau Launa bukan wanita baik-baik. Lupakan dia dari hidupmu, dia tidak pantas menjadi calon istri dan ibu untuk anak-anakmu. Nenek tidak restu jika kamu masih berhubungan dengan Launa. Nenek tidak mau penerus keluarga nenek keturunan maling." jelas Nenek Melati panjang lebar di hadapan Raka.
Raka memejamkan kedua bola matanya sejenak untuk mengambil keputusan yang adil dan tepat.
"Baiklah Nek, Raka tidak akan menemui Launa lagi. Tapi, Raka tidak janji jika suatu hari nanti, Raka berjodoh dengan Launa maka Raka akan memperjuangkan dia."
***
Sementara Launa yang terusir dari rumah mewah dan tempat mengais rezeki ya sudah pupus harapan. Ia sudah masuk ke dalam ruang kamarnya yang minimalis tapi nyaman.
__ADS_1
Kedua bola mata Launa terlihat bengkak dan wajahnya yang terlihat pucat akibatnya menangis selama dua jam di dalam kamarnya. Hanya menangis yang bisa membuat Launa bisa mengeluarkan isi hatinya. Launa tidak ingin membuat beban pikiran kedua orang tuanya, jika ditanya tidak bekerja di rumah mewah Raka. Ia beralasan mengambil cuti beberapa hari dengan begitu tidak ada berbagai pertanyaan yang diberikan oleh mamanya.
Ting!
Launa menoleh ke arah samping, ia melihat ada tombol notifikasi putih di ponselnya. Lalu, Launa mengambil ponsel yang berada di atas meja belajarnya. Ia ingin memeriksa siapa yang mengirim pesan di malam hari. Dirinya masih sendiri dan tidak pernah pacaran. Semua temannya menjauhinya karena ia dituduh menfitnah pelacur kecil. Sungguh malang sekali nasib Launa sekarang. Cobaan hidupnya sangat berat dan ia hanya bisa berserahkan diri pada Tuhan agar dipermudahkan segala urusan.
Launa membuka layar kunci ponselnya dan ia mengerutkan keningnya merasa heran pada pemberitahuan penerimaan uang yang ditransfer oleh seseorang.
"Ada pemasukan uang senilai 400 juta? Hah, banyak sekali uang yang masuk ke dalam nomor rekening aku? Siapa yang mengirimkan uang sebanyak ini padaku? Apa Kak Raka yang memberikan uang sebanyak itu padaku?" Launa tampak berpikir keras setelah apa yang terjadi pada dirinya sore tadi.
"Huh, aku rasa Kak Raka yang melakukannya. Aku sudah menolak agar tidak usah membayar uang gaji padaku. Aku bekerja tidak lama tapi dia masih memberikan uang berlipat ganda seperti ini." lirih Launa dengan tatapan mata menuju ke arah nominal uang diterimanya.
"Launa! Tolong mama, nak! Tolong Mama!" teriak seseorang di luar pintu kamar Launa.
Seketika Launa mengalihkan pandangannya dari ponsel menuju ke arah pintu.
Ceklek!
"Ada apa Ma? Kenapa wajah mama panik?" tanya Launa yang melihat Mama Siska di hadapannya.
"Launa, Papa Rayhan ditabrak oleh mobil dan kondisinya sedang kritis. Ayo kita ke rumah sakit." jawab Siska cepat.
"Apa? Papa ditabrak oleh mobil dan kondisinya kritis. Baik Ma, ayo kita ke rumah sakit. Tapi, Launa mau ambil kunci motor dan tas dulu." sahut Launa dengan wajah paniknya dan ia pamit undur diri di hadapan Mama Siska.
Launa berjalan masuk ke dalam kamar untuk mengambil kunci motor dan tas selempang untuk memasukkan ponsel, dompet dan tisu. Ia mengambil jaket untuk menutupi pakaian tidur yang dikenakannya dan tidak lupa mengenakan hijab dan masker di wajahnya. Kemudian, ia melangkah keluar dari ruang kamarnya.
__ADS_1
Di ruang tamu sudah ada Mama Siska yang sudah bersiap-siap dengan pakaian casual satu set celana panjang, hijab dan masker dengan membawa tas selempangnya.
"Ayo Ma, kita berangkat ke rumah sakit." ajak Launa dan Mama Siska mengangguk setuju.
Launa berjalan menuju ruang garasi motor untuk memanasi mesin motor dan Mama Siska mengunci pintu rumah dan pintu pagar rumah minimalisnya. Launa yang melihat Mama Siska sudah naik di kursi penumpang motor. Barulah, ia mengendarai motor matic menuju area jalan raya.
Di sepanjang perjalanan, Launa terus merapalkan doa agar diberikan kesembuhan pada papanya. Ia tidak ingin terjadi apa-apa pada papanya. Ia hanyalah anak semata wayang dan tidak ada yang bisa melindungi dirinya dan Mama Siska.
"Semoga Papa bisa sembuh dari masa kritisnya, aamiin." doa Launa dalam hati.
Satu jam telah berlalu, Launa dan Mama Siska telah sampai di depan halaman rumah sakit pemerintah. Launa mengikuti langkah kaki mamanya menuju ruang rawat ICU. Disana, Launa melihat ada nenek dan kakek yang menjadi orang tua papa yang duduk di kursi tunggu pasien.
"Nenek, Kakek, bagaimana kondisi papa sekarang? Apa ada dokter dan perawat yang menanganinya?" ucap Launa yang telah menghentikan langkah kakinya di hadapan Nenek Lila dan Kakek Leo dan mencium punggung tangannya dengan sopan.
Tidak ada jawaban apapun yang keluar di mulut mereka. Melainkan hanya isak tanggis yang membasahi wajah mereka. Launa menoleh ke arah samping untuk meminta penjelasan dari mama Siska yang rupanya ikut-ikutan menangis.
"Kenapa tidak ada jawaban apapun dari pertanyaanku? Apa papa mengalami luka parah hingga kritis? Ayo ceritakan padaku, Ma! Aku ingin mendengar apa yang terjadi?" ucap Launa dengan tatapan sendunya. Ia berusaha menahan tangisannya yang hampir lolos dari wajah cantiknya.
"Iya Launa, Papa mengalami luka parah. Kata dokter mengalami pendarahan kecil di bagian otak hingga kritis. Papa wajib mengalami operasi secepatnya untuk menghentikan luka di bagian otak." jawab Mama Siska.
"Tidak masalah Ma, jika Papa harus di operasi secepatnya. Launa punya uang untuk membayar uang operasi." sahut Launa cepat.
Mama Siska menggeleng cepat dan ia memegang bahu Launa.
"Tidak Launa, untuk biaya operasi terlalu mahal. Bagian BPJS saja tidak mampu membiayai uang operasi Papa. Apalagi kita yang hidup pas-pasan tanpa bergelimang harta dan tahta."
__ADS_1
"Mama jangan berbicara seperti itu jangan mudah menyerah. Launa punya uang banyak dan bisa membiayai uang operasi Papa," ucap Launa berusaha menyakinkan Mama Siska.