
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, sepertinya tidak ada tanda-tanda pintu ruangan dibuka oleh seseorang untuk memberikan makanan untuk Launa dan Mama Siska.
Kriukkk...
Suara perut Launa mulai bernyanyi meminta diisi makanan empat sehat lima sempurna. Wajah Launa terlihat pucat menahan lapar karena melewati makan siangnya. Begitupula Mama Siska yang tubuhnya mulai lemas dan tak bertenaga.
"Ma, tidak adakah satu orang pun yang perduli dengan nasib kita? Setidaknya, beri makan 3x sehari saja," ucap Launa menoleh ke arah Mama Siska yang menatap sendu ke arah dirinya.
"Tidak ada Launa, mereka ikut manusia biadab tak punya hati. Buktinya kita dikurung di tempat kumuh tak ramah kesehatan. Sebenarnya apa yang mereka inginkan dari kita? Kita hanyalah rakyat jelata dan tidak memiliki musuh siapapun. Lalu, kenapa mereka menculik kita dan menyiksa kita secara pelan?" berbagai pertanyaan Mama Siska lontarkan begitu saja pada Launa yang tampak berpikir sejenak.
"Benar Ma, tidak ada harta yang kita punya untuk mereka curi. Sekalipun mereka ingin mengambil nyawa kita, sudah dari awal mereka menghisap darah kita. Tetapi, kenapa kita dikurung seperti ini?" ucap Launa yang mulai berpikir keras untuk memecahkan permasalahan yang tak pernah mereka lakukan sedikit saja.
"Mungkinkah para vampir ganas itu pasukan dari mantan tunangan Kak Raka?" perkataan Launa membuat Mama Siska meminta penjelasan lebih. Sebab, tidak ada yang tahu siapa mantan tunangan Raka dan tidak tahu jelas pertemuan Launa -- Anaknya dengan menantunya -- Raka itu.
"Maksudnya?" tanya Mama Siska dengan tatapan intens menuju ke arah Launa.
Launa menarik nafas dalam-dalam untuk menetralkan pikirannya. Prediksinya hampir benar, walaupun tidak benar, siapa lagi orang yang berani menggangu hidupnya?
"Iya ma, sewaktu aku bertemu dengan Kak Raka itu Kak Raka mengalami kecelakaan tunggal dan aku mencintainya pada pandangan pertama. Akulah orangnya untuk membawa Kak Raka menuju ke rumah sakit dan menemaninya selama di rumah sakit. Disitulah aku bertemu Nenek Melati yang menyukai keberadaanku dan mendukungku agar mengenal Kak Raka lebih jauh. Apalagi Kak Raka membutuhkan perawatan khusus perawat pribadi memperkenalkanku di rumah mewahnya yang ditempati kita sekarang. Kak Raka sangat baik walaupun tegas. Ia memberikan gaji besar dan memperbolehkanku kuliah sambil kerja. Disitulah aku semakin mencintainya secara diam-diam. Tetapi, Kak Raka pernah bercerita kalau dia disiksa oleh Mantan tunanganku -- Mita dan bapaknya -- Leo membuat dia dan neneknya hampir mati." Launa menghentikan perkataannya sejenak untuk menarik nafasnya dengan panjang. Ia teringat kejadian masa lalu yang konyol itu membuat dirinya meninggalkan Raka yang tidak melakukan kesalahan apapun.
"Aku yang bekerja di rumah Kak Raka, dituduh mencuri dan semua buktinya mengarah padaku membuat Kak Raka murka padaku. Aku kecewa dan meninggalkan rumah Kak Raka, disitu aku bertemu dengan seorang wanita cantik seumur dengan Kak Raka. Namanya Mita yang menceritakan semua keburukan Kak Raka padaku dan menghasutku agar membenci Kak Raka. Waktu itu pikiranku sedang kacaw dan hatiku hancur. Lalu, dengan mudahnya aku mempercayai orang yang ku temui tanpa mencari kebenaran. Kak Mita menawarkanku agar meninggalkan Kak Raka dan pindah negara di Rusia dengan fasilitas uang 5M, rumah dan orang yang mengajari aku bahasa Rusia dan Inggris. Tetapi, dia hanya memberikan uang 1M dan tidak menempati janji. Sehingga, hidup di Rusia lontang-lanting." Launa menatap kedua mata Mama Siska yang mulai menitikkan air matanya.
