
Raka yang memilih duduk di sofa ruang keluarga untuk menunggu kedatangan Launa. Tatapan mata Raka masih ke arah Ria yang berdiri diam dengan wajah biasa saja.
"Aneh sekali, wajahnya seperti bunglon suka berubah-ubah. Tadi, wajahnya terlihat tegang dan berubah menjadi tenang dan biasa saja." batin Raka.
"Maaf Kak, ada apa memanggil aku," ucap Launa yang telah menghentikan langkah kakinya di hadapan Raka.
Raka yang mendengar suara merdu dari Launa, ia mengalihkan pandangannya dari Di menuju ke arah Launa.
"Kenapa kamu mengambil perhiasan nenek?" tanya Raka to the point.
Launa tampak menyerhitkan keningnya saat Raka mengajukan pertanyaan seperti itu.
"Maksudnya kak?" tanya Launa balik dengan tatapan meminta penjelasan lebih.
Raka membuang nafas kasar, ia menoleh ke arah Ilham dengan tatapan memberi kode untuk menjelaskan pada Launa.
Ilham mengangguk mengerti atas perintah Tuan Muda Raka.
"Nona Launa, Nenek Melati kehilangan semua perhiasan di dalam kamarnya. Semua karyawan di rumah ini sudah diintrogasi dan diperiksa semua barangnya tapi tidak ada. Hanya Nona saja belum diperiksa. Apa nona tahu dimana perhiasan itu disimpan? Barangkali Nona menyimpan perhiasan nenek agar tidak ada yang mencuri." jelas Ilham panjang lebar di hadapan Launa dengan bahasa yang santun dan jelas.
Launa yang menangkap arti kata Ilham, ia baru menyadari bahwa ia sedang dijebak oleh seseorang.
"Okey, aku sudah mengerti maksudnya aku dituduh mengambil perhiasan nenek di kamar, begitu? Karena aku belum diintrogasi dan diperiksa semua barangku. Baiklah, aku tidak masalah kalau aku dicurigai karena aku bukan pencuri. Silahkan saja, aku tidak takut diperiksa karena aku bekerja disini dengan jujur dan teliti tanpa merugikan orang lain." sahut Launa tegas dan tegar dalam menghadapi cobaan hidupnya.
__ADS_1
Raka yang mendengar perkataan Launa, ia tersenyum tipis ke arah Launa.
"Baiklah, aku pegang kata-katamu, Launa. Asal kamu tahu, sedikit pun tidak ada niat untuk menuduh kamu. Aku hanya bertanya saja dan tidak ingin ada seorang pengkhianat diantara kita." sahut Raka cepat.
"Ilham, cepat periksa semua barang Launa di dalam kamarnya!" titah Raka yang menoleh ke arah Ilham.
"Baik Tuan." jawab Ilham lalu melaksanakan tugasnya.
Tidak lama kemudian, Raka menoleh ke arah Ilham yang sedang berjalan dengan membawa tas ransel dan tas koper mini milik Launa.
"Tuan, saya izin periksa disini," ucap Ilham dan mulai membongkar seluruh barang Launa.
Raka dan Nenek Melati memantau aktivitas Ilham. Begitu juga dengan Launa yang berdiri diam di sebelah Ilham.
"Tuan, apa perhiasannya berada di dalam kotak perhiasan?" tanya Ilham membuat kedua bola mata Launa membulat dengan sempurna.
"Benar sekali, itu kotak perhiasan aku. Cepat serahkan perhiasan itu padaku, Ilham! Aku ingin memeriksa semua perhiasanku!" ucap Nenek Melati dengan tatapan tajam bak elang karena menahan marahnya pada Launa yang tampak menundukkan kepalanya.
"Iya Nek." Ilham menyerahkan kotak perhiasan pada Nenek Melati yang sepertinya tidak sabar untuk memeriksa jumlah perhiasannya.
Raka yang tak menyangka dengan fakta kejam ini ia merasa kepercayaannya dikhianati. Jika semua orang yang dipercayainya membuat ia kecewa dengan cara yang berbeda. Lalu, ia harus percaya dengan siapa setelah keluarganya?
Prok! Prok! Prok!
__ADS_1
"Bagus! Bagus! Saya tidak menyangka anda yang saya kira wanita baik-baik dan ikhlas menolong saya. Ada niat buruk untuk mencuri harta nenek saya. Sungguh saya sangat kecewa atas sikap anda! Apa anda ingin memberi alasan klasik lagi untuk membela diri? Saya ingin mendengarnya sekarang," ucap Raka dengan wajah dingin dan tatapan tajamnya.