"Maafkan aku, Ma. Terlalu mudah mempercayai orang lain, aku sangat bodoh mengambil keputusan secara sepihak. Aku sangat menyesali perbuatanku itu apalagi aku dipertemukan kembali dengan Kak Raka yang justru mengatakan yang sebenarnya. Aku sangat menyesal ma, tolong jangan benci aku yang membuat hidup kita menderita." jelas Launa panjang lebar pada Mama Siska. Launa ikut menangisi nasib hidupnya yang berantakan atas sikapnya yang mudah mempercayai orang lain.
Coba saja Launa dulu tidak mudah mempercayai perkataan orang lain, mungkin saja ia dan kedua orang tuanya hidup damai di rumah minimalisnya yang telah dijual. Tetapi, ambil hikmahnya saja, jika semua cobaan itu tidak terjadi, cintanya tetap bertepuk sebelah tangan.
Mama Siska menggelengkan kepalanya, ia memberikan senyuman tulus pada Launa yang sedang menangis.
__ADS_1
"Tidak Launa, semua masalah ini bukan kamu yang salah. Ini sudah menjadi garis hidup kita untuk menghadapi semua cobaan hidup. Jika permasalahan ini tidak terjadi, bisa saja kamu yang mudah mempercayai orang lain tetap dibodohi orang lain. Kalau sekarang kamu berhati-hati untuk mempercayai orang lain. Berkat kejahatan Mita itu cintamu terbalaskan oleh Raka yang tulus mencintaimu. Percayalah, kita pasti akan keluar dari tempat jahanam ini."
Launa membalas senyuman tulus Mama Siska.
"Benar Ma, kita pasti bisa keluar dari tempat jahanam ini. Kita harus semangat untuk mencari jalan yang tepat dan lari sejauh mungkin dari sini. Kita harus menyelamatkan Papa Rayhan juga." perkataan Launa dibalas anggukan cepat oleh Mama Siska.
Setelah acara pemakaman Papa Rayhan, Nenek Melati bersama dengan Zack dan enam bodyguard yang terakhir pulang setelah para warga yang ikut membantu memakankan Papa Rayhan pulang.
Nenek Melati tampak diam menatap kuburan yang baru dimakamkan. Di benak hatinya ada rasa bersalah bercampur sedih karena Papa Rayhan meninggal karena dendam teramat dalam Leo dan anaknya -- Mita.
"Maafkan aku dan cucuku, Rayhan. Tidak bisa menyelamatkanmu dan membuatmu mati mengenaskan seperti ini. Aku berjanji akan menjaga Launa dan istrimu dengan baik. Takkan ku biarkan ada orang-orang tak bersalah yang menjadi korban keegoisan Leo dan Mita. Aku bersumpah akan membalaskan rasa sakit hatimu yang mati ditangan mereka," ucap Nenek Melati terdengar serius dan tak main-main.
Zack bergidik ngeri saat mendengar perkataan Nenek Melati yang tak seperti biasanya yang ramah dan baik. Selama dia bekerja di rumah mewah Tuan Raka, baru kali inilah Nyonya Melati marah besar. Tidak ada kata ampun dan toleransi pada makhluk biadab yang teganya menghabisi manusia tak berdosa dalam sekejap mata.
"Maaf Nyonya, apa boleh saya mengajak papa saya untuk membantu menghancurkan Tuan Leo dan Nona Mita sebagai pelajaran," ucap Zack membuat Nenek Melati menoleh ke arah Zack yang berjongkok di sebelahnya.
"Boleh banget, saya suka ide bagusmu, Zack. Jangan dikasih ampun pada mereka. Kali ini bukan hanya pelajaran saja tetapi hukuman atas perbuatan mereka. Zack, apa kamu sudah menerima balasan pesan dari cucuku." sahut Nenek Melati bertanya pada Zack yang hanya dijawab gelengan cepat.
"Rumah mewah elit blok d di jalan Mawar?" ucap Nenek Melati mengulangi perkataan Zack, ia tampak berpikir keras untuk mengingat semua alamat rumah teman Raka yang ia ketahui selama ini.
"Saya tidak kenal itu alamat rumah siapa? Apa kamu sudah mencari informasi tentang pemilik rumah itu Zack?" tanya Nenek Melati.
"Sudah Nyonya, tetapi saya tidak mendapatkan informasi yang akurat dan banyak yang tak sesuai karena banyak pemilik rumahnya gonta-ganti. Hingga rumah mewah itu masih kosong dan baru ditempati dua hari yang lalu." jawab Zack jujur.