Launa menggeleng pelan, ia bukanlah pencuri perhiasan Nenek Melati. Tapi, kenapa ia dihakimi dan dianggap pencuri?
"Tidak Kak Raka! Aku tidak mencuri. Ini pasti ada orang yang ingin menjatuhkanku. Aku tidak pernah diajarkan oleh kedua orang tuaku untuk mencuri. Walaupun aku bukan orang kaya dan hidup serba berkecukupan. Tapi, aku tidak boleh mengambil milik orang lain apalagi menghancurkan kebahagiaan orang lain. Saya masih punya harga diri dan saya tidak mungkin--" perkataan Launa terhenti saat Raka memotong pembicaraannya.
"Cukup! Saya tidak butuh alasan klasik anda lagi! Semua sudah terbukti, anda puncurinya. Apa anda ingin mengelak dengan memberitahu salah satu karyawan di rumah saya yang menjebak anda. Masih syukur saya tidak mengadukan kasus ini pada pihak berwajib karena saya masih mengenang kebaikan anda terhadap saya. Sudah cukup semua alasan klasikmu itu! saya jijik melihatmu! Mulai sekarang angkat kaki dari rumah saya! Tenang saja untuk masalah gaji, saya akan berikan gaji selama satu tahun sebagai bonus imbalan menolong saya!" Raka menoleh sekilas ke arah Ilham yang langsung mengerti keinginannya.
"Ilham, ambil tas kerjaku sekarang!" titah Ilham yang langsung mengangguk mengerjakan tugasnya. Lalu, ia kembali membawa tas kerja Raka dan memberikan tas kerja berisi uang banyak.
"Anda tenang saja, saya tidak akan mengusik hidup anda lagi! Pergilah sejauh mungkin dari hidup saya, saya tidak ingin melihatmu lagi!" Raka menyerahkan uang 200 juta di hadapan Launa yang tampak diam menunduk saja.
"Ambil uang itu! Lalu, pergi dari sini!" usir Raka.
Launa mengangkat kepalanya ke arah atas untuk menatap tatapan tajam milik Raka. Lalu, ia menoleh ke arah uang yang dipegang oleh Raka dengan nilai uang yang sangat fantastis tapi membeli harga dirinya.
"Kak Raka, begitu mudah mempercayai sesuatu yang belum tentu benar. Jika kakak Raka bahagia atas kepergianku di kehidupan Raka. Aku akan melakukan itu asal kakak tahu aku pergi bukan berarti aku pencurinya. Tapi, ku biarkan semesta yang berbicara yang sebenarnya. Terima kasih sudah memperkerjakanku disini. Tapi, aku menolak uang itu karena aku tidak pantas menerima uang sebesar gaji untuk bekerja selama satu tahun yang belum aku kerjakan." Launa mengambil semua barang dan pakaian yang berserakan di atas lantai dengan cepat untuk dimasukkan ke dalam tas ransel dan tas kopernya. Setelah dimasukkan semua barangnya dan menguncinya. Ia mengangkat kedua tasnya dan memilih pergi dari hadapan Raka.
"Terima kasih atas semuanya, aku harap kakak tidak pernah menyesal atas perbuatan kakak." setelah mengatakan itu, Launa melangkah pergi dari rumah mewah Raka. Ia berjanji pada dirinya sendiri agar tidak akan menganggu hidup Raka lagi dan tidak akan menggunakan semua barang yang diberikan oleh Raka.
"Suatu hari nanti, Kak Raka pasti menyesal karena tidak mempercayaiku lagi. Aku berjanji tidak akan pernah menaruh harapan apalagi mencintai Kak Raka lagi. Aku sadar diri kalau harta, tahta dan paras wajah mengubah pola pikir orang yang tidak menghargai orang hidup berkecukupan." Launa menghentikan langkah kakinya sejenak sebelum pergi di depan halaman rumah mewah Raka. Ia menatap bangunan mewah bergaya klasik di hadapannya.
"Aku berjanji akan menjadi wanita sukses dan kaya raya. Aku tidak akan mudah mencintai pria yang salah lagi," ucap Launa mantap dan ia meninggalkan kediaman rumah mewah Raka.
__ADS_1