Nenek Melati memijit keningnya merasa pusing, ada yang aneh dengan tertutupnya informasi itu.
"Saya curiga jika rumah mewah itu baru dibeli oleh Leo dan Mita. Jika memang benar rasa curiga saya menjadi kenyataan, setidaknya bantu saya untuk menuntaskan kasus kesalahpahaman ini hingga damai."
__ADS_1
"Baik Nyonya, saya akan mencari informasi lagi tentang pemilik rumah mewah itu. Barulah saya akan mengajak papa saya untuk melakukan penyerangan secara brutal pada mereka." jawab Zack tegas.
Sementara di tempat lain, seorang pria tampan berpakaian jas pengantin pria sedang berbaring di atas kasur tidur yang ditaburi mawar mewah berbentuk cinta.
Disaat Raka yang mengejapkan kedua matanya untuk bangun dari tidurnya. Tatapan matanya terfokus pada sebuah ruangan bernuansa putih yang dihiasi oleh bunga mawar merah dan putih. Raka terlihat heran saat menatap pakaian yang dikenakannya terlihat formal dan pengantin pria.
"Dimana aku? Kenapa aku berpakaian pengantin pria?" tanya Raka pada dirinya sendiri, ia mencoba mengingat kembali, apa yang telah terjadi pada dirinya sebelum tidur. Terakhir, ia ingat betul bahwa ia telah sampai di depan rumah Mita dan papanya Leo dan berbicara pada satpam pribadi mereka. Lalu, tiba-tiba kepalanya terasa sakit dan kedua matanya terpejam. Seketika Raka teringat dirinya berada dimana yaitu di rumah mewah Mita dan Leo.
"Oh tidak, aku sedang dijebak." batin Raka yang langsung baru bangun dari posisi tidurnya dan berjalan menuju pintu ruang kamar.
"Ini pasti ruang kamar Mita, tapi, kenapa dia semakin gila setelah meninggalkanku? Bukankah dia sudah tahu aku ini suami orang. Masih saja dia merebut aku dari istriku. Dasar pelakor tidak ada harga dirinya." maki Raka dalam hati.
Raka berjalan pelan sambil memegang kepalanya masih terasa sakit.
"Mita gak ada akhlak, pasti dia menyuruh anak buahnya untuk memukul kepalaku. Ya ampun, pasti bagian kepala belakangku memar atau gegar otak. Awas saja, sampai terjadi apapun padaku, aku akan membencimu, seumur hidup." Raka terus memaki-maki Mita hingga ia ingin memegang gagang pintu tetapi pintu ruangan seketika dibuka oleh seseorang.
Cekrek!
Raka menatap kedua bola mata malas ke arah Mita, iya, Mita telah berdiri di hadapan Raka dengan pakaian seksi dan kurang bahan itu.
"Apakah tidak ada pakaian mahal untuk menutupi tubuhnya yang kurus kering itu?" tanya Raka menatap jijik menuju ke arah tubuh mungil Mita.
Mita yang mendengar perkataan Raka yang menghinanya membuat ia murka.
"Raka, kenapa kamu menghinaku?" tanya Mita balik.
"Kenapa kamu marah padaku? Coba kamu introspeksi diri dengan pakaianmu udah benar apa belum baru boleh marah pada orang lain? Oh ya, kenapa kamu mengurungku di dalam kamarku? Mana aku dipakaikan baju pengantin pria pula. Mita, apa kamu tidak tahu kalau aku sudah menjadi milik wanita lain? Apa kamu tidak sakit hati jika merebut suami orang? Ayolah Kita, bersamaan dalam keadaan. Kita tidak ditakdirkan hidup bersama, ikhlaskan saja aku pergi dari hidupmu dan lepaskan istri dan mama mertuaku. Percuma saja, kamu masih mempertahankanku, tidak ada rasa cinta dan tidak ada rasa berharga kamu di hatiku." jelas Raka mencoba membujuk Mita yang sepertinya mulai menangis di hadapannya.
__ADS_1
Raka tak menghiraukan kondisi Mita mau menangis karena dirinya atau apapun itu. Sebab, bukan urusan Raka lagi mengenai Mita.
"Aku percaya kamu wanita baik-baik dan aku percaya kamu pasti bisa mendapatkan pria paling terbaik dari aku. Aku sudah memaafkan semua kesalahanmu dan papamu. Jadi, tolong, lepaskan aku! Mari kita berdamai dari masalah kesalahpahaman ini agar kita bisa memulai hidup baru dengan damai," ucap Raka lagi